Thalia membuka lembaran demi lembaran buku tebal yang ada dihadapannya dan membacanya dengan cepat.
Saat sedang fokus - fokusnya membaca, teleponnya yang ia simpan di atas meja berdering kencang, tanda ada panggilan masuk.
Thalia tersentak kaget dan langsung menerima panggilan tersebut, sebelum orang - orang di perpustakaan memelototinya.
Thalia menempelkan handphone nya di telinga kirinya.
"Halo." Sapa Thalia dengan suara berbisik.
"HALO THAL!" Teriak Lina di seberang sana, seketika membuat Thalia otomatis menjauhkan handphone nya dari telinga.
Thalia menggosok telinganya yang terasa berdengung, lalu menempelkan kembali handphone nya ke telinga kirinya.
"Ada apa Lin?" Tanya Thalia masih dengan suara berbisik.
"LO NITIP APA SIH? GUE LUPA LAGI!"
Lagi - lagi Thalia menjauhkan handphone nya dari telinga, ia mengernyit merasakan agak ngilu di telinganya. Jangan - jangan telinganya sudah berdarah gara - gara suara Lina yang sangat stereo itu.
Tapi Thalia tidak bisa menyalahkan Lina sih, karena berbanding terbalik dengan perpustakaan yang sangat sepi, kantin tempat Lina berada pasti sangatlah ricuh tidak tertolong karena dipenuhi lautan manusia yang sedang kelaparan.
"Batagor, sama air botolan yang dingin. Talangin dulu, tar gue ganti ya." Jawab Thalia masih dengan suara berbisik.
Sebelum Lina menjawab, Thalia sudah berinisiatif menjauhkan handphone nya dari telinga.
"OKE! LO MASIH DI PERPUSTAKAAN?" Tanya Lina lagi.
"Iya." Jawab Thalia singkat, lalu buru - buru menjauhkan lagi handphone nya dari telinga.
"Oke! KALAU GITU GUE SIMPEN MAKANAN LO DI MEJA LO YA! BYEEE!"
"Bye!" Balas Thalia.
Tut.
Percakapan pun berakhir.
Thalia kembali membaca buku di hadapannya, tangannya sesekali menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa pusing dengan bacaan yang sedang berusaha ia pahami ini.
Semua ini karena Rida berkata pemenang dari permainan ini adalah yang mendapat nilai ulangan harian antropologi terbesar, dan ulangan itu akan diadakan hari ini setelah istirahat pertama.
Thalia yang notabenenya adalah murid baru tentu masih agak kurang paham dengan pelajaran ini, karena ia pun baru belajar antropologi satu kali semenjak pindah ke sekolah ini.
Awalnya Thalia menolak, karena ini tidak adil untuknya. Tapi Rida mengatakan jika ia sudah lama tidak belajar dan tidak mengerjakan tugas, jadi sama saja seperti Thalia yang tidak tahu apa - apa.
Akhirnya Thalia menerima tantangan itu, dan disinilah Thalia berakhir.
Di perpustakaan.
Sejak bel istirahat berbunyi, Thalia langsung ke perpustakaan dan mencari buku penunjang yang bisa membuat ia lebih paham tentang antropologi.
Namun... Kenapa Thalia merasa tidak ada yang masuk sedikitpun ke otaknya ya?
Hah.... Thalia mencium bau - bau kekalahan.
Para pembaca, doakan saja ya semoga Thalia selamat.
•••
Thalia berjalan lesu menuju kelasnya. Masih tersisa 15 menit sebelum bel masuk berbunyi, namun Thalia terpaksa harus kembali ke kelas walau belum ada materi yang menempel di otaknya, karena cacing - cacing di perutnya sudah meraung-raung minta di beri jatah.
Sesampainya di kelas, Thalia menatap bingung Rida yang sedang asyik - asyiknya bermain game online bersama teman - temannya di meja belakang.
'kok dia santai - santai sih?' Thalia berujar bingung dalam hati.
Walau begitu Thalia tak peduli, jika Rida tak belajar itu bisa membuatnya mendapatkan nilai antropologi lebih besar dari Rida.
Dengan riang Thalia berjalan menuju mejanya dan segera memakan batagor nya yang tersimpan di atas meja sendirian, karena Lina sepertinya masih ada di kantin.
Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi, cepat - cepat Thalia menghabiskan batagor dan meminum airnya, setelah itu ia membuang sampahnya ke tong sampah depan kelas.
Saat kembali ke meja, Rida sudah ada di meja mereka dan menatap Thalia dengan senyum menyebalkan.
Thalia mendelik sinis.
"Apa lo senyum - senyum?!" Hardik Thalia, sembari mendudukkan diri di samping Rida.
"Gak... Sewot amat sih." Ujarnya santai.
Satu persatu murid memasuki kelas, lalu datanglah Bu Eva dengan membawa tumpukan kertas dikedua tangannya.
"Ayo anak - anak duduk yang rapi ya... Sekarang kita akan melaksanakan ulangan harian..." Ucap Bu Eva dengan suara yang sangat lembut.
"Iya bu..." Jawab seluruh murid serempak.
Bu Eva membagikan kertas ulangan kepada setiap anak. Karena Thalia dan Rida duduk di bangku pertama, mereka mendapat kertas ulangan dengan cepat.
Thalia menyusun buku - buku tulis miliknya, membentuknya menjadi sebuah benteng yang memisahkan antara dia dengan Rida, bermaksud untuk menghalangi kertas ulangannya agar tidak dicontek Rida.
Rida mendengus. "Kek bocah SD aja lu." Cibirnya.
"Ya... Biarin atuh, sekarang elo gak bisa nyontek haha." Ucap Thalia tak peduli.
"Nah anak - anak silahkan mulai dikerjakan ulangannya ya..." Ujar Bu Eva lagi.
Thalia mengeluarkan pensil dari kotak pensilnya, dan mulai membaca soal pertama.
Tiga soal pertama bisa Thalia kerjakan dengan mudah, namun soal - soal berikutnya membuat Thalia menggaruk kepala tak mengerti, apalagi masih tersisa tujuh soal yang belum ia kerjakan.
Dug!
Rida tak sengaja menabrak meja dengan lututnya, membuat meja sesaat bergetar. Thalia tak peduli, ia mengabaikan itu dan terus berpikir.
Dug!
Kedua kalinya Rida menabrak meja dengan lututnya, membuat meja lagi - lagi bergetar. Thalia mendesis agak terganggu.
Thalia menggeram dalam hati, kesal dengan Rida yang tidak bisa tenang.
Dug!
Tiga kali!
Thalia benar - benar tidak bisa lagi mentolerir perbuatan Rida karena menggangunya saat berpikir.
"Ih!" Geram Thalia, menghentakkan pensilnya keatas meja dan menoleh kearah Rida untuk menegurnya. Dan tau apa yang ia lihat?
Rida sedang searching di gugel!!!
Thalia melotot tak percaya, tiba - tiba saja emosinya semakin meningkat, ia benar - benar merasa dibodohi.
"Rida..." Thalia mendesis kesal.
Rida menoleh ke arah Thalia yang menatapnya murka, lalu saat sadar ia ketahuan, dengan panik Rida menyembunyikan handphone nya ke kolong meja.
"Ke-kenapa?" Rida bertanya dengan terbata, ketakutan melihat wajah murka Thalia.
"Berani - beraninya lo bermain kotor! Gue bakal laporin lu ke Bu Eva!" Ancam Thalia tak terima.
"Eh ja-jangan!" Mohon Rida dengan panik.
"Lo udah curang!" Thalia melotot geram. "Ib—hmmpp.."
Dengan cepat Rida membekap mulut Thalia, membuat Thalia memberontak ingin membebaskan diri.
Posisi mereka yang berada di meja paling depan, membuat gerak - gerik mereka langsung menjadi perhatian seluruh kelas.
Bu Eva menggelengkan kepalanya sambil berdecak.
"Thalia... Rida... Kerjakan ulangannya dengan tenang ya..." Tegur Bu Eva dengan lembut.
Thalia dan Rida sontak menoleh kaget, Rida melepaskan bekapan tangannya di mulut Thalia lalu menggaruk tengkuknya merasa bersalah.
"Iya bu..." jawab Rida sambil tersenyum tak enak.
"Maaf bu..." Ujar Thalia sambil menunduk.
Semua orang kembali kepada kesibukan masing-masing yaitu berpikir, begitu juga Bu Eva yang kembali mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Thalia menundukkan kepala, kembali mengerjakan ulangannya yang sempat tertunda.
Sambil menulis Thalia bergumam.
"Simpen handphone lo! Atau gue teriak sekarang juga." Bisik Thalia penuh penekanan, mengancam.
Rida yang awalnya hendak kembali searching ke gugel, seketika langsung menyimpan handphone nya di kolong meja. Setelah itu ia diam dan berusaha mengerjakan ulangan itu dengan kemampuannya sendiri.
Rida meneguk salivanya, ketika teringat raut wajah Thalia saat mengatakan ancaman tadi.
Ternyata Thalia jika sedang marah sangat seram.
Hiii... Rida bergidik ngeri.
•••
Terluka, menangis
Tapi ku terima
Semua, keputusan yang telah kau buat~
Thalia tiduran di atas kasurnya, handphonenya yang tersimpan di atas nakas memutar lagu Keisya Levronka yang berjudul tak ingin usai.
Dengan mata yang terpejam Thalia menikmati setiap alunan lagu yang mengalun ke telinganya. Entahlah, untuk malam ini Thalia hanya ingin bersantai sambil bergalau ria. Walau sebenarnya ia tidak sedang galau, hanya gendok saja jika ingat dengan tingkah Rida.
Satu... Yang harus kau tahu ~
"Ku menanti kau tuk kembaliiii!!!!" Thalia bernyanyi dengan suaranya yang pas - pasan, terbawa suasana.
"HUOOOOO!! UOOOOO!!" Thalia berteriak mengikuti nada tinggi dari lagu aslinya, walau yang terdengar malah jadi seperti teriakan saja.
"HUOOOOOO—"
"THALIA! ANJIR GANDENG SIAH!" (THALIA ANJIR BERISIK LO!)
Sontak Thalia berhenti bernyanyi dan mengatupkan bibirnya, mendengar Agren berteriak mengamuk dari lantai bawah.
"Hah... Ganggu aja si Agren." Gumam Thalia sebal.
Masih dengan posisi tiduran, Thalia mengambil handphonenya yang tersimpan di atas nakas dengan agak susah payah. Memang pada dasarnya Thalia manusia mager, andai dia mau bangun dulu sebentar, pasti ia tidak akan kesulitan untuk mengambil handphonenya.
Setelah bersusah payah, Akhirnya Thalia berhasil juga mengambil handphonenya. Ia mematikan musik di handphone-nya dan beralih ke aplikasi film.
"Mending gue maraton drakor deh sampai subuh." Gumam Thalia riang.
Namun, baru saja Thalia hendak memilih film yang hendak ditonton. Ada sebuah panggilan masuk dengan nomor tidak dikenal ke handphonenya.
Thalia mengerutkan keningnya, merasa tidak kenal dengan nomor tersebut.
Karena Thalia adalah tipe orang yang waspada, ia pun menolak panggilan tersebut. Thalia takut jika itu adalah nomor tukang hipnotis.
Namun setelah ditolak, nomor itu kembali menelepon Thalia.
"Ngotot banget sih, pasti tukang tipu nih." Gerutu Thalia, lalu kembali menekan tombol merah, menolaknya.
Drttt...
Lagi?
"Huft..." Thalia mendengus kesal, melihat nomor itu kembali muncul di layar handphone nya.
Dengan emosi Thalia menerima panggilan itu dan langsung berteriak.
"Jangan coba nipu gue ya! Gue santet lo!" Hardik Thalia pada seseorang di seberang sana.
"Anjir serem banget lo!" Ucap seseorang di seberang sana.
"Siapa sih ini?!" Tanya Thalia mulai sewot.
"Suara orang ganteng masa gak lo kenalin." Ujarnya menyebalkan.
"Gak ada orang ganteng selain Mingyu di hidup gue!" Jawab Thalia jutek.
"Masih aja lo bahas plastik malem - malem gini." Ucapnya lagi, membuat Thalia seketika melotot.
"Rida! Lo Rida kan!" Teriak Thalia emosi.
"Iya anjir, jangan teriak - teriak napa! Sakit nih telinga gue!" Protes Rida.
"Bye!" Hardik Thalia sambil hendak mematikan telepon, karena jujur ia masih kesal dengan kelakuan Rida yang telah membohonginya saat di sekolah.
"Eh... Tunggu! Jangan ditutup dulu!" Teriak Rida mencegah Thalia menutup telepon.
"Mau apa?!" Jawab Thalia dengan ketus.
"Galak amat sih lo! Masih belum puas apa lo musuhin gue waktu di sekolah." Keluh Rida.
"Ya lagian lo ngeselin! Lo udah melakukan kecurangan di permainan yang lo buat sendiri! Gue merasa tertipu tau gak sih?! Gue udah belajar mati - matian di perpustakaan! Eh lo malah seenaknya nyontek! Pokoknya, gue gak mau imut permainan ini! Kalau pun nilai lo lebih besar gue gak peduli! Karena lo nyontekkk!!!" Cecar Thalia habis - habisan, meluapkan seluruh kekesalannya.
"Iya... Iya gue minta maaf." Ucap Rida dengan nada menyesal. "Sebagai permintaan maaf gue, gue ajak jalan mau gak?" Ucap Rida menawarkan.
"Ogah." Jawab Thalia tanpa ragu.
"Yah... Sayang banget, padahal gue mau traktir lo sepuasnya." Ucap Rida memancing.
Thalia mengulum bibirnya, ia bimbang, karena sesungguhnya itu tawaran yang sangat menarik!
Kapan lagi ia bisa morotin Rida?
"Jalan kemana?" Tanya Thalia dengan nada sok cool, mencoba tetap jual mahal.
"Rahasia! Pokoknya tempatnya asik abis." Ucap Rida lagi, membuat Thalia benar- benar tak bisa melepaskan kesempatan ini, karena ia adalah orang yang sangat suka jalan - jalan.
"Ekhem, kapan?" Tanya Thalia, masih berusaha jual mahal.
"Malam ini, bisa?"
"Serius?!" Tanya Thalia tak percaya.
"Iya, bisa gak? Kalau bisa gue jemput ke rumah lo sekarang."
Thalia terdiam sebentar untuk berpikir, sebenernya ia tidak akan kemana - mana malam ini.
Tapi ini terlalu mendadak!
"Bi...sa sih." Jawab Thalia agak ragu.
"Oke! Gue ke sana sekarang! Share lokasi lo!"
Tut.
Lalu Rida mematikan sambungan telepon begitu saja.
Thalia melotot.
"Sekarang?!" Teriak Thalia panik.
Dengan segera ia beranjak dari kasurnya, dan buru - buru membuka lemari baju nya.
Thalai Mengobrak-abrik - abrik pakaian dalam lemarinya, mencari style yang cocok untuk jalan malam ini.
"Aduh... Gue harus pake baju apa?!" Gusar Thalia sambil terus melemparkan baju yang dirasa tidak cocok ke sembarang arah.