Lo ikutan ekskul apa?" Tanya Thalia sambil membereskan alat tulisnya, bersiap - siap pulang karena bel pulang sudah berbunyi.
"Menjelajah." Thalia cengo, ia tidak menyangka temannya seorang penjelajah.
"Oh ya, lo pernah ke mana aja?" Tanya Thalia dengan sorot mata kagum.
"Banyak deh, bahkan kedunia fantasi juga pernah." Ucap Lina dengan senyum misterius.
"Maksud lo." Tanya Thalia dengan kening berkerut.
"Hahaha, yaampun gue ikut eskul menjelajah dunia mimpi alias tidur tau! Wahahhhahah." Lina tertawa terbahak - bahak sedangkan Thalia merengut kesal merasa terbohongi.
"E-mang hahaha... lo mau ikut eskul ap-a?" Lina bertanya dengan terengah - engah karena habis tertawa.
"Of course PKS." Jawab Thalia mantap, dengan senyum congkak di wajahnya.
Seketika tawa Lina terhenti dan raut serius terpampang diwajahnya. Namun itu hanya berlangsung beberapa detik, dengan segera Lina menetralkan ekspresinya kembali, hingga Thalia tidak menyadarinya.
"Lo... Serius mau ikut PKS?" tanya Lina memastikan.
"Iya!" Jawab Thalia tanpa ragu. "Emang kenapa?" Tanyanya.
"Gakpapa." Jawab Lina sambil tersenyum tipis.
Thalia mengangguk - anggukan kepalanya.
"Eh btw, lo tau gak sekre PKS dimana?" Tanya Thalia teringat perkataan lelaki tadi.
"Oh... Tau." Jawab Lina terdengar ragu.
"Dimana?" Tanya Thalia antusias.
"Hmmm... Gampang sih, pokoknya dari kantin bawah lo lurus terus ngelewatin lapang, masuk ke gedung IPA, terus belok ke kiri di situ ada masjid kan?" Tanya Lina memastikan apakah Thalia mengerti atau tidak dengan instruksi nya.
Thalia mengangguk, mengiyakan.
"Nah dari masjid lo lurusss terus sampai sampai ketemu lab. bahasa, dari lab. bahasa lo belok kanan terus lurus lagi sampai ketemu lab komputer, dari lab. Komputer belok kanan lagi, terus lurussssssss..." Lina memajukan tangannya kedepan menggambarkan posisi lurus yang begitu lama, membuat Thalia mulai mengernyit kebingungan. "Nah, ada lab. Kimia disitu, di samping kirinya adalah sekre PKS!" Seru Lina sambil tersenyum, puas dengan penjelasannya sendiri.
"Hahahah..." Thalia meringis tak paham sama sekali. "a***y kamu bohong!" Hardik Thalia. "Itu gampang dari mananya Lin...?" Thalia bertanya frustasi.
"Hehehehe..." Lina hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya, malu.
"Mending elo anterin gue aja atuh, biar gue gak nyasar." Pinta Thalia.
"Ha?!" Lina tersentak kaget dengan permintaan Thalia. "Gak bisa!" Tolak Lina dengan tegas.
"Loh kenapa? Tega lo Lin.." ujar Thalia dengan memelas.
"Po-pokoknya gue gak bisa! Gue harus pulang! Dah!" Tukas Lina, lalu berlari keluar kelas begitu saja tanpa sempat Thalia cegah.
Thalia bengong, memproses apa yang sebenarnya terjadi. Karena Lina berlari begitu cepat, meninggalkan Thalia sendirian didalam kelas, karena semua murid sudah pulang.
"Huft..." Thalia menghela nafas.
Rasanya seperti dejavu.
•••
Dengan nafas terengah-engah, Thalia mengetuk pinyu berwarna coklat yang bertuliskan PKS itu.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!" Terdengar suara lelaki dari dalam menyuruhnya masuk.
Dari suaranya, Thalia rasa itu adalah lelaki yang waktu itu menawarinya untuk ikut ekskul PKS.
'Berarti gue bakal ketemu cowok ganteng itu lagi. Hihihi...' Thalia berujar senang dalam hati.
Tiba - tiba saja jantungnya berdebar dengan kencang. Dnegan perasaan deg - deg an Thalia memutar kenop pintu lalu membuka pintu dihadapannya dengan perlahan.
Pintu terbuka lebar, namun ruangan itu kosong. Tidak ada siapa - siapa disitu.
"Kak?" Panggil Thalia sambil celingukan.
Tidak ada jawaban, ruangan itu benar - benar kosong melompong.
Gluk.
Thalia menelan salivanya, tiba - tiba saja bulu kuduknya berdiri merinding.
Jadi... Tadi siapa yang berbicara?
Ih...
Thalia bergidik ngeri.
'Aduh... Tapi gak mungkin kan ada hantu disini.' pikir Thalia mencoba memberanikan dirinya sendiri.
Thalia menggeleng.
Ia tidak boleh menjadi penakut. Tekadnya dalam hati.
"Bismillah..." Gumam Thalia pelan.
Dengan perasaan takut, Thalia melangkahkan satu kakinya masuk ke dalam ruangan.
"Kak..." Panggil Thalia lagi, namun keadaan masih sama, sepi senyap. Dengan lebih berani Thalia masuk lebih dalam ke ruangan PKS.
"Halo.. ada o—"
"WAAA!!" Tiba - tiba sesosok manusia muncul begitu saja di depan Thalia.
"EH SIAH GELO!! DITEPAK SIA KU AING!"¹ Teriak Thalia latah, sambil berpose seperti sedang silat.
"WAHAHAHA...." Terdengar tawa yang begitu puas dari seorang lelaki di hadapan Thalia
Thalia merengut, saat sadar jika ia telah dikerjai.
"BWAHAHAHAHAHAHA... Ekspresi lo bagus banget! Tepak sia ku aing! Wahahahaha...!" Tawa Nathan semakin menjadi - jadi, ia kini bahkan memegangi perutnya yang mulai terasa sakit karena tertawa terlalu keras.
Yap, Nathan.
Lelaki iseng yang sengaja bersembunyi di balik pintu dan mengagetkan Thalia adalah Nathan, si ketua PKS.
"Tau ah! Males! Aku gak jad daftar..." Gerutu Thalia ngambek, kesal ditertawakan.
Ia berbalik hendak keluar dari ruangan, namun gerakan Nathan lebih cepat.
"Eits!" Cegahnya, dengan gesit telah berada di hadapan Thalia. Tubuhnya yang jangkung menutupi pintu keluar, sehingga Thalia tidak bisa pergi kemana - mana.
"Anggota yang sudah mendaftar, tidak boleh mengundurkan diri." Ucapnya menirukan pegawai Indomaret.
"Loh? Tapi kan aku belum daftar." Elak Thalia.
"Pokoknya, kalau sudah ada niat di dalam hati ingin bergabung dengan PKS. Itu tandanya udah jadi calon anggota PKS. Dan calon anggota PKS tidak boleh mengundurkan diri!" Ucapnya dengan tegas, namun malah terlihat jenaka di mata Thalia.
Thalia tersenyum geli melihat tingkah laku kakak kelas dihadapannya ini. Ia kira ketua PKS akan serius dan tegas. Nyatanya, jahil dan absurd sekali.
Ya iyalah absurb, mana ada ketua PKS yang mengagetkan calon anggota seperti itu.
"Ayo mari, calon anggota. Saya antar ke bagian administrasi." Ucapnya lagi, sambil mengarahkan Thalia untuk duduk di kursi yang ada di depan meja ketua.
Lagi - lagi Thalia tersenyum geli, melihat tingkah Nathan yang kini menyerupai pelayan restoran reservasi. Sepertinya Nathan punya bakat untuk menirukan berbagai pekerjaan orang.
Thalia duduk di kursi yang diarahkan Nathan, sedangkan Nathan duduk di kursi seberangnya yaitu kursi ketua, sehingga mereka kini duduk berhadapan.
"Nah, sekarang lo isi dulu formulir." Titah Nathan sambil menyerahkan selembar formulir yang memang tersedia di atas meja.
Thalia mengangguk, lalu mengambil pulpen yang juga sudah tersedia di atas meja.
Nathan terus memperhatikan gerak - gerik Thalia, membuat Thalia menjadi salah tingkah dan merasa sulit bergerak.
"Athalia Zahrana." Nathan mengeja nama Thalia di kolom nama yang baru saja Thalia isi.
Deg.
Ada desiran aneh yang Thalia rasakan ketika Nathan mengucapkan namanya.
"Ekhem!" Thalia berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Ngomong - ngomong, aku belum tahu nama kakak." Ujar Thalia sambil tetap fokus mengisi formulir.
"Oh ya?" Kaget Nathan. "Gue kira lo udah tahu nama gue. Yaudah deh, kenalin gue Nathan Harlingga, ketua PKS." Ujarnya berwibawa, sambil mengulurkan tangan ke hadapan Thalia.
Thalia mendongak, lalu tersenyum dan menjabat tangan Nathan. lagi - lagi desiran itu kembali hadir.
"Udah belum ngisinya?" Tanyanya tiba - tiba, membuat Thalia seketika melepaskan jabatan tangannya dan mengisi lagi formulir itu dengan terburu - buru.
Nathan mengambil handphone nya dan memainkannya selagi Thalia mengisi formulir.
"Ini kak udah." Lapor Thalia, lalu menyerahkan kertas formulir ditangannya kepada Nathan.
"Oke! Lo mau balik?" Tanyanya setelah menyimpan formulir Thalia didalam laci.
"Iya." Jawab Thalia, mengingat ia tidak punya rencana apa - apa lagi setelah ini.
"Yaudah, kalau gitu bareng aja keluarnya." Ucap Nathan menawari, lalu bangkit dari kursinya.
Thalia mengangguk kecil, ia berdiri lalu keluar dari ruangan PKS diikuti Nathan di belakangnya.
Nathan mengunci ruangan PKS, lalu berlari menyejajarkan langkah kakinya dengan Thalia yang sudah berjalan duluan.
"Gue bilang kan bareng." Ujar Nathan kesal.
Thalia hanya menunduk, lalu menunduk dan mengulum bibirnya salah tingkah.
Entah sejak kapan Nathan jadi akrab begitu padanya?
Tapi... Thalia menyukainya.
"Eh, elo mau kemana?" Tanya Nathan bingung, saat Thalia hendak belok kanan melewati lab. Kimia.
"Mau pulang lah kak, habis ini kita lurus terus belok kiri ke lab. Komputer. Iya kan?" Ucap Thalia bingung.
"Kenapa jalan situ? Kesini aja." Ucap Nathan, sambil belok ke kiri, ke arah lahan kosong samping sekre PKS, lalu terus berjalan lurus meninggalkan Thalia. Membuat Thalia mau tak mau mengekori dengan raut bingung.
"Nah dari sini kita belok kiri lagi, lurus dikit, langsung deh sampai di lapangan. Kalau jalan tadi belok - belok ribet, mana jauh lagi." Ucap Nathan lagi menjelaskan.
Thalia menolehkan kepalanya, di sampingnya ada gedung IPA, lalu setelah berjalan lurus sedikit, mereka benar - benar sampai di lapangan.
Thalia melongo.
"Hadeuh kak... Ternyata semudah ini rutenya." Keluh Thalia.
"Iya, pantesan gue aneh kok lo dateng ngos - ngosan begitu " ujar Nathan sambil tertawa kecil.
Thalia merengut kesal, ternyata semudah ini untuk sampai ke sekre PKS . Lantas mengapa Lina memberi tahu nya jalan yang berbelit-belit?
"Eh Thal, pose lo pas latah tadi itu pose silat ya?" Tanya Nathan penasaran, teringat pose Thalia saat terkejut olehnya.
"Iya kak, aku kan ikutan perguruan silat." Ucap Thalia jujur.
"Wih... Ngeri... Gak boleh macam - macam lagi nih gue..." Tukas Nathan, berlagak ketakutan.
"Makanya kak, masa kasih penyambutan ke anggota baru kaya gitu sih. Emang tradisi ya hahaha...." Thalia tertawa geli.
"Gak kok, itu cuman buat lo doang." Ucapan Nathan yang terdengar biasa saja itu, sukses membuat Thalia tertegun dan mematung, seketika tawanya terhenti.
"H-ha?" Thalia mengerjap - ngerjapkan matanya bingung, tiba - tiba saja otaknya memproses dengan sangat lambat.
'Jadi maksud Nathan memperlakukan nya seperti itu untuk apa?' Thalia bertanya - tanya dalam hati. Meski belum mendapatkan jawabannya, lagi - lagi dadanya berdesir dan menghangat.
Thalia mengangkat tangannya, menaruhnya di d**a, mencoba meredam jantungnya yang kini ikut berdebar.
"Aduh... Siapa sih ini yang main basket gak disimpan lagi." Nathan menggerutu saat melihat sebuah bola basket tergeletak begitu saja di lapangan.
"Thal!" Panggil Nathan tiba - tiba, membuat Thalia tersadar dari ketermanguannya.
"Iya?" Tukas Thalia, tak ingin Nathan sadar jika ia telah melamun tadi.
"Lo bisa main basket gak?" Tanya Nathan sambil mendribble bola basket.
"Gak bisa kak!" Thalia menggeleng.
"Coba shoot!" Titahnya sambil mengoper bola tiba - tiba, yang untungnya bisa Thalia tangkap.
"Huft..." Thalia menghela nafas, padahal ia sudah bilang tidak bisa.
Thalia memposisikan dirinya untuk memasukkan bola ke keranjang. Untung saja Thalia masih ingat dengan pelajaran olahraga saat SMP.
Thalia melangkah,
satu... dua...
Melompat, lalu melempar bola ke atas.
Dan ternyata...
"Woo!!! Masuk!!!" Jerit Thalia histeris, kaget dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Wow! Kerennn!" Kagum Nathan, ia bertepuk tangan dan memberi jempol.
"Hehehe gak nyangka banget..." Ujar Thalia, masih tak percaya dengan penglihatannya. Senyum sumringah terbingkai di wajah Thalia.
"Good job!" Puji Nathan sambil melayangkan tangannya, mengajak tos.
Thalia yang sedang kegirangan, tanpa pikir panjang langsung menyambut tangan Nathan.
Plok!
Mereka ber-tos ria. Namun, setelah itu Nathan malah menggenggam tangan Thalia, membuat senyum Thalia seketika luntur berubah menjadi raut kaget.
Gluk.
Thalia menelan ludah, sambil melirik tangannya yang digenggam Nathan.
Debaran itu... Muncul lagi.
"Lo hebat deh Thal! Silat bisa, basket bisa!" Puji Nathan kemudian.
Thalia tersipu malu.
"Cewek jadi - jadian ya lo?" Tambahnya jahil.
Seketika membuat Thalia menarik tangannya, dan memasang wajah datar.
"Enak aja! Ngeselin!" Hardik Thalia sambil merengut.
"Hahahahaha..." Nathan tertawa lepas, sedangkan Thalia misuh - misuh disampingnya.
"Thalia!" Seseorang memanggil Thalia.
Thalia menoleh ke belakang, ternyata itu Lina!
Lina berdiri di pinggir lapangan, ia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Rupanya Lina masih memakai seragam sekolah lengkap dengan tas gendong di punggungnya.
Thalia berlari menghampiri Lina, meninggalkan Nathan yang memperhatikan mereka berdua dari lapangan.
"Loh Lin?" Lo belum pulang?" Heran Thalia.
"Ayo pulang.." ajak Lina sambil merangkul lengan Thalia."Gue minjem duit lo dulu ya... Duit gue abis jadi gak bisa balik hehehe..." Lina nyengir.
"Lah, jadi dari tadi teh elo nungguin gue?" Kaget Thalia.
"Iya hehe..." Lina tersenyum konyol.
"Kenapa gak bilang aja sih, jadi kan gak perlu sampai nungguin gini. Pasti lama maaf ya.." sesal Thalia.
Lina menggaruk kepalanya yang tak gatal, sambil tersenyum kikuk.
"Yaudah ayo." Seru Thalia. "Kak! Saya duluan ya!" Pamit Thalia pada Nathan, dibarengi anggukan sopan dari Lina, tanda pamit.
Nathan mengangguk mengiyakan, lalu mereka berdua berjalan bersama menuju gerbang.
Nathan mengambil bola basket yang tergeletak di tanah, lalu menatap punggung kedua perempuan yang semakin menjauh itu dengan tatapan datar. Setelah keduanya tak lagi tampak di pandangan, ia lalu masuk lagi ke dalam lingkungan sekolah, untuk mengembalikan bola basket ke gedung olahraga.
Kamus Syala:
¹ : EH GILA LO! GUE GIBENG NIH!