Mengapa tiba-tiba situasi berakhir seperti ini? Sakura tidak tahu.
Semua ini terjadi terlalu cepat dan terlalu mendadak hingga Sakura tidak bisa memproses situasinya. Yang dia tahu, dia sedang menjalankan pekerjaannya sebagai geisha untuk menghibur seorang pria muda tampan bernama Lee Syaoran. Pria itu sangat tampan, memiliki aura berwibawa yang tak dapat ditampik, dan menyenangkan untuk dijadikan teman berbicara.
Segalanya berjalan normal sebelum tiba-tiba saja terjadi p*********n oleh sekelompok orang tak dikenal. Sakura mungkin akan berakhir naas jika saja tidak ada Xiao Lang di sana. Tak perlu dipertanyakan lagi, Xiao Lang berjasa melindungi Okiya Wagataki sekaligus Sakura. Pria itu pantas mendapatkan imbalan atas jasanya, namun juga kompensasi atas kejadian tidak menyenangkan yang menimpanya.
Sakura berpikir, Xiao Lang tidak akan membuat masalah ini lebih panjang lagi dengan langsung menerima tawaran kompensasi yang Okami berikan. Sakura yakin, Xiao Lang adalah pria baik walau ia sering menyinggung hati selama melayaninya. Ya, Sakura yakin seperti itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja situasi kembali diperparah dengan kehadiran seorang kasim dan puluhan prajurit kerajaan. Berkata, mereka sedang menjemput Kaisar Li yang berada di dalam Okiya Wagataki.
Dan, tak disangka, Lee Syaoran yang Sakura layani merupakan Kaisar Li yang dimaksud, Kaisar Li Xiao Lang.
Tak elak, situasi semakin buruk dan Sakura yakini, ini akan mengancam Okiya Wagataki. Sakura tidak bisa menerimanya. Sehingga, dia memilih keputusan terbesar di sepanjang hidupnya.
Sesudah kapal mengangkat jangkar dan pergi meninggalkan pelabuhan, Sakura dibawa ke salah satu ruangan di geladak bawah kapal yang kecil namun bersih. Di sana, ada seorang perempuan muda duduk di permadani merah dan emas. Wajahnya rupawan, dirias oleh bedak hingga memancarkan kulit yang mulus dan seputih salju. Ia mengenakan kimono merah muda dengan corak burung bangau yang indah. Sakura tidak bermaksud untuk terlalu menatapnya, namun dia tidak dapat memungkiri bahwa ada geisha lain yang bernasib sepertinya.
“Halo,” Sakura menyapa sopan. “Namaku Kinomoto Sakura.”
Si perempuan geisha tidak merespon. Ia membuang muka secara angkuh, mengangkat hidungnya begitu tinggi. Pipi Sakura merekah akibat dari penghinaan tersebut. Mencoba tidak begitu memersalahkannya, Sakura meluncur turun di lantai seraya meletakkan barang bawaan di sampingnya, lantas duduk dengan tenang sesuai etika geisha.
Dinding ruangan yang menaungi Sakura terasa mengecil saat dia menyadari dirinya tidak memiliki teman di sini, begitu pula di China nanti. Sakura langsung merindukan ‘ibunya’. Bibirnya sedikit bergetar, tidak peduli seberapa keras dia berusaha menjaganya tetap diam. Pada saat yang sama, Sakura menutup mata untuk mencegah air mata turun, sayangnya mereka tetap berhasil keluar.
Sang geisha lain mencemooh dan membawa diri menjauh dari Sakura.
Di sore hari, makanan diberikan kepada mereka. Itu merupakan makanan sederhana yang biasa Sakura makan, seporsi nasi dan beberapa ikan. Dia melahapnya dengan rasa bersyukur seolah belum makan apa pun sejak pagi. Sementara, si geisha melahap jatahnya perlahan, mengambil gigitan kecil seolah menikmati tiap kecapan dengan rasa hormat.
Sakura sedikit memerah. Teringat salah satu kenangan mendidik para maiko di Okiya Wagataki. Akane menjadi maiko yang paling sulit mengikuti tata krama meja. Cara makannya tidak anggun dan cukup berantakan, sama seperti yang Sakura lakukan sekarang. Memalukan sekali. Efek dari kesedihan membuat Sakura melupakan jati dirinya. Berusaha bermuka tebal, dia membenarkan tata makannya.
Selesai makan, Sakura menyadari si geisha memucat dan muntah beberapa kali. Meraih sebuah ember kosong di ruangan—yang kemungkinan disiapkan untuk mengantisipasi mabuk laut—Sakura menghampiri geisha tersebut. Tidak butuh waktu lama, ia memuntahkan isi perutnya begitu saja. Sakura mengusap punggungnya selagi ia mengosongkan perutnya. Dia menguatkan diri menghadapi bau amis muntahan dan mengangsurkan air untuk membersihkan mulutnya.
Ketika seorang pelayan datang untuk mengambil piring makanan, dia membawa ember itu pergi, bibirnya mencibir karena rasa jijik.
Si geisha mengganti pakaian dibantu oleh Sakura. Dari mengenakan kimono yang terlalu ketat dan riasan di wajahnya menjadi pakaian bepergian yang sederhana serta menghapus riasannya. Ia memiliki kulit yang tidak jauh berbeda dengan kulit riasan sebelumnya. Rambut hitam kelamnya tergerai sempurna hingga pinggang.
“Terima kasih,” ujar si geisha selagi menatap ke lantai.
“Sama-sama,” sahut Sakura diiringi senyuman iba.
“Apa nama yang sebelumnya kau katakan?”
"Kinomoto Sakura."
"Aku Iroha.”
Sakura menyentuh tangan Iroha penuh sayang. "Apakah kau merasa baikan sekarang, Iroha-san?"
“Aku akan merasa lebih baik ketika kakiku menyentuh tanah dan segalanya berhenti bergerak.” kata Iroha dengan hela napas berat.
Ketika kaki mereka kembali menyentuh tanah, mereka akan berada di belahan dunia yang lain. Mendadak, Sakura dibawa kembali ke situasi tidak menyenangkan yang ia lalui, tidak terdistraksi lagi oleh kondisi buruk Iroha.
“Iroha-san, menurutmu China seperti apa?”
“Sama seperti Jepang,” jawab Iroha, acuh tak acuh. “Mungkin lebih buruk. Itu tidak akan jauh berbeda bagi kita. Bagi seorang pria, mungkin. Tapi, tidak bagi kita.”
Sakura tidak begitu memahami Iroha namun dia tetap mengangguk.
“Kau untuk siapa?”
"Huh?"
Iroha menatap Sakura seolah ia orang bodoh. “Oleh mereka, kau diberikan kepada siapa?”
"Oh. Kaisar."
"Maksudmu, Kaisar Li Xiao Lang?”
Sakura mengangguk dan raut Iroha berubah.
"Ada apa?" tanya Sakura.
"Kau tidak pernah mendengar kabar tentangnya meski kita berada di lingkar yang sama?”
Iroha, tidak mampu menahan gosip, memberitahu apa yang ia ketahui kepada Sakura.
"Mereka menceritakan kisah tentangnya. Mereka berkata bahwa dia adalah pria terkejam di medan perang. Bahwa satu tatapan dapat membekukanmu oleh rasa takut dan keheningan kasar yang dibawanya cukup untuk membuat tulangmu terasa hancur. Aku bersyukur aku diberikan kepada pangeran. Dia berkuasa, kata mereka, tapi tidak seberbahaya kaisar. Aku tidak akan mengulangi informasi ini lagi dan jangan mengatakannya secara sembarangan kepada siapa pun," tutur Iroha diselingi nasihat.
"Oh...," gumam Sakura, bibirnya terbuka oleh rasa ketakjuban. "Tuan Wang berkata dia tidak seburuk itu. Dijadikan hadiah untuk seseorang terasa aneh, tidakkah menurutmu begitu? Aku masih tidak memahami apa yang harus kulakukan untuknya."
Iroha mengerucutkan bibirnya. "Kau diharuskan untuk melayaninya. Dan hanya dia.”
"Bagaimana?”
"Di ranjang.”
Mata Sakura membulat, mulai menyadari arah jawaban Iroha. "Apa maksudmu?”
Iroha memutar matanya.
"Ayolah, kau bukan gadis biasa," Iroha bergumam di antara hela napasnya. "Kau diharuskan untuk bersamanya dalam sikap seorang wanita dengan suaminya."
Sakura terhuyung ke belakang, menabrakkan punggungnya dengan dinding yang dingin. Pusing langsung melanda kepalanya. Di detik dia memilih keputusan terbesar dalam hidupnya, dia sudah menyadari bahwa itulah yang akan terjadi. Bagaimanapun, Sakura memiliki setitik harapan yang digenggam erat olehnya, berharap Kaisar Li memerintahkannya ikut bersamanya ke China bukan bertujuan semacam itu.
Ucapan Iroha mulai meretakkan titik harapan Sakura.
"Kau harus melepaskan pakaian, berbaring, buka kedua kakimu—"
Darah mengalir menyerbu wajah Sakura hingga dia merasa hampir pingsan. “Tidak perlu diperjelas lagi, Iroha-san. Aku mengerti, terima kasih banyak. Astaga, aku ingin pulang.”
“Saat di mana kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan—jika pernah ada saat seperti itu—telah berakhir,” pungkas Iroha.
Sakura meletakkan tangan di dadanya, memohon. “Aku tidak pernah menginginkan hal semacam ini untuk terjadi. Impianku sebagai seorang geisha, seniman kebanggaan Jepang… telah berakhir.”
Sakura memeluk diri, air mata segar menggumpal di ekor matanya.
"Ini salah."
"Kau mengizinkan kaisar untuk menidurimu. Itu adalah sebuah kehormatan.”
"Aku tidak peduli!”
Iroha mengembuskan napas berat lagi.
"Sakura-san," kata Iroha, suaranya melembut. "Mari kita saling menjaga satu sama lain di China—jika kita bisa. Mereka tidak menyukai kita."
Sakura setuju. Tapi, apa maksud Iroha? Tidak menyukai mereka?
Sakura senang karena setidaknya sekarang dia memiliki teman. Mereka menghabiskan waktu di kapal dengan saling bercerita dan menghibur. Iroha membantu Sakura memelajari beberapa kosakata dan frasa sederhana China, menyanyi, dan menarikan beberapa tarian khas China. Ia juga membantu menyempurnakan cara melakukan upacara minum teh secara terpandang.
Sakura mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk menyempurnakan keahliannya sebagai seorang geisha meskipun dia seorang yang ceroboh dan goyangan kapal tidak membantunya sama sekali. Itu adalah momen pahit-manis bagi mereka setelah beberapa bulan akhirnya kapal berlabuh di pelabuhan China pada suatu pagi.
Kasim Wei memeriksa mereka untuk keenam kali dan terakhir kali sejak perjalanan kapal mereka dimulai. Walaupun dia membawa Sakura pergi dari Okiya, Sakura tidak menyimpan rasa sakit hati kepada pria tua China tersebut. Ia mengingatkan Sakura terhadap ayahnya dalam beberapa situasi—barangkali disebabkan oleh kepribadian lemah lembut dan senyuman hangatnya.
Kasim Wei memastikan Sakura dan Iroha berada di kereta yang tepat sebelum pergi ke keretanya sendiri. Tidak pernah sekali pun terpintas dalam benak Sakura bahwa dirinya akan menginjakkan kaki di negeri orang. Dia mengintip punggung kusir yang mengendalikan kuda.
Ini semakin terasa tidak nyata.
"Ke mana kita pergi? " Sakura bertanya cukup nyaring.
"Aku pernah tidak sengaja mendengar bahwa keluarga kekaisaran tinggal di lokasi bernama Kota Terlarang."
"Kenapa itu Terlarang?"
Iroha mengeluarkan napas berat. "Sakura, aku tidak tahu sebanyak itu!"
Sakura terkekeh.
Perjalanan terasa tidak nyaman. Kereta tersentak keras di setiap larian yang kuda kereta lakukan. Hari terasa panas terik, Sakura dan Iroha merasa nyeri dan kehausan. Barangkali itu terlarang untuk sampai ke sana secepat mungkin. Dan terlarang untuk ditawarkan segelas minuman.
Tepat ketika mereka berpikir jarak antara mereka dengan Kota Terlarang tidak akan pernah selesai, kereta berhenti. Mereka mendekatkan wajah ke bingkai dekoratif jendela dan kompak tertegun.
Sebuah gunung dinding batu berdiri di hadapan mereka. Mereka berada di dekat bagian belakang antrian namun mereka dapat melihatnya dengan jelas. Dinding itu tiada akhir. Struktur raksasa dengan atap emas menjulang dari belakangnya dengan kesan menawan namun juga mengancam. Ada suara gemuruh saat gerbang besar utama dibuka. Antrian segera bergerak maju, Sakura dan Iroha duduk saat mata mereka bertemu dengan mata waspada seorang prajurit. Sudah jelas, di momen mereka menginjakkan kaki memasuki kereta dengan mengenakan tudung sutra, terlarang bagi mereka untuk menunjukkan wajah.
Apa ada yang diperbolehkan di tempat aneh ini?
Ketika mereka memiliki izin untuk menjelajah di luar kereta, dua jam kemudian mereka disambut oleh sekawanan gadis pelayan. Setiap pelayan mengenakan tata rambut yang sama—dua sanggul di atas telinga mereka, dihiasi oleh bunga kecil dan sisir emas. Mereka juga berpakaian seirama, gaun China berwarna ungu dan biru yang dihiasi dengan sulaman emas, naiknya d**a mereka nyaris terekspos akibat dari garis leher gaun yang rendah.
Gadis berambut cokelat yang berdiri paling depan membungkuk kepada Sakura dan Iroha, yang lain spontan mengikuti. Sakura mengambil langkah mundur, tak nyaman.
"Saya Ayaka. Kami akan menyiapkan Anda," ujar gadis tersebut.
"Kau berbicara bahasa Jepang?" Iroha bertanya, pertanyaan yang sama yang berada di ujung lidah Sakura.
Sebelum Ayaka dapat berbicara lebih banyak, para pelayan menyerbu Sakura dan Iroha di sepanjang aula yang tingginya seperti menjulur ke langit, membawa dua gadis itu ke pemandian besar. Para pelayan mendorong Sakura dan Iroha ke bak mandi kayu besar, uap segera menguar mengelilingi pemandian.
Dengan segera, pakaian Sakura ditanggalkan. Matanya membulat, dia mencoba menutup tubuh polosnya dengan kedua tangannya. Gadis bermata hijau itu dimasukkan ke dalam air di mana setiap inci kulitnya digosok, sementara rambutnya dicuci bersih. Sisi-sisi tubuh yang Sakura sentuh hanya ketika dia mandi kini diraba-raba dan dibersihkan oleh berbagai tangan yang tidak menyingkir meski berulang kali didorong oleh Sakura.
Ditimpa rasa syok yang luar biasa, Sakura ditarik keluar dari air dan dikeringkan. Dia mencoba untuk protes namun terlalu banyak hal yang terjadi di waktu yang bersamaan dan para pelayan itu mengoceh satu sama lain tanpa henti menggunakan bahasa Mandarin.
“Ada kimono untukmu,” kata Ayaka menggenggam sebuah pakaian di tangannya seolah itu adalah sutra yang paling berharga, dan menilik dari kualitasnya, mungkin memang seperti itu. "Tuan Wang berkata kau harus mengenakannya."
Selagi Sakura dan Iroha dipakaikan kimono dan rambutnya ditata, Ayaka mendikte beberapa aturan kepada mereka.
"Kalian dapat memanggil Yang Mulia Kaisar sebagai “Yang Mulia Kaisar” atau Huangdi. Kalian harus bersujud di hadapan beliau, yaitu berlutut dan membungkuk hingga kepala kalian menyentuh tanah. Jangan berbicara kepada Yang Mulia Kaisar kecuali beliau berbicara kepada kalian dan menanyakan pertanyaan langsung. Setiap perintah yang beliau berikan harus segera dipatuhi. Kalian dapat memanggil Yang Mulia Pangeran sebagai “Putra Kekaisaran Agung” dan bersujud di hadapannya juga. Bagaimanapun, tidak ada yang lebih berkuasa daripada Huangdi."
Sakura mencoba untuk mengingat aturan yang Ayaka diktekan kepada mereka selagi mereka dibawa ke aula yang lebih spektakuler dengan dinding emas dan merah, hijau dan biru, semua berkilau di bawah sinar matahari yang menembus celah-celah dinding. Lantai sepenuhnya tertutup oleh permadani yang serupa warnanya. Sakura bersumpah dia melihat warna-warna itu yang tidak pernah dia ketahui ada di dunia ini, lebih tepatnya nuansa warna-warna itu jauh berbeda dari yang pernah Sakura lihat ataupun bayangkan.
Bahkan Iroha, meskipun dia agak dapat menyembunyikan perasaan di balik wajah dengan riasan segarnya, dia tetap tampak kagum dengan semua yang terjadi di sekitarnya. Siapa yang bisa tetap tenang ketika dunia yang mereka ketahui berkembang tepat di depan mata begitu cepat? Siapa yang tidak dapat merasakan kekuatan besar dan kemewahan istana yang menakjubkan saat pintu yang terbuat dari kerangka yang rumit dibuka di ujung lorong saat Sakura dan Iroha mendekat, oleh para pelayan yang sedang berjaga, dengan mengenakan pakaian yang lebih anggun daripada bangsawan mana pun yang pernah mereka lihat?
Ayaka dan dua gadis pelayan berjalan selangkah di depan Sakura dan Iroha, memimpin jalan. Gadis lain mengikuti di belakang Sakura dan Iroha. Sakura pasti akan berhenti dan sepenuhnya mengobservasi desain megah istana dengan rahang terbuka. Sayangnya, dia tidak memiliki waktu untuk melakukannya karena kecepatan berjalan mereka seakan sedang dikejar waktu. Dia dan Iroha bernapas keras mencoba untuk mengikuti. Kimono ketat mereka tidak didesain untuk melakukan pergerakan yang cepat dan lama. Omong-omong, ini adalah perjalanan yang panjang. Mereka diharuskan berjalan jauh tanpa tahu ke mana tujuan mereka, tak elak lelah langsung merundung.
Ayaka berbelok di tikungan dan menjerit kecil. Dia membungkuk kepada pria yang dia tabrak dan meski Sakura tidak memahami apa yang dia bicarakan, wajahnya tampak kacau selagi meminta maaf.
Iroha dengan sigap menerjemahkan semua percakapan untuk Sakura.
"Kepala Tabib Kerajaan, Tsukishiro," ringis Ayaka. "Tolong maafkan saya."
Sang pria muncul dan Sakura merasakan sebuah debaran di dadanya. Dia muda namun rambutnya sepenuhnya berwarna abu-abu dengan cara yang akan membuatmu tersentak karena ketidakwajarannya, namun selanjutnya tersipu oleh keindahannya. Sakura melirik namun matanya dengan cepat kembali ke wajah pria itu, pucat dan halus seperti cangkang yang diputihkan di laut. Wajahnya lembut seperti wanita, berikut juga tubuhnya yang ramping, dilengkapi pula oleh senyuman teramah yang pernah Sakura saksikan. Ia memandang Sakura dan Iroha dengan minat yang lembut.
"Whoa…." Sakura bergumam untuk dirinya sendiri.
"Mereka adalah selir," tutur Ayaka. "Hadiah Tuan Wei untuk Huangdi dan Putra Kekaisaran Agung.”
"Saya akan pergi menemui Huangdi sekarang," ujar pria itu, dengan suara yang tenang, "saya akan membawa mereka."
Bahu Ayaka terkulai lega dan dia tersenyum. Pelayan lain memasang ekspresi serupa. Dan di momen itu, Sakura tahu Kepala Tabib Kerajaan, Tsukishiro, adalah pria baik. Cara gadis-gadis pelayan bergabung pada kata-kata pria itu lalu begitu mudah memberikan senyuman, Sakura tahu pria itu merupakan lelaki yang akan disetujui oleh ayahnya.
Tetapi kemudian muncul sentakan pedih dalam hati Sakura karena teringat bahwa dia tidak lagi berada di Jepang dan pernikahan bukan lagi kemungkinan baginya. Hanya ada aib dan rasa malu.
"Terima kasih banyak Kepala Tabib, Tsukishiro!”
Ayaka dan gadis pelayan lainnya segera pergi, meninggalkan kedua gadis Jepang di belakang mereka. Tsukishiro memanggil Sakura dan Iroha dengan memiringkan kepala, lantas mereka dengan takut-takut mengikutinya.
Mereka memasuki aula besar dengan pilar merah menjulang yang bersinar seperti matahari tenggelam. Aula itu lebih mewah daripada kemewahan apa pun yang pernah Sakura dan Iroha saksikan. Sebuah meja panjang, begitu gelap hingga memiliki kilau plum yang dalam, diletakkan di tengah ruangan dikelilingi oleh sekitar dua puluh pria. Di kepalanya, tidak salah lagi, sang Kaisar Li, berpakaian kuning dan emas paling mencolok yang pernah ditenun.
Tatapan Sakura jatuh ke lantai, aturan Ayaka bergema dalam benaknya. Dia yakin ada satu hal tentang tidak boleh menatap mata Huangdi… atau apakah itu… mata Putra Kekaisaran Agung?
Sakura menjaga tatapannya ke lantai merah dan kuning agar tetap aman. Bahkan di tanah airnya, dia tidak pernah melihat para penguasa seperti ini. Berada di hadapan dewa adalah pengalaman yang merendahkan dan menakutkan—dia bisa merasakan kekuasaannya mengalir memenuhi ruangan, membuat lututnya bergetar. Permadani Macan Putih tergantung di belakang sang kaisar, seperti beberapa binatang penjaga agung yang selalu siaga menerkam pria atau wanita mana pun yang berani menentang kehendak kaisar.
Ini benar-benar terasa berbeda dari pertemuan terakhir Sakura dengan Xiao Lang. Pria itu berjuta kali lipat lebih berbahaya dibandingkan terakhir kali di Okiya Wagataki.
Tsukishiro mendekati meja dari arah yang berlawanan dengan tempat duduk kaisar. Dia berlutut dan bersujud tiga kali. Sakura dan Iroha menirukan tindakan patuhnya. Kala pembicaraan dimulai dan dengungan ringan memenuhi aula, Iroha senantiasa menerjemahkan untuk Sakura melalui bisikan.
"Huangdi," sapa Tsukishiro. "Pelayan Anda berlutut di hadapan Anda."
"Tsukishiro Yukito," ujar sang kaisar dalam suara menggelegar. "Sebentar lagi dan kau akan terlambat. Kau tidak punya waktu luang untuk mengubah rencana."
"Mohon maafkan pelayan Anda, Huangdi," pinta Yukito, "saya sedang menangani masalah Istri Pertama Mei Ling. Tetapi, dalam perjalanan saya kemari, saya menemukan sesuatu milik Anda yang pasti akan Anda gemari setelah dipersembahkan.”
Xiao Lang, sang Huangdi, melihat jauh ke belakang Yukito, menemukan dua gadis. Terlepas dari lapisan jubahnya dan bahkan dengan pandangan Sakura yang teralihkan, dia dapat melihat posisi duduk Xiao Lang berubah lebih tegak di kursi rendahnya.
"Wanita Jepang?" tanya Xiao Lang saat Yukito bangkit dan pergi menghampirinya di meja.
Detik itu, Sakura mengernyitkan kening, merasa keheranan mendengar suara datar Xiao Lang Lang yang menyiratkan tanda tanya. Apa-apaan? Bukankah ia yang memerintahkan Sakura untuk mengikutinya ke China, apakah ia melupakannya begitu saja dalam beberapa bulan perjalanan kapal? Xiao Lang Lang sudah melupakannya begitu saja, lantas apakah ini pertanda Sakura memiliki kemungkinan untuk tidak hidup sebagai selir?
Entahlah. Kinomoto Sakura memahami untuk tidak menurunkan kewaspadaannya di China, negeri antah-berantah ini.
TO BE CONTINUED
Kemarin ada yang kelupaan memasukkan author note
Jian = pedang khas China
Huangdi = panggilan resmi Kaisar China
-san = embel2 untuk memanggil seseorang secara sopan (Jepang)