Chapter 07.

1305 Words
Bus berwarna merah kini berhenti tepat di pinggir jalan raya. Tak lama kemudian seorang gadis cantik berambut panjang sepunggung melangkahkan kakinya turun dari bus itu. Namira berjalan masuk ke sebuah gang perumahan. Hari ini Namira akan mengambil pakaiannya yang ia tinggalkan di tempat kos saat dirinya pergi ke pasar untuk mencopet. Sudah tiga hari ini Namira pergi tanpa pulang. Gadis itu berharap pemilik kos tidak bertanya macam-macam padanya. Langkah kaki Namira berhenti sejenak sesaat setelah dia melihat kos yang tiga hari ini ia tinggalkan. Pagi hari ini tempat itu terlihat sepi, mungkin tetangga yang menghuni kos sebelah Namira sedang pergi bekerja. Beberapa saat kemudian, Namira kembali melangkah. Namun saat akan membuka pintu, tiba-tiba saja Namira lupa kalau dia tidak punya kunci kosan itu lagi. Kunci itu sudah hilang entah kemana. Dan satu satunya jalan agar dia bisa mengambil baju bajunya yaitu dia harus menemui pemilik kos kosan itu. "Astaga, kenapa aku lupa kalau kuncinya hilang, sih." gumamnya bicara sendiri seraya menepuk keningnya dengan tangan. Namira kini merutuki dirinya sendiri karena teledor dan sudah menghilangkan kunci itu. Apalagi Ibu pemilik kos itu galaknya minta ampun. Membuat Namira malas bertemu dengannya. Tapi untuk sekarang ini, mau atau tidak mau Namira harus tetap menemui Ibu pemilik kos. Dengan langkah pelan dan sedikit ragu, Namira kini berjalan menuju rumah pemilik kos, rumahnya berada di samping kos kosan itu. Gadis itu mengembuskan napas dalam-dalam sebelum tangannya mengetuk pintu rumah itu. Tok Tok Tok. Walau sedikit takut, Namira tetap harus mengetuk pintu itu. "Semoga saja Ibu kos tidak tanya macam-macam." lirihnya. Tok Tok Tok. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Namira terlonjak kaget saat melihat Ibu kos yang kini berdiri di depan pintu. Menatapnya dengan tatapan tajam. Wanita gemuk berkulit putih itu kini bersidekap d**a, memperhatikan Namira dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Jantung Namira berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Karena Namira ketakutan sekarang. "Tumben kamu nongol. Ada apa?" tanya wanita dewasa itu seraya menatap Namira tajam. "E ... Em ... Itu, Bu. Ma-mau pinjam kunci cadangan, untuk membuka pintu." Namira bicara lirih. Tapi masih terdengar oleh wanita dewasa itu. Ibu pemilik kos menatap Namira tajam seperti tatapan singa yang siap memakan mangsanya sekarang juga. "So-soalnya, kunci yang aku bawa, hilang." lanjut Namira. Dia sudah siap kalau tiba-tiba saja Ibu kos itu memarahinya, tapi yang terpenting dia bisa mengambil bajunya. Tidak mungkin dirinya akan meminjam baju Sri terus. "Kamu itu teledor banget sih, Ra. Sudah bayar kos telat, sekarang malah ngilangin kunci lagi." marah Ibu pemilik kos pada Namira. Gadis itu siap mendengarkan kalau saja Ibu kos itu menceramahinya. Karena memang ini kesalahan Namira. "Rara minta maaf, Bu. Rara lupa naruh kunci itu di mana." Sekarang ini hanya kata maaf yang bisa Namira ucapkan. "Bayar dulu sisa perbayaran kemarin, seratus lima puluh ribu. Nanti aku bukain tuh pintu." "Ta-tapi, aku tidak punya uang, Bu. Apa ada pilihan lain selain bayar sekarang. Nanti bulan depan kalau gajian aku pasti bayar, kok Bu." Namira hanya bisa memohon, menangkup kedua tangannya di depan wanita itu. Bagaimana mungkin Namira bisa membayarnya, uang saja dia tidak punya. Uang yang ada di dalam saku bajunya juga bukan miliknya, tapi milik Bu Arini yang memintanya untuk membeli barang kebutuhan Kiara. Tidak mungkin Namira pakai uang itu untuk membayar kos. "Gak ada pilihan lain lagi selain bayar. Lagian masa kos kamu habis seminggu lagi untuk bulan ini. Jadi kamu harus bayar sekarang, setelah itu kamu boleh pergi dari sini. Masih banyak kok orang lain yang mau tinggal di kosan ini." Lagi lagi Namira hanya bisa mengembuskan napas dalam-dalam. Dirinya tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia hanya bisa pasrah saja sekarang. "Aku yakin, itu yang ada di saku bajumu ada uang, kan?" wanita dewasa itu berjalan mendekat. Lalu mengambil paksa uang yang ada di saku baju Namira. "Sini, bayar sekarang. Punya uang kok ngakunya tidak punya. Mau bohong kamu ya?!" ujarnya seraya menghitung uang Namira. Lalu dia mengambil seratus lima puluh ribu dan sisanya ia kembalikan pada Namira. "Nih uang kamu. Kalau begini kan enak. Ayok aku antar ke tempat kosan kamu." wanita dewasa itu mengajak Namira ke kosan untuk membukakan pintu. Namira hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah kaki wanita itu. *** Teguh sedang bertugas di ruangan kerjanya. Hari ini banyak sekali laporan yang masuk ke kantor. Teguh kini sedang sibuk dengan layar komputer yang ada di depannya. Melihat satu persatu laporan yang sudah ia catat. Memeriksanya lagi satu persatu. "Serius amat, Pak Teguh." seru Syarif yang duduk di meja kerja yang tak jauh dari Teguh. "Iya nih, Pak. Tumben hari ini banyak banget laporan kriminal yang masuk lewat online. Belum lagi tadi orang orang yang datang ke kantor." sahut Teguh. Masih setia menatap layar komputer itu. "Yah ... Namanya juga manusia, Pak. Jadi wajar saja kalau mereka khilaf. Manusia kan tempatnya salah." jawab Syarif enteng. Teguh hanya tersenyum tipis saat mendengar itu. Saat Teguh masih sibuk dengan komputernya. Tiba-tiba saja telepon yang ada di atas meja kerjanya berdering. Dengan cepat Teguh langsung mengangkat gagang telepon itu. "Halo selamat siang," ucap Teguh saat menerima panggilan telepon itu. [Selamat siang, Pak Teguh. Bisa ke ruangan saya sekarang, Pak? Ada sesuatu yang sangat penting yang mau saya bicarakan.] terdengar suara Pak Danu atasan Teguh yang memintanya datang ke ruang kerjanya. "Siap, Pak. Saya ke sana sekarang." jawab Teguh. Kemudian menutup kembali telepon itu dan ia bergegas pergi ke ruangan kerja Pak Danu atasannya. "Mau kemana Pak Teguh?" tanya Syarif saat melihat Teguh berjalan melewati meja kerjanya. "Mau ke ruangan Pak Danu." Syarif manggut- manggut. Tak butuh waktu lama untuk Teguh sampai di ruangan atasannya. Ruangan itu hanya berjarak dua ruangan saja. "Selamat siang, Pak Danu." sapa Teguh saat dia sampai di ruangan itu. Pak Danu kini menatap Teguh sembari tersenyum ramah. "Siang, Pak Teguh. Silakan duduk." "Iya, Pak." Teguh duduk di kursi yang ada di depan Pak Danu. "Begini, Pak Teguh. Saya mau Pak Teguh membantu saya mencari tahu tentang laporan bandar n*****a yang dulu kasusnya pernah kita tangani dulu, apa Pak Teguh masih ingat?" ujar Pak Danu. Teguh diam, dia mulai mengingat masalah itu. Tapi bukan satu atau dua kasus yang dia tangani dan dia catat. Jadi sepertinya Teguh tidak mengingat hal itu. Lagi pula kejadian itu terjadi satu tahun yang lalu. Teguh tidak mengingatnya. "Maaf, Pak. Sepertinya saya tidak ingat tentang laporan itu. Nanti saya coba cari tahu." "Saya sendiri juga hampir lupa dengan laporan itu. Tapi kemarin ada beberapa orang yang melapor lagi, dan sepertinya masih satu bandar yang sama. Kayaknya sih, bandar n*****a itu bukan orang sembarangan." tutur Pak Danu. Teguh menganggukkan kepalanya pelan. "Nanti akan saya cari tahu lagi, Pak." "Saya mau kamu cari tahu secepatnya." "Siap, Pak." *** Namira berjalan pelan menyusuri jalanan sendirian siang hari ini. Namira tak menghiraukan sengatan sinar matahari yang panas menembus pori pori kulit putihnya. Gadis itu terpaksa jalan kaki menuju pulang ke rumah bu Arini. Dari pada naik angkot, Namira takut uang itu nanti berkurang lagi. Tadi uang Bu Arini sudah ia pakai untuk bayar kos, juga untuk naik bus saat dia berangkat ke sini. Tapi bus itu berhenti di terminal. Sedangkan untuk menuju ke rumah bu Arini, Namira harus naik angkot lagi. Tapi sekarang ini Namira memilih untuk jalan kaki. Lagi pula Namira juga harus mampir ke minimarket membeli keperluan Kiara. "Huft, sabar Namira, sebentar lagi pasti sampai di rumah Bu Arini, kok." Namira menyemangati dirinya sendiri agar tidak mengeluh karena lelah. Karena ini memang sudah menjadi pilihannya yaitu pulang jalan kaki. Dari kejauhan, Namira melihat minimarket. Seketika senyuman kini terlihat di bibirnya. "Hah, itu minimarketnya." serunya bicara sendiri. Namira kini melangkahkan kakinya dengan semangat. Tak butuh waktu lama kini Namira sudah sampai di depan minimarket itu. Tapi karena tempatnya ada di seberang jalan, Namira harus menyeberang jalan raya itu terlebih dahulu. Saat Namira hendak menyeberang jalan. Tiba-tiba saja ada yang memanggil namanya. "Namira...!" Seketika Namira menoleh ke arah sumber suara yang baru saja memanggilnya. Deg. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD