Episode 1
Gelap, dingin, lagi-lagi di sini. Kembali berada di sini. Di ruang tanpa lampu tanpa sedikit pun cahaya. Kegelapan mutlak yang membuatku muak. Duniaku yang gelap gulita. Aku lelah. Lelah sekali. Sekujur tubuhku mati rasa, tapi dadaku terasa sakit. Aku lelah sekali, rasanya sakit sekali, tolong aku mau berhenti. Tolong hentikan semua ini. Keluarkan aku dari sini, please siapa Saja, kumohon. Kumohon!!!
“Mbak, mbak, sadar mbak. Mbak bisa dengar suara saya? Mbak?”
“Ini dimana?”
“Di ugd. Mbak gak ingat tadi habis kecelakaan? Mbak barusan histeris, coba sekarang tenang dulu, tarik nafas pelan-pelan.”
“....”
“Sudah merasa baikan? Apa bisa mengingat nama dan nomor orang tua yang bisa dihubungi?”
“....”
“Apa terasa mual atau sakit kepala?”
“Ya.”
“Tunggu sebentar ya mbak, saya panggilkan dokter.”
Jadi, aku gagal lagi. Entah ini sudah yang keberapa kali aku mencoba mengakhiri hidupku sendiri. Kali ini dengan menabrakkan mobil yang kukendarai ke pohon. Dengan kecepatan itu seharusnya sekarang aku sudah mati, tapi kenapa aku bangun lagi disini? Suara pip-pip itu lagi, bau busuk rumah sakit lagi. Kenapa begini? Aku lelah sekali. Aku lelah merasakan semuanya. Rasa sedih, sendirian, sengsara, aku tidak berdaya melawannya. Suara yang terus kudengar, penuh kebencian. Seharusnya aku mati saja, untuk apa aku hidup, aku tidak berguna, tidak ada yang menginginkanku, tidak ada yang menyayangiku, tidak ada tempat untuk keberadaanku, aku hanya beban, aku hanya aib, aku tidak dibutuhkan, tidak ada artinya aku hidup, tidak ada gunanya aku berada di dunia ini, aku ingin menghilang saja, selamanya.
Suara itu menggema di kepalaku. Setiap saat. Gaungnya membuatku berat untuk sekedar bangun di pagi hari, membuatku merasa aku tak berhak menjalani hidup hari ini. Kadang suara-suara itu lirih sampai hampir tak terdengar, di saat seperti itu aku bisa makan, minum dan mengikuti kuliah dengan baik. Tapi suara itu tak pernah benar-benar meninggalkanku. Seperti predator menunggu mangsa, saat aku lengah suara itu mengambil alih merenggut kesadaranku. Aku dipaksanya masuk ke ruang gelap, mengisolasi diri, menenggelamkanku hingga berhari-hari. Tidak ada kata, tak ada sebab, aku akan menangis sendirian, kehabisan tenaga lalu diam mematung. Seperti yang terjadi saat ini.
Aku ingat semuanya, aku ingat siapa namaku, aku ingat kenapa aku bisa ada di rumah sakit, aku ingat semuanya sampai sebelum tak sadarkan diri. Aku hanya enggan menjawab pertanyaan perawat itu. Aku tak pintar bersosialisasi dengan orang asing, bibirku terkunci setiap kali berhadapan dengan orang baru. Pada hari-hari tertentu jantungku akan berdegup kencang, tremor dan kesemutan menjalar di sekujur tubuh, lalu aku akan kesulitan bernafas dan lemas, tak sanggup menopang diriku sendiri. Aku benci sekali, pada tubuhku pada diriku. Betapa lemah dan konyol, ketakutan setiap bertemu babak baru dalam hidup. Sungguh t***l.
Sedang pada orang-orang yang sering kutemui, aku akan terus berbohong. Aku tak tau untuk apa dan mengapa aku mengatakan kebohongan pada mereka. Aku hanya tak bisa berhenti, tak bisa mengendalikan diriku, tak bisa mengatakan sesuai yang kurasakan. Mereka satu per satu akan menyadarinya, lalu meninggalkanku, melabeliku sebagai pembohong, penipu, tukang halu. Dan aku tidak juga menikmatinya, aku tak merasakan kesenangan sama sekali. Ini menyakitkan, aku terluka tanpa bisa ku ketahui apa alasannya, mengapa aku seperti ini. Aku sudah rusak, aku kehilangan kendali atas diriku sebagai manusia, aku bahkan tak bisa mengatakan aku adalah manusia yang sama.
Seharusnya hari ini aku pergi ke kampus seperti biasa. Kemudian sebuah pesan masuk tepat setelah aku menyalakan mesin mobil. -Tik, pameran batal, gak dapet izin kampus.- Lagi-lagi gagal. Lalu pesan lain masuk. -Mama ada rapat mendadak, gak bisa dateng ke pameran kamu. Maaf ya kak, nanti mama kirim bunga kesukaan kamu.- Perfect. Semuanya berantakan. Lagi-lagi tak ada satu pun berjalan sesuai rencana. Reply, -It’s ok. Let’s try again next time.- Send to all, done. Sepele, kalimat sepele yang lagi-lagi aku gunakan untuk menutup pesan dengan kesan. Tapi tidak bisa menutup rasa kecewa dalam hatiku sendiri. Kujalankan mobil menuju entah kemana. Aku bahkan tak ingat mengapa memilih jalur itu, kenapa aku berkendara sampai situ.
Sepanjang jalan aku berteriak, menjerit, menangis sejadi-jadinya. Pameranku gagal, ya. Mamaku lagi-lagi membatalkan janjinya padaku, ya. Tapi bukan itu. Itu semua omong kosong. Bukan itu yang menyesakkan hatiku. Bukan itu yang menyakitiku. Tapi entah apa. Aku tak mengerti. Ku mohon, aku juga ingin tahu kenapa, kenapa sakit sekali, kenapa berat sekali, kenapa seperti ini rasanya. Tuhan, apa yang salah? Kenapa selalu seperti ini? Kenapa aku tak mengerti apa-apa? Kenapa begini lagi? Rasanya sesak sekali, hatiku sakit sekali. Pada saat itulah kulihat sebuah pohon besar di pinggir jalan, lalu terdengar suara kencang. Injak gas, arahkan kemudi ke pohon itu. CEPAT!!!!
Suara sialan. Harusnya bawa aku mati sekalian. Kenapa cuma meneriakiku. Menyuruhku menyayat nadi, menenggak obat banyak-banyak, minum racun serangga, berhenti di tengah rel kereta dan sekarang menabrakkan diri ke pohon? Semuanya kulakukan, tapi kenapa tidak berhenti? Hanya membuatku memutari terus lingkaran setan, membuatku menderita lebih dan lebih. Tapi kenapa tidak berhenti? Membentakku dengan perintah-perintah baru, membuatku ketakutan tak kuasa menolak. Sungguh, kenapa tidak berhenti? Kenapa tidak bawa aku mati sekalian? Kenapa tidak ada yang berhasil? Aku tak minta diselamatkan, aku tak ingin ditolong, aku hanya ingin semuanya berakhir.
Perawat yang tadi pergi kini kembali lagi bersama seorang dokter. Aku baru sadar betapa parah cederaku saat dokter memeriksa tubuhku. Aku tak bisa menggerakkan tangan, kaki dan leherku. Dadaku terasa nyeri saat menarik nafas dan kepalaku seperti mau pecah rasanya. Saat ku lihat sekitar, sepertinya ini bukan rumah sakit besar. Aku tidak tau aku berkendara sampai mana, tapi jelas ini bukan rumah sakit di kotaku. Ruang UGD-nya lenggang, tidak banyak pasien. Perawat yang berjaga juga tak lebih dari tiga.
“Mbak, apa yang dirasakan?”
“....”
“Mana yang sakit?”
“....”
“Tadi kata perawat mbak tidak ingat apa-apa ya? Mbak mengalami kecelakaan tunggal menabrak pohon. Kaki kiri mbak patah di dua titik, memar yang ada di d**a dan kepala tidak mengancam nyawa tapi karena pecahan kaca yang menusuk lengan kanan mbak membuat mbak kehilangan banyak darah. Untungnya mbak segera dilarikan ke rumah sakit, jadi nyawa mbak terselamatkan.”
“Saya tidak minta diselamatkan. Harusnya saya dibiarkan saja mati disana.”
“Hush, jangan begitu. Saya sudah lihat bekas luka di tangan mbak. Bukan luka baru. Saya tahu ini bukan pertama kalinya mbak mencoba bunuh diri, saya sudah panggilkan psikolog untuk konsultasi. Seharusnya sekarang sudah di sini. Nah, itu orangnya.”