Episode 2

1060 Words
Terlihat seorang wanita muda di meja perawat. Lebih muda dari dokter yang saat ini bersamaku tapi lebih tua dariku. Warna kerudung dan jas dokternya senada, pakaiannya juga rapi dan modis. Begitu melihat ke arahku dia langsung tersenyum berjalan mendekat. Posturnya saat berjalan sangat anggun, wajahnya teduh menenangkan, dari caranya tersenyum bisa dipastikan dia adalah orang yang penuh semangat. Penampakan seorang yang sangat ideal untuk dijadikan teman. “Udah nungguin daritadi, dok?” “Tidak kok. Ini pasiennya juga baru sadar. Saya tinggal ya, ini rekam medisnya.” “Oke, terima kasih ya dokter Puji. Nah, perkenalkan nama saya Retno. Boleh panggil dokter Retno atau mbak Retno, sesuka kamu saja. Kalau kamu? Nama kamu siapa?” “....” “Jadi kalau lihat rekam medis kamu, nama kamu Pinasthika ya. Kamu asli Jakarta tapi mengalami kecelakaan di kota kecil ini, apa kamu sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat?” “....” “Polisi sudah menghubungi orang tua kamu, sepertinya ibu kamu sedang dalam perjalanan kemari.” “....” “Dan sesuai dengan yang dokter Puji katakan, di lengan kamu ada banyak luka sayatan. Apa kamu melakukannya sendiri?” “….” “Masih belum siap untuk bicara ya? Sebelumnya pernah ke psikolog atau psikiater, kah? Pernah minum obat apa saja Pinasthika? Apa yang kamu rasakan saat ini?” “Saya sudah punya psikolog. Dia sebentar lagi datang.” “Syukurlah, jadi ibu kamu psikolog?” “Kapan saya dipindahkan dari sini?” “Tunggu orang tua kamu dulu ya. Dokter Puji juga menunggu ibu kamu datang, tadi di telpon katanya kemungkinan mau dipindah ke rumah sakit di Jakarta saja. Kamu sudah sering masuk rumah sakit ya? Kenapa gak dirawat di sini saja? Meskipun ini kota kecil tapi alat kesehatan di sini lengkap, cedera yang kamu alami juga akan tertangani dengan baik di sini. Dan di kota kecil akan mendapat lebih banyak ketenangan daripada di ibu kota.” “….” “Tapi di dekat rumah juga ada bagusnya. Orang tua kamu jadi mudah untuk merawat kamu. Mungkin juga kamu merasa lebih nyaman di dekat rumah ya.” “….” “Pinasthika, seperti halnya jatuh dari sepeda, sekecil apapun luka yang timbul tetap butuh perawatan. Apalagi jiwa kita, meskipun kita tidak menginginkannya tapi luka di hati kita pun harus ditangani dengan benar. Kamu tidak lemah hanya karena kamu minta tolong. Tidak ada yang salah dengan mencari bantuan. Jadi jangan menderita sendirian, saya di sini untuk mendengarkan cerita kamu.” “Saya sudah bilang, saya sudah punya psikolog.” “Baiklah, kalau kamu belum mau bicara dengan saya. Kita tunggu ibu kamu datang ya.” Yang kukatakan tentu saja bohong. Aku belum pernah pergi ke psikolog atau pun psikiater. Ibuku juga hanyalah pegawai kantor biasa. Sulit bagiku untuk bercerita, apalagi pada orang asing. Meski dipaksa, aku hanya akan diam mematung sampai waktu konseling habis. Atau seperti hari ini, berbohong agar semuanya cepat selesai. Dan yang dikatakan dokter itu mengenaiku sering masuk rumah sakit memang benar adanya. Aku sering masuk rumah sakit karena suara-suara di kepalaku yang tak mau berhenti menyuruhku mati. Dan selama ini selalu di rumah sakit terdekat dengan rumahku, bukan karena dekat dengan tempat kejadian tapi karena ibuku juga harus bolak balik untuk merawat adik-adikku di rumah. Sepertinya orang-orang di rumah sakit itu juga sudah mengenalku dan ibuku dengan baik jadi ibuku bisa dengan mudah meminta mereka untuk tutup mulut jika diperlukan. Aku tak pernah merisaukannya sebab begitu sadar aku akan langsung dibawa pulang. Aku pun tak tertarik dengan segala pengobatan yang ada, semua sudah diurus oleh ibuku. Dirawat di kota atau di pelosok, untuk apa aku memikirkannya. Mau luka jatuh dari sepeda, maupun luka dalam jiwaku, tak peduli dimana atau bagaimana merawatnya, mereka sama-sama tak membuatku ingin bertahan hidup di dunia ini. Beberapa saat setelah itu ibuku tiba. Datang sendirian seperti biasa. Wajahnya serius. Matanya langsung menyelidik dari atas kepala hingga ujung kakiku. “Kamu kenapa lagi, kak? Kenapa sampai sini? Kenapa sejauh ini? Butuh 2 jam loh untuk mama sampai sini! Kamu ngapain? Lihat badanmu hancur sampai seperti ini, apa yang sudah kamu lakukan, kak? Harusnya kan kamu kuliah? Katanya ada pameran? Kenapa malah jadi begini? Ya ampun kak.. Kamu apa gak kasian sama mama?” “Bu, tenang dulu bu. Ayo ikut saya sebentar.” Rasanya kesal sekali. Untuk pertama kalinya aku merasa ingin sekali mencabik mulut ibuku. Baru sedetik tiba langsung memberondongku dengan pertanyaan, berisik sekali, membuatku sesak, rasanya panas menjalar di sekujur tubuh, kepalaku berdenyut-denyut seperti mau meledak. Jika dokter itu tidak segera membawanya pergi, mungkin aku sudah berteriak menjerit sejadi-jadinya seperti orang gila. Ya, aku memang orang gila, aku sudah tidak waras. “Ayo, kita pindah ke Jakarta. Kamu lanjutkan pengobatan di rumah sakit biasanya. Mama sudah urus untuk dokumen dan ambulance.” “Gak. Kamu siapa? Aku gak kenal kamu. Aku gak mau kemana-mana.” “Thika, jangan merajuk. Kamu tidur aja seperti biasa. Mama yang urus sisanya.” “Aaaaaaaa, PERGIIIIIIIIII, Aaaaaa. Aaaaaaaaaaa. PERGIIIIIIIIII.” Aku tak kuasa menahan diri lagi. Aku menjerit sekencang-kencangnya, badanku kejang, lalu tiba-tiba semuanya gelap. Sebelum tak sadarkan diri aku sempat melihat di antara para perawat yang menahan tubuhku, ada wajah ibuku yang diam terpaku. Lalu dokter Puji datang menyuntikkan sesuatu. Ini pertama kalinya emosiku meledak. Seperti kesetanan aku berteriak, aku mencakar dan menendang apapun yang dekat. Menjerit saja, jangan dengarkan orang itu. Aku tak mau melihatnya, aku tak mau mendengarnya. Hancurkan semuanya. Supaya segera selesai. Suara di kepalaku jelas sekali terdengar. Mengamuklah. Kata itu diucapkan berulang-ulang. Dalam duniaku yang gelap, aku bermimpi. Di kota kecil akan mendapat lebih banyak ketenangan daripada di ibu kota...luka di hati kita pun harus ditangani dengan benar...tidak ada yang salah dengan mencari bantuan...di kota kecil akan mendapat lebih banyak ketenangan...seperti jatuh dari sepeda...tidak ada yang salah dengan mencari bantuan...di kota kecil akan mendapat lebih banyak ketenangan...di kota kecil akan mendapat lebih banyak ketenangan...luka di hati kita pun harus ditangani dengan benar...Berhenti...di kota kecil akan mendapat lebih banyak ketenangan...Aku bilang berhenti...tidak ada yang salah dengan mencari bantuan...Jangan bicara lagi...Di kota kecil akan mendapat lebih banyak ketenangan daripada di ibu kota...luka di hati kita pun harus ditangani dengan benar...Cukup...tidak ada yang salah dengan mencari bantuan...Kumohon berhenti. Aku tidak mau dengar lagi. Aku paham, aku tahu, aku mengerti...Di kota kecil akan mendapat lebih banyak ketenangan...luka di hati kita pun harus ditangani dengan benar...seperti jatuh dari sepeda...BERHENTIIIIII!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD