06. Berkelahi

1995 Words
Thalia melipat mukena yang baru saja ia pakai, lalu menaruhnya di atas sajadah. Ia baru saja menyelesaikan solat isya, dan sekarang waktunya ia bersantai sebelum tidur. Thalia membaringkan tubuhnya telentang di atas kasur, lalu mengambil handphone nya yang tergeletak di atas kasur. Jempol Thalia bergerak dengan lincah diatas layar handphone. Saat sedang asyik - asyiknya menonton drama korea, tiba - tiba saja muncul begitu banyak notifikasi pesan ke handphone nya. Thalia mengerutkan keningnya, kenapa handphone nya yang biasanya sepi seperti kuburan karena gak ada ayang yang nge-chat, tiba - tiba jadi rame seperti ini? "Mungkin grup alumni SD." Gumam Thalia tak peduli, lalu melanjutkan menonton drama korea yang sedang hype akhir - akhir ini. Hingga... Ting! Sebuah notifikasi pesan muncul lagi di layar handphone nya, dan isi pesannya adalah : 'Hai Thal, ini gue Nathan.' "Hah?!" Mata Thalia terbelalak, melihat satu kalimat sederhana itu. Plak! Saking kagetnya, handphone Thalia sampai jatuh dan tepat jatuh diatas wajahnya. "Aduhh..." Thalia mengaduh kesakitan, sambil mengangkat handphone nya dari atas wajahnya sendiri.. "Aduh..." Thalia mengusap hidungnya, sembari mengubah posisinya jadi duduk. Kalau diingat-ingat hidungnya hari ini sudah dua kali terbentur. Padahal hidungnya tidak mancung - mancung banget, Thalia jadi takut hidungnya yang sudah kecil ini semakin menghilang. Teringat dengan pesan Nathan, membuat Thalia lupa dengan sakit di hidungnya. Thalia langsung membuka lebar matanya, lalu menatap pesan itu cukup lama. Ia menggosok matanya, lalu menatap layar handphone nya lagi, dan... Pesan itu masih ada! Itu artinya, Thalia tidak bermimpi! Thalia menekan notifikasi pesan itu, sehingga layar handphone nya langsung berpindah ke sebuah aplikasi chat. Di atas pesan dari Nathan ada pesan grup dengan nama 'CALON ANGGOTA PKS.' "Oh... Pantesan aja hp gue teh jadi rame." Gumam Thalia. Thalia jadi ingat, kalau di formulir yang ia isi siang tadi, ada kolom nomer handphone. Itu berarti Nathan memasukkannya ke grup ini lewat formulir tadi, lalu Nathan juga jadi punya nomer handphone nya berkat formulir itu. Huft... Hampir saja Thalia ge-er jika Nathan sengaja bertanya pada teman - teman Thalia untuk mendapatkan nomer handphone nya. "Stay cool Thalia, jangan keliatan ngarep." Rapal Thalia, sebelum membalas pesan Nathan. "Huft..." Setelah menghela nafas beberapa kali dan menguatkan hati, Thalia pun membuka pesan dari Nathan. Nomor tidak dikenal : Hai Thal, ini gue Nathan. Dengan jari yang bergetar, Thalia mengetikkan balasan. Thalia : Oh kak Nathan, hai juga kak. "Fyuh! Gue udah bales!" Thalia berseru heboh, seperti telah menyelesaikan sesuatu yang luar biasa. "Tapi balesan gue teh alay enggak ya? Atau jangan - jangan ini teh terlalu cuek? Hadeuh..." Thalia mengacak - acak rambutnya frustasi. Ting! Suara notifikasi menyadarkan Thalia, dengan secepat kilat Thalia mengambil handphone nya dan langsung mengecek pesan yang masuk. Dan ternyata benar itu dari Nathan, karena Thalia telah menyimpan kontak Nathan sekarang. Isinya adalah : Kak Nathan : lagi apa Thal? Bruk! Thalia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, pandangannya kosong menatap langit - langit. Lalu sedetik kemudian Thalia menutupi wajahnya dengan bantal. "Arghhhhh!!" Thalia berteriak tertahan karena tertutup bantal, kedua kakinya menendang - nendang udara, meluapkan rasa senangnya. Setelah berteriak sekeras-kerasnya, Thalia terdiam dengan nafas terengah. Ia lalu menyingkirkan bantal dari atas wajahnya, dan tampaklah wajah Thalia yang memerah dengan senyuman kasmaran menghiasinya. Thalia tidur terlentang sambil menatap langit - langit kamarnya yang kini terasa lebih indah malam ini. Bukannya membalas pesan Nathan, Thalia malah terdiam, ia masih ingin menikmati perasaan ini sebentar lagi. "Jadi begini rasanya di tanya kabar sama gebetan." Gumam Thalia, dengan senyum yang terus mengembang. Lalu setelahnya ia menggigiti ujung bantal, malu sendiri mendengar perkataannya. Ya... Semoga saja kisah percintaannya berjalan mulus kali ini. ••• Thalia berjalan dengan riang menuju kelasnya pagi ini, ia terus memasang senyuman lebar di sepanjang jalan, membuat orang - orang meliriknya aneh. Bagaimana tidak indah pagi Thalia, semalam ia dan Nathan bertukar pesan hingga larut malam. Dan yang mereka bahas pun bermacam - macam, mulai dari hal serius hingga hal remeh yang membuat tawa. Apa itu artinya... mereka sudah dekat? "Hei Lin!" Sapa Thalia saat tak sengaja bertemu Lina di anak tangga. "Hei Thal!" Sapa Lina balik, mereka lalu menaiki anak tangga bersama. "Lebar bener senyum lo!" Lina tertawa geli melihat ekspresi Thalia. "Hehehe..." Bukannya menjawab, Thalia malah cengengesan, membuat Lina semakin penasaran. "Kenapa sih? Lagi bahagia ya?" Tanya Lina. "Hmmm... Gitu deh...." Jawab Thalia malu. "Ih apaan dong..? Gue jadi penasaran nih...." desak Lina. "Jadi... Semalam gue chatting sama Kak Nathan!" Thalia menje rit tertahan, kebahagiannya kembali meluap tiap ingat kejadian semalam. "Hihihi..." Thalia tersenyum malu. "Lo tau gak, kemarin kita chatting sampai jam bera—" Thalia berhenti bicara saat tak melihat Lina disampingnya. Thalia menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke belakang, ternyata Lina tertinggal dua anak tangga di belakangnya. "Kenapa Lin?" Bingung Thalia, melihat Lina yang terdiam. "Tali sepatu gue copot." Ujarnya. Thalia mengalihkan pandangannya ke bawah, dan ternyata benar, tali sepatu Lina lepas sebelah. Lina menunduk, membenarkan tali sepatunya. ••• "Hei cepet siniin!" Rara siswa pintar di kelas XI BAHASA II berteriak pada kumpulan laki - laki yang sedang menyontek pada bukunya beramai-ramai. "Aduh gue belum sebentar lagi ya!" Teriak salah seorang pria. "Eh... Gue juga nyontek ya!" Seru seorang perempuan sambil membawa bukunya, lalu ikut nimbrung bersama para lelaki. Thalia menatap bingung suasana kelas yang begitu ricuh. Semua orang tampak sedang terburu - buru menulis sesuatu. "Mereka lagi pada ngapain sih?" Tanya Thalia bingung. "Palingan pada belum ngerjain PR." Jawab Lina santai sambil berjalan menuju tempat duduknya. Thalia terdiam dengan kening berkerut. "PR?" Beo nya. "Emang ada PR gitu?" Tanya Thalia panik. "Ada Thal! Gue kan udah kirim jawabannya ke elo semalem. PR matematika!" Seru Lina mengingatkan. Thalia memproses informasi di otaknya. Semalam ia asyik berkirim pesan dengan Nathan sampai malam, jadi... Ia tidak memeriksa pesan dari Lina! "Ha?! Gimana dong.. gue belum!" Thalia berteriak panik sambil menggebrak meja. Kegaduhan yang diciptakan Thalia tidak terlalu terdengar, karena keadaan kelas juga sedang ricuh. "Tenang don't panik! Cepet salin punya gue!" Titah Lina tegas, lalu mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Thalia menatap Lina dengan pandangan memelas. "Kenapa lo liat gue kaya gitu?" Bingung Lina. "Gue tersentuh tahu! Elo penyelamat gue deh Lin! Love love buat elo!" Ujar Thalia dengan wajah hampir menangis karena terharu. "Iya - iya, cepetan salin aja! Pak Reno itu on time banget tahu orangnya." Tukas Lina menyebutkan nama guru matematika mereka. "Oke!" Seru Thalia sambil tersenyum riang. Baru saja ujung pulpen Thalia hendak menyentuh kertas. Tringg!!! Suara bel masuk berbunyi. "Ha?!" Thalia berjengit kaget, begitu pula beberapa orang di kelas. Tapi Thalia tak menyerah, ia hendak lanjut menulis, mumpung pak Reno belum tiba di kelas. Namun, seperti yang Lina bilang kalau pak Reno selalu datang tepat waktu benar - benar terjadi. "Selamat pagi anak - anak.." sapa pak Reno yang tahu - tahu saja sudah ada di depan pintu kelas. Thalia tersenyum pedih mendengar sapaan itu. Huhuhu... Rasanya Thalia ingin menangis saja melihat kertas nya yang kosong tak bernoda. Baru kali ini Thalia tak suka pada orang yang tepat waktu. "Selamat Pagi pak.." Semua siswa memberi salam setelah mendapat aba - aba dari Galang -ketua kelas-. "Ayo, kumpulkan PR- nya dimeja saya." Ucap Pak Reno sembari mengambil pulpen dari dalam tasnya. "Athalia, maju kedepan." Pak Reno memanggil Thalia disela - sela memeriksanya. "Iya pak?" Thalia bertanya dengan sopan setelah berada dihadapan pak Reno. "Kenapa kamu tidak mengumpulkan?" Tanyanya dengan nada mengintimidasi. "Maaf Pak," Thalia semakin menundukkan kepalanya. "Hadeuh... Yasudah, karena kamu masih baru. Kamu kerjakan saja isinya dipapan tulis, ini soalnya." Pak Reno memberikan selembar kertas berisi soal, dengan sigap Thalia segera mengerjakannya dipapan tulis. "Assalamualaikum.." Salam seseorang "Waalaikum Salam, darimana saja kamu?" Pertanyaan Pak Reno membuat Thalia penasaran, akhirnya ia menengok kesumber suara. Dan itu adalah.. Rida. Dengan cepat Thalia mengalihkan pandangannya, mencoba bersembunyi dari Rida. Ia takut Rida masih marah kepadanya karena kejadian di taman waktu itu. "Ih bapak kepo deh pengen tau aja saya darimana." Rida tersenyum jahil. Sontak seluruh kelas tertawa mendengarnya. "Rida Dinarga! Mana PR kamu?" Pak Reno setengah berteriak, sehingga seluruh kelas menjadi diam. "Aduh pak!" Rida menepuk jidatnya. "Kenapa?" Pak Reno bertanya dengan tidak sabar. "Saya males ngerjainnya." Rida menjawab dengan wajah tanpa dosa. Sekali lagi, seluruh kelas tertawa mendengar perkataan Ridha yang ajaib. Bruk! Pak Reno berdiri sembari menggebrak meja dihadapannya, lalu menatap Ridha tajam. "Kerjakan soal 1 - 20 dipapan tulis, dan jangan menyontek hasil kerja teman kamu. CEPATT!!" Teriak Pak Reno sembari menunjuk papan tulis, dengan langkah santai Ridha berjalan kearah papan tulis. Dan menggerutu pelan sehingga hanya Thalia yang bisa mendengarnya. "Dasar si subur, urusin aja tuh perut." Gerutu Rida, lalu berdiri di samping Thalia untuk mengerjakan soal. Thalia meneguk ludah, ia berusaha memalingkan wajah, menghindari kontak mata dengan Rida sebisa mungkin. Rida menoleh, merasakan gerak - gerik aneh dari seseorang di sampingnya itu. Rida menatap perempuan disampingnya yang terlihat tidak asing. Rida merasa pernah melihatnya, tapi entah dimana. Rida terus memperhatikan Thalia, membuat Thalia semakin gelisah dan berusaha menutupinya wajahnya dengan rambut. "Anak - anak! Ini hasil tes kalian minggu lalu! Silahkan diambil!" Ujar pak Reno, membuat Thalia begitu juga Rida otomatis menoleh karena penasaran. Beberapa anak maju ke depan untuk mengambil hasil tes mereka, namun karena kurangnya kebudayaan mengantri. Keadaan menjadi ricuh, satu sama lain saling mendorong, ingin mencari hasil tes miliknya duluan Rida kembali mengarahkan pandangannya ke papan tulis, sementara Thalia masih memperhatikan kericuhan di meja guru, membuat wajah Thalia terlihat jelas tidak lagi tertutup rambut. Rida mengernyit, otaknya memutar ulang kejadian kemarin. Kejadian di lapangan dan di taman sekolah! "Elo!" Ridha berteriak murka. Thalia berjengit kaget dan berusaha menutupi wajahnya dengan rambut. Melihat Thalia yang berusaha sembunyi membuat Rida semakin kesal. Ia berjalan menghampiri Thalia dengan geram. "Dasar lo ya pemuja plastik! Udah bikin pipi gue biru malah kabur lo!" Hardik Rida. Thalia melotot, bagaimanapun juga ia tidak akan terima bila biasnya diinjak - injak. Dengan berani Thalia menatap balik Rida. Namun, karena badan Ridha lebih tinggi 5 cm darinya Thalia harus mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Ridha tepat dimatanya. "Apa lo bilang? Plastik?!" Thalia berkacak pinggang. "Iya! Emang kenapa?! Dasar lo cewek bar - bar. Kerjaan nontonin cowok joget sih! Makanya otaknya jadi gak beres!" Cecar Ridha. "Asal lo tau ya, mereka itu gak cuman bisa joget. Tapi suara mereka juga bagus! Lagian lo ngehina mereka karena lo sirik kan! Soalnya lo kalah jauh sama wajah mereka! Dibanding ketek mereka pun masih gantengan ketek mereka!" Hardik Thalia, puas mencaci Rida. "Yaiyalah mereka kan ganteng karena operasi plastik! Hahaha plastik!" Rida tertawa mengejek, seketika membuat emosi Thalia meledak tak terbendung lagi. Thalia terdiam dengan wajah merah padam menahan amarah. "Plastik! Plastik! Plastik!" Ridha terus mencaci Thalia dengan kata itu. Sengaja mengganggu Thalia yang terdiam sambil menatapnya penuh amarah "Terus aja bilang sampai mulut lo berbusa, mereka tau lo ngejek aja enggak!" Jerit Thalia, emosinya meledak "Plastik! Plastik! Plastik!" "Lo bisa diem gak sih?!" Thalia mulai kehabisan kesabaran. "Plastik! Plastik! Plastik!" Namun Rida tidak menggubrisnya. "BISA DIEM GAK SIH!" Dengan serta merta Thalia memukuli Rida menyalurkan emosinya. Namun, Rida menahan serangan Thalia dengan tangannya dan menjulurkan lidah sambil tersenyum jahil. Tampaknya hal itu membuat Thalia semakin marah, dengan emosi memuncak Thalia menjambak rambut Rida dengan kuat sampai tubuhnya condong kearah Thalia hal itu membuat Rida menjerit kesakitan, tak mau kalah Rida mencubit kedua pipi Thalia dengan keras sehingga Thalia menjerit lebih keras dari Ridha. Suasana kelas yang bising dan meja guru yang dikerumuni oleh murid, membuat tak ada yang melihat perkelahian mereka. Sampai Ken sedang tertidur merasa terganggu, lalu terbangun dari tidurnya. Ia melihat kesekeliling sambil mengucek matanya. Semuanya sibuk sendiri, dan yang lain bergerombol di meja guru, lalu pandangannya beralih kedepan, ia melihat Thalia dan Rida sedang bermesraan karena Ridha memegang pipi Thalia dan Thalia mengusap rambutnya. Ken tersenyum geli lalu hendak kembali tidur, tiba - tiba ia kembali mengangkat kepalanya dan melotot melihat kejadian itu lagi dengan jelas, dan tampaklah bahwa Ridha bukan memegang pipi Thalia tapi mencubitnya dan Thalia bukan mengusap rambut Ridha melainkan menjambaknya. Dengan sekuat tenaga Ken berteriak. "BAPAK!!! ADA YANG BERKELAHII!!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD