BAB 3

1971 Words
Sejak dahulu, Kerajaan Minamoto menduduki peringkat pertama sebagai kerajaan termakmur di Jepang. Dari generasi ke generasi, belum ada yang mampu mengalahkan Kerajaan Minamoto. Kerajaan yang menampung lima juta penduduk itu selalu berhasil berkembang dan mempertahankan posisinya. Menjadikannya sebagai kerajaan termaju di Jepang. Hal ini mendorong Kerajaan Minamoto untuk semakin melebarkan sayapnya dengan menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Li dari Cina, negara tetangga. Kerajaan Minamoto semakin tidak dapat digapai setelah menjadi kerajaan pertama Jepang yang menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan dari Cina. Maka, tidak heran bila melihat betapa bangganya Kaisar Minamoto karena dapat menjalin hubungan dengan Kaisar Li. “Kudengar, kau ingin menikmati waktumu dengan menyusuri Jepang?” tanya Kaisar Minamoto ketika sedang melahap sarapan bersama Li Xiao Lang, sang Kaisar Li. Xiao Lang menoleh, lantas mengangguk kecil. “Ya, ini pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di Jepang. Semua orang berkata Cina dan Jepang tidak ada bedanya, tapi aku meragukannya.” “Semangat yang bagus, anak muda. Aku tidak heran,” kekeh Kaisar Minamoto membuat Xiao Lang tersenyum tipis, “benar, aku pun sering mendengar klaim itu. Tapi, aku menyangkalnya. Tidak ada dua hal yang benar-benar mirip.” “Secara pribadi, aku menyukai wilayahmu, Kaisar Minamoto. Di sini sungguh indah dan menyenangkan. Benar-benar hidup.” “Kau terlalu memuji, Nak. Jepang sangat luas, banyak tempat-tempat lain yang lebih indah dari wilayahku. Salah satunya Kerajaan Oita yang dekat dengan laut. Wilayahku tidak berbatasan dengan laut sehingga hanya ada pemandangan hamparan rumput dan kebun di sini. Aku merekomendasikanmu untuk singgah di Oita, kau tidak akan menyesalinya.” Bagai konspirasi yang menakjubkan, Xiao Lang memang telah berencana untuk pergi ke Kerajaan Oita. Semesta seolah mendukungnya untuk pergi ke wilayah yang ditinggali oleh geisha bermata hijau favorit Xiao Lang. “Terima kasih. Kebetulan, aku memang berencana pergi ke sana,” sahut Xiao Lang membuat Kaisar Minamoto sedikit terkejut. “Benarkah? Kebetulan sekali. Mengapa? Apakah kau tertarik dengan salah satu geisha yang tampil kemarin?” Xiao Lang nyaris tersedak nasi. Dia terbatuk pelan, buru-buru menenggak teh hijau sebelum tenggorokannya tercekik nasi. Respon mengejutkan itu membuat Kaisar Minamoto terperangah kaget. Tanpa perlu menunggu jawaban Xiao Lang, Kaisar Minamoto dapat menyimpulkan perkiraannya tepat sasaran. “Apa yang kau bicarakan? Aku hanya tertarik dengan pemandangan laut di sana yang dikabarkan sangat indah,” elak Xiao Lang usai menyelamatkan tenggorokannya. Dasar anak muda, batin Kaisar Minamoto geli. “Tentu saja, aku hanya bercanda. Aku tahu kau sudah memiliki banyak istri. Akan jadi hal merepotkan untuk menambah istri lagi, bukankah begitu?” sahut Kaisar Minamoto diiringi kekehan bersahabat. Xiao Lang tidak menyangkal. Memiliki banyak istri memang merepotkan. Mereka saling bersaing dan menjatuhkan satu sama lain demi menduduki tahta Permaisuri. Walau Xiao Lang cenderung tidak peduli, dia mengikuti perkembangan Istana Harem setiap hari. Ada saja yang diinformasikan oleh Kasim Wei terkait istri-istrinya. Mengatasi masalah Istana Harem lebih merepotkan dibandingkan masalah Kerajaan. Tapi, tunggu dulu. Istri? Menjadikan geisha bermata hijau itu sebagai istri? Menarik sekali, batin Xiao Lang dengan seringai kecil. *** Menjadi seorang geisha adalah impian Sakura sejak diboyong oleh Wagataki. Keluarga Sakura sangat miskin. Tinggal di pinggir desa tanpa harapan hidup yang jelas, keluarga Sakura berada di ujung putus asa. Awalnya, mereka teguh mengais hidup. Namun, diterpa masalah keuangan tiada henti, membuat mereka memutuskan untuk ‘menjual’ Sakura ke Okiya Wagataki milik Wagataki. Secara pribadi, Sakura tidak memermasalahkannya. Dia ingat alasan ayahnya ‘menjualnya’ ke Okiya. “Maafkan ayah, Nak. Ayah tidak bisa merawatmu dengan baik. Membawamu berkubang dalam hidup yang mengerikan tanpa harapan yang jelas. Ayah benar-benar minta maaf,” ujar Kinomoto Fujitaka, sang ayah, dengan air mata berlinang sembari memeluk putrinya erat-erat. Sakura yang masih berusia tujuh tahun, membalas pelukan Fujitaka sama eratnya dengan wajah polos. “Tidak apa-apa, ayah. Aku tidak merasa sengsara, aku bahagia bersama ayah.” Hati Fujitaka berdenyut nyeri seolah dihujam ratusan pisau. Mendengar ucapan tulus putrinya membuat pria itu semakin jatuh dalam jurang kesedihan. Dia semakin menyadari betapa gagalnya dirinya sebagai seorang ayah dan kepala keluarga. “Sakura, berjanjilah pada ayah bahwa kau akan hidup bahagia,” ujar Fujitaka dengan suara parau. Sakura mengangguk dalam pelukan ayahnya. “Baiklah, aku berjanji.” “Ingatlah, ayah tidak bermaksud mengusirmu. Ayah hanya ingin Sakura mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ayah sepenuhnya gagal, ayah tidak pantas sama sekali. Jadi, biarkan ayah yang merasakan semua kesengsaraan ini.” Sakura tidak mengerti ucapan Fujitaka. Dia masih sangat polos dan berpola pikir sederhana sehingga tidak bisa menangkap maksud Fujitaka. Yang Sakura pikirkan saat itu adalah ayahnya tidak memiliki niat jahat kepadanya. Jadi, tidak banyak bertanya ataupun membantah, Sakura diam mendengarkan setiap ucapan Fujitaka.   “Setelah ini, hiduplah dengan baik bersama Bibi Wagataki. Mulai saat ini, Bibi Wagataki akan menemani dan merawatmu. Jangan pernah membantah dan ikutilah sebaik mungkin, Sakura,” ujar Fujitaka seraya sedikit melonggarkan rengkuhannya. “Aku akan tinggal bersama Bibi Wagataki?” tanya Sakura bingung. “Kenapa? Apakah ayah akan pergi lama?” Fujitaka mengakhiri pelukannya. Pria berkacamata itu tersenyum hangat kepada Sakura seolah tidak memiliki beban. “Ya, ada banyak hal yang harus ayah lakukan. Jadi, Sakura harus tinggal bersama Bibi Wagataki.” Sakura tidak tahu bahwa wajah itu akan menjadi wajah terakhir ayahnya yang Sakura lihat. Dia tidak berpikir panjang. Tidak mempertanyakan apa-apa. Tidak pula berusaha memikirkannya. Saat itu, Sakura terlalu polos dan menyerahkan diri seutuhnya kepada aliran takdir. Sakura berpikir dirinya hanya perlu tinggal sementara bersama Wagataki Yumeko karena ayahnya harus pergi untuk mengurus sesuatu yang tidak Sakura ketahui. Sebelumnya, Sakura sudah terbiasa ditinggalkan sendirian di rumah oleh ayahnya. Sakura memahami situasi itu sebagai kondisi menunggu ayahnya bekerja. Jadi, ketika ayahnya menyuruhnya untuk tinggal bersama Wagataki Yumeko, Sakura tidak banyak tanya. Tidak disangka, tinggal sementara ternyata tinggal selamanya. Tanpa Sakura sadari, pelukan tersebut adalah pelukan terakhir ayahnya. Sakura ditinggalkan selamanya di Okiya Wagataki. Tidak memiliki alasan untuk terus-menerus bersedih, Sakura memutuskan untuk memulai hidupnya dengan tujuan menjadi seorang geisha. Gadis bermata hijau itu berusaha keras meraih tujuannya tanpa memikirkan masa lalunya. Dia sepenuhnya merelakan takdirnya. Tidak berburuk sangka, tidak pula berusaha mencari tahu. Apa pun alasan di balik keputusan Fujitaka, Sakura memahaminya.   Empat belas tahun berlalu sejak pelukan terakhir Fujitaka, Kinomoto Sakura meraih tujuannya usai melalui beragam rintangan. Sakura tumbuh menjadi gadis lemah lembut yang kerap kali menyebarkan aura positif. Dia tumbuh dengan baik, penuh harapan dan semangat dalam menjalani hidupnya seolah tidak pernah melalui masalah berat. “Sakura, kau mendapatkan permintaan. Cepatlah bersiap-siap,” ujar Naoko, seorang resepsionis di Okiya Wagataki, menegur Sakura yang sedang melatih para maiko. Sakura menoleh dengan wajah terkejut diikuti oleh raut yang sama dari para maiko. “Sungguh? Di jam segini?” tanyanya penuh sangsi membuat Naoko mengerucutkan bibir. “Tentu saja. Para pria tidak mengenal waktu dalam butuh hiburan. Kenapa kau sangat terkejut?” omel Naoko membuat Sakura tersenyum canggung. “Sudahlah, segera siapkan dirimu. Kau mungkin tidak menyadarinya, namun namamu melonjak naik setelah menjadi geisha yang berkesempatan tampil di Kerajaan Minamoto. Untuk nama tamunya adalah Lee Syaoran. Pastikan kau melayaninya dengan baik.” Sakura bangkit berdiri. “Baiklah, baik. Katakan pada tuan tamu untuk menunggu di ruangan biasanya. Aku akan segera melayaninya.”    “Nee-chan, semangat!” “Semangat, nee-chan! Aku janji akan langsung mahir memainkan koto setelah nee-chan melayani tamu!”   Sakura terkekeh geli mendengar janji Akane. “Aku menantikannya, Akane-chan. Kau harus memenuhi janjimu.” Akane mengangguk percaya diri. “Tentu saja! Nee-chan pasti akan terkejut!” Dengan begitu, Sakura keluar dari ruang latihan koto usai memberikan semangat kepada para maiko untuk melanjutkan latihan secara mandiri. Sedikit buru-buru, Sakura berlari kecil menuju kamarnya untuk menyiapkan diri. Dia perlu memakai kimono dan riasan sebelum melayani tamu. Cukup memacu adrenalin Sakura karena dia tidak tahu sejauh apa tamunya bisa bersabar menunggu. Akan menjadi masalah besar bagi Okiya Wagataki bila tamu tersebut mengeluh karena merasa terlalu lama menunggu. Usai merias diri, Sakura melangkahkan kaki jenjangnya menuju salah satu ruangan yang ditempati oleh tamu yang memesan jasanya. Merapikan diri sekali lagi, Sakura menarik napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya perlahan. Metode ampuh untuk menghilangkan kegugupannya. Walau Sakura sudah menjadi geisha selama dua tahun, rasa gugup masih kerap mudah menguasainya. Jalan Sakura untuk menjadi seorang geisha profesional masih sangat panjang. Sakura menggeser shoji dengan gerakan anggun agar tidak menimbulkan suara yang terlalu keras. Gadis dengan tinggi 165 sentimeter itu melangkah masuk, menutup shoji, dan duduk membelakangi shoji. Sepasang kaki Sakura terlipat ke belakang dengan saling merapat dan lurus. Pantatnya diistirahatkan pada kedua tungkai kakinya. Kemudian, punggung Sakura membungkuk tiga puluh derajat dengan kedua tangan diletakkan di lantai. Bermaksud memberikan hormat kepada sang tamu. Setelah dua detik, punggung Sakura menegak. Dia melemparkan senyuman formal. “Selamat datang di Okiya Wagataki, Tuan Lee. Saya Kinomoto Sakura, dengan sepenuh hati menyampaikan rasa terima kasih saya atas bersedianya Anda dalam menunggu kehadiran saya. Saya harap, saya tidak membuat Anda menunggu terlalu lama.” Li Xiao Lang, memberi tanggapan diiringi senyum tipis. “Tidak masalah. Kau tidak membuatku menunggu terlalu lama, Kinomoto-san.” Sakura terperangah dengan penampilan tamu yang akan dilayaninya. Seorang pria maskulin dengan proporsi lekuk tumbuh sempurna. Bermata cokelat madu, rahang tajam, bibir tipis, dan berkulit sedikit kecokelatan. Pria yang diyakini Sakura bernama Lee Syaoran itu tampak tidak asing di mata Sakura. Penampilan luar biasa tampannya sudah menunjukkan bahwa dia bukan rakyat biasa, melainkan seorang Tuan Muda. Selama dua tahun berkarier, Sakura telah melayani beberapa Tuan Muda yang berpenampilan tidak kalah menarik dari Lee Syaoran. Para Tuan Muda Jepang memang berpenampilan necis serta penuh kharisma karena mereka berasal dari kalangan berada. Bagi geisha, melayani Tuan Muda merupakan batu loncatan sempurna untuk karier mereka. Sebab, tidak jarang para Tuan Muda mengundang geisha sebagai penghibur di pesta. Sakura merasa beruntung karena mendapat permintaan jasa dari Lee Syaoran. Dengan begini, pengalaman kariernya bertambah. Mujur-mujur, reputasinya meningkat. “Tuan Lee, bagaimana permintaan Anda? Saya akan berusaha melayani Anda sebaik mungkin,” ujar Sakura tanpa melepas senyuman. “Aku telah mendengar banyak hal tentangmu. Sebagai geisha yang menjadi penari utama di pesta penyambutan terbesar yang diselenggarakan di istana Kerajaan Minamoto, aku sangat terkesan dan ingin melihat tarianmu,” sahut Xiao Lang, menghunuskan tatapan intens ke iris hijau Sakura. “Saya membawakan tarian chu no mai dan kagura di acara tersebut. Secara pribadi, saya masih memiliki banyak kekurangan dalam menarikannya. Namun, terima kasih atas perhatian Anda. Bila Anda tidak keberatan, saya akan menampilkannya untuk Anda.” “Tentu.” Sakura bangkit berdiri. Para pemain instrumen memasuki ruangan untuk mengiringi penampilan Sakura. Dua pelayan membawakan makanan untuk Xiao Lang. Dengan ramah, mereka melayani Xiao Lang sebaik mungkin. Ini cukup membuat Xiao Lang puas. Dari yang ia dengar, pelayanan Okiya Wagataki selalu maksimal tanpa membeda-bedakan status tamu. Karena Xiao Lang sedikit membayar lebih, pelayanan yang dia dapat jauh lebih baik lagi. Sakura memulai tariannya. Menarikan chu no mai, tarian yang dia tampilkan di istana Kerajaan Minamoto. Tanpa mengurangi atau melebihkan, Sakura berusaha maksimal menghibur Xiao Lang. Perbedaan yang dirasakan Sakura hanya dirinya tampil seorang diri tanpa teman-temannya. Menampilkan chu no mai secara perseorangan membutuhkan lebih banyak usaha karena tarian itu biasa ditampilkan secara berkelompok. Biasanya, chu no mai yang ditarikan secara perseorangan tidak menunjukkan kesan artistiknya dan kurang berkesan. Sebagai orang yang telah menyaksikan penampilan chu no mai Sakura di istana, Xiao Lang tidak merasakan kesan apa-apa. Pria berambut hitam kecokelatan itu lebih memerhatikan wajah Sakura daripada tariannya. Sensasinya lebih terasa. Saat di istana, Xiao Lang hanya dapat melihat Sakura dari kejauhan. Kini, jaraknya dengan Sakura terkikis, membuatnya sedikit berdebar. Enam jam yang tidak sia-sia, batin Xiao Lang puas. Sakura mengakhiri tariannya dengan bungkukan yang tidak kalah anggun. Tidak ada peluh di wajahnya walau tubuhnya bergerak cepat selama menarikan chu no mai. Aura menyenangkan serta wajah cantiknya tampak semakin berkilau usai menari. Sebagai pria normal, Xiao Lang mengakuinya. “Sangat indah, Kinomoto-san,” puji Xiao Lang dengan senyum tipis membuat Sakura sumringah. “Terima kasih, Tuan Lee,” sahut Sakura. “Tapi, aku yakin kau bisa melakukannya dengan lebih baik lagi, bukan?” Kritik tersirat Xiao Lang bagai petir di siang bolong. Sepenuhnya mengejutkan Sakura. Dalam sekejap menghempaskan Sakura yang sesaat terbuai oleh pujian Xiao Lang. Untuk pertama kali dalam kariernya, Kinomoto Sakura mendapatkan kritik dari tamu yang dia layani. TO BE CONTINUED[Halo, para pembaca yang menambahkan Four Season ke library! Akhirnya setelah sekian lama aku dapat melanjutkan Four Season. Mohon maaf karena kalian harus menunggu terlalu lama. Untuk ke depannya, Four Season akan berusaha update sesering mungkin. Jadi, kuharap kalian masih dapat bersabar lagi denganku. Terima kasih banyak atas apreasiasi kalian!]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD