Batal?

1576 Words
"Apa aku tidak dipersilahkan masuk? aku kan tamu" Bukanya menjawab pertanyaan Ana, Radit malah berseloroh ingin dipersilahkan masuk. Rupanya menunggu di depan gerbang saat cuaca tengah hari seperti ini sangat panas dan gerah bahkan keringatnya mulai bercucuran. " Ish, tamu pemaksa" Meskipun menggerutu, Ana tetap mempersilahkan Radit masuk dan duduk di kursi teras. " Gak disuruh ke dalem Na?" tukas Radit. " Gak, disini aja lebih enak, aman dan terlihat" jawab Ana membuat Radit mengernyitkan kening. " Maksudnya?" Ana hanya menghela tanganya tanda hal tersebut tidak usah dibahas. Laki-laki itu diam saja dan memilih duduk di kursi yang dipersilahkan oleh pemilik rumah. "Mau minum apa?" tanya Ana begitu Radit sudah duduk sedangkan ia sendiri masih berdiri hendak masuk. "Es teh manis sama gorengan sepiring" jawab Radit sambil nyengir. Ana memutar bola matanya jengah. " Emang dikira ini warung?" Radit hanya terkekeh melihat Ana yang kesal.  Dan hal itu sangat ia rindukan beberapa hari terakhir tidak bertemu. " Layanin tamu dijamin dapet pahala Na, apalagi kalau layaninya ikhlas" Kekeh Radit yang langsung dipukul kepalanya dengan koran yang tergeletak di atas meja oleh Ana. " Iya iya bawel amat jadi tamu" Ana hendak melangkah masuk namun Radit menginterupsinya sehingga ia berhenti dan menoleh  kesal kearah laki-laki itu. "Apa lagi?" "Gak usah dikasih sianida ya, aku belum kawin masak mau mati sekarang" mendengar itu Ana langsung menjitak kepala Radit yang duduk sambil terkekeh. Ana melangkah masuk untuk membuatkan minuman. Dibukanya lemari es melihat kue brownis buatan Mamanya kemaren masih ada. Diambilnya kemudian dipotong dan disajikan dalam piring. Dua gelas minuman dingin dan sepiring brownis telah siap ia hidangkan. " Sebagai tamu yang baik, gak usah protes" ancam Ana begitu hidangan tersebut ia susun di meja. Memang tidak sesuai yang dipesan Radit yakni es teh manis dan gorengan, malah terlihat lebih nikmat dari bayangan laki-laki itu karena yang tersaji adalah sirup dingin berwarna hijau yang dari aroma serta warnanya saja dapat dipastikan jika sirup tersebut rasa buah melon meski tanpa mencicipinya terlebih dulu. Dan piring tersebut bukan gorengan melainkan potongan brownis yang terlihat sangat menggoda, menu yang lebih nikmat dari sekedar gorengan. " Ini sih gak bakal aku protes Na, malah mau minta nambah kalau habis"  Ujar Radir sumringah. Ana hanya berdecak kesal. "Udah gak usah dilihatin aja. Dimakan juga gak papa" Radit tanpa sungkan mencomot potongan brownis dan menggigitnya. "Jadi kemana aja selama ini? hilang gak ada kabar" tanya Ana melanjutkan pertanyaan yang tertunda. " Aku ada kerjaan di tempat lain beberapa waktu belakangan" Jawab Radit masih dengan menikmati brownisnya yang tinggal gigitan terakhir. " Ada pelanggan baru yang booking kamu kayak aku waktu itu?" tebak Ana yang dijawab gelengan kepala oleh Radit karena  dia sedang meneguk es dalam gelasnya. " Gak ada yang booking aku sebulan kayak kamu Na"  Ana hanya manggut-manggut. "Trus kemana berarti?" " Aku kerja di bengkel" Ana menoleh memperhatikan wajah Radit yang terlihat lebih tirus ditambah kantung mata mirip panda mengasumsikan bahwa pekerjaan bengkel yang dijalani laki-laki yang pernah menjadi sopir pribadinya ini sangat berat. " Sudah gak ngojek lagi dong?" " Masih kok. Tapi gak sesering dulu lagi" Ditatapnya motor milik Ana yang terparkir. " Lagian kamu juga udah naik motor sendiri, jadi gak butuh ojek dariku lagi" Ana mengikuti arah pandang laki-laki itu yang menatap motornya. Ingatan semalam tiba-tiba menerpanya kembali. Rasa takut mulai merayapi benaknya. " Hem, aku sudah naik motor lagi sekarang" Ada nada getir di kalimatnya. Radit tahu itu namun diam saja ketika melihat tatapan Ana yang terlihat sedih memandangi motor miliknya yang terparkir manis di garasi. " Ngomong-ngomong orang tua kamu mana" Radit mencoba membuyarkan ' kesedihan' pada tatapan Ana. " Owh, Papa kan masih kerja. Kalau Mama lagi bobok cantik" Radit hanya ber oh saja. Dan obrolan pun berlanjut pada gurauan serta ledekan yang beberapa hari terakhir tidak mereka dapatkan. Bagi Radit, Ana sudah seperti sahabat serta adik baginya karena yang ia miliki hanya seorang kakak perempuan saja. Meski ada dua keponakan yang dianggapnya adik, namun posisi Ana tentu lebih dari mereka Karena baginya, Ana adalah adik yang diharapkan menjadi orang yang lebih dari sekedar status adik atau sahabat semata. Dan hal itu membuatnya jatuh hati dan dengan tanpa ragu pula ia mengungkapkan perasaanya, terang-terangan. Meski Ana sendiri tidak menanggapi bukan berarti hubungan baik sebagai sahabat harus renggang.           *************************** Rasa itu masih sama bahkan semakin terasa lebih. Masih diingat bagaimana Ana begitu menghawatirkan keadaanya yang memang terlihat lebih tirus ditambah kantung matanya yang hitan karena semalaman tadi ia tidak bisa tidur. Radit menemani dua keponakanya bermain di halaman rumah sambil membawakan dua piring berisi nasi dan sayur bening serta lauk ikan layang goreng. " Makan dulu" teriak Radit pada dua keponakanya yang sedang asyik berkejaran entah apa yang sedang mereka rebutkan. Kedua orang tuanya sedang sibuk, jadinya dialah yang menjaga dua keponakanya di hari minggu seperti ini. Bukan hal pertama buat Radit menjaga anak-anak kakaknya karena mereka tinggal serumah sudah pasti menjadi tanggung jawabnya membantu menjaga saat orang tua mereka sedang sibuk seperti saat ini. "Lili...... Iko....." Teriaknya lagi. Tak lama kemudian dua keponakanya berlari menghampiri. " Yang pakai sambal punya Lili dan yang banyak jagungnya punya Iko" tunjuk Radit pada piring-piring yang dibawanya. Lili dan Iko meraih piringnya kemudian duduk di teras. Keduanya makan sendiri tanpa disuapi karena orang tuanya membiasakan mandiri sejak kecil. Radit pun ikut duduk sambil memperhatikan kedua bocah tersebut makan dengan lahap. Sayur bening buatanya tak kalah lezat daripada buatan Mira, kakaknya. Radit biasa mengurusi dapur membantu Mira memasak. Meskipun dia laki-laki, tidak malu jika urusan dapur menjadi keahlianya. Lagipula banyak chef yang laki-laki. Dan resep sayur bening cukup mudah dimasak karena tidak memerlukan banyak bumbu, sekedar sayuran seperti bayam, labu kuning, jagung dan bawang putih saja. Gula serta garam tentu tidak boleh ketinggalan pada resep masakan apapun. Lauk ikan layang, ikan yang mudah ditemukan di setiap pasar pagi ataupun malam serta dijajakan pedagang keliling ke rumah-rumah . Produksinya yang melimpah serta harga yang ekonomis membuat banyak orang memilihnya untuk dikonsumsi. " Om, Lili mau nambah ikanya" Radit melirik piring Lili yang masih berisi nasi setengah porsi dan sayut yang tinggal sedikit serta ikan layang yang tinggal tulang, kepala serta ekornya. Dengan sigap Radit masuk kedalam rumah mengambil ikan layang untuk Lili di dapur. Selesai makan, Radit membantu kedua keponakanya mandi dan berganti baju. " Kalian tunggu di depan dulu ya. Om mau menyiapkan baju kalian" perintah Radit pada dua keponakanya. " Kita mau kemana Om?" tanya Iko penasaran karena mereka disuruh mandi lebih siang dari biasanya kemudian pergi dengan membawa baju yang sedang disiapkan Om nya kedalam tasnya. "Malam ini kita tidak tidur di rumah" jawab Radit dengan senyum menenangkan. " Lalu dimana?" sahut Lili " Ada deh, mau tahu aja apa mau tahu banget?" seloroh Radit menirukan sebuah jargon yang sedang trend di kalangan muda-mudi. " Ih, Om gitu "  Gerutu Lili namun segera digandeng tangan Iko mengajaknya keluar ke teras menunggu Radit sambil bermain kartu bergambar tokoh kartun kesayangan mereka. Tak lama kemudian Radit membawa kedua keponakanya dengan mobil menuju sebuah tempat yang tidak diyakininya akan membuat kedua keponakanya senang bahkan mereka akan meraung bahkan menangis penuh kesedihan.       ***************************** Reksa mengecek keadaan pasien yang kemaren ditabraknya. Ia bertanggung jawab penuh pada korbanya. Selain dia sendiri yang mengontrol perkembangan, dia juga sudah meminta maaf pada keluarga korban sekaligus menanggung penuh semua biaya pasien. " Sekali lagi saya minta maaf. Namun istri anda sudah lebih baik" ucap Reksa mendapati seorang laki-laki tengah duduk sambil menggenggam tangan perempuan yang ditabraknya kemarin. " Tidak apa-apa, kami sudah memaafkan. Yang terpenting istri saya selamat" ujar suami yang bergitu besar hatinya mau menerima maaf Reksa dengan mudah bahkan sempat menolak bantuan pelunasan biaya. Namun tentu saja Reksa bersikeras dengan sedikit memaksa si suami menerima bentuk pertanggung jawabanya dan akhirnya si suami setuju. Reksa selesai memeriksa denyut nadi pasien. Perempuan itu masih tertidur karena pengaruh obatnya yang memang menyebabkan rasa kantuk. Luka di kepalanya masih dibebat perban putih karena sempat di jahit pada bagian dahi. benturan di kepalanya memang tidak parah namun rasa pusing akan sering menyerangnya. " Saya permisi dulu Pak" pamit Reksa disambut anggukan dari suami pasien kemudian melangkah pergi. Dalam perjalanan menuju ruanganya ia melihat seseorang yang dikenalnya, tidak secara langsung. Seseorang yang pernah membuatnya cemburu, seseorang yang hadir di sekitar gadis incaranya bahkan menghabiskan waktu berdua beberapa kali. Tidak salah lagi, meski ia tidak pernah bertatapan secara langsung namun ia ingat wajah itu. Wajah seseorang yang sedang berjalan berlainan arah denganya. Tampak di tanganya sedang membawa sebuah kotak makanan di tangan kananya dan juga parcel buah di tangan kirinya. Langkahnya terlihat buru-buru. Mungkin dia sedang menjenguk temanya di Rumah Sakit ini. Langkah laki-laki itu semakin jauh hanya terlihat punggungnya yang semakin mengecil dalam pandanganya. Tak dihiraukan lagi tentang laki-laki itu karena ia ingin segera masuk kedalam ruangan. Tubuhnya lelah karena semalaman ia hampir tidak tidur karena korban keteledoranya sedang dalam masa kritis dan subuh tadi baru saja sadar. Semalaman ia memantau bersama rekan-rekanya karena kebetulan juga ia sedang menangani operasi mendadak hingga tengah malam. " Bagaimana harimu?" Reksa begitu terkejut saat membuka pintu ruangan tiba-tiba Monica, mamanya sudah duduk menunggunya didalam. " Apa yang membuat Mama datang kemari" ucap Reksa dingin. Dia berjalan mengambil air minum dari lemari es kemudian meneguknya. " Tidak ada. Hanya memastikan jika perempuan itu tidak merengek kesini karena gagal bertemu calon suaminya" ada senyum sinis di sudut bibir Monica. Reksa menghentikan gerakan tanganya yang hendak meneguk minumanya kembali. " Apa maksud Mama?" Reksa bingung dengan pernyataan Monica barusan. Batal? Ia bahkam melupakan rencana menguntit pertemuan Ana dengan calon pilihan orang tuanya. Dan apa tadi Mamanya bilang, batal? kenapa? Tiba-tiba saja ia merasa senang. Meski tidak tahu kenapa batal, setidaknya ia masih memiliki kesempatan meraih hati gadisnya. ----------------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD