BAB 5

1636 Words
Sakura tidak bisa tenang menghadapi perubahan situasi yang terlalu mendadak ini. Dalam sepanjang karirnya sebagai geisha, ini adalah insiden pertama yang terjadi padanya. Dia mengerti bahwa rumah geisha, Okiya, tidak mungkin selamanya aman. Pasti selalu terjadi kerusuhan dan masalah yang merepotkan, bahkan bisa saja berbahaya. Namun kemudian, Sakura tidak pernah benar-benar siap untuk menghadapinya. Bagaimana pun, siapa yang tidak takut bila tiba-tiba saja nyawanya terancam? Walau Sakura sedikit menguasai teknik bela diri, dia memiliki suatu kondisi untuk menjaga reputasi Okiya Wagataki. Apa yang akan dikatakan orang-orang jika salah satu geisha Okiya Wagataki bertindak melenceng dari yang seharusnya? Lantas, Sakura tidak memiliki pilihan selain berlindung di belakang Xiao Lang. Xiao Lang, seorang Kaisar dari Kerajaan Li yang tersohor di China, tidak memiliki kekhawatiran sedikit pun. Mata cokelatnya menatap remeh kepada belasan penyusup yang sedang mengepungnya. Dia tidak khawatir mau pun takut. Situasi tegang seperti ini sudah seperti makanan sehari-harinya sejak kecil. Xiao Lang sudah melalui banyak hal yang lebih mengerikan dari ini. Jadi, untuk apa takut? Menggunakan sebilah jian kebanggaan yang diturunkan secara turun-temurun dari Kaisar ke Kaisar di Kerajaan Li, Xiao Lang menyeringai kecil kepada para penyusup. Terprovokasi, mereka maju melancarkan serangan menggunakan beragam senjata dan seni bela diri. Dengan santai, Xiao Lang membalas p*********n mereka tanpa mengeluarkan peluh. Gerakannya gesit dan efektif, satu per satu menumbangkan musuh. Menggabungkan seni bela diri dan seni berpedang khas China, Xiao Lang berhasil mengalahkan belasan penyusup tanpa kesusahan. Namun kemudian, kerusuhan itu berakhir mengakibatkan kerusakan pada ruang tamu yang ditempati oleh Xiao Lang dan Sakura. Selain itu, kerusuhan itu juga mengundang Okami Wagataki untuk menghampiri. Tentu saja, tidak mungkin kerusuhan itu tidak terdengar sampai ke luar. Sedikit kasar, Okami menggeser shoji, sontak terkejut melihat belasan penyusup terkapar. Gurat cipratan darah di mana-mana. Xiao Lang berdiri gagah dengan wajah datar, sementara Sakura menciut ketakutan di belakangnya. Wagataki Yumeko, sang Okami, mendadak merasa buntu jalan pikirannya. Dia lambat memproses permasalahan ini meski ini bukan pertama kali terjadi di Okiya miliknya. Menyadari sang Okami terlalu terkejut untuk memproses masalah, Xiao Lang buka suara. “Sepertinya, aku pantas mendapatkan kompensasi atas kejadian ini meski ini terjadi di luar kendalimu, Wagataki Yumeko.” Okami dan Sakura tersentak mendengar ucapan Xiao Lang. Sakura berpindah posisi ke sisi Okami, berniat melindungi beliau yang sudah seperti ibunya sendiri. Xiao Lang menghempaskan jian-nya guna menyingkirkan percikan darah yang menempel, kemudian memasukkannya ke dalam sarung jian tersebut yang terikat di sabuk pinggulnya. Masih berwajah datar, Xiao Lang memutar badan sepenuhnya ke hadapan Okami dan Sakura yang berwajah was-was. Sebuah raut yang sewajarnya terpasang di wajah mereka. Tidak ada hal bagus yang datang setiap kali seseorang menyebutkan kata kompensasi, bukan? “Ini cukup mengusik suasana hatiku. Aku ke sini berekspektasi mendapatkan istirahat dan hiburan yang menyenangkan, namun kemudian terjadi hal semacam ini,” ungkap Xiao Lang melanjutkan komplain membuat sang Okami berkeringat dingin. Berusaha memertahankan profesionalitasnya, Wagataki Yumeko maju selangkah kemudian membungkuk formal memohon permintaan maaf. “Dengan segala penyesalan dan tanggung jawab saya selaku Okami dari Okiya Wagataki, saya memohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan Anda di sini. Hal ini terjadi di luar kendali saya dan benar, Anda pantas untuk mendapatkan kompensasi. Maka, izinkan kami memberikan pelayanan maksimal kepada Anda sebagai kompensasi atas kejadian ini, Tuan Lee.” Mengikuti gestur Okami, Sakura melakukan hal serupa di belakang beliau. Gadis bermata hijau itu memanjatkan seribu doa dalam hatinya kepada para Dewa, berharap Xiao Lang memiliki hati untuk memberikan keringanan. Dia juga berterimakasih kepada Xiao Lang karena berhasil melindungi Okiya dan dirinya dari serangan para penyusup tersebut. Sejauh Sakura berinteraksi dengan pria itu, dia meyakini Xiao Lang bukanlah pria jahat meski beberapa sikapnya sedikit mengusik hati. Nah, bahkan Sakura sudah melupakannya sejak para penyusup menyerbu ruangan. Sekarang, yang terpenting adalah menyelamatkan reputasi Okiya Wagataki. “Bagaimana bisa aku menerima pelayanan dari Okiya ini kala Okiya inilah yang menjadi penyebab rusaknya suasana hatiku?” tanya Xiao Lang datar, menghujam pikiran Okami dan Sakura. Okami memerdalam bungkukannya. “Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Anda, saya memahami situasi Anda, Tuan Lee. Namun, hanya itulah yang dapat kami berikan kepada Anda sebagai kompensasi. Anda dapat menikmati pelayanan maksimal kami tanpa mengeluarkan sepeser pun selama tiga hari, paling maksimal. Pelayanan tersebut meliputi penginapan, layanan kamar, makan, pemandian air panas, pijat refleksi, dan penghiburan dari para geisha terbaik kami.” “Itu tawaran yang bagus, tapi lupakan saja,” tolak Xiao Lang mentah-mentah. Sakura membelalak sebelum kemudian memejamkan mata kuat-kuat, panik. “Tolong untuk dipertimbangkan kembali, Tuan Lee. Kami—” DRAP DRAP DRAP! Derap kaki yang sedang berlari menggema memenuhi koridor sebelum kemudian muncul figur seorang wanita berambut pendek dan berkacamata. Seorang resepsionis di Okiya Wagataki sekaligus teman baik Sakura, Yanagisawa Naoko. Gadis itu membungkuk hormat kepada Xiao Lang sebelum menyuarakan keperluannya mendatangi mereka. “Wagataki-sensei, ini gawat.” Sang Okami tidak beranjak mengakhiri bungkuknya sebelum menerima persetujuan Xiao Lang terkait kompensasi. Jadi, beliau tetap diam. Naoko memahaminya, maka ia memaparkan situasi gawat yang ia sebut barusan. “Terdapat puluhan prajurit di luar Okiya dan seorang kasim. Kasim itu berkata dia datang untuk menemui Kaisar Li yang berada di sini.” Detik itu, Wagataki Yumeko dan Sakura tidak mampu membendung keterkejutannya. Keduanya serentak menegakkan punggung dan menoleh ke Naoko di belakang mereka. Wajah panik Naoko menunjukkan bahwa ia tidak main-main. Lantas, belum sempat sang Okami memberikan respon, seorang pria tua berpakaian formal khas China muncul di samping belakang Naoko. Okami langsung menyimpulkan pria tua itulah sang kasim yang disebutkan oleh Naoko. Kasim Wei membungkuk kecil kepada Okami. “Selamat siang, Nyonya Wagataki Yumeko, Okami dari Okiya Wagataki. Sebuah keberuntungan dapat bertemu dengan salah satu pemilik Okiya terkenal di Jepang.” Berusaha tetap profesional, Okami membalas keformalan sang kasim. “S—Selamat siang, Tuan Kasim. Terima kasih atas pujian Anda, Anda terlalu menyanjung.” Kasim Wei tersenyum lebar, menghantarkan aura hangat yang menyenangkan. Pria tua itu memasuki ruangan yang porak-poranda. Seolah membuat situasi makin rumit, Kasim Wei bersujud hormat kepada Xiao Lang. Menunjukkan secara jelas bahwa ucapan Naoko itu benar. Kaisar Li yang tadi disinggung-singgung tidak lain tidak bukan adalah Tuan Lee, sang tamu yang tertimpa kejadian tidak menyenangkan di Okiya Wagataki. “Wang Wei memberikan penghormatan kepada sang Putra Surga, Yang Mulia Kaisar Li Xiao Lang. Saya mengucapkan beribu syukur atas keselamatan Anda dan memohon permintaan maaf atas keterlambatan kami untuk melindungi Anda, Yang Mulia.” ujar Kasim Wei dalam sujud penghormatannya. “Berdiri.” perintah Xiao Lang datar yang kemudian dipatuhi oleh Kasim Wei. Mata cokelatnya lurus kepada Okami, Sakura dan Naoko yang terpaku kaku di hadapannya. Kasim Wei berdiri di sisi kiri Xiao Lang. Berdeham sejenak, pria itu melontarkan sepatah kalimat. “Sebagai Kepala Kasim Kerajaan Li dari China, saya menyampaikan salam kembali kepada Okami Wagataki Yumeko, saya Wang Wei. Saya mengucapkan segala terima kasih atas perhatian dan pelayanan yang Anda berikan kepada Yang Mulia Kaisar Li.” Okami, Sakura dan Naoko bergetar menatap Xiao Lang dan Kasim Wei secara bergantian, terlebih Naoko. Gadis lugu itu tidak pernah menyangka akan menyambut seorang kaisar dalam karirnya sebagai resepsionis Okiya Wagataki. Jangankan menyangka, memikirkannya secara sekilas pun tidak pernah. Memang benar Okiya Wagataki termasuk ke dalam jajaran okiya terkenal di Jepang, namun tetap saja mustahil untuk memikirkan seorang kasir menginjakkan kaki di okiya. Geisha-lah yang menghampiri kaisar, tidak sebaliknya. Dan kini peraturan sosial tidak tertulis itu dipatahkan oleh Kaisar Li dari negara tetangga. Secara nyata, seorang kaisar berdiri di salah satu ruangan Okiya Wagataki bersama kasimnya, dan puluhan prajurit sedang berdiri di luar okiya. Menambah bukti dan menguatkan konfirmasi bahwa ini bukan lelucon mau pun halusinasi. Kaisar. Tuan Lee yang sedari tadi kulayani… seorang kaisar. Kaisar Li dari China. Salah satu orang yang menyaksikan penampilanku di Istana Minamoto. Tamu penting Jepang. Astaga…, batin Sakura kehabisan kata-kata. Terlalu bingung menghadapi situasi mendadak ini. Memecah keheningan yang terasa berat dan panjang, Xiao Lang melontarkan suara datarnya. “Mengenai kompensasi yang kita bicarakan sebelumnya, aku tetap tidak menerimanya, Wagataki,” tutur Xiao Lang tetap kukuh pada penolakannya membuat sang Okami, Sakura dan Naoko membelalak. Ketiga wanita itu serempak berlutut di hadapan Xiao Lang dan membungkuk cukup dalam tapi tidak sampai keningnya menyentuh lantai. Putus asa mulai merundung mereka. Sekian kemungkinan terburuk meneror kepala seiring situasi yang terjadi kian memburuk. Xiao Lang seorang kaisar dari kerajaan yang maju di China. Apa pun dapat ia lakukan dalam satu jentikan jari terhadap sebuah okiya sepele di Jepang. Sakura tidak ingin itu terjadi. Ada sekian geisha dan maiko yang dinaungi oleh Okiya Wagataki. Mereka memiliki impian masing-masing yang bermacam-macam, sama seperti Sakura yang bermimpi untuk menjadi seorang geisha profesional kebanggaan Jepang. Para maiko pun demikian. Impian murni mereka tidak pantas untuk dihancurkan dalam sekejap. Jika itu terjadi, Sakura tidak akan bisa hidup tenang sampai akhir hayatnya. Jadi, Sakura melekatkan keningnya di tatami. Bersujud sepenuhnya kepada Xiao Lang demi memohon belas kasihan pria itu untuk tidak menyentuh okiya yang telah membesarkan dan mendidiknya. “Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Yang Mulia Kaisar, saya memohon belas kasih Anda kepada Okiya Wagataki. Saya… saya akan melakukan apa pun sesuai keinginan Anda asalkan Anda berkenan memenuhi permohonan egois saya tersebut.” pinta Sakura bersungguh-sungguh dalam sujudnya. “Saya memahami betapa egois dan tidak tahu dirinya saya, tetapi saya mohon, mohon sekali, kepada Anda untuk berbelas kasih kepada Okiya Wagataki yang telah membesarkan dan mendidik saya beserta para geisha dan maiko di sini.” Inilah yang Xiao Lang nanti-nantikan. Akhirnya kata “apa pun” keluar dari bibir kecil Sakura. Xiao Lang mendekati Sakura, lantas berlutut di hadapannya. Tangan kanannya terulur ke depan, menyelinap menyentuh dagu gadis itu lalu mengangkat wajahnya. Bergetar takut, Sakura mengangkat wajah sesuai dorongan telunjuk Xiao Lang di bawah dagunya. Kontak mata pun terjadi antara mata cokelat dan mata hijau. Xiao Lang menyeringai sangat tipis kala kembali menatap mata sehijau batu giok kebanggaan China tersebut. Dia makin tertarik kepada Sakura. “Ikut denganku.” TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD