Andine belum pulang ke rumah mamanya, melainkan duduk semalaman di taman yang ada di dekat perumahan sekitar tempat tinggalnya. Ya, apalagi yanga ia lakukan kalau bukan untuk menghindari Farel. Karena yakin sekali, cowok itu pasti akan ke rumahnya. Dari kejauhan, matanya terus mengarah kearah rumahnya. Tapi kali ini sedikit bersembunyi, karena apa yang ditakutkannya tadi kini jadi kenyataan. "Benar, kan, pasti Farel akan datang ke sini," gumamnya melihat mobil Farel yang memasuki pekarangan rumahnya. Agak cemas rasanya. Tahu sendiri, kan, seperti apa sifat cowok itu. Kalau kalem, kelewatan. Tapi kalau emosinya lagi naik, mungkin orang yang dia anggap menghambat jalannya bisa dibunuh sekalian. Lima belas menit waktu berlalu, tapi Farel tak kunjung keluar dari sana. Berniat untuk meng

