Ke Mana Saja Kau?

1499 Words
Ana meminum air dari gelas yang disodorkan Hendra. Setelah menjemput anaknya di lokasi kecelakaan, laki-laki paruh baya tersebut langsung membawanya pulang ke rumah mengabaikan keinginan anaknya untuk datang ke Rumah Sakit melihat kondisi kakaknya Wira bersama Mama Rima yang masih ikut cemas disana. "Istirahatlah" ujar Hendra mengusap pucuk kepala anak gadisnya dengan sayang. "Apa Mama sudah memberi kabar?" tanya Ana penasaran tentang keadaan du Rumah Sakit. "Belum, sebaiknya kamu istirhat saja daripada terus menunggu kabar. Mama pasti akan menghubungi jika terjadi sesuatu" Hendra mencoba menepis rasa khawatir Ana dan dirinya sendiri. Ia tahu meskipun Wira bukan anggota keluarganya, namun orang tua mereka adalah kawan baik sejak dulu dan anak-anak sahabatnya tersebut tentu saja sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Terlebih saat ini anaknya dan anak sahabatnya tersebut sedang menjalin hubungan yang mereka sepakati bersama. "Pa?" Ana menoleh kearah Papa nya yang duduk disamping kirinya. "Ya, sayang" Hendra masih membelai lembut rambut anaknya, sesekali ia selipkan rambut panjang Ana dibalik daun telinganya. "Bagaiman Wira?"  Hendra menghentikan gerakan tanganya yang berada di rambut anaknya. " Maksudnya bagiamana Nak?" ulang Hendra memastikan tentang arti 'bagaimana' dari pertanyaan Ana. "Bagaimana dia menurut Papa?" Ana menatap manik mata Hendra mencari jawaban tentang rasa penasaranya. " Apa yang ingin kamu tahu tentangnya?" Ana beringsut. Dibaringkan tubuhnya terlentang dengan menumpuk dua bantal agar tinggi dengan bantuan Hendra tentunya. "Semuanya" jawab Ana antusias. Hendra tersenyum simpul seraya membantu anaknya menutupi tubuh dengan selimut. "Papa tidak berhak menjelaskan siapa dirinya padamu. Suatu saat, dia akan mengatakan semuanya padamu" Jelas Hendra masih dengan senyumnya. " Kenapa memilihnya? Padahal selama ini Papa begitu seleksi memilah laki-laki yang dekat denganku" todong Ana. "Kamu tahu jelas alasan kami Nak, bukan karena kami ingin mengekang kebebasanmu. Semua orang tua selalu ingin menjaga dan melindungi anaknya dari segala macam bahaya" "Apakah Wira orang yang tepat?" seloroh Ana cepat. "Sebelum perjanjian itu dibuat, kami sudah yakin dia adalah pilihan terbaik untukmu" Ana menghela nafasnya berat seakan hidupnya seolah sudah dipredikisi oleh orang tuanya dan ia tidak bisa mengelak apapun. "Dia laki-laki mandiri, begitu menyayangi keluarganya" lanjut Hendra. Ana tersenyum dalam hati berharap semoga inilah pilihan terbaik untuknya. "Istirahatlah sekarang, Papa akan menghubungi Mama" Hendra pamit pada anaknya. Sebelum keluar dari kamar ia sempatkan mengecup keninh anaknya dan mematikan lampu kamar hingga tersisa redup lampu tidur diatas nakas. Ana melirik pada ponsel yang tergeletak disamping lampu tidur. Dalam benaknya ia ingin menghubungi Wira sekedar bertanya bagaimana keadaan kakaknya namun diurungkan mengingat hari semakin larut dan keadaan cemas yang membalut laki-laki itu memungkinkan jika telepon darinya hanya akan mengganggu saja. Diputuskan untuk memejamkan mata mencoba beristirahat. Hari ini tidak begitu lelah karena sebagian waktunya dihabiskan di rumah. Hanya saja kejadian kecelakaan tersebut membuatnya masih lemas dan syok. Dengan perlahan mata itupun memejam dengan sendirinya. Terlelap kemudian, sampai-sampai  panggilan dari ponselnya yang berkedip-kedip menampilkan satu nama tak juga mengusiknya. Ponsel itu terus berkedip dan bergetar. Padahal suara getaran ponsel berpadu dengan nakas menimbulkan suara berisik. Nama Wira yang melambai tak jua digubrisnya.           **************************** Rima pulang ke rumah saat suaminya hendak berangkat kerja pagi ini. Semalam Hendra berniat menemani istrinya di Rumah Sakit sembari menunggu kabar dari kakaknya Wira namun Rima tidak mengizinkan karena di rumah, Ana sedang sendirian apalagi setelah kecelakaan yang membuatnya begitu traumatis lebih membutuhkan teman. Alhasil pagi ini Rima baru sampai di rumahnya kembali. Begitu sampai di rumah, Hendra langsung memberondong istrinya dengan pertanyaan tentang kondisi kakaknya Wira. "Bagaimana Ma?" Tanya Hendra sambil mendudukan istrinya yang tampak lelah dinsoga ruang tamu. "Masa kritisnya sudah lewat Pa, subuh tadi akhirnya dia sadar" Jelas Rima seraya memijat pelipisnya sambil memejamkan mata. "Apakah ada luka parah?" lanjut Hendra. " Ada benturan di kepalanya namun tidak sampai parah. Dari seorang saksi yang Mama tanya, saat terjatuh tanganya digunakan melindungi kepalanya" "Pelakunya bagaimana Ma?" seakan tak ada habisnya Hendra mengorek isnformasi membuat Rima jengah. Ia lelah tapi harus menghadapi deretan pertanyaan dari suaminya. "Ma, kok diem?" Hendra menepuk pundak istrinya yang memejamkan mata bersandar pada punggung sofa. Mungkin istrinya kelelahan semalam menunggui di Rumah Sakit. Diurungkan niatnya bertanya. Dikecup kening dan bibir istrinya singkat kemudian melangkah keluar hendak pergi bekerja. Ana yang baru saja selesai mencuci peralatan makan bergegas menuju ruang tamu karena mendengar suara Papa nya tengah berbincang dan ia yakin itu adalah Mama nya. Begitu melihat wanita yang amat dihormatinya tengah tertidur sambil duduk bersandar di sofa membuatnya mengurungkan berbagai pertanyaan yang segera ingin dia ajukan namun begitu melihat wajah lelah itu, dengan sigap ia mengambil bantal. Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh Rima agat sejajar. Menyangga kepalanya dengan bantal sofa. Kini tubuh Rima sudah tidur miring di sofa meski kakinya tidak bisa sepenuhnya memanjang karena posisi duduknya tepat di tengah sehingga kakinya sedikit ditekuk agar pas. Setidaknya kini posisi istirahat Rima lebih nyaman dibanding sebelumnya yang bersandar dan kaki menapak lantai. Diambilnya selimut di kamar untuk menutupi tubuh Mama nya yang begitu lelah, pantas saja karena  semalaman pasti wanita tersebut menahan tubuh dan kantuknya menunggui kakaknya Wira. Berbicara tentang Wira dan kakaknya, Ana segera melesat naik menuju kamar. Diambilnya ponsel yang sejak semalam ia letakan diatas nakas. Baru diketahuinya bahwa Wira menghubunginya semalam. Sebanyak lima panggilan tak terjawab terpampang dalam daftar log ponselnya. Ditekanya nomor milik Wira hingga terdengar bunyi suara serak seperti bangun tidur. "Hallo...Dek?" Sapa Wira diujung sana yang matanya setengah terpejam. Ia benar-benar mengantuk dan baru saja matanya sanggup terpejam. "Kamu baru bangun?" tanya Ana begitu mendengar suara Wira yang serak dan  kentara sekali rasa lelahnya. "Baru bisa tidur beberapa menit lalu. Tapi ada tuan putri yang membangunkanku tiba-tiba" kekehnya pelan dari sana membuat An sedikit tersipu malu. "Bagaimana keadaan kakakmu?" lanjut Ana. "Sudah lebih baik sejak subuh tadi" jawab Wira terlihat lega. " Maaf aku tidak bisa menemanimu disana" sesalnya. Jika saja ia lebih hati-hati mengendarai motor sudah tentu dia sampai disana dengan selamat. Selain dapat menemani Mama nya tentu saja ia bisa bertemu atau mungkin menguatkan Wira atas musibah yang menimpa keluarganya. Namun apa daya, kecerobohanya membawa petaka. Bahkan ia membuat orang tuanya repot pula. "Tidak apa-apa Dek. Maaf juga kemaren tidak menjenguk keadaanmu. Apa sekarang sudah lebih baik?" Darah Ana membuncah haru. Bahkan disaat musibah itu menimpa kakaknya, laki-laki itu masih saja menghawatirkan keadaanya. "Aku lebih baik. Papa merawatku dengan baik". Wira menggangguk meski tak terlihat dari pandangan Ana. "Maaf juga, pertemuan kita batal. Kakak ingin bertemu denganmu juga saat itu. Dan karena keteledoranku menyuruhnya menunggu di pinggir jalan, membuatnya harus menerima kejadian ini" Ana mendengar ada nada menyesal dna kesedihan dari kalimat Wira barusan. Memang pertemuan ini adalah keinginan Ana namun jika memang waktu belum mengizinkanya saling bersua, mungkin ia harus bersabar. Ana menyadari jika sikap buru-burunya mengajak bertemu Wira malah membuat semua kacau, musibah inipun ia pikir adalah hasil keegoisanya. Wajar saja jika kakaknya meminta ikut, mungkin tujuanya ingin mengenal calon adik iparnya. "Jangan membuatku merasa bersalah Wir. Andai saja aku tidak memaksa bertemu mungkin kejadianya tidak seperti ini" Entah kenapa sebulir air mata menetes di pipinya. Ana menyesal telah gegabah pun bersedih dengan musibah yang menimpa kakaknya Wira. " Ssttt, sudah Dek. Jangan saling menyalahkan. Lebih baik sekarang menyanyilah, aku butuh lagu pengantar tidur yang merdu" Ana tersenyum kembali. Sungguh Wira bisa mengembalikan semua kesedihanya hanya dengan tutur katanya yang penuh canda. Dan ia semakin yakin, dia adalah laki-laki  terbaik yang dipilihkan orang tuanya untuk dirinya. " Dasar, kamu menghina suaraku Wir!" Wira terkekeh di seberang sana mendengar Ana yang menggeram kesal bercampur tawa. Setidaknya Wira tak ingin membuat gadisnya ikut merasakan kesedihanya yang sudah berlalu karena memang kakaknya mulai menunjukan kondisi lebih baik dan sekarang sudah istirahat kembali setelah tersadar.    ****************************** Radit : Aku di depan rumah. Boleh masuk? Ponsel Ana berbunyi saat dirinya tengah mendengarkan musik dari ponsel. Dibukanya sebuah pesan singkat yang ternyata dari Radit. Dalam hati ia bertanya, ada apa gerangan Radit datang?. Seingat Ana, Radit sudah lumayan lama tidak terlihat dan dapat dihubungi. Diintipnya dari cendela kamar di lantai dua. Benar, itu memang Radit yang berdiri disamping motornya menghadap pintu gerbang. Ana melangkah turun dari kamarnya. Dilihatnya rumah sepi karena Hendra, papanya tengah bekerja sedangkan Rima, mamanya tengah tidur di kamar. Setelah terbangun sekitar pukul delapan lebih tiga puluh menit pagi tadi, Rima segera bebersih dan menikmati sarapan buatanya. Kemudian masuk kamar hingga tengah hari seperti ini belum juga keluar. Ana maklum mungkin Mamanya lelah dan ia membiarkan saja. Bahkan urusan kebersihan rumah, taman, dan memasak semua sudah ia ambil alih. Dibukanya pintu depan menuju teras. Dapat ia lihat Radit berdiri sambil menatapnya dengan seulas senyum. Ada raut yang berbeda dari wajah Radit. Terlihat seperti sangat kelelahan. Kantung mata hitam serta rambut yang terlihat lebih panjang pun dengan jambang tipis yang membingkai dagunya. Meskipun kadar ketampanan laki-laki itu tidak hilang sedikitpun. Radit memang memiliki wajah bersih meskipun tidak berkulit putih pucat karena setiap harinya ia bergelung dengan panas matahari. Namun diakuinya Radit memiliki kulit terawat dengan warna kulit asia pada umumnya. Wajahnya bisa dibilang tampan jika diamati dalam-dalam apalagi jika ia tersenyum meski ketampananya lebih unggul Reksa yang digandrungi para perempuan. Ia jadi berpikir seperti apa kira-kira wajah Wira? "Hai Na" Sapa Radit masih dengan senyum manisnya. "Hem, tumben masih hidup" ujar Ana sarkatis. Tidak serius sebenarnya karena dengan Radit ia terbiasa bercanda. "Merindukanku ya Na?" Dikedipkan kelopak mata Radit menggoda Ana yang berkacak pinggang didepanya sambil berakting sedang muntah malah membuat Radit tertawa. "Kemana saja kau?" tanya Ana pada akhirnya. --------------------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD