"Sebagai gantinya kalian harus duduk sebangku selama satu bulan, membereskan perpustakaan sepulang sekolah selama seminggu. Jangan berusaha pindah tempat atau kabur, karena guru yang masuk akan laporan ke saya, dan kalian harus mengirimkan foto selfie sedang membersihkan perpustakaan, ke Ibu. Bagaimana?"
"DEAL!" Seru Rida dan Thalia tanpa ragu.
Mendengar itu, perlahan senyuman lebar mengembang di wajah Bu Ratih.
"Sekarang saya mau kalian berdua salaman." Titah Bu Ratih lagi.
Dengan ogah-ogahan Thalia dan Ridha saling menautkan kedua tangan mereka. Lalu dengan cepat pula melepaskannya lagi.
"Kenapa? Saya mau kalian berjabat tangan sepanjang perjalanan kekelas kalian." Nampak Thalia hendak menolak, namun Bu Ratih menatapnya dengan senyuman yang seolah berkata —itu bukan pilihan—.
Akhirnya dengan hati terpaksa mereka berjabat tangan lagi, satu sama lain saling membuang muka, seolah apa yang dihadapan mereka sangat tidak enak untuk dilihat.
"Ya ampun, kalau kayak gini kan enak dilihat nya!" Bu Ratih berseru heboh. "Kalian itu cocok banget loh! Beneran!" Ujar Bu Ratih keukeuh. "Pokoknya, kalau kalian berantem lagi! Saya mau nikahin kalian aja!" Tukas Bu Ratih, seketika membuat Thalia dan Rida melotot bersamaan, menolak dengan keras.
"Iya, ya ampun saya bercanda." Bu Ratih tertawa puas, melihat mimik wajah Thalia dan Rida. "Ya sudah, kalian boleh kembali ke kelas."
lalu setelah Bu Ratih menyuruh mereka pergi, mereka berjalan beriringan keluar ruang BK dengan tangan yang masih bertautan.
Sesampainya diluar ruang BK, mereka berhenti berjalan, namun belum ada yang memulai melepaskan jabatan tangan mereka.
"Gara - gara lo gue jadi dihukum terus." Thalia menatap sengit sambil meremas tangan Ridha.
"Aww!" Ridha memekik kesakitan.
"Dasar gila lo, yang ada gue yang keberatan. Gue gak ngelakuin apapun malah jadi ikutan dihukum gara - gara lo!" Ridha balas meremas tangan Thalia.
"Aww.." Thalia memekik lebih keras, karena remasan tangan Ridha lebih kuat.
"Kalau aja lo gak ngejek bias gue, gue gak akan perkarakan ini." Thalia mencubit tangan Ridha yang masih bertautan dengan tangannya menggunakan tangannya yang bebas.
"Awww.." Ridha melotot karena kesakitan.
"Emangnya gue pikirin." Ridha membalas mencubit tangan Thalia yang mencubit tangannya. Alhasil tangan mereka bertumpuk keatas.
"Awwww!!" Thalia menjerit lalu menarik tangannya dari Ridha sehingga jabatan tangan pun terlepas.
Setelah itu Thalia berlari dan berhenti saat jaraknya dengan Ridha sejauh 2 meter, lalu ia berbalik.
"Pokoknya gue akan terus ganggu lo! Sampai lo ngaku kekalahan lo!" Thalia sedikit berteriak karena jarak mereka. Setelah berteriak ia memberikan jari tengahnya pada Ridha, lalu kembali berlari untuk menuju ke kelasnya.
Sementara Ridha berjalan santai dibelakangnya sambil tersenyum kecil, entah karena apa ia tersenyum? Tapi rasanya, ada kupu - kupu menggelitik diperutnya.
•••
Siang berganti sore, sore berganti malam. Dan malam hari adalah saatnya untuk tidur.
Setelah menggosok gigi dikamar mandi, Thalia kembali ke kamarnya untuk tidur. Baru saja ia akan tertidur handphone-nya berbunyi kencang, tanda notifikasi pesan sehingga Thalia kembali terbangun.
Dengan mata terpejam Thalia mengambil handphone-nya dan mengecek pesannya. Tiba - tiba matanya terbuka lebar saat mengetahui yang mengiriminya pesan adalah Nathan.
Thalia langsung terbangun dari posisi tidurnya dan menjawab pesan dari Nathan. Padahal, yang mengiriminya pesan bukan Nathan saja, tapi juga ada Lina, grup kelasnya dulu, grup kelasnya sekarang, dan grup pecinta korea. Tapi itu semua Thalia abaikan, karena sayangnya Thalia sekarang sedang ter Nathan - Nathan.
Kak Nathan : Hei udah tidur?
Thalia : Belum, emang kenapa kak?
Kak Nathan : Kok belum tidur? Jangan begadang nanti kayak panda loh.
Thalia terpejam beberapa saat sambil tersenyum.
'Yaampun... Kak Nathan perhatian banget.'
Setelah menormalkan detak jantungnya akhirnya ia membalas pesan Nathan
Thalia : Bisa aja, kakak kok juga belum tidur?
Kak Nathan : Biasa lagi kerjain tugas?
Lagi - lagi Thalia berhenti dan tersenyum sendiri.
'Ya Allah... Rajin sekali calon imamku.'
Setelah itu ia menjawab lagi pesan Nathan dengan senyum terus menghias wajahnya.
Thalia : Rajin banget
Kak Nathan : Ya, iyalah. Udah kelas XII harus ekstra.
Thalia : Semangat ?
Kak Nathan : Iya, yaudah gue belajar lagi ya, jangan begadang. Tidur??
Kak Nathan : See you?
Thalia : Too☺️
Akhirnya percakapan itu pun selesai, Thalia menjatuhkan dirinya di kasur lalu tersenyum manis. Ia tak menyangka Kak Nathan akan mengiriminya pesan duluan.
Saat sedang asik - asiknya berkhayal tiba - tiba handphone di genggamannya berdering lagi. Cepat - cepat Thalia melihatnya, takutnya Kak Nathan mengiriminya lagi pesan.
Ternyata itu adalah notifikasi dari akun instagramnya yang berisi :
RdhDnrg mengomentari postingan anda
Baru saja.
Thalia membukanya, ia penasaran siapa yang mengomentari postingannya. Karena nama akunnya begitu aneh.
Ternyata itu adalah postingannya 4 hari yang lalu dan isinya adalah foto SEVENTEEN dalam album terbarunya 'You Make My Day'
Dan komentar tersebut berbunyi :
RdhDnrg : Plastik
Sudah, hanya satu kata itu saja. Namun membuat darah Thalia naik sampai keubun - ubun. Dengan emosi yang siap meledak, Thalia mengirimi orang itu pesan lewat i********:.
Thalia : Hei ! Siapa lo?!
RdhDnrg : Siapa aja boleh
Thalia : Ngapain lo ngomen foto gue?
RdhDnrg : Suka - suka.
Thalia menggeram, ia kesal dengan jawaban orang tersebut.
Thalia : Cepet ngaku
RdhDnrg : Emng knp? Ngefans sama gue.
Thalia : Dih amit - amit ngefans p****t lo budug
RdhDnrg : Hahahaha masa lo gak ingat sama orang yang lo kentutin di taman?
Thalia melotot membaca pesan terakhir yang dikirim orang itu.
Tiba - tiba memori nya mengilas balik kejadian saat di taman sekolah, kejadian memalukan yang tidak pernah ia lupakan. Kejadian dimana ia mengentuti seorang lelaki yang sedang tidur di bawah pohon, dan dia adalah..
Thalia : Ridha!
RdhDnrg : Maybe
Thalia : Jawab yang bener kunyuk!
RdhDnrg : Iya.
Thalia : Mau lo apa sih? Tiap jam slalu ajj bikin gue kesel, bisa² gue darah tinggi lama²
RdhDnrg : Gue gak mau apa - apa kok, cuman menyapa teman sebangku baru gue.
Huft... Tiba - tiba saja Thalia jadi malas pergi ke sekolah besok, mengingat kenyataan ia harus duduk sebangku dengan Rida.
Thalia : Mau nyapa atau mau ngajak ribut?!
Ketik Thalia dengan emosi.
RdhDnrg : santai dong, marah - marah aja sih lo. Gue cuman mau nyapa doang.
Thalia : kalau gitu kenapa lo nyampah komentar di postingan gue?
RdhDnrg : suka - suka gue lah.
"Grr.." Thalia mengerang kesal, membaca balasan pesan dari Rida.
Entah kenapa walau via teks seperti ini, Thalia masih merasakan aura menyebalkan Rida. Dan itu membuat Thalia jadi kesal.
Belum sempat Thalia membalas pesan dari Rida, Rida sudah keburu mengiriminya lagi pesan. Isinya....
RdhDnrg : udah ya, gue mau bales chat dari ayang dulu.
Thalia : Y.
Bala Thalia singkat.
Ayang?
Satu kata itu berputar di kepala Thalia.
Jadi Rida punya pacar?
Tiba - tiba saja jiwa kepo Thalia menggebu - gebu, meminta asupan informasi. Dengan rasa penasaran tinggi, Thalia menekan nama akun Rida, sehingga membuat layarnya langsung beralih ke beranda akun i********: Rida.
Thalia mengamati foto profil yang Rida pasang di akunnya, dan ternyata itu foto wajahnya sendiri sedang tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi.
Thalia mendengus.
"Narsis banget." Gumamnya sinis.
Thalia lalu menggeser layar handphone nya kebawah, melihat - lihat foto- foto yang Rida posting, berharap menemukan foto Rida bersama pacarnya.
Karena sebenarnya Thalia sangat penasaran bagaimana wajah perempuan yang dengan khilafnya mau pacaran dengan Rida.
Namun, hingga ke foto terbawah yang ada di akun Rida. Tidak ada satupun foto Rida bersama perempuan. Bahkan, hingga tiga kali Thalia cari. Thalia tetap tidak menemukannya.
"Jangan - jangan backstreet dia." Gumam Thalia menduga - duga.
Thalia kembali menggeser layar handphone nya, mengamati sekilas foto - foto yang di posting Rida. Hingga jari nya berhenti, saat melihat satu foto yang menarik hatinya. Thalia meng-klik foto itu, sehingga kini layar handphone nya dipenuhi oleh satu foto itu.
Difoto itu terlihat Rida sedang menggendong seekor kucing ras, yang kalau Thalia tidak salah jenisnya adalah British short hair berwarna abu - abu.
Thalia terkesima, melihat betapa lucunya kucing yang di gendong Rida.
"Wah... Lucu banget...." Gemas Thalia. "Pasti mahal ini." Ujarnya lagi.
Thalia mengusap - ngusap foto kucing itu dengan jempolnya, saking gemasnya.
Fyi, Thalia itu paling cinta dengan kucing. Hanya saja Agren alergi bulu kucing, sehingga ia tidak boleh memelihara kucing di rumahnya.
Tanpa sadar Thalia menekan dua kali jempolnya padahal foto itu, memberi love. Kebiasaannya ketika melihat postingan bagus di i********:.
Sedetik kemudian Thalia tersadar dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Ha!" Thalia melonjak kaget, handphone - nya dijatuhkan ke atas kasur.
"Aduh... Gimana ini?!" Sesal Thalia sambil memukul kepalanya pelan.
Sekarang ia akan ketahuan telah mengintip akun i********: Rida. Dan lagi tanda love itu tidak bisa di batalkan, karena pemberitahuannya pasti sudah sampai pada Rida.
"Ah... Yaudah biarin aja." Ujar Thalia pasrah, lalu mengambil kembali handphone nya yang tergeletak di atas kasur.
Ting!
Tepat saat Thalia menggenggam handphone di tangannya, notifikasi pesan masuk muncul di layar atas handphone-nya.
RdhDnrg : ciee stalking gue...
Sudah hanya satu kalimat itu saja, tapi sungguh membuat Thalia dongkol setengah mati.
Thalia menatap malas pesan itu.
"Bodo amat!" Hardiknya, keki.
Lalu melempar handphone nya di atas kasur begitu saja, dan segera menarik selimutnya sampai ke d**a.
Lebih baik Thalia tidur, daripada otaknya meledak jika harus meladeni Rida yang sudah pasti ngeselin dan caci-able itu.
Thalia memejamkan matanya, namun sebelum benar - benar terlelap, Thalia bergumam.
"Semoga mimpi buruk Rid." Ujarnya tanpa dosa, lalu tertidur begitu saja.
•••
Thalia berjalan santai melewati lapangan SMA Bakti Bangsa, ada beberapa murid yang juga sedang berjalan melewati lapangan bersamanya.
Tak jarang dari mereka mencuri - curi pandang ke arah Thalia dan berbisik- bisik. Thalia sangat sadar, namun Thalia hiraukan saja. Ini semua konsekuensi yang harus ia terima karena sudah berbuat keributan di sekolah.
Suasana sekolah begitu tenang dan nyaman, ditemani sinar matahari yang hangat dan kicauan burung yang terdengar indah.
Thalia melihat jam tangan yang melilit di tangannya.
Pukul 06. 15, masih tergolong pagi, walau tidak sepagi saat ia pertama kali datang ke sekolah ini. Terbukti dengan gerbang yang sekarang sudah di buka, serta ada beberapa murid yang sudah datang walau baru sedikit.
Setelah beberapa menit berjalan, Thalia sampai juga di depan kelas XI Bahasa II. Sebelum masuk Thalia berdiri di ambang pintu, memindai isi kelasnya.
Kelasnya masih begitu kosong, hanya ada seorang perempuan berkacamata yang Thalia tahu namanya adalah Rara, Lina menyebut Rara sebagai si gugel berjalan.
Karena Rara memnag terkenal pintar bukan hanya di jurusan Bahasa, tapi juga di jurusan Ipa dan Ips. Rara terkenal menguasai berbagai mata pelajaran yang bahkan bukan mata pelajaran jurusannya, seperti matematika, kimia, ekonomi, dll. Pokoknya sudah seperti gugel yang ketika kita tanya sebuah soal, jawabannya langsung ada.
Selain Rara, ada juga seorang lelaki yang sedang menatapnya dengan antusias. Dan dia... Rida.
Thalia mendengus malas.
Kenapa Rida sangat rajin datang ke sekolah sih?
Dengan dingin Thalia berjalan melewati Rida yang ada di bangku depan, berpura - pura tidak melihat keberadaan Rida.
Thalia berjalan santai hendak di kursinya yang biasa, hingga sebuah suara tiba - tiba menghentikannya.
"Hayoh... Thalia! Mau kemana kamu?!" Ucap seseorang dengan suara menggelegar, membuat Thalia terlonjak kaget dan langsung berbalik ke belakang.
Ternyata suara itu adalah suara Bu Ratih.
Bu Ratih berkacak pinggang di depan pintu kelas, sambil menatap Thalia dengan tatapan intimidasi.
"Hehehe ibu, apa kabar bu? Kok udah ada disini?" Thalia nyengir kuda, kikuk.
"Ya ibu sengaja datang pagi lah! Ibu tahu ini bakal terjadi. Udah gak usah basa - basi. Mulai sekarang kamu dan Rida duduk sebangku ingat kan?!" Cecar Bu Ratih to the point.
"I-iya bu." Jawab Thalia pasrah.
Dalam hati Thalia menggerutu.
'Rajin banget sih jadi guru.' ucapnya dalam hati, kesal.
"Nah... ibu sudah pilihkan khusus untuk kalian bangku paling depan, biar kalian bisa fokus untuk mendengarkan penjelasan guru dan kalian juga gak bisa berantem karena duduknya deket sama guru." Ujar Bu Ratih lagi dengan semangat.
Berbanding terbalik dengan Thalia yang berjalan dengan lesu ke meja depan, lalu duduk di samping Rida.
"Nah gitu dong!" Tukas Bu Ratih senang. "Yaudah ya... Ibu pergi dulu ya..." Pamit Bu Ratih.
Namun baru saja beberapa detik berlalu, Bu Ratih kembali sambil melongokkan kepalanya mengintip kedalam kelas.
"Tuhkan!! Kalian serasi banget deh!!" Ujarnya dengan semangat, lalu pergi setelah mengatakan itu.
Thalia melongo, lalu menggeleng kecil.
Ada - ada saja kelakuan guru zaman sekarang.
Thalia menghela nafas, mencoba mengumpulkan kekuatan sebelum menjalani hari yang berat ini.
Thalia menaruh tas nya di kursi, lalu melirik Rida yang sedari tadi menatapnya dengan senyuman penuh arti.
Thalia mengerutkan dahinya tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya, menghiraukan Rida.
Thalia mencoba mengalihkan fokusnya dengan memperhatikan meja yang saat ini ia gunakan. Meja itu bersih tanpa corat-coret, tidak seperti meja yang ada di bagian belakang kelas. Namun, ada satu stiker besar yang menempel di meja itu, Thalia membaca tulisannya yang tertera disana. Tulisannya adalah : Meja Athalia dan Rida.
Thalia mendengus, ternyata Bu Ratih sangat bekerja keras seperti ini.
Zittt...
Tiba - tiba Thalia merasa ada yang menusuk-nusuk belakang kepalanya. Bukan menusuk dalam artian sesungguhnya, maksudnya Thalia sadar Rida sedang menatapnya dari tadi dan itu membuatnya sangat tidak nyaman!
"Ekhem." Thalia berdehem, mencoba terus mengabaikan Rida. Ia menolehkan kepalanya ke segala arah. Matanya berlarian gelisah, memperhatikan seisi kelas.
Namun, Rida masih terusss saja memperhatikan Thalia dan Thalia sangat sadar akan hal itu.
Bahkan tubuhnya sampai merinding merasakan tatapan Rida.
Huh, Thalia tak sanggup lagi. Ia tak bisa mengelak lagi.
"Apa sih?!" Hardik Thalia sewot.
"Hehehehe... Akhirnya nengok juga lo." Rida tertawa puas.
"Dari tadi gue juga udah sadar kali! Ada apaan sih?" Tanya Thalia, masih dengan nada sewot.
"Jadi gini, sebagai teman sebangku sebulan ke depan. Alangkah baiknya kita membangun chemistry." Ucap Rida menjelaskan maksudnya menatap Thalia sedari tadi.
"Dih! Buat apa gue membangun chemistry sama lo!" Tolak Thalia tegas.
"Oh... Jadi lo gak mau nih?" Tanya Rida dengan nada ancaman.
"Gak lah! Buat apa?!" Tolak Thalia lagi.
"Kalau lo gak mau! Gue bakal sebarin kalau lo ken— hmmpp..."
Dengan sigap Thalia membekap mulut Rida, menghentikan kata - kata yang akan keluar dari mulut Rida.
Thalia memelototi Rida, lalu melepaskan bekapannya.
"Bisa diem gak sih!" Hardik Thalia, sambil mendelik kesal.
"Makanya lo harus mau." Sahut Rida sambil tersenyum menyebalkan.
"Harus mau apa?!" Tanya Thalia mulai frustasi.
"Membangun chemistry." Jawab Rida singkat.
"Gimana coba caranya?" Tanya Thalia dengan malas, karena sebenarnya ia tidak penasaran.
"Lo harus mengikuti permainan yang gue buat. Menurut gue itu bisa membangun chemistry diantara kita." Ucap Rida dengan senyum penuh arti.
"Huft..." Thalia menghela nafas. "Kenapa gue harus ikut? Emang apa untungnya coba buat gue?"
"Keuntungannya adalah, lo boleh ngebabuin orang yang kalah dari permainan ini sampai kelulusan." Ucap Rida memberi penawaran.
Thalia melongo.
"Dih males! Bilang aja lo mau memperbudak gue! Pakai sok - sok an mau membangun chemistry!" Hardik Thalia tak terima.
"Emang!" Rida tersenyum licik, membuat Thalia seketika ingin mencakar wajah Rida.
"Gak! Gue gak mau!" Tolak Thalia
"Oh... lo udah ngaku bakal kalah?" Ujar Rida sambil berpangku tangan dan menaikkan sebelah alisnya.
Mata kiri Thalia berdenyut skeptis, saking kesalnya melihat raut menyebalkan Rida.
"Heh! Jangan mancing - mancing emosi ya! Ini masih pagi tau gak!" Sentak Thalia emosi, sambil menunjuk Rida dengan telunjuknya, sementara yang ditunjuk hanya tertawa - tawa kecil.
Thalia terdiam, memikirkan tawaran Rida. Jika dipikir-pikir, Thalia masih gendok dan kesal sekali pada Rida. Namun jika ia ketahuan sekali lagi berkelahi dengan Rida, ia pasti akan di skors atau dikeluarkan dari sekolah.
Mungkin... Dengan memenangkan permainan ini, Thalia bisa memperbudak Rida dan menyalurkan dendamnya tanpa diketahui pihak sekolah.
Hihihi
Thalia tertawa licik di dalam hati.
"Hm..." Thalia menaruh telunjuknya di pelipis, berpikir.
"Gimana?" Tanya Rida lagi.
Dengan tatapan penuh percaya diri, Thalia menatap Rida tepat di kedua bola matanya. Ia berpangku tangan, lalu menjawab.
"Oke." Ujar Thalia tanpa ragu.
Rida tersenyum puas, mendengar satu kata yang keluar dari mulut Thalia.
Ya, hanya satu kata.
Satu kata yang mungkin tak bermakna, namun menjadi awal dari sebuah perjalanan kisah dua orang manusia dalam mencari jati diri mereka di masa SMA.