08. Dimulai

2162 Words
Lina berlari dengan tergesa di sepanjang lorong sekolah, melewati deretan kelas sepuluh, menuju ke toilet ke dua yang ada di lantai satu ini. Bukan, Lina bukan sedang kebelet pipis atau semacamnya. Ia kesini untuk... "Thalia!" Panggil Lina saat melihat Thalia yang hendak masuk ke dalam toilet, sambil menenteng ember dan pel an ditangannya. Thalia menoleh, lalu memasang wajah ingin menangis saat melihat Lina berlari menghampirinya. "Thal! Lo gak papa kan?" Tanya Lina khawatir sambil memegangi pipi Thalia, lalu meneliti luka - luka cakaran di wajahnya. "Gak apa - apa." Jawab Thalia dengan sedih. "Serius?" Tanya Lina tak percaya. Thalia mengangguk lemah. "Emang rambut lo gak rontok gitu, dijambak sama si b*****t itu?" Tanya Lina lagi masih khawatir, ia mengusap kepala Thalia dengan wajah sedih. Walau begitu, Lina nampaknya benci sekali dengan Rida, hingga tak mau menyebutkan namanya. "Ekhem! Si b*****t itu ada disini." Interupsi seseorang dari belakang Thalia, yang tentu saja tanpa dilihat pun Thalia dan Lina sudah tahu kalau itu adalah Rida. Rida berjalan melewati Thalia dan Lina sambil menenteng ember dan pel an seperti Thalia, lalu masuk ke toilet cowok. "Gue gak apa - apa kok Lin! Rambut gue gak ada yang rontok juga. Untung gue selalu keramas pakai sampo kuda, jadi kuat deh rambut gue!" Ujar Thalia ceria, sambil mengacungkan jempolnya, tanda baik - baik saja. "Yaudah, bagus deh kalau lo gak apa - apa." Syukur Lina. "Terus kenapa lo sedih gitu?" Sambung Lina. "Sedih gue, gue dihukum harus bersihin semua toilet di gedung Bahasa sampai jam pulang sekolah." Ucap Thalia dengan lesu. "Ha? Serius?" Lina kaget mendengar penuturan Thalia. "Serius lah!" Seru Thalia. "Toilet di satu gedung itu banyak banget loh Thal! Setiap lantai punya dua toilet, apalagi di lantai satu ini toiletnya ada tiga sama yang di deket kantin." Ucap Lina simpati. "Iya Lin, makanya gue sedih teh." Thalia menunduk sendu. "Yaudah, gue bantuin ya." Ucap Lina menawarkan diri, sambil hendak mengambil ember dari tangan Thalia. Dengan cepat Thalia menghindar, tidak membiarkan Lina merebut embernya. "Gak usah Lin, gue bisa kok." Ucap Thalia sungkan. "Gak apa - apa Thal. Gue emang pengen bantuin lo kok!" Ujar Lina lagi, memaksa. "Jangan Lin, ini kan emang hukuman gue." Ucap Thalia lagi, berusaha menolak. "Ya udahlah Thal, kita kan teman. Saling berbagi hukuman wajar kali." Lina tersenyum manis, membuat Thalia mau tak mau ikut tersenyum. Thalia benar - benar terenyuh mendengar kata - kata Lina. Ia merasa sangat beruntung, bertemu Lina di sekolah ini. Thalia goyah, ia hendak menyerahkan pel an yang sedari tadi ia pegang, sebelum sebuah suara menginterupsi apa yang hendak ia lakukan. "Tidak boleh! Ini hukuman Thalia! Biarkan dia yang menanggungnya!" Ucap Pak Reno tegas, muncul dari arah belakang Thalia. Thalia tersentak, lalu menarik lagi pel an itu ke sisinya. "Silahkan Thalia, kamu bisa mulai bersih - bersih." Perintah Pak Reno. Thalia mengangguk sambil menunduk, lalu berjalan melewati Pak Reno, masuk ke toilet sebelahnya yaitu toilet perempuan. Melihat kepergian Thalia, membuat Lina buru - buru ingin pergi juga dari sana. "Pak! saya juga permisi, sebentar lagi bel masuk." Tukas Lina, sambil meneloyor pergi dari sana, sebelum Pak Reno menjawab. Sesungguhnya semenjak kejadian di lapangan tadi, Lina jadi selalu teringat hal itu tiap melihat Pak Reno. Dan itu membuatnya jadi geli dan jijik sendiri, karena itulah ia selalu menghindari Pak Reno. Haduh... Lina ingin menghapus kenangan buruk itu dari pikirannya, karena itu sangat - sangat merusak mata menurut Lina. ••• Bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit lalu, namun Thalia masih sibuk menggosok lantai toilet dengan sikat. Peluh yang bercucuran di keningnya dan seragamnya yang sudah tak beraturan bentuk, tidak lagi ia hiraukan, saking lelahnya. Untung saja ini adalah toilet terakhir, tepatnya toilet kedua di lantai ke tiga, lantainya kelas dua belas. "Thalia! Rida! Kemari!" Suara Pak Reno memanggil dari luar toilet. Thalia menyimpan sikat yang sejak tadi ia gunakan ke dalam ember, lalu mengambil tas nya yang tersimpan di atas wastafel sebelum akhirnya keluar menemui Pak Reno. Ya, tadi Lina kemari membawakan tas Thalia sebelum ia pulang. Thalia dan Rida keluar bersamaan dari toilet yang berbeda, di luar sudah ada Pak Reno menunggu. "Thalia, Rida, kalian berdua sudah boleh pulang. Tapi ingat! Kalau sampai kalian bertengkar lagi! Saya tidak akan segan memberi hukuman yang lebih berat dari ini pada kalian!" Ancam Pak Reno. Thalia menunduk dengan nafas terengah-engah karena lelah, sementara Rida juga yang biasanya menatap dengan berani, kini menunduk karena lelah. "Rida! Saya itu gak ngerti sama kamu, kok bisa - bisanya kamu berkelahi sama perempuan? Gak malu?" Pak Reno melanjutkan omelannya. "Ppftt.." Thalia menahan tawanya, mendengar perkataan Pak Reno. Rida mendelik menatap Thalia. "Kamu juga Thalia!" Pak Reno beralih menatap Thalia, membuat tawa tertahan Thalia seketika berhenti. "Kamu itu perempuan, kok bar - bar sekali sih! Suka sekali berkelahi, gak ngerti lagi saya." Lanjutnya. "Ppftt.." Kini giliran Rida yang menahan tawa. "Sudah! Pokonya awas kalau kalian sampai berkelahi lagi! Kalian itu sudah membuat geger satu sekolah! Kalian juga membuat saya malu, karena celana saya tadi—" Pak Reno menghentikan ucapannya, ketika sadar dengan apa yang sedang ia ucapkan. "Ekhem! Pokoknya kalau sampai kalian berkelahi lagi! Saya nikahkan kalian!" Ancam Pak Reno tegas. "Ih! Amit - amit! Pak!" Sontak Rida dan Thalia berteriak bersamaan. Thalia mengetuk kepalanya dengan kepalan tangan, lalu mengetuk tiang di sampingnya tiga kali. Kebiasaannya jika sedang mengucap amit - amit. "Makanya jangan berkelahi! Sudah sana pulang! Saya juga mau pulang!" Titah Pak Reno dengan emosi, lalu pergi mendahului Thalia dan Rida. Thalia dan Rida berjalan bersama melewati lorong kelas dua belas dalam diam, sama - sama lelah untuk berbicara. Thalia melirik Rida yang berjalan dengan tenang di sampingnya, ia keki sekali pada Rida. Karena gara - gara dia, Thalia jadi dihukum membersihkan seluruh toilet di gedung bahasa. Tadi saat di lapangan... Pak Reno yang celananya melorot murka setengah mati, dengan sekali gerakan ia menarik celananya kembali ke atas dan tak lupa merisleting serta mengancingkan nya. Semua orang masih terdiam seolah ada yang menghentikan waktu. Setelah celananya kembali naik dengan benar, Pak Reno berbalik, lalu berjalan pergi dari sana. Namun sebelum jauh, Pak Reno berkata dengan suara rendah, penuh amarah. "Bersihkan seluruh toilet gedung bahasa, mulai dari sekarang." Begitulah kira - kira ucapan Pak Reno yang penuh penekanan, seketika membuat Thalia dan Rida merinding karena aura murka Pak Reno begitu terasa. Dengan segera Thalia dan Rida berlari ke ruang janitor untuk mengambil peralatan yang akan digunakan untuk membersihkan toilet. Semua orang yang di lapangan saling berpandangan bingung, suara Pak Reno tidak sampai ke telinga mereka, hingga mereka tidak tahu kenapa Thalia dan Rida berlarian. Objek yang menjadi tontonan mereka sudah pergi, otomatis satu per satu orang mulai membubarkan diri. Kembali ke saat ini, kalau diingat-ingat berkat kejadian itu, orang tua Thalia tidak jadi dipanggil ke sekolah. Entah beruntung entah pak reno ingin membunuhnya secara perlahan, karena hukuman yang diberikan Pak Reno membuat seluruh badannya pegal sekali. Tapi tetap saja, kepalanya dan wajahnya masih terasa ngilu sampai saat ini, gara - gara jambakan dan cakaran Rida. 'Emang gak berperasaan ni orang.' Kesal Thalia dalam hati. Thalia melirik Rida yang masih berjalan beriringan di sampingnya, dengan tatapan keki. Lalu secepat kilat Thalia menyikut perut Rida lalu berlari . "Awww...sial." Rida mendesis sambil menatap Thalia yang berlari menjauh. Namun ia tidak mengejar Thalia, tenaganya sudah habis untuk membersihkan toilet satu gedung tadi. Alhasil Rida hanya menggerutu kesal, lalu melanjutkan perjalanannya untuk mengambil tas nya yang tertinggal di kelas. ••• "Hosh... Hosh... Hosh..." Thalia terengah-engah, ia membungkuk dengan kedua tangan menumpu pada lututnya. Ia lelah sekali karena berlarian dari lantai tiga sampai ke lantai dasar. Thalia menengok ke belakang, namun tidak ada siapa - siapa disana. Huft... Lagi - lagi Thalia ketakutan sendiri. Ia berlari karena takut Rida mengejarnya, ternyata kenyataannya tidak. Krucuk... "Aduh..." Thalia memegangi perutnya yang berbunyi. Thalia baru sadar jika ia belum makan sejak siang tadi, karena langsung membersihkan toilet satu gedung tanpa istirahat. Thalia melihat jam tangan yang terpasang di lengannya. Jarum pendeknya mengarah ke arah angka tiga, yang itu berarti sekarang sudah pukul tiga sore. Ternyata sudah cukup lama juga Thalia menahan rasa lapar ini, ia harus segera mengisi perutnya sebelum penyakit maag nya kambuh. Thalia mengalihkan pandangannya ke arah kantin di sebelahnya, tanpa pikir panjang lagi Thalia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantin. Beruntung kantin masih buka dan masih banyak penjual yang belum pulang. Thalia mengamati stan makanan yang berjajar di depannya, setelah berpikir dengan cepat, Thalia memutuskan untuk mendekati stan penjual batagor. "Bu, batagor 10000 ya.." Katanya pada pedagang batagor di kantin. Batagor adalah singkatan dari Baso Tahu Goreng. "Pake piring atau plastik neng?" "Plastik." "Ini neng." "Makasih bu." Thalia memberikan uang 5000 - an dua lembar lalu bergegas pergi, ia berniat memakan batagornya sambil berjalan. Padahal kan itu tidak baik untuk kesehatan. Saat sedang berjalan menuju gerbang sekolah Thalia melihat sesosok yang ia kenal tepat sedang bersender pada gerbang bagian luar. Dan orang itu adalah Ridha. Ridha sedang merokok sendirian sambil sesekali menengadahkan wajah ke langit. 'Anteng amat ngerokoknya, gimana kalau ada guru lewat.' Thalia membatin. Tiba - tiba sebuah ide jahil muncul dalam pikirannya. Pertama ia menarik nafas panjang lalu.. "EH BU RATIH!!!" Thalia berteriak seolah menyapa Bu Ratih sang guru BK. Sontak Ridha kaget dan segera membuang rokoknya yang masih banyak dan menginjaknya. Lalu ia celingukan ke belakang mencari keberadaan bu Ratih, namun ia tidak menemukannya yang ada hanya Thalia yang sedang terbahak - bahak. "Wahahahahahahhahahhhh, p-uas lo kaget hahahahhah. Ka-get k-an lo hahahah." Thalia memberi hinaan disela tawanya. "Dasar ya lo." Ridha menatap Thalia dengan geram dan hendak mengejarnya. Cepat - cepat Thalia berbalik hendak kabur, namun baru beberapa langkah berlari kakinya tersandung batu. Sehingga tubuhnya pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh, tak cukup disitu batagornya yang terbungkus plastik ikut terjatuh dan plastiknya robek sehingga tak bisa dikonsumsi lagi padahal ia belum menyentuh batagornya sama sekali. "Wahahahahahaha rasain lo, kena karmanya. Wahahaha mantap gak sih." Ridha tertawa terbahak - bahak dan balas menghina Thalia. Sedangkan itu Thalia bangun dari jatuhnya yang telungkup dan berusaha duduk. Ia melihat baju dan rok seragamnya kotor oleh tanah, tangan dan lututnya lecet, tak hanya itu batagornya muncrat kemana - mana dan tidak bisa dimakan. Tiba - tiba matanya terasa perih dan saat tak bisa menahannya lagi, bulir - bulir air mata pun turun membasahi pipinya. "Huhuhuhuhuhuhu.." Thalia menangis tersedu - sedu. Ridha kaget karena Thalia menangis keras sekali, ia tidak tau keadaan Thalia karena posisi Thalia membelakanginya. Namun, meskipun kesal dengan kelakuan Thalia. Ridha tetap menghampirinya karena ia paling tidak tahan melihat orang menangis. "Lo gak papa?" Ridha membantu Thalia berdiri dengan memegangi bahunya. Setelah berdiri dengan benar Thalia melepaskan pegangan tangan Ridha pada bahunya. Lalu mentap Ridha tajam. "Gak papa? Ini yang lo maksud gak papa? Gue tuh kaoer banget tau gak? Gara - gara lo, batagor gue jadi jatuh semua... Huhuhu...." Thalia mengeluh sambil menangis, membuat suaranya jadi tersendat. Rida menggaruk pelipisnya, malas meladeni. "Gue tanya deh, lo jatuh sendiri atau gue dorong?" Tanya Rida keki. "Sendiri...." Ucap Thalia jujur, masih dengan kondisi menangis. "Nah itu tahu! Terus kata lo semuanya gara - gara gue itu datangnya dari mana? Orang lo jatuh sendiri kok!" Hardik Rida emosi. "Ta-tapi... Gue-gue kesel huhuhu... Gara - gara lo muka gue banyak cakaran, rambut gue gimbal, huhuhu... Terus baju gue acak - acakan... Eh sekarang kotor lagi... Huwaaaaa!!!" Thalia menangis semakin keras, membuat Rida jadi panik, takut ada orang yang mendengar lalu salah paham padanya. "Thalia! Lo pikir gue baik - baik aja gitu? Gue juga sama kayak lo! Kan lo juga jambak gue, cakar gue! Jangan playing victim deh lo!" Cecar Rida kesal, sambil melihat sekelilingnya dengan panik. Beruntung suasana sekolah sudah sepi, karena semua murid sepertinya sudah pulang. "Ih!!! Orang lagi nangis malah lo marahin! Huhuhu... Jahat lo!" Bentak Thalia marah, lalu mengusap matanya yang basah oleh air mata. Sebenarnya hari ini Thalia sangatlah lelah, hingga hal sekecil ini pun bisa membuatnya menangis tersedu-sedu. "Cengeng banget sih lo! Lo gak inget apa?! Lo nyikut gue di lantai tiga tadi, gue gak nangis kayak lo!" Sindir Rida, sinis. Thalia melotot marah mendengar perkataan Rida. "Dasar lo gak punya hati! FUK! GUE BENCI SAMA LO!" Thalia mencaci Ridha sambil berteriak, setelah itu ia berlari keluar gerbang lalu menyebrang dan menyetop angkot yang lewat. Hingga akhirnya Thalia hilang dari pandangan Ridha. "Dasar cewek aneh." Gumam Ridha tak mengerti. Sementara itu Thalia menaiki angkot dengan perasaan malu, karena penumpang angkot yang lain terus saja memperhatikannya. Lebih tepatnya memperhatikan penampilan ajaibnya. Baju dan rok seragam kotor, tangan dan lutut merah, mata sembab, serta rambut yang acak - acakan. 'Ini semua gara - gara Ridha.' Thalia merutuk dalam hati, setiap kali melihat penumpang sedang menatapnya. Alhasil sepanjang jalan Thalia hanya melihat keluar jendela. Selain menghindari tatapan massa, ia juga sedang memikirkan rencana - rencana jahat untuk membalas perlakuan Ridha dengan tangannya yang terkepal. Karena sebenarnya Thalia adalah tipe pembalas dendam, dan tentu saja ia tidak akan tinggal diam dengan kelakuan Ridha yang telah membuatnya malu setengah mati saat ini. 'Ridha, perang dimulai.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD