Thalia terus berlari tanpa melihat ke belakang, ia takut jika Rida mengejarnya.
Thalia merutuki dirinya sendiri dalam hati, kok bisa sih dia kentut sebesar itu di depan cowok? Mana cowoknya ngeselin lagi. Bagaimana jika ia menyebarkan ke teman - temannya soal Thalia yang kentut.
Aduh... Thalia jadi galau.
Dan lagi... Bisa - bisanya Thalia khilaf menonjok Rida. Thalia lupa jika ia pernah ikut perguruan silat waktu di Bandung dulu.
Apa... Rida baik - baik saja?
Tiba - tiba saja Thalia jadi khawatir.
Masih dengan keadaan berlari, Thalia menoleh ke belakang. Takut jika Rida masih mengejarnya.
Namun, Thalia tidak melihat adanya tanda - tanda Rida didekatnya. Dia terus menengok ke belakang, mencari - cari Rida dengan matanya, dan ternyata Rida memang tidak ada.
'Berarti gue lari tunggang langgang seperti orang gila begini gak ada gunanya dong?' Sesal Thalia dalam hati.
Thalia kembali menghadapkan kepalanya ke depan. Namun...
Bug!
"Aduh!!" Thalia jatuh terduduk, setelah wajahnya menubruk sesuatu yang sangat keras.
"Aw..." Thalia meringis sambil mengusap hidungnya yang terbentur dengan sangat keras. Entah apa yang ia tubruk? tapi keras sekali hingga hidungnya berdenyut dan air mata keluar begitu saja dari kedua bola matanya.
"Hayoloh... Lo apain anak orang sampai nangis gitu..."
Samar - samar Thalia mendengar suara lelaki didekatnya.
"Hei, lo gak papa?" Lalu ada suara lelaki lain yang kini bertanya padanya. "Maafin gue ya, lagian lo sendiri kok yang nubruk gue dari belakang." Ujarnya lagi karena Thalia tak kunjung bicara.
Thalia mengernyit mendengar ucapan lelaki itu.
'jadi gue yang salah gitu?' pikir Thalia tak terima.
"Kok malah nyalahin sih?! Gue tuh kor—" ucapan nyolot Thalia terhenti, kala ia mendongak dan melihat paras lelaki yang begitu dekat dengan wajahnya itu sedang menatapnya khawatir.
"Ganteng banget..." Gumam Thalia salah fokus.
"Ha? Apa?" Tanya lelaki itu tak mendengar ucapan Thalia.
"Ha?! Ah enggak! Aduh.. sakit.." ujar Thalia tersadar dari keterpanaan nya, lalu kembali mengusap hidungnya yang sebenarnya sudah tidak sakit lagi.
"Bisa berdiri gak?" Tanya nya, sambil mengulurkan tangannya pada Thalia.
Thalia mengulum senyumannya, lalu tanpa berpikir lagi langsung menyambut uluran tangan itu dan berdiri dari duduknya.
Thalia menepuk - nepuk pantatnya yang kotor, lalu kembali melirik lelaki yang ia tubruk tadi.
Wah...
Mau dilihat berapa kali pun, Thalia tetap terpana dengan ketampanan lelaki dihadapannya.
'Seneng banget ada cogan di sekolah ini.' pikir Thalia sumringah, tanpa sadar ia kembali terdiam mengamati ciptaan tuhan yang begitu sempurna dihadapannya ini.
"Ayo ke kantin tar keburu bel masuk bunyi loh." Ujar teman lelaki itu yang sedari tadi mengamati.
"Tar dulu, gue kudu tanggung jawab ini." Jawabnya. "Hey! Lo gak papa? Hey!" Cowok tampan itu melambaikan tangannya di depan wajah Thalia, membuat Thalia terperanjat dari lamunannya dan menatap lelaki itu dengan bingung.
"Lo gak papa? Mau gue antar ke UKS?" Tanyanya lagi.
"Ha? Gue gak papa kok! Gakpapa." Tukas Thalia sambil tersenyum gugup.
Dia memang tidak kenapa - kenapa. Hanya saja jantungnya yang agak bermasalah kayaknya.
"Tuhkan! Dia gakpapa! Yuk ke kantin buruannn gue laper nih!" Desak teman lelaki itu, membuat Thalia seketika mendelik kesal karena ia telah menganggu Thalia untuk berlama - lama degan kakak tampan ini.
"Yaudah! Sekali lagi gue minta maaf ya! Gue pergi dulu!" Pamit nya, lalu bergegas pergi dari sana.
"Thalia!!" Seseorang berteriak memanggil Thalia. Thalia menoleh ke belakang, begitu pula kedua lelaki tadi yang sudah pergi. Mereka menghentikan langkahnya dan menatap si pemilik suara yang ternyata adalah Lina.
Lina berlari mendekati Thalia, wajahnya yang biasa nya penuh senyuman kini tampak ketus tak berseri sedikitpun.
Tanpa melihat sedikitpun ke arah kedua lelaki itu, Lina langsung menarik tangan Thalia.
"Yuk Thal, gue udah laper." Ucapnya, lalu menarik paksa lengan Thalia.
"Eits!" Tiba - tiba saja lelaki yang ia tubruk tadi kembali lagi, lalu mencegah kepergian Thalia dan Lina.
"Nama lo tadi siapa?" Tanya nya pada Thalia.
"Thalia kak!" Jawab Thalia dengan antusias.
"Oh... Thalia... Kok gue baru pertama kali ini liat lo ya?" Tanya nya lagi, dengan senyuman manis terpampang di wajahnya.
'Adek meleleh mas..' jerit Thalia dalam hati melihat senyuman manis lelaki itu.
"Iya kak! Saya baru pindah hari ini!" Jawab Thalia lagi dengan penuh semangat.
"Oh... Pantesan gue baru liat!" Serunya, tiba - tiba sok akrab dengan Thalia. Walau begitu Thalia tak masalah, karena memang ia ingin akrab dengan lelaki tampan di hadapannya ini.
"Hehehe iya kak..." Thalia tersipu malu.
Lina yang sudah tidak sabar mendelik dan terus memegangi lengan Thalia, berharap segera pergi dari sana.
"Berarti lo belum masuk ekskul apa - apa dong?" Tanyanya lagi.
"Ya... Belum kak. Kan baru masuk hari ini." Jawab Thalia bingung dengan arah pembicaraan ini.
"Nah cocok itu! Lo masuk PKS aja! Kebetulan gue ketuanya!" Serunya dengan penuh semangat.
Ha?!
Thalia melongo, jadi dari tadi mengajak bicara berputar - putar itu cuman untuk mempromosikan ekskul yang ia ketuanya?
Huft... Untung ganteng. Kalau gak...
"Hehehe... Iya kak nanti saya pikir - pikir lagi." Jawab Thalia sopan, sedikit kecewa karena ia pikir lelaki itu mau meminta nomer handphone nya.
"Thalia ayo! Gue udah laper banget sampai bisa makan orang nih!" Ketus Lina tak sabar lagi.
"Eh iya, saya duluan ya kak. Nanti saya pikir - pikir lagi." Pamit Thalia sopan, lalu segera pergi dari sana karena Lina sudah menarik - tarik lengannya.
"Kalau berminat datang aja ke sekre PKS!" Ucap lelaki itu lagi pada Thalia dan Lina yang belum jauh.
Thalia berbalik, lalu menganggukkan kepalanya sopan. Namun sedetik kemudian, ia diseret kuat oleh Lina hingga kembali berjalan tersandung - sandung karena langkah kaki Lina yang begitu cepat.
Lelaki itu memandangi Thalia yang berlari - lari kecil, berusaha menyamakan langkah kakinya dengan perempuan disampingnya.
"Ciee Nathan, udah ada yang baru aja lo? Katanya susah move on?" Goda teman Nathan yang sedari tadi jadi penonton, ia ikut memperhatikan punggung kedua perempuan yang semakin menjauh itu.
Lelaki yang disebut Nathan itu hanya tersenyum kecil, lalu pergi begitu saja meninggalkan temannya.
"Oy! Tungguin napa!" Seru nya kesal, lalu berlari mengejar Nathan.
•••
"Loh Lin! Kita mau ke mana katanya mau ke kantin?" Bingung Thalia sambil berusaha menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Lina yang begitu cepat.
Entah ada apa dengan Lina? Tapi Thalia merasa Lina seperti ingin lari dari sesuatu.
"Kita mau ke kantin. Tapi kantin di lantai dua! Tempatnya kelas sebelas pada jajan!" Seru Lina sambil tersenyum.
Melihat itu Thalia tersenyum lega, senyuman Lina sudah kembali itu artinya Lina sudah kembali baik - baik saja. Walau Thalia tidak tau ia tadi kenapa.
Kendati begitu, Lina masih berjalan dengan cepat seolah terkejar sesuatu. Membuat Thalia berlari - lari kecil, dan kadang tersandung.
Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di kantin lantai dua. Kantin lantai dia tidak begitu penuh, dominan hanya diisi oleh kelas sebelas saja.
Terlihat ada beberapa murid kelas sepuluh atau kelas dua belas yang terlihat juga disana, sepertinya mereka ingin mencari jajanan yang tidak dijual di kantin lantai satu atau kantin lantai tiga, karena biasanya tiap kantin berbeda - beda penjual.
'Ada beberapa' itu dengan maksud bisa dihitung jari. Ya... Karena kalau Thalia jadi murid kelas sepuluh atau kelas dua belas pun, Thalia akan males naik turun tangga hanya untuk hunting jajanan seperti itu. Lebih baik ia makan di kantin lantainya sendiri.
Tapi yang paling enak sih kantin lantai satu, kantinnya kelas sepuluh. Sudah kantinnya paling luas, paling banyak penjualnya, pembeli nya juga banyak karena anak dari jurusan lain suka ada yang jajan disitu. Tapi kalau lagi pengen suasana sepi sih bisa datang ke lantai dua atau tiga, yang pasti lantai tiga paling sepi. Jadi intinya setiap kekurangan dan kelebihannya masing-masing lah.
Eh! Kenapa ia jadi sibuk memikirkan kantin?
Aduh... Thalia jadi pusing mikirin kantin, sepertinya ini efek lapar.
Saking ramainya pikiran Thalia, Thalia sampai tidak sadar jika ia sudah sampai di kantin lantai dua.
"Lo duduk aja, biar gue pesenin. Mau pesen apa?" Tawar Lina berbaik hati, setelah Thalia duduk di salah satu kursi kantin.
"Hmm... Bakso kayaknya enak deh." Ujar Thalia, tergoda melihat siswi yang sedang menyantap bakso dengan lahap.
"Oke bakso. Minumnya?" Tanyanya lagi, menyerupai pelayan.
"Air putih aja deh." Ucap Thalia lagi.
"Oke!" Seru Lina sambil pergi meninggalkan Thalia dan mengantre di salah satu stand makanan.
Setelah beberapa menit berlalu Lina kembali ke meja hanya dengan dua botol air putih dingin.
"Loh baksonya mana?" Tanya Thalia bingung.
"Oh... Kalau disini kita pesen dulu mau beli apa. Terus nanti di anterin kesini gitu...." Terang Lina.
Thalia mengangguk - angguk mengerti.
"Btw, lo tadi kemana sih lama banget? Gue susul ke wc kagak ada, eh malah nyangkut sama cowok." Ketus Lina sebal.
"Heheheh... Maaf...." Thalia cengengesan. "Tadi... Gue teh ketemu Rida di taman." Ujar Thalia jujur.
"Hah? Kok bisa?" Tanya Lina kaget.
"Gak sengaja ketemu dia yang lagi tidur di pohon." Ucap Thalia lagi, menjelaskan kronologi kejadian dengan menghapus adegan ia mengentuti Rida.
"Terus?" Tanya Lina lagi, penasaran.
"Ya.... Gitu deh gue ribut ama dia. Terus dia mau ngejar gue, akhirnya gue lari. Terus... Gue gak sengaja nubruk lelaki tadi." Jelas Thalia sambil menggigit bibirnya, merasa bersalah karena telah mengurangi cerita.
"Ih sinting kali ya tuh cowok! Semua orang diajak ribut mulu!" Lina menggebu, ikut emosi mendengar cerita Thalia.
"Hahahaha iya, sinting kayaknya hahahaha.." Thalia tertawa palsu, dalam hati ia memohon maaf pada Rida karena telah membuat namanya tercoreng sendirian.
"Lebih baik lo jangan berurusan sama dia deh." Larang Lina.
"Emang kenapa?" Tanya Thalia penasaran.
"Si Rida itu... Apa ya? Gak tau gegar otak atau gimana, dia waktu kelas sepuluh berprestasi banget nget nget sampai jadi kesayangan guru. Udah ganteng, pinter lagi, sampai disebut most wanted boy, banyak banget yang naksir dia." Ucap Lina dengan wajah serius.
"Tapi, setelah libur panjang dan masuk kelas sebelas, dia jadi berubah total. Yang awalnya berprestasi." Lina mengangkat tangannya menggambarkan kata 'berprestasi'.
Tuk!
Lina menjatuhkan tangannya keatas meja, seolah menggambarkan kejatuhan prestasi Rida.
"Jadi berandalan."Tambahnya.
"Oh ya?" Thalia tak percaya.
"Iya, untung lo pindah di semester dua. Kalau gak, lo juga bakal syok sama perubahan Rida. Gak pernah ngerjain tugas, ngerokok, balap motor, mabok - mabokan, ngelawan guru. Bahkan katanya, dia juga suka ke club terus ONS¹ sama cewek club." Ucap Lina dengan berbisik di akhir kalimatnya.
Thalia melongo mendengar perkataan Lina, ia tidak percaya telah mengentuti orang semacam itu.
Ih... Lebih baik Thalia menjaga jarak mulai sekarang.
"Semua orang di sekolah ini yang tau Rida waktu kelas sepuluh gimana langsung syok, guru - guru juga gak jadi sayang lagi sama dia. Cuman satu orang yang tetap setia menemani Rida walau dia udah bandel, lo pasti tau deh siapa dia." Ujar Lina sambil melipat kedua lengannya.
"Dean?" Tebak Thalia.
"Yap." Lina mengangguk mantap.
"Ken sama Yoga?" Tanya Thalia teringat penjelasan Lina tentang mereka yang satu geng.
"Mereka berteman setelah Rida jadi bandel." Jelas Lina, Thalia mengangguk mengerti. "Huft... Yang awalnya most wanted boy, sekarang jadi bad boy." Lina menghela nafas menyayangkan.
"Jadi sekarang, cewek - cewek udah pada gak naksir sama dia?" Tanya Thalia lagi semakin penasaran.
"Ya... Begitulah. Makin banyak."
Thalia melongo mendengar jawaban Lina.
"Katanya si Rida udah jadi bad boy, kok banyak yang suka?" Tanya Thalia tak paham.
"Lo emang gak pernah denger statement, so badass? Cowok nakal lebih keren?" Lina balik bertanya.
Thalia menggeleng sambil mengernyitkan dahinya, sepertinya ia tidak paham dengan kegilaan jaman sekarang.
Mana ada cowok nakal keren?
Thalia merasa bingung
'emang dia mau darah tinggi karena ngeliat kelakuan cowoknya sendiri?' pikir Thalia sarkas.