07. Pa Reno?!

2705 Words
"Apa yang kalian lakukan sungguh kekanakan! Berkelahi itu tidak akan menyelesaikan masalah. Dan lagi kalian itu tidak menghargai saya, saya menyuruh kalian mengerjakan soal! bukan berkelahi! Teman - teman kalian sibuk mencari nilai mereka. Eh, kalian malah berkelahi!" Pak Reno terus memarahi Thalia dan Ridha ditengah lapangan. Tadi setelah Ken berteriak kencang, seluruh murid menatap Ken dengan berbagai tatapan. Ken yang gelagapan karena ditatap, langsung menunjuk kearah mereka berdua. Dan tatapan pun beralih kearah mereka, ada yang menatap kasihan, ada yang tertawa, bahkan ada yang taruhan. Dengan segera Pak Reno menyingkirkan kerumunan di mejanya untuk melihat apa yang terjadi. Setelah terlihat jelas apa yang sedang terjadi Pak Reno melotot, giginya bergemelatuk, tampaknya ia geram dengan kelakuan Thalia dan Rida. Ia berdiri dan berteriak, "KALIAAAN KELAPANGAN SEKARANGGG!!!" Alhasil disinilah mereka, tadi setelah berceramah panjang Pak Reno memberikan hukuman hormat ke bendera sampai jam istirahat. Dan parahnya matahari sangatlah panas hingga terasa membakar tubuh, jika dalam kartun mungkin asap sedang keluar dari kepala mereka. "Cieee!! Dihukum berduaaa!!!" Dean berteriak dari lantai dua tempat kelasnya berada. Thalia dan Rida melirik kearahnya, dan ternyata seluruh kelas XI BAHASA II sedang menonton mereka dari atas karena Pak Reno tengah mengawasi mereka yang sedang dihukum. Bahkan bukan kelas mereka saja, kelas yang sedang jam kosong pun menjadikan mereka tontonan baik itu kelas X, XI, maupun XII. Thalia menundukkan kepalanya malu, sedangkan Rida tampak cuek - cuek saja. "Ini semua gara - gara lo." bisik Thalia dengan penekanan disetiap katanya. "Gue gak akan cubit lo, kalau lo gak jambak gue." Ridha memberi pembelaan. Mereka berbicara dengan posisi masih hormat ke bendera. "Gue gak akan jambak lo, kalau lo gak hina apa yang gue suka." Thalia membentak pelan. "Suka? Mereka tau lo suka aja kagak. Buat apa suka?" Rida membalikkan perkataan Thalia saat berkelahi tadi. "Ampun gusti...baru dua hari gue sekolah udah kayak gini apalagi sebulan..." Thalia mengeluh sambil mengusap peluhnya. "Yaudah pindah lagi aja." Jawab Rida dengan santai. "Dasar lo sinting!" Thalia menatap Rida tajam. "Wlee..." Rida menjulurkan lidahnya mengejek, yang seketika menyulut emosi Thalia hingga ke ubun - ubun. "Ih..." Geram Thalia, sambil menggerakkan kakinya lalu menendang kaki Rida sekuat tenaga. Dug! "Aw!" Rida mengaduh kesakitan, tubuhnya sampai limbung ke depan gara - gara tendangan Thalia di tulang keringnya. "A****g lo! Sakit tau!" Hardik Rida kesakitan, ia berjongkok mengusap tulang keringnya yang terasa nyut - nyutan "Hahaha rasain, ini lah adzab bagi seseorang yang suka menghina orang lain. Seorang penghina kesukaan orang lain, harus dihukum sama satu dunia! Wahahahaha!" Thalia tertawa keras sambil berkacak pinggang, menirukan pemeran antagonis di sinetron-sinetron. Rida menatap Thalia tajam, rahangnya mengeras menahan amarah. Dengan gerakan yang cepat Rida menarik satu kaki Thalia, hingga Thalia kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan p****t membentur tanah dengan keras. "Adohhh!!!" Thalia mengaduh, sambil menggosok pantatnya yang linu karena mencium aspal. "Hehehe... Rasain lo!" Rida tertawa puas. "Ih..." Geram Thalia, ia melotot marah menatap Rida, nafas nya naik turun karena emosi. "WAA!!" Dengan emosi yang meluap, tanpa pikir panjang Thalia menerjang Rida hingga punggung Rida membentur tanah. Belum cukup sampai situ, Thalia menjambak kuat rambut Rida, hingga Rida mengaduh kesakitan dan kedua matanya berair saking pedihnya kulit kepala Rida. "Awww!!! Cewek sinting lepasin!!!" Teriak Rida kesakitan, ia tidak menduga Thalia akan menerjangnya, karena semua terjadi dengan begitu cepat. "A****g lepasin sakit!!!" Rida berteriak mengumpati Thalia, ia menggulingkan tubuhnya agar jambakan Thalia di rambutnya terlepas. Namun, seperti kesetanan Thalia terus menjambak rambut Rida dengan membabi buta. "B*****T LEPAS!!!!" Teriak Rida kesakitan. ¹"Moal aing mah! Saacan buuk maneh coplok mah moal dilesotken ku aing!!" Teriak Thalia marah, ia sampai lupa dengan bahasa Indonesia yang sudah ia pelajari, saking kalutnya. "LEPASIN!!!" Teriak Rida sambil balas menjambak rambut Thalia dengan kuat, sebagai upaya membela diri. ²"AWWWW!!! NYERI SIAH GELO!" Thalia berteriak mengumpat, air mata pedih mulai membahasi matanya. "Ngomong apaan sih lo?!" Cecar Rida, kesal setengah mati pada Thalia yang keras kepala tidak mau melepaskan jambakannya. Mereka terus saling menjambak rambut satu sama lain, hingga berguling - guling di lapangan, tak luput umpatan ikut menyertai perkelahian mereka. Seluruh kelas XI Bahasa II yang sedari tadi memperhatikan gerak - gerik aneh Thalia dan Rida langsung heboh, ada yang berteriak - teriak, ada yang merekam, ada yang beristighfar sambil geleng-geleng kepala. Dean melotot, melihat sahabatnya sedang adu jambak dengan seorang perempuan. Ia langsung berlari dengan tergesa menuruni tangga, merasa harus melakukan sesuatu. Tak hanya kelas XI Bahasa II, kelas ³jamkos yang sedari tadi menonton juga ikut heboh. Kehebohan mereka membuat kelas - kelas yang sedang melaksanakan ⁴kbm pun penasaran dan mencoba mengintip apa sedang terjadi lewat jendela. Tentu saja hal yang mereka lakukan juga membuat guru yang sedang mengajar jadi penasaran, lalu melihat keluar. Dan saat itulah, mereka semua melotot marah lalu berlarian ke arah Thalia dan Rida. Hingga akhirnya kini Thalia dan Rida dikerumuni oleh guru - guru dan banyak siswa - siswi, mereka semua penasaran dan ingin melihat dari dekat. Walau begitu tak ada satupun yang berani melerai, karena mereka semua takut ikut terkena amukan dari Thalia atau Rida yang memang masing - masing terlihat bengis dan tidak mau saling mengalah. Suasana sekolah sudah sangat ricuh tak tertolong, gerombolan- gerombolan siswa dimana - mana, ada yang sedang menonton sambil bergosip, atau menonton sambil taruhan. Dean berlarian membelah kerumunan menuju ruang guru. Hanya satu yang ada di pikiran Dean saat ini. Pak Reno. Karena Dean rasa hanya beliau yang punya cukup nyali untuk melerai orang yang sedang bertengkar. Dean terus berlari dengan sekuat tenaga, peluh yang mengalir di sekitar pelipisnya tidak ia pedulikan. Ia terus berlari, hingga akhirnya sampai di ruang guru. Dean langsung masuk begitu saja ke ruangan guru, namun ternyata ruangan itu kosong tidak ada siapa - siapa. Dean menduga jika semua guru sedang berada di lapangan. Tapi tadi ia tidak melihat pak Reno ada disana, lantas ada dimana pak Reno? Dean celingukan bingung, ia menggaruk kepalanya frustasi. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Dean takut Thalia ataupun Rida sudah ditahap yang lebih parah sekarang. Dean terus berjalan mondar-mandir di ruang guru, berpikir tentang apa yang harus dilakukan. Hingga terdengar suara air mengalir dari toilet yang ada di dalam ruang guru. Tanpa pikir panjang Dean langsung berlari menuju toilet guru, lalu mengetuknya dengan keras. Dug! Dug! Dug! "Pak Reno!!" Panggil Dean tanpa ragu, dia yakin sekali jika Pak Reno tidak terlihat batang hidungnya dari tadi karena sedang ada di dalam toilet. "Ya!!" Terdengar teriakan balasan dari dalam toilet dan itu adalah suara pak Reno. "Huft..." Dean menghela nafas lega, karena akhirnya ia bisa menemukan Pak Reno. "Pak!! Cepatan pak!! Darurat!" Teriak Dean lagi, sambil tetap menggedor pintu. "Aduh sebentar dong! Saya lagi cebok ini!" Protes Pak Reno dari dalam toilet. Dean mengernyit lalu menjepit hidungnya dengan dua jari. "Aduhhh pak!! Gawat ini! Gak ada waktu buat cebok!!" Dean berteriak panik dengan masih menutup hidungnya. "Sabar dong!!! Lagian kamu siapa sih?!" Pak Reno mulai emosi. "Ini Dean pak!!!" Seru Dean sambil melompat - lompat, kakinya tidak bisa diam saking paniknya. "Dean?! Kenapa kamu kesini! Ini toilet khusus guru ya!" Teriak Pak Reno marah. "Aduh... Bapak banyak tanya deh! Thalia sama Rida berantem Pak!" Hardik Dean tak tahan lagi. "APA?!" Pak Reno berteriak kaget dari dalam toilet. ••• Dug... Dug... Dug... Suara langkah kaki Pak Reno yang berlari dengan tergesa. Walau terlihat buru - buru, Pak Reno berlari dengan lambat, membuat Dean jadi kesal sendiri. "Duh... Pak! Cepet dong pak! Keburu saling bunuh mereka!" Panik Dean hiperbola. "Husss! Kalau ngomong gak dijaga! Emangnya kamu pikir saya lagi santai - santai gitu! Ini saya berusaha cepat ya!" Ujar Pak Reno marah. Tapi mau disebut bagaimana pun, bagi Dean Pak Reno memang seperti lari santai. Mungkin karena berat badannya yang berlebih, membuat Pak Reno sulit berlari cepat. Terlihat dari perut besarnya yang bergerak naik turun, seolah mengeluarkan suara 'Tuing! Tuing!' "Aduh..." Dean sudah tak sanggup lagi menahan rasa panik di dalam dirinya. Ia mengacak rambutnya frustasi, lalu menarik tangan Pak Reno dengan paksa, hingga Pak Reno berlari terseok-seok terbawa oleh Dean. "Aduh! Dean! Berhenti! Kamu mau buat saya jatuh!" Hardik Pak Reno protes. "Gak ada waktu lagi pak!" Seru Dean. Tiba - tiba ia teringat sesuatu. "Bapak udah cebok kan?" Tanya Dean tiba - tiba. "Udah! Tapi belum cuci tangan!" Jawab Pak Reno jujur, seketika membuat Dean melepaskan pegangannya tangannya pada tangan Pak Reno. "Ih!! Bapak jorok banget sih!!" Dean berteriak histeris, sambil mengangkat sebelah tangannya yang sudah ternoda dan menatapnya horor. "Kan kamu yang suruh saya buru - buru!" Ucap Pak Reno membela diri, lalu kembali berlari, meninggalkan Dean yang masih syok. Setelah dengan susah payah berusaha berlari cepat, akhirnya Pak Reno sampai di lapangan kurang dari tiga menit. Ia terbelalak melihat banyaknya orang berkumpul membentuk sebuah lingkaran di lapangan. Bahkan bukan hanya di lapangan, setiap lantai di penuhi oleh siswa - siswi yang menonton dari atas. "Grr...." Tiba - tiba saja emosi Pak Reno kembali memuncak. Berani - beraninya Thalia dan Rida membuat keributan di saat ia sedang pergi, dan parahnya lagi keributan yang mereka buat sangat lah besar hingga membuat heboh satu sekolah begini. Pak Reno takut jika pihak luar sekolah sampai tahu, tentu saja itu pasti akan membuat reputasi sekolah menjadi buruk. "Grr... Anak - anak itu harus diberi pelajaran." Gumam Pak Reno geram. Ia menyingkapkan lengan bajunya, lalu dengan marah menerobos kerumunan massa. Tidak butuh waktu lama untuk Pak Reno melewati kerumunan siswa - siswi itu. Dengan faktor tubuhnya yang besar dan emosi yang memuncak, membuat Pak Reno dengan mudah menyingkirkan orang - orang yang menghalanginya. Ditambah lagi, ketika sadar ada Pak Reno di belakangnya, siswa - siswi otomatis langsung memberi jalan, seolah sudah menunggu kedatangan Pak Reno untuk memisahkan kedua insan brutal itu, yang saat ini sedang adu jotos di tengah lapang. "Permisi! Permisi!" Pinta Dean, membelah kerumunan, mengikuti jejak Pak Reno. Dan tepat ketika keduanya telah sampai di tengah lapang, sontak Pak Reno maupun Dean tercengang Dengan pemandangan yang tersaji di depan mereka. Bayangkan saja, Rida dan Thalia bergulingan di tanah dengan tangan yang saling menjambak rambut dengan kuat. Baju mereka kotor compang - camping karena bergulingan di tanah, rambut yang acak - acakan, umpatan serta makian kebun binatang terdengar di absen satu - satu. Beberapa detik kemudian rasa kaget Pak Reno berubah jadi rasa murka, dengan langkah kaki marah ia mendekati Thalia dan Rida yang sedang terlibat perkelahian hebat. Semua orang menatap Pak Reno, menantikan apa yang hendak beliau lakukan. Lalu dengan tanpa rasa takut, Pak Reno langsung menjewer sebelah telinga Thalia dan Rida dengan kencang lalu menariknya ke atas. Pak Reni memaksa mereka berdua berdiri, hingga jambakan di rambut masing - masing jadi terlepas dengan sendirinya. "Aduh! aduh sakit Pak!" Rida mengaduh kesakitan. "Aduh... Sakit Pak...." Keluh Thalia dengan wajah memelas. "Masa begini doang sudah sakit?! Tadi saling jambak memangnya tidak sakit!!" Bentak Pak Reno murka "Tahu nih pak si Thalia! Saya udah kesakitan, tapi dia gak mau ngelepasin!" Rida mengadu. "Dih... Apaan orang lo juga ikut ngejambak gue!" Hardik Thalia tak terima. "Aduhh....!" Pak Reno berteriak gusar. "Sudah hentikan..." Ucap Pak Reno geram, sambil menarik sebelah telinga Thalia dan Rida ke atas, gemas dengan tingkah laku bar - bar mereka. "Aduh! Aduh! Sakit!!" Thalia dan Rida kompak mengaduh bersamaan. Kedua kaki mereka berjinjit, berusaha menahan sakit di sebelah telinganya yang kini masih ada di tangan Pak Reno. "Sakit? Rasakan! Ini balasan buat kalian si tukang onar! Saya tinggal sebentar ke toilet, kalian malah berantem lagi! Mana buat kehebohan sebesar ini! Kalian mau membuat reputasi sekolah jadi buruk?!" Hardik Pak Reno habis - habisan. Pak Reno benar - benar murka, Wajah murka nya yang mengerikan, membuat sebagian siswa yang menonton juga ikut merasa takut, seolah mereka yang sedang dimarahi. "Gak Pak! Gak gitu! Ampun Pak! Saya gak niat buat berantem, tapi si Rida tuh mancing - mancing mulu Pak! Ngehina mulu bias saya!" Adu Thalia, mencoba membela diri. "Eh! Enak aja lo! Semua ini juga gak bakal terjadi kalau lo gak tiba - tiba main fisik ya!" Sentak Rida sembari menunjuk Thalia dengan marah, ia tak terima dengan pengakuan Thalia. "Eh... Biasa aja dong gak usah nge gas!" Thalia ikut melotot kembali tersulut emosi. "Kenapa lo? Masih berani sama gue?!" Tantang Rida. "Yeee...! Lo pikir gue gak berani apa? Sini gue jambak lagi rambut lo ya!" Hardik Thalia emosi, ia bergerak maju hendak meraih kembali rambut Rida. Namun tentu saja digagalkan oleh Pak Reno. "Aduhhh!!! Kalian ini bikin saya pusing!!!" Teriak Pak Reno frustasi, sambil memelintir telinga Thalia dan Rida yang tidak ada kapoknya - kapoknya dari tadi. "Aduh..." Thalia dan Rida merintih kesakitan. Lalu terdiam, memilih menutup mulut mereka, sebelum telinga mereka putus nantinya. Pak Reno melepaskan kedua tangannya dari telinga Thalia dan Rida. Dia menarik napas dalam - dalam, lalu menghembuskan nya dengan kuat. "Pokoknya, panggil kedua orang tua kalian besok ke sekolah." Ucap Pak Reno dengan tegas, dan penuh wibawa. "Ha?!" Thalia terbelalak kaget. Memanggil orang tuanya ke sekolah di saat ia baru bersekolah dua hari, bisa - bisa kedua orang tuanya jantungan nanti. Aduh... Dan lagi Thalia tidak mau orang tuanya jadi berpikir Thalia anak nakal nanti. Ya, Thalia tidak nakal kok. Ia hanya khilaf. Begitulah pemikiran panik Thalia. "Aduh pak jangan pak... Saya mohon...." Pinta Thalia dengan wajah memelas, sambil menangkupkan kedua tangannya, memohon. "Tidak bisa! Kekacauan yang kalian buat ini! Harus diketahui oleh orang tua kalian!" Ucap Pak Reno Tegas, tak bisa dibantah. "Aduh Pak! Jangan Pak! Saya mohon..." Thalia memohon sambil berlutut dan memegangi kaki Pak Reno, berharap Pak Reno luluh. "Tidak bisa!" Tegas Pak Reno lagi. "Aduh pak...." Thalia terus memohon. Wajahnya sudah panik setengah mati, namun Pak Reno masih tetap tak bergeming. Berbeda dengan Thalia, Rida tidak terlihat panik sedikitpun. Ia malah terdiam sambil berpangku tangan, memandang siswa - siswi yang mengelilinginya dengan malas. "Sudah! Saya tidak mau tahu! Pokoknya, bawa orang kalian besok ke sekolah!" Putus Pak Reno final, tak bisa diganggu gugat. Pak Reno hendak melangkahkan kakinya pergi dari sana, namun tentu saja tidak bisa, karena Thalia memegang celana Pak Reno dengan kuat. "Thalia lepaskan!" Perintah Pak Reno dengan nada tinggi. "Saya mohon pak... Jangan panggil orang tua saya... Saya baru 2 hari sekolah disini masa udah dipanggil orang tua sih...." Mohon Thalia, sambil memegangi celana Pak Reno dengan erat. "Ya itu konsekuensi kamu! Siapa suruh bertengkar?!" Hardik Pak Reno, sambil terus berusaha melangkahkan kakinya yang tertahan oleh tangan Thalia. "Pak...." rengek Thalia dengan muka hampir menangis, ia menarik - narik celana Pak Reno "Thalia! Jangan tarik - tarik celana saya!" Bentak Pak Reno. "Pak... Please... Jangan panggil orang tua saya.... Pak..." Thalia terus merengek, ia tidak akan membiarkan Pak Reno pergi sebelum Pak Reno memcabut keputusannya. "Thalia lepaskan!" Titah Pak Reno geram, ia terus berusaha melangkahkan kakinya, berharap cengkraman tangan Thalia pada celana nya terlepas. Suasana lapangan masih ramai, mereka menontoni Thalia yang memohon - mohon pada Pak Reno dengan Rida di sampingnya yang nampak tidak peduli, dan pasrah dengan keputusan Pak Reno. "Thalia!" Hardik Pak Reno untuk terakhir kalinya, dengan mata melotot marah. Thalia ciut, wajahnya yang penuh cakaran dan rambut acak - acakan membuta ekspresi melas nya terlihat semakin menyedihkan. "Ah... Bapak mah!" Thalia merengek seperti anak kecil, lalu tanpa sadar memarik celana Pak Reno sekuat tenaga. Bret! Seketika waktu seolah berhenti. Thalia terdiam sambil melotot kaget, Rida melotot jijik, Dean, guru - guru dan seluruh siswa - siswi baik di lapangan maupun yang menonton di luar kelas mereka semua terdiam dengan mata terbelalak. Melihat celana Pak Reno yang melorot sehingga menampilkan bokser berwarna kuning, dengan gambar tokoh kartun yang tinggal di rumah nanas di dalam laut. Terimakasih kepada Dean yang menyuruh Pak Reno huru - buru, sehingga beliau lupa mengaitkan kancing du celananya. Thalia melepaskan cengkraman tangannya, lalu mundur perlahan - lahan. Tentu saja Pak Reno menyadari itu, ia menoleh dengan mata melotot, aura membunuh begitu kental terasa di sekitar Pak Reno. "Thalia...." Panggil Pak Reno dengan suara rendah dan penuh penekanan. Sangat murka. Thalia meringis, sambil menggigit bibir bawahnya. 'Mati gue.' rutuk Thalia dalam hati. Namun sesungguhnya, bukan hanya Thalia saja yang sedang panik saat ini. Sesungguhnya di dalam hatinya pun, Pak Reno sedang menangis malu setengah mati, di dalam hati Pak Reno bertanya - tanya, Punya dosa apa ia? Hingga diberi murid laknat seperti ini? Kamus Syala : ¹: Gak! Gak akan gue lepasin sebelum rambut lo rontok! ² : Awww! Sakit sinting!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD