Selama menjadi geisha, ini bukan pertama kali Sakura menerima kritik dari tamu yang dihiburnya. Bila diingat ulang, Sakura sangat jarang menerima kritik. Mayoritas para tamunya puas dengan penampilannya. Sebagai geisha yang sering diminta menari, Sakura cukup percaya diri atas bakat menarinya. Para tamu pun tidak ada yang mengkritik tariannya, mereka puas dan terkesima.
Jika Sakura mendapatkan kritik, maka itu terjadi karena kesalahannya saat memainkan alat musik. Berbanding terbalik dari menari, Sakura cukup tidak berbakat memainkan alat musik. Sakura pun was-was dengan kekurangan tersebut sehingga selalu berlatih untuk meningkatkan kemampuan bermusiknya. Sakura juga tidak marah ketika ada tamu yang mengkritik permainan musiknya karena memang itulah kelemahannya.
Akan tetapi, sekarang Sakura mendapatkan kritik atas tariannya. Bidang yang benar-benar dikuasai oleh Sakura, kini mendapatkan kritik tersirat.
“Kinomoto-san?”
Suara Xiao Lang menyadarkan Sakura dari lamunannya. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum membalas tatapan mata cokelat madu Xiao Lang. “Ah, maafkan ketidaksopanan saya, Tuan Lee.”
“Ada apa? Apakah kau tidak enak badan?”
Sikap perhatian Xiao Lang sedikit mengaburkan ingatan Sakura terkait beberapa menit yang lalu ketika pria itu mengkritiknya. Seolah pengalihan isu, Xiao Lang memasang wajah tidak berdosa dan menunjukkan perhatian kepada Sakura.
“Tidak apa-apa, saya baik-baik saja. Maaf bila tidak berkenan bagi Anda dan terima kasih atas perhatian Anda,” ujar Sakura mempertahankan senyum simpul dan sikap profesionalnya.
Xiao Lang tahu ada yang sedikit tidak beres pada diri Sakura. Dia tidak buta. Raut sedikit terganggu Sakura tertangkap jelas oleh matanya usai Xiao Lang melempar kalimat yang mengandung kritik tersirat. Xiao Lang sedikit berhasil memancing Sakura.
Dilihat sekali saja, Xiao Lang tahu kebanggaan diri Sakura ada pada bakat menarinya. Bila bakat gadis itu disinggung, sama saja dengan menyinggung harga dirinya.
Ini terasa begitu menarik bagi Xiao Lang.
“Apakah berkenan bagimu untuk memainkan alat musik untukku?” tanya Xiao Lang, sedikit mengejutkan Sakura.
Bila kulakukan, aku yakin dia akan melempar kritik lagi, batin Sakura sedikit putus asa. Merasa dirinya sangat jauh dari geisha profesional kebanggaan Jepang.
Sakura terpaksa melebarkan senyumannya demi profesionalitas. “Tentu, tidak masalah. Tolong untuk tidak sungkan padaku, Tuan Lee. Lantas, alat musik apa yang ingin Anda dengar?”
“Koto.”
Jawaban Xiao Lang sedikit melegakan hati Sakura. Di antara seluruh alat musik, Sakura percaya diri pada koto. Sejak kecil, dibandingkan alat musik lainnya, Sakura lebih mencurahkan diri dalam memainkan koto. Bertahun-tahun dia melatihnya hingga seluruh jarinya kapalan, namun tetap saja teknik permainannya tidak begitu sempurna. Namun, Sakura tetap percaya diri dalam memainkan koto.
Setidaknya, selama memainkan koto, jarang pula ada tamu yang mengkritiknya.
Para pemain instrumen keluar dari ruangan Sakura berhubung Sakura tidak akan menari lagi. Sakura duduk berhadapan dengan Xiao Lang dengan sebuah koto bersenar tiga belas di hadapannya, siap dimainkan.
“Lagu apa yang ingin Anda dengar?” tanya Sakura.
Xiao Lang menyesap teh hijau sebelum menjawab. “Aku tidak begitu tahu banyak tentang lagu Jepang. Aku akan mendengarkan apa saja.”
Sakura mengerjap kaget, baru tersadar. “Ah, maafkan saya, jika tidak berkenan, apakah Anda bukan orang Jepang?”
“Begitulah.”
Sakura tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Aksen dan logat Anda benar-benar sempurna. Saya sungguh tertipu.”
Xiao Lang berusaha menahan kekeh geli. “Oh? Kukira kau menyadarinya saat mendengar namaku.”
Sakura terkekeh pelan. “Saya tertipu. Di Jepang, marga Lee termasuk marga umum. Jadi, saya pikir, Anda adalah orang Jepang.”
“Tapi, bukankah nama depanku sangat asing, Kinomoto-san?”
“Ya, Anda benar. Saya begitu lengah,” kekehan Sakura mereda. Dia meletakkan jari-jemarinya di atas senar koto. “Baiklah, saya akan membawakan lagu Ryuuseigun. Ryuuseigun adalah lagu yang paling sering dibawakan dalam permainan koto. Tempo lagu ini sedikit kompleks dimulai dari cepat dan tegas lalu lambat. Saya harap Anda tidak keberatan.”
Xiao Lang tersenyum tipis. “Tentu. Aku akan mendengarkan dengan baik.”
Seperti yang dikatakan oleh Sakura, Ryuuseigun adalah lagu yang paling sering dibawakan para geisha dalam memainkan koto. Temponya kompleks. Lebih cocok dimainkan dalam penampilan grup dibanding perseorangan. Bagi Sakura, Ryuuseigun sudah seperti makanan sehari-harinya karena dia selalu berlatih memainkan koto menggunakan lagu tersebut. Jadi, dia sedikit percaya diri.
Xiao Lang memerhatikan Sakura dengan teliti. Tidak melewatkan penampilan gadis berambut panjang itu sedikit pun. Sama seperti sebelumnya, dibanding menikmati penampilan bermusiknya, Xiao Lang lebih memerhatikan paras cantiknya.
Sejak awal, kedatangannya ke Okiya Wagataki memang sekedar melihat Sakura kembali karena rasa penasaran. Xiao Lang tidak tertarik sedikit pun dengan pekerjaan Sakura sebagai geisha. Namun, agar bisa bertemu Sakura, Xiao Lang harus berlagak menjadi tamu yang butuh hiburan geisha.
Menggelikan. Sungguh menggelikan. Bahkan Xiao Lang merasa malu memikirkan kelakuannya saat ini.
Li Xiao Lang yang tidak pernah memedulikan wanita, orientasi hidupnya hanya pada junjungan hidup prajurit, dan selalu memikirkan bagaimana caranya memerluas wilayah kekuasaannya, kini bertingkah bodoh hanya untuk menemui satu perempuan Jepang biasa.
Xiao Lang tak pernah peduli pada istri-istrinya di istana seolah mereka tak ada artinya. Xiao Lang tidak pernah mengindahkan permintaan ibunya yang menginginkan penerus. Dan Xiao Lang yang selalu melempar pernyataan perempuan akan selalu menjadi urusan terakhir dalam hidupnya. Xiao Lang yang melakukan semua hal itu, kini repot-repot mencari cara agar dapat bertemu dengan seorang geisha biasa.
Menggelikan.
Jika sekarang ada Hiiragizawa Eriol di samping Xiao Lang, pria itu akan tertawa puas dan menjadikannya bahan lelucon selama berbulan-bulan. Menyimpan satu lagi aib Xiao Lang dalam kepalanya yang tidak bisa ditebak bagaimana jalan pikirannya.
Sakura mengakhiri permainannya dengan indah. Dia membungkuk kecil kepada Xiao Lang. “Apakah berkenan bagi Anda, Tuan Lee?” tanyanya.
Xiao Lang menyesap teh hijau dengan angguk kecil. “Bagus sekali. Aku terkesan, Kinomoto-san. Dari permainanmu saja, aku dapat memahami betapa mahir dan tekunnya kau dalam menghadapi koto.”
Sakura tersenyum manis, lega. “Terima kasih. Anda terlalu memuji.”
“Koto memiliki kesamaan dengan guzheng, baik dari bentuk dan cara memainkannya. Tekniknya pun kurang lebih sama. Jadi, menurutku, kau masih perlu sedikit mengasahnya lagi, Kinomoto-san.”
Ah, dia mengkritik lagi. Dia adalah tamu pertama yang gemar mengkritik, batin Sakura sedikit tercubit.
“Benar. Saya mengetahui beberapa hal tentang guzheng. Tidak dapat dipungkiri, ada banyak hal yang saling berkaitan antara Cina dan Jepang,” tanggap Sakura penuh ketenangan, menjaga profesionalitasnya.
“Ya, sebagai seniman kebanggaan Jepang, kau sungguh memukau. Tidak dapat kupungkiri,” puji Xiao Lang tanpa ekspresi, membuat pujiannya menjadi kontradiksi. “Tapi, kau masih perlu mengasah banyak hal sebelum menjadi geisha profesional yang sesungguhnya. Kuharap kau tidak tersinggung dengan pendapatku.”
“Tentu saja tidak, Tuan Lee. Saya sangat mengapresiasi segala kritik dan saran dari para tamu,” sahut Sakura dengan senyum lebar seolah tak tersinggung. “Namun, ada satu hal yang ingin saya tanyakan bila Anda berkenan.”
“Apa itu?”
“Apakah ini kunjungan pertama Anda ke Okiya?”
Karena kau gemar mengkritik dan kebetulan sekali bukan warga asli Jepang. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak, batin Sakura.
Xiao Lang mengangguk kecil. “Benar.”
“Jika boleh tahu, mengapa Anda ingin dilayani oleh saya? Sejauh yang saya tahu, saya bukan geisha kebanggaan di Okiya Wagataki. Anda bisa meminta pelayanan dari Kaho, geisha kebanggaan di sini. Lantas, mengapa saya?”
Ah, tanpa sadar dia menunjukkan betapa tersinggungnya dirinya, batin Xiao Lang tergelitik.
“Memang benar kau bukanlah geisha kebanggaan di sini. Tapi, Kaho bukanlah geisha utama yang menari di Istana Minamoto,” jawab Xiao Lang lugas tanpa keraguan dengan iris intens menatap iris hijau Sakura.
Jawaban Xiao Lang membuat Sakura terperangah kaget. Xiao Lang mengatakannya secara gamblang dengan wajah tidak berekspresi dan nada datar. Namun entah mengapa, mengundang ratusan kupu-kupu menggelitik perut Sakura. Padahal Xiao Lang tidak menunjukkan kesan apa-apa meski kalimatnya begitu menyanjung.
“Walaupun saya telah tampil di pesta sebesar itu di Istana Minamoto, saya tetap kalah jauh dibandingkan Kaho. Lagipula, saya hanya pengganti Kaho di pesta tersebut,” ujar Sakura rendah hati dan tetap tenang.
Xiao Lang meletakkan gelas di meja. Dia memasang raut terkejut yang dibuat-buat. “Oh, benarkah? Kau adalah penggantinya?”
“Begitulah. Sehari sebelum pergi ke Istana Minamoto, kaki Kaho mengalami cedera hingga harus digantikan. Itulah alasannya mengapa saya dapat tampil di Istana Minamoto. Jika Kaho tidak cedera, saya tidak akan memiliki kesempatan besar itu.”
Xiao Lang mengangguk kecil. “Aku paham.”
“Melihat saya masih memiliki banyak kekurangan, apakah Anda ingin mengganti saya dengan Kaho? Kebetulan Kaho tidak—“
“Hei.”
Sakura mengerjap, sedikit kaget. “Ya?”
“Kau memang masih banyak kekurangan, tapi aku tidak berniat menggantimu dengan siapa pun. Jangan terlalu merendahkan diri.”
“Saya tidak merendahkan diri. Saya hanya berusaha—KYAA!”
Xiao Lang dan Sakura bangkit berdiri sesaat setelah beberapa orang berbaju hitam dan bertopeng melompat masuk melalui jendela. Mereka mengacungkan katana kepada Xiao Lang dan Sakura tanpa berkata apa pun. Membuat situasi sangat tegang dan intens.
Untuk pertama kali dalam hidup Sakura, baru kali ini dia menghadapi situasi semacam ini. Selama ini, Sakura telah beberapa kali melayani anggota yakuza maupun mafia luar negeri. Sama-sama orang mengerikan dari dunia busuk yang tidak ingin Sakura ketahui. Namun, tidak ada hal semacam ini yang terjadi kala itu. Semuanya aman terkendali.
Lantas, mengapa penyergapan dan p*********n ini terjadi kepada Lee Syaoran yang Sakura layani? Dilihat dari mana pun, Syaoran bukan anggota yakuza maupun termasuk ke dalam orang-orang dari dunia hitam.
“Berdiri di belakangku, Kinomoto-san,” ujar Xiao Lang sambil mengeluarkan pedang.
Bagaimana bisa hal semacam ini menimpa Sakura?
TO BE CONTINUED
Beribu terima kasih bagi kalian yang telah menambahkan Four Season ke dalam library!