Pagi menjelang. Matahari sudah mulai bersinar. Jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi.
Namira dan Sri kini sudah sibuk memasak di dapur.
"Ra, kamu tidur di kamar, Kiara tidur sama siapa?" tanya Sri penuh selidik.
"Kiara tidur bareng neneknya, Mbak." sahut Namira sembari membersihkan piring dengan serbet.
"Kerja kok begitu, kasihan Bu Arini kalau masih tidur nungguin Kiara, lalu apa gunanya bayar pengasuh." gumam Sri lirih. Tak terdengar oleh Namira.
"Mbak Sri ngomong apa, Mbak? Rara tidak dengar." ujar Namira ingin tahu. Karena tadi dia sempat melihat Sri bergumam.
"Tidak. Aku tidak mengatakan apa- apa." jawab Sri dengan cepat.
Tak lama kemudian, Bu Arini datang dengan membawa Kiara dalam gendongan nya. Gadis kecil itu tersenyum manis saat melihat Namira. Dan berceloteh khas anak kecil seusianya.
"Maem ... Maem..." Kiara tersenyum melihat lihat Namira. Tangan kanannya bergerak gerak ke arah gadis itu.
"Pagi, Bu." sapa Namira dan Sri bersamaan saat mereka melihat Bu Arini datang ke dapur.
"Kalian berudua masak apa?" tanya wanita dewasa itu dengan ramah.
"Sayur sop dan ayam goreng, bu." jawab Sri. Karena yang memasak memang Sri. Namira hanya membantu saja.
"Maem ... maem..." celoteh Kiara lagi.
"Halo Kiara, sayang. Sini ikut kakak Rara." Namira mengambil Kiara dari gendongan Bu Arini. Seketika senyuman terbit di wajah Kiara.
"Kiara mau maem ya? Kiara lapar?" Namira bicara dengan Kiara. Gadis kecil itu menjawabnya dengan senyuman.
"Anak pintar..." tangan Namira mengusap-usap pucuk kepala Kiara dengan sayang.
"Bu, tolong ajak Kiara sebentar, ya. Aku mau buat s**u dan buat sarapan untuk Kiara dulu." ujar Namira pada Bu Arini yang kini duduk di kursi yang ada di samping Namira.
"Sini, cucu nenek yang cantik. Biar Mbak Mira ambil sarapan dulu." mengambil Kiara dari pangkuan Namira.
"Tuh kan, lagi lagi dia kerja seenaknya saja. Masa Kiara di kasihkan ke Bu Arini lagi. Padahal juga baru beberapa menit gendong Kiara. Enak banget kerjanya dia." gumam Sri lirih saat melihat Namira memberikan Kiara pada Bu Arini.
Setelah itu, Namira merebus air untuk membuat s**u. Dia juga mengambilkan makanan untuk Kiara sarapan.
"Sudah selesai buat susunya, Mira?" tanya Bu Arini.
"Sudah, Bu. Makanan untuk Kiara sarapan juga sudah siap." sahut Namira. Kemudian gadis itu berjalan mendekati Kiara sembari membawa dot berisi s**u dan mangkuk berisi makanan untuk Kiara.
"Kita sarapan yuk, Kiara..." ujar Namira menyapa Kiara yang sedari tadi menatapnya dengan tersenyum.
Namira meletakkan dot dan mangkuk yang ia bawa di atas meja. Kemudian dia menggendong Kiara dan mendudukkan gadis kecil itu di stroller berwarna hitam yang ada di luar ruang makan. Dan kini Namira mengajaknya makan sambil jalan jalan di luar.
"Mira, kalau ajak main Kiara jangan jauh jauh, ya." seru Bu Arini saat melihat Namira berjalan meninggalkan dapur seraya mendorong stroller bayi.
"Nggih, bu. (iya, bu.)" jawab Namira sambil menyuapi Kiara.
***
Di dalam kamar. Teguh sudah bersiap dengan pakaian tugasnya. Seragam Polisi berwarna cokelat itu terlihat sangat pas di tubuhnya.
Teguh meraih tas kerja miliknya yang ada di atas ranjang. Lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Pria itu berjalan menuruni anak tangga dengan pelan, menuju ke ruang makan.
"Kiara, di mana, Bu?" tanya Teguh saat dia sampai di ruang makan dan tidak melihat Kiara bersama dengan Ibunya.
"Lagi makan di suapin sama Mira."
"Mira?"
Teguh masih penasaran dengan Mira yang sejak semalam bersama dengan Kiara anaknya. Teguh merasa seperti kenal dengan gadis itu, tapi di mana? Teguh sendiri lupa.
"Iya, Mira. Pengasuh Kiara. Dia bekerja mulai kemarin siang. Oh iya, untuk gaji, Ibu belum berunding sama kamu. Kira- kira Mira kita gaji berapa sebulan?"
Bu Arini menatap wajah Teguh yang kini terlihat seperti orang bingung.
"Kamu kenapa seperti orang bingung begitu? Duduklah nak."
"Ibu kenal dia di mana?" tanya Teguh seraya menarik kursi untuk ia duduk.
"Di jalan,"
"Di jalan?"
Teguh menirukan ucapan Ibunya.
"Oh, iya. Ibu lupa mau cerita sama kamu. Kemarin Ibu ke pasar sendirian, di jalan belanjaan ibu terjatuh, dan nak Mira yang membantu membawa tas belanjaan Ibu, dia juga mengantar Ibu pulang sampai ke rumah. Dia sepertinya gadis yang baik. Saat Ibu baru tiba di rumah, Kiara menangis dan hanya Mira yang bisa mendiamkan Kiara. Jadi ibu tawari saja dia pekerjaan sebagai pengasuh Kiara. Ibu merasa sudah tua. Gendong Kiara sebentar saja sudah pegel semua badan ibu." tutur Bu Arini. Wanita dewasa itu sudah tidak sanggup lagi kalau menggendong Kiara lama lama. Badan Kiara yang gemuk dan aktif membuat Bu Arini cepat lelah kalau menggendongnya.
"Apa Ibu yakin sudah percaya sama dia?" tanya Teguh ingin memastikan. Karena dirinya khawatir kalau Ibunya terlalu percaya dengan orang baru. Apalagi dari cerita Ibunya mereka kenal di jalan.
"Insya Allah, Ibu percaya sama dia. Ibu yakin kalau Mira gadis yang baik. Sepertinya dia sangat menyayangi Kiara." ucapan Bu Arini sedikit melirih saat mengatakan kalimat terakhir. Wanita dewasa itu terlihat sedih saat mengingat Ibu kandung Kiara yang sudah pergi meninggalkan rumah ini demi laki-laki lain.
Tangan Teguh mengusap-usap lengan Ibunya.
"Bu, jangan pikirkan masalah itu lagi, itu hanya akan membuat sedih saja, Bu."
"Iya, Nak." Bu Arini mengusap air mata yang hampir terjatuh di pipinya. Teguh hanya bisa mengembuskan napas kasar saat teringat akan hal itu. Kehidupan rumah tangga yang sudah dia jalani selama satu tahun pernikahan, sekarang ini sudah tidak ada artinya lagi. Istrinya secara terang terangan mengatakan kalau dia ingin hidup bersama dengan kekasihnya. Mantan kekasih lebih tepatnya. Karena yang Teguh tahu mereka sudah putus lama karena laki-laki itu melanjutkan kuliah di luar negeri. Dan kini setelah kembali, istri Teguh malah balik lagi dengan mantannya itu.
Kehadiran Kiara di dunia ini membuat Teguh bahagia. Gadis kecil yang kini tumbuh sehat dan gemuk itu selalu tersenyum ceria. Itu menjadi kekuatan tersendiri untuk Teguh.
***
Namira baru saja selesai memandikan Kiara. Sekarang dia sedang memakaikan baju untuk gadis kecil itu. Tak lupa juga Namira memakaikan pampers untuk Kiara. Bu Arini tersenyum sendiri saat melihat Namira begitu telaten. Padahal Kiara anak yang sangat aktif, merangkak ke sana ke mari saat Namira memakaikan baju. Bahkan Namira sampai mengikuti kemana Kiara merangkak. Pokoknya Namira terus saja mengikuti Kiara sampai dia berhasil memakaikan baju.
"Pa Pa Pa..." ucap Kiara seraya berjalan pelan mendekati neneknya setelah selesai memakai baju.
"Wah ... Cantiknya cucu nenek. Cup." Bu Arini mencium pipi Kiara dengan sayang. Namira tersenyum melihat mereka berdua.
"Bu, apa boleh Rara izin pulang sebentar untuk mengambil pakaian, Rara tidak bawa baju, Bu. Ini aja pinjam sama Mbak Sri semalam."
Namira memberanikan diri meminta izin pada Bu Arini. Dalam hati Namira berharap Bu Arini akan mengizinkannya walaupun hanya sebentar.
"Boleh, boleh saja, Ra. Rumah kamu jauh apa dekat dari sini? Kalau saja ada pak Joko, kamu bisa minta antar sama dia. Tapi sayangnya pak Joko sedang mantu di kampungnya. Pulangnya masih dua hari lagi."
"Rara bisa jalan kaki atau naik Bus kok Bu." jawab Namira asal. Karena dia tidak mau merepotkan Bu Arini lagi. Bagi Namira Bu Arini sudah banyak membantunya.
"Oh iya, Ra. Kalau mumpung kamu keluar rumah. Kamu beliin Kiara s**u dan pampers sekalian ya." Bu Arini mendudukkan Kiara di atas tempat tidur.
"Iya, Bu."
"Sebentar. Ibu ambil uang dulu."
Sembari menunggu Bu Arini mengambil uang, kini Namira memilih bermain bersama Kiara. Sesekali Namira menciumi pipi Kiara sehingga membuat gadis kecil itu tertawa.
Tak lama kemudian Bu Arini datang dengan membawa satu lembar kertas daftar belanja dan uang berwarna merah lima lembar kepada Namira.
"Ini uangnya, Ra. Dan di kertas itu daftar belanja yang harus kamu beli." tutur wanita dewasa itu.
"Iya, Bu. Kalau begitu Namira pamit dulu."
Bu Arini mengangguk pelan seraya tersenyum ramah.
"Kiara cantik, kakak pergi dulu sebentar ya. Nanti kakak kembali lagi. Kamu jangan nakal ya sayang. Emuah..." Namira mencium kening Kiara dengan sayang.
"Assalamualaikum, Namira pergi dulu, Bu."
Kemudian Namira melangkah pergi meninggalkan kamar Kiara.
***