09. Misi Penyerangan Berakhir Hukuman

2572 Words
Thalia menginjakkan kakinya di halaman sekolah dengan percaya diri, sebab ia telah memiliki rencana mutakhir untuk membalas perbuatan Rida padanya kemarin. Thalia telah memikirkan rencana ini semalaman, dan ia yakin Rida pasti akan menyesal berurusan dengannya. Tak peduli apa kata orang, mau Rida itu bad boy kek atau most wanted boy kek, salahnya mecari gara - gara dengan Thalia. Pokoknya, Thalia akan membuat Rida merasakan neraka! "Wahahahahaha!" Saking asiknya memikirkan rencana jahatnya, tanpa sadar Thalia tertawa dengan lantang bak tokoh antagonis dalam film, yang seketika menarik perhatian murid - murid yang baru berdatangan. "Ups!" Thalia sadar dan menutup mulutnya, lalu menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan telapak tangan, malu. Aduh... Thalia malu sekali. Dengan langkah cepat dan wajah yang masih ditutupi telapak tangan, Thalia bergegas menuju kelasnya. ••• Kringgg!!! Suara bel istirahat berbunyi kencang. Seketika semua murid di dalam kelas XI Bahasa II berhamburan keluar, berlomba - lomba menuju kantin, tidak sabar untuk mengisi perutnya masing - masing. Namun tidak dengan Thalia, Thalia masih terduduk diam di kursinya, tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari sana. "Thal! Ayo ke kantin! Laper nih gue!" Ajak Lina tak sabar, ia sudah berdiri dari duduknya. "Eh! Gue...gak ke kantin dulu deh. Gak lapar." Tolak Thalia berbohong, sesungguhnya cacing - cacing di perutnya sudah demo meminta jatah. Tapi... Thalia harus bertahan di kelas ini. "Yah..." Desah Lina kecewa. "Yaudah deh, gue ke kantin dulu ya!" Pamit Lina, lalu keluar dari kelas. Satu persatu orang yang masih di dalam kelas juga keluar menuju kantin, hingga akhirnya benar-benar tidak ada orang selain Thalia di kelas XI Bahasa II saat ini. Thalia celingukan, memantau situasi. Ia ingin memastikan jika tidak ada murid yang masih nongkrong di depan kelas XI Bahasa II. Setelah merasa aman, Thalia mulai mengobrak - abrik isi tas nya. Ingat dengan rencana Thalia untuk membalas dendam? Nah, ini adalah salah satu rencananya. Rencana pertama Thalia : memasukkan ulat mainan ke dalam tas Rida, lalu Rida akan menjerit-jerit ketakutan seperti perempuan, setelah itu satu kelas akan menertawakannya. 'Hahahaha!' Thalia tertawa bahagia dalam hati, membayangkan wajah kocak Rida saat ketakutan. Dengan langkah mengendap - ngendap Thalia menghampiri bangku ketiga barisan pojok, namun setelah sampai ia tidak tau yang mana tas Rida. Seingatnya saat pertama kali melihat, Rida duduk didekat jendela. Akhirnya Thalia memasukkan ulat mainan itu ke tas yang dekat dengan jendela. Setelah memasukannya Thalia tersenyum puas, lalu kembali ketempat duduknya. Ia tidak sabar menunggu Rida membuka tas nya dan menjerit seperti bayi. Kringgg!!! Bel masuk yang sudah Thalia tunggu - tunggu. Satu persatu murid memasuki kelas, termasuk Rida. Lalu datanglah bu Eva guru antropologi, guru yang terkenal dengan suaranya yang seperti lagu nina bobo. Sehingga saat Bu Eva berbicara yang mendengarnya akan mengantuk. "Ayo anak - anak keluarkan bukunya, kita mencatat sedikit ya.." "Iya bu..." Thalia menahan senyum, ia menanti - nanti suara jeritan dan.. "Arrrrgghhhhh." "Hahahaha!" Thalia tertawa lepas, "ha- ha- ha." lalu berhenti saat menyadari yang menjerit adalah Dean. Rupanya ia memasukkan ulat ke tas yang salah. Dean yang sepertinya ketakutan mengeluarkan ulat itu dari tasnya dan melemparkannya ke sembarang arah, sehingga suasana kelas jadi kacau dan Bu Eva sibuk menenangkan para perempuan yang histeris termasuk Lina. 'Hadeuhh gagal.' Thalia menelungkupkan wajahnya di atas meja. Jam pelajaran Bu Eva telah selesai, sekarang saatnya pelajaran B. Inggris yang diisi oleh Pak Bonbon. Namun sepertinya Pak Bonbon datang terlambat, karena sampai sekarang belum juga datang. Mumpung tidak ada guru dan semua sedang sibuk sendiri —termasuk ketiga teman Rida yang sedang war coc di bangku depan meninggalkan Rida sendirian dibangkunya—, Thalia memanfaatkannya untuk balas dendam. Rencana kedua Thalia : Menyobek selembar kertas dari bukunya yang paling belakang, lalu menulis kalimat dengan spidol yang berbunyi :" Awas Orang Gila mau lewat." Setelah itu, ia menempelkan dobeltipe dibelakangnya. Dan... jadilah senjata balas dendam! Thalia mendekati tempat duduk Rida, ia meletakkan kertas itu pada tangan kirinya. Dan setelah dekat.. Plakkk Thalia menempelkan kertas itu pada punggung Ridha dengan modus memukulnya. "Aww, apa - apaan sih lo?!" Rida mengerang kaget. "Hehehehe sorry." Ucap Thalia sambil berlari ke bangkunya. "Selamat siang.." Pak Bonbon memberi salam saat memasuki kelas, sontak seluruh murid kembali ke tempatnya masing - masing. Saat Dean kembali duduk ke tempatnya, ia melihat sesuatu dipunggung Rida lalu mencabutnya. "Hei Rid apaan nih?" Tanyanya sambil tertawa. Rida mengambilnya dari tangan Dean, ia ingat akan Thalia yang memukul punggungnya pasti itu adalah modus untuk menempelkan kertas ini. Dengan cepat Rida melihat kearah Thalia dengan tatapan sinis, sedangkan Thalia yang melihatnya menolehkan kepala kearah lain sambil merengut. 'Gagal deui.. Gagal deui..' Batinnya. Selang lima menit pelajaran berlangsung, Rida mengangkat tangannya dan meminta izin untuk ke kamar mandi. Aha! Ini adalah kesempatan bagus! Pikir Thalia Rencana ketiga Thalia: Thalia yang masih belum puas balas dendam pun berniat menjahilinya dikamar mandi. Tapi, ia masih belum tahu akan melakukan apa. Yang pasti, Thalia harus membuat Rida merasakan apa yang ia rasakan kemarin. Mungkin terdengar agak kejam, tapi Thalia tidak akan puas kalau belum melakukan ini. "Pak, izin ke kamar mandi." Ucap Thalia mengangkat tangannya, pak Bonbon pun menganggukkan kepalanya. "Cieeee Thalia nyusul Rida kekamar mandi. Hati - hati loh.." Reza, salah satu teman sekelasnya berteriak membuat kelas jadi ricuh, namun Thalia tidak mengacuhkannya. Thalia berlari kecil menuju kamar mandi laki - laki, ia ingin segera sampai disana karena kali ini Thalia yakin jebakannya akan berhasil. Namun, sesampainya disana ada dua pintu yang tertutup. Thalia bingung yang mana tepatnya toilet yang ditempati Rida. Setelah menarik nafas akhirnya Thalia memutuskan menggunakan cara yang paling ampuh dan dijamin akurat. Yaitu, menggunakan : Cap Cip Cup "Cap cip cup kembang kuncup pilih mana yang mau di cup." Saat lagunya berhenti, tangannya sedang menunjuk pintu yang kanan. Itu berarti Ridha ada di toilet yang kanan. Thalia bersiap didepan pintu itu dengan seember air ditangannya. Sudah tau kan Thalia mau apa? Ya, dia akan menyiramnya. Jangan salahkan kekejaman Thalia, karena dia tidak akan berhenti sampai dendamnya terbalaskan. Kriettt Suara pintu toilet dibuka, perlahan orang didalamnya berjalan keluar. Satu.. Dua.. Tiga.. Byurrrr "Hahahahaha rasain lo Rid- da." Thalia yang semula tertawa menjadi tergagap saat melihat Rida keluar dari toilet yang kiri. Lalu siapa yang Thalia siram? Ternyata, yang ia siram adalah Pak Reno! Gawat! Pak Reno memejamkan mata, badannya bergetar. Tampak jelas bahwa ia sedang marah. Thalia yang merasa takut tanpa sadar menjatuhkan ember ke sembarang arah. Lalu berniat melarikan diri, sementara Rida menatap Pak Reno dengan bingung. Baru saja Thalia berbalik hendak melarikan diri, Pak Reno berteriak "KALIANNN IKUT SAYA KEKANTORRRRR!!!" 'Alamak... Ini mah bukan gagal lagi tapi kacau balau!' Thalia menjerit dalam hati. ••• "KALIAN TIDAK BOSAN DIHUKUM HAH?!" Pak Reno menggebrak mejanya, dengan Thalia dan Rida duduk dihadapannya. "Saya gak tau apa - apa sumpah." Rida membela dirinya. "Sudah! Saya tau, apa yang Thalia lakukan pasti ada hubungannya dengan kamu. Dan ini disebabkan karena perkelahian tadi pagi kan?" Thalia mengangguk lemah sedangkan Ridha menatap Thalia jengkel. "Saya tidak sanggup lagi menghadapi kalian! Lebih baik kalian menghadap BK sekarang juga!!!" Pak Reno berteriak kencang tepat di depan wajah Rida dan Thalia, yang seketika membuat Thalia dan Rida memejamkan mata mereka erat - erat. Teriakannya yang lantang membuat beberapa guru yang sedang berada di kantor pun ikut berjengit kaget. Gluk! Thalia menelan salivanya, takut. BK?! Thalia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika ia berhubungan dengan BK. Dan... Disinilah ia berada, di ruangan BK yang berada tepat di sebelah ruangan guru. Ruang BK memang sengaja dibuat lebih personal dengan memiliki ruangan sendiri, entah apa alasannya. Tapi menurut Thalia, mungkin agar murid yang memiliki masalah tidak malu saat dinasehati. Karena menurut pengalaman Thalia dinasehati didepan orang banyak itu lebih memalukan rasanya. Ruangan itu kosong, hanya ada Thalia dan Rida di dalam ruangan itu. Mereka berdua berdiri berdampingan, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tak selang berapa lama, pintu ruangan BK di buka lalu munculah sesosok wanita paruh baya dengan pakaian yang rapi namun sangat mengikuti jaman. Intinya walau terlihat sudah berumur, Bu Ratih terlihat sangat trendi dengan fashion jaman now yang melekat ditubuhnya. Thalia tersenyum saat melihat Bu Ratih tersenyum padanya. Ini pertama kalinya melihat langsung sosok Bu Ratih, selama ini ia hanya mendengar dari orang lain tentang sosok guru BK yang katanya menakutkan dan membuat kita tidak bisa berkutik. Namun... Melihat Bu Ratih yang sedari tadi menebar senyuman ramah, membuat Thalia merasa kalau Bu Ratih mungkin tidak sekejam rumornya. Eh, jangan mudah tertipu Thalia! Sadar! Ada alasannya beliau terpilih jadi guru BK. Thalia menggeleng kecil, mencoba menyadarkan dirinya sendiri. "Halooo... Kok tegang gitu sih?" Bu Ratih bertanya sambil tersenyum geli. Thalia tersenyum palsu, antara tak ingin senyum, tapi tak mau berlaku tidak sopan. Bu Ratih berjalan mendekati Thalia dan Rida masih dengan senyuman di wajahnya. Setelah berada tepat di depan Thalia, beliau mengulurkan tangannya ke arah kepala Thalia, membuat tubuh Thalia seketika menegang takut. Melihat Thalia yang waspada, Bu Ratih menghentikan gerakan tangannya, lalu menggeleng sambil tersenyum. Setelah itu ia mengusap kepala Thalia dengan lembut. "Cantik banget sih..." Ucapnya lagi, membuat Thalia agak tersipu malu. "Eh Btw, ini kamera baru ibu, bagus gak?" Tanya Bu Ratih tiba - tiba, sambil menunjukkan kamera polaroid yang sejak tadi ia pegang. "Bagus bu." Jawab Thalia dan Rida jujur. "Ibu beli di olshop ini, baru datang tadi sih. Jadi ibu gak tahu, ini berfungsi atau enggak." Ucap Bu Ratih lagi, masih membahas tentang kamera barunya. "Eh, kalian mau gak ibu fotoin? Biar ibu tahu, kamera ini berfungsi atau enggak. Mau ya?" Desak Bu Ratih. Thalia meringis. Ia ingin menolak, tapi tidak tahu harus berkata apa. "Gak mau, Ibu foto alam aja buat mastiin itu kamera hidup atau gak." Tolak Rida tegas. Bu Ratih cemberut mendengar jawaban Rida. "Ayolah Rida... Kapan lagi ibu baik hati kayak gini... Ayolah ya?" Pinta Bu Ratih lagi, mendesak. "Gak mau Bu." Tegas Rida. "Huft..." Bu Ratih menghela nafas. "Rida ganteng banget deh, sekaliiiii aja ya?" Ucap Bu Ratih kekeuh, masih belum menyerah. "Huft..." Rida mendesah malas. "Yaudah deh Bu, sekali aja." Ujar Rida pada akhirnya, mengalah. "Nah gitu dong!" Seru Bu Ratih girang. "Sekarang kalian berdua berdiri di sini..." Bu Ratih dengan heboh membetulkan posisi Thalia dan Rida, tak lupa beliau juga merapikan seragam Thalia dan Rida dan menyuruh mereka berdua berdiri berdekatan. "Nah cakep tuh! Lebih deket lagi sedikit Thal!" Titah Bu Ratih. Dengan sungkan Thalia menggeser sedikit mendekat ke arah Rida. "Oke sip! Satu... Dua... Tiga..!" Cekrek! Terdengar suara tangkapan dari kamera Bu Ratih, yang itu artinya satu foto berhasil di abadikan. "Oke! Mantap! Makasih!" Seru Bu Ratih riang, ia tersenyum puas melihat hasilnya. "Eh duduk - duduk, pasti capek kan berdiri terus dari tadi." Tukas Bu Ratih menyilakan Thalia dan Rida duduk di kursi depan mejanya, sementara Bu Ratih sendiri pun duduk di kursinya. Dengan ragu - ragu Thalia duduk di kursi, begitu pula Rida duduk di kursi yang ada sampingnya. Bu Ratih menyimpan kameranya di atas meja, lalu menatap Thalia dan Rida bergantian, tentu saja senyuman selalu tercetak di wajahnya. "Jadi..." Ucapnya membuka obrolan, Bu Ratih menumpukan dagu di kedua tangannya. "Sejak kapan kalian pacaran?" "HA?!" Thalia dan Rida sontak melotot bersamaan. "Kita gak pacaran bu!" Sanggah Thalia mentah - mentah. "Apaan deh Bu! Masa saya pacaran sama orang kaya gini." Ketus Rida. Thalia mendelik, "Emangnya gue kenapa?!" Sewot Thalia, tak terima. "Oh ya ampun... Saya kira kalian pacaran... Soalnya kalian cocok banget loh..." Imbuh Bu Ratih lagi, tak merasa ada yang salah dengan ucapannya. "GAK BU!" Serempak Thalia dan Rida membantah. "Hmm... Biar saya ingat - ingat dulu." Bu Ratih menaruh telunjuknya di dahi. "Oh... Kalian itu yang berantem di lapangan kan... Wah...! Kalian sekarang terkenal loh! Satu sekolah geger!" Seru Bu Ratih sambil bertepuk tangan, namun Thalia merasa seakan Bu Ratih sedang menyindir. Thalia mengangguk pelan, Rida mengalihkan pandangannya sambil mengusap tengkuk lehernya, mereka berdua malu sekali! "Kalian... Kenapa berantem?" Tanya Bu Ratih, memulai sesi konseling. Thalia dan Rida terdiam, tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan satu kata pun. Thalia bingung harus menjelaskan seperti apa. "Hmmm... Biasanya sih, orang berantem itu karena saling benci ya.... Jadi... Kalian saling benci nih? Bener gak sih? Saya sih mikirnya gitu, mungkin bukan hanya saya, satu sekolah juga mungkin satu pemikiran dengan saya. Apalagi, liat kalian berantemnya wah... Heboh banget! Bener gak sih? Ayo ngomong dong..." Desak Bu Ratih. Walaupun begitu nada bicaranya tetap santai, tidak terdengar marah sedikit pun. Thalia menunduk, memainkan jari jemarinya dibawah meja. Bagaimana ya, dibilang benci Thalia tidak tahu pasti. Dibilang tidak benci juga, masalahnya tingkah Rida selalu membuatnya kesal setengah mati sampai gemas ingin menjambak rambutnya. Tidak ada jawaban. Bu Ratih tersenyum lagi, lalu mengambil foto yang baru saja keluar dari kamera polaroid nya. "Kira - kira... Bagaimana ya respon satu sekolah ketika melihat foto ini?" Ancam Bu Ratih, sambil menunjukkan selembar foto dengan wajah Thalia dan Rida yang terpampang jelas disana. Thalia terbelalak, jadi ini tujuan Bu Ratih memintanya difoto tadi. Ternyata... Bu Ratih sesuai dengan rumornya! Beliau benar - benar menakutkan dan membuatnya tidak bisa berkutik! "Apaan sih bu? Emangnya respon satu sekolah bakal kayak gimana?" Tanya Rida menantang. "Kalau dilihat dari sudut pandang saya sih ya, kalian tuh cocok banget! Kayak orang pacaran gitu! Mungkin orang - orang bakal bilang, 'Eh kemarin berantem sekarang pacaran cieee..' Hahahaha..." Bu Ratih tertawa geli dengan ucapannya sendiri. "Haha... Emangnya orang - orang bakal semudah itu percaya?" Sarkas Rida. "Hmm... Jadi kamu tidak masalah ya dengan itu. Oke! Itu pilihan kamu." Ujar Bu Ratih enteng sambil tersenyum riang. Thalia melongo, maksudnya apa? "Jadi maksudnya, ibu bakal kasih tahu orang - orang tentang foto itu?" Tanya Thalia memastikan. "Iya, soalnya bagus, sayang kalau cuman saya doang yang liat. Di pajang di mading oke kali ya..." Ujarnya sambil memandangi foto Thalia dan Rida. Mading?! Thalia berjengit kaget. Mungkin Rida tidak masalah dengan itu, tapi ia tidak! Rida itu terkenal sebagai bad boy, most wanted boy. Apa yang akan terjadi pada murid yang baru tiga hari sekolah, langsung dikabarkan berpacaran dengan Rida? Hah... Thalia tidak mau diserang oleh wanita yang tergila - gila pada Rida. Seketika Thalia menyesal tadi tersenyum saat difoto. "Aduh Bu jangan! Saya mohon Bu jangan!" Mohon Thalia dengan panik. "Tapi Rida sepertinya tidak masalah dengan itu." Ucap Bu Ratih, melihat Rida yang nampak tenang. "Aduh Bu, jangan atuh Bu. Please... Saya baru sekolah beberapa hari disini, saya gak mau ada rumor aneh sama orang kaya dia!" Thalia terus memohon, sambil menunjuk Rida disampingnya. Rida mengernyit tersinggung. "Heh! Lo pikir gue mau gitu? Ngarep banget!" Hardik Rida. "Saya juga ogah Bu, punya rumor sama dia! Amit - amit banget deh!" Ketus Rida. Thalia mendelik kesal, yang tentu saja dibalas pelototan dari Rida. "Hmmm... Kalau gitu, harus ada gantinya dong." Ujar Bu Ratih, menarik atensi Thalia dan Rida. "Gantinya apa bu?" Tanya Thalia dan Rida bersamaan. "Sebagai gantinya kalian harus duduk sebangku selama satu bulan, membereskan perpustakaan sepulang sekolah selama seminggu. Jangan berusaha pindah tempat atau kabur, karena guru yang masuk akan laporan ke saya, dan kalian harus mengirimkan foto selfie sedang membersihkan perpustakaan, ke Ibu. Bagaimana?" Thalia dan Rida saling berpandangan, mencoba mengirim kode - kode lewat tatapan, namun gagal. "Hadeuh... Anak muda, malah curi - curi pandang. Ibu kan jadi nyamuk ini!" Tukas Bu Ratih, pura - pura sedih. "Ih!!" Thalia dan Rida mengernyit jijik mendengar penuturan Bu Ratih. Dalam sekejap mereka saling membuang muka, lalu menatap Bu Ratih dengan tatapan yakin. "DEAL!" Seru Rida dan Thalia tanpa ragu. Mendengar itu, perlahan senyuman lebar mengembang di wajah Bu Ratih. 'Berhasil lagi!' Seru Bu Ratih dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD