Episode 3

1102 Words
Aku bangun dari mimpi buruk itu. Mendapati diriku sudah berada di ruangan yang berbeda. Kamar perawatan dengan empat ranjang dan semuanya terisi pasien. Aku terbangun basah kuyup, nafasku tersengal seperti habis lari marathon. Ibu-ibu yang wajahnya asing berada di sampingku. “Neng, gak apa-apa? Tadi sepertinya mimpi buruk jadi saya bangunkan.” “Ini dimana?” “Di rumah sakit Jembatan Sehat neng. Mau saya panggilkan perawat?” “Gak, gak usah.” Ibu-ibu tadi kembali duduk di samping ranjang suaminya yang letaknya di depan ranjangku. Jadi, aku masih di sini. Belum dipindahkan ke Jakarta. Entah kenapa aku merasa lega. Hari sudah sore, mungkin aku sudah tertidur selama 3 jam. Badanku rasanya lemas sekali. Ibuku tidak terlihat dan tidak ada apapun di kanan kiri ranjangku. Di ruangan ini hanya aku saja yang sendirian tanpa didampingi keluarga. Para pasien dan orang-orang yang ada di ruangan ini menatapku, aku tidak suka. Dengan sisa tenaga aku meraih selimut dan menariknya sampai kepala, menutupi wajahku agar tak perlu melihat tatapan mereka. Tapi aku masih bisa merasakannya. Tatapan mengejek, merendahkan, saat ini mereka pasti sedang berbisik-bisik membicarakanku. Pasti begitu, selama ini selalu seperti itu. “Lho, sudah bangun? Saya panggilkan dokter sebentar ya.” Perawat datang mengecek infus, lalu pergi memanggil dokter. Yang datang bukan dokter Puji atau dokter Retno, tapi dokter laki-laki. Umurnya mungkin tak beda jauh dari ibuku. Di balik kacamatanya terlihat wajahnya yang licik seperti rubah. Badannya tinggi dan sedikit gempal. Dia memakai kaos berkerah warna pastel berlogo anjing kecil di balik jas dokternya. Perawat yang berjalan di belakangnya seperti menahan tawa melihat warna kaosnya. “Halo, gimana kabarnya Thika? Saya dokter Harsa. Pasti masih terasa lemas ya? Sabar dulu ya, sebentar lagi juga sembuh. Hari ini kamu istirahat saja di sini, kalau mau dirujuk ke rumah sakit yang dekat rumah bisa dilakukan nanti setelah keadaan kamu lebih stabil. Gimana, ada yang mau ditanyakan?” “....” “Gak ada? Ya udah. Terus tadi saya sudah ketemu ibu kamu, saya yang minta beliau untuk tidak menemui kamu dulu sementara ini. Jadi kalau ada apa-apa kamu bisa minta tolong suster Ina saja ya. Kamu boleh komunikasi dengan ibu lewat handphone, mana tadi sus handphonenya Pinasthika?” “Ini dok.” “Nah, silakan main handphone, tapi saran saya kamu istirahat saja, sambil dengar musik boleh, itu dibawakan earphone sama cargernya juga. Besok saya akan ke sini lagi, hari ini tidak bisa lama-lama, sudah sore soalnya. Kamu butuh istirahat.” “....” “Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya pamit dulu ya. Ayo sus.”            Ini pertama kalinya seorang dokter melarang ibuku untuk menemani di rumah sakit. Mengingat yang dikatakan ibuku kemarin memang aku pun tak ingin menemuinya. Kubuka tas yang tadi diserahkan padaku. Ini tas yang tadi pagi ku bawa, kupikir sudah hilang. Aku jadi teringat pada kecelakaan tadi pagi, penasaran bagaimana kondisi mobilku sekarang. Saat ini mungkin ibuku sedang mengurus itu di kantor polisi. Kuambil handphone dan ternyata ada pesan masuk. Dari ibu. -Mama minta maaf kak. Seharusnya mama tidak bilang begitu ke kakak. Kakak istirahat saja ya, gak usah mikir apa-apa. Besok mama ke rumah sakit.- PEMBOHONG. Minta maaf apanya. Reply, -it’s ok. Nothing to forgive. I’m fine.- Send. PEMBOHONG. Fine apanya, I’m totally messed up. Ku pasang earphone, putar musik apa saja yang muncul teratas, lalu tidur.            Paginya aku dibangunkan oleh perawat untuk mengganti perban pada luka-luka di tubuhku. Lengan kanan, pelipis, paha kanan, terperban dengan berantakan. Mungkin karena aku banyak bergerak, mungkin juga karena sengaja ku garuk saat tidur. Ternyata dibalik perban itu ada jahitan panjang. Sekarang penampilanku persis sama seperti boneka chucky. Aku terkekeh melihat tubuhku sendiri. “Kok ketawa? Ini jahitannya jadi berdarah lagi karena kamu garukin lho. Gak perih apa neng? Suster aja ngeri-ngeri sedep lihatnya.” “Gak. Malah bagus, jadi kaya boneka chucky.” “Heh, si eneng mah. Tahan bentar ya neng, ini agak perih.” “Aaaa! Sakit!” “Ya Allah, segitu sakitnya? Padahal udah pelan-pelan.” “Sengaja ya?!” “Mana mungkin sengaja neng.” “Kenapa sus? Kok sampai teriak-teriak?” “Eh, ini dok, lagi ganti perban. Padahal udah pelan-pelan.” “Tadi lukanya sengaja ditekan ya sama suster sampe berdarah lagi gitu.” “Ehh, enggak kok. Mana mungkin saya tekan lukanya.” “Sudah-sudah, ayo suster segera diselesaikan ganti perbannya.” Suster itu cepat-cepat membalut lukaku dengan perban baru kemudian pergi kembali ke ruang perawat. Apa aku tadi merasa sakit? Tidak. Lalu kenapa menjerit? Entahlah. Misalnya pun suster tadi benar-benar sengaja menekan lukaku, aku tetap tidak akan merasakan apa-apa, bukan masalah. Meski sebenarnya itu memang tidak terjadi. Semuanya terucap begitu saja, tanpa sempat aku olah dalam pikiran. Pasti suster itu sekarang merasa kesal pada diriku. Sebentar lagi dia akan memandangku dengan tatapan sinis dan berbisik-bisik membicarakanku dengan teman-temannya. Lalu rumor akan menyebar, itu dia si pasien rewel yang suka menipu. Hingga aku tak akan merasa nyaman lagi berada di sini. Belum selesai aku mereka skenario, datang seseorang ke arahku. Ibu-ibu yang kemarin membangunkanku. “Neng mau ibu suapin? Pasti susah ya makan sendiri, kan tangannya lagi begitu.” “Gak usah bu. Ini bisa kok, saya cuma belum lapar.” “Eehhh, jangan gitu. Buruan dimakan atuh neng biar cepet pulih. Udah, ibu suapin aja ya, si bapak juga lagi tidur, ibu gak ada kerjaan.” “Gak usah bu, saya bakal langsung muntah kalo makan. Saya alergi. Nanti ada yang bawain makanan baru kok. Tenang aja. Saya ngantuk banget, tadi abis dikasih obat, mau tidur aja.” “Oh gitu. Yaudah neng istirahat aja. Kalau butuh bantuan panggil ibu juga gak apa-apa.” Dan ibu-ibu itu berlalu kembali ke samping suaminya. Aku segera memejamkan mata, pura-pura untuk tidur. Pembohong. Tukang tipu. Terdengar suara di kepalaku. Kamu memang alergi, bukan pada makanan, tapi pada orang-orang. “Iya, benar”. Kamu memang seharusnya sendirian. “Iya, benar. Biarkan aku sendiri.”            Siangnya ibuku benar datang. Aku mendengar suaranya, merasakannya sedang menatapku. Tapi aku tetap memejamkan mata, masih berupaya untuk tetap terlihat tidur. Aku membayangkan saat ini ibu pasti sedang memandangi luka-luka yang ada di tubuhku dengan prihatin. Lalu matanya berkaca-kaca sambil menahan tangis berusaha kelihatan baik-baik saja. Aku tidak mau melihat itu. Aku pun tidak. Berharap tidak ada apa pun yang terjadi, tidak ada interaksi apa pun antara kami. Aku masih mengingat kejadian kemarin, mengingat tatapan matanya sesaat sebelum aku pingsan karena obat. Wajahnya ketakutan seperti melihat monster. Matanya mengatakan dengan gamblang bahwa dia tak mengenali sosok di hadapannya ini. Tak mengenaliku diriku sebagai putrinya. Aku ingin tahu sudah jadi apa aku di mata ibuku. Apa masih menganggapku manusia atau menyadari aku sudah gila?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD