"Oh ternyata tidak sesuai dugaanku" lanjutnya lagi malah membuat Reksa semakin bingung.
" Aku tidak tahu apa yang Mama ingin katakan tentang Ana. Yang jelas apapun itu, Mama tidak akan pernah bisa merubah keputusanku mendekatinya" putus Reksa penuh keyakinan.
" Perempuan itu meninggalkan calon suaminya, ah mungkin lebih tepatnya dia memilih laki-laki lain yang sederajat denganya"
"Ma" Reksa muak dengan apapun yang Monica katakan mengenai Ana dan status sosial yang membuatnya amat pongah.
Monica mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam tas mahalnya dan meletakan diatas meja.
" Pilihan yang bagus, sama-sama kaum jelata" Ada senyum pongah sekaligus mengejek dari sudut bibir Monica.
Reksa tertarik dengan foto tersebut. Dilangkahkan kakinya mendekat kearah meja karena sedari tadi ia berdiri di dekat lemari pendingin di sudut ruanganya.
Diperhatikan seksama foto dua orang anak manusia yang ia kenal meski salah satunya tidak terlalu sedang tertawa bersama. Rahanngnya mengeras menahan emosi.
Ia cemburu, sudah pasti.
Apalagi saat ia menyadari tatapan memuja dari sorot mata elang laki-laki di foto tersebut juga orang yang baru saja ia lihat tengah berada di Rumah Sakit ini, baru saja.
"Dia sadar akan posisinya. Selera jodohnya saja tukang ojek dan dirimu, hanya dijadikan pelarian" ejek Monica. Reksa diam tak ingin berkomentar. Kedekatan Radit dan Ana memang sudah diketahuinya. Dan Ana mengatakan bahwa keduanya memang tidak memiliki hubungan apapun. Lagipula bukankah orang tua Ana sudah menjodohkan dan semalam harusnya mereka bertemu?
Reksa meredam emosinya sesaat begitu melihat foto itu. Ia meyakinkan dirinya bahwa Ana memang sangat baik kepada siapapun dan tidak pernah ia lihat sedang memanfaatkan siapapun. Mungkin saja, perhatian dan kebahagiaan yang diberikan Ana pada setiap laki-laki hanya dianggap sebagai bentuk rasa sayang dan pedulinya sebagai seorang sahabat. Sedangkan bagi laki-laki, bisa saja dianggap bahwa Ana menaruh perasaan pada mereka.
Sejak awal dia memang sudah menegaskan hubunganya dengan Radit sebatas teman, harusnya Reksa mempercayainya kan?
" Apakah menguntit kehidupan Ana menjadi hobi Mama sekarang?" ledek Reksa seakan menyadari jika sejauh ini usaha menjauhkanya dengan Ana membuat wanita yang melahirkanya dulu susah payah menguntit kehidupan pribadi Ana.
"Banyak hal yang ingin Mama lakukan untukmu, salah satunya mencegahmu membuat kesalahan yang sama"
" Aku bukan anak kecil yang selalu patuh pada keserakahan dan kesombongan Mama. Aku punya jalan hidup sendiri. Dan kumohon Mama tidak ikut campur tentang keputusanku" Ucap Reksa penuh tekanan. Ia lelah selalu berlindung di ketiak wanita congkak yang telah melahirkanya.
" Oh, sepertinya kamu lupa bagaimana akhirnya kamu bisa sampai pada posisi ini. Jika bukan karena Mama, sudah pasti kamu akan hidup terlunta bersama perempuan tak tahu diri itu" geram Monica dengan kadar suara lebih tinggi dari anaknya seakan tidak takut dengan gertakan putra satu-satunya tersebut.
" Jika kamu tetap dengan pilihanmu, bersiaplah membuat dia menyesal mengenalmu. Camkan itu Reksa sayang" Ditariknya sudut bibir bergincu semerah darah dengan sinis kearah anaknya kemudian melenggang anggun keluar dari ruangan.
Reksa meremas foto di tanganya. Nafasnya tersenggal menahan geram dan emosi menghadapi tingkah ibunya. Ingatkan dia pada surga yang berada di telapak kaki seorang ibu hingga dia tak sampai hati memaki dengan umpatan kasar ataupun melayangkan tanganya.
Dibuang dengan sembarangn foto tersebut kemudian diraihnya ponsel miliknya. Menekan nama gadis yang mengganggu pikiranya akhir-akhir ini dengan cepat. Nada tunggu terdengar begitu lama. Beberapa kali panggilan tak juga dijawabnya.
Ia ingin tahu kebenaranya. Tentang foto itu, hubunganya dengan Radit dan pertemuanya dengan calon suami pilihan orang tuanya. Akh, mengingat kata calon suami membuat hatinya teriris dan nama Radit malah membuat luka itu serasa ditabur garam. Perih yang teramat menyayat.
Tak juga dijawab, ia lalu mengiriminya pesan singkat. Ingin segera ia keluar dan mengenudikan mobilnya menuju rumah gadis itu namun sayangnya tanggung jawabnya pada pasien yang ditabraknya semalam tak bisa diabaikan begitu saja. Dia harus bertanggung jawab penuh dan memastikan keadaanya benar-benar baik.
Dengan rasa frustasi serta dugaan buruk yang memenuhi pikiranya, ia teringat sesuatu.
Dini
Reksa baru saja ingat jika Dini, salah satu perawat di tempatnya bekerja ini adalah sahabat Ana. Maka dengan tanpa ragu ia meminta tolong salah seorang perawat yang kebetulan lewat di depan ruanganya untuk memanggilkan Dini ke ruanganya.
******************************
Tak berapa lama kemudian Dini datang ke ruangan Reksa. Dini yang sudah merasa terbang ke awan karena dengan terang-terangan Dokter idaman seluruh penghuni Rumah Sakit ini tiba-tiba saja memintanya menemui di ruangan. Seumur-umur selama Dini bekerja di tempat ini dan menurut teman-teman seperjuanganya disini, Reksa tidak pernah memanggil seseorang masuk ke ruanganya.
Karena Reksa biasa langsung menemui rekanya sesama Dokter di ruangan atau saat berpapasan di jalan, sedangkan dengan perawat biasanya ia hanya memanggilnya sekilas saat berpapasan di jalan ataupun ketika dalam satu ruangan yang sama.
Dini yang mendapat pesan dari salah seorang perawat barusan dan didengar oleh perawat lain yang kebetulan sedang bersama denganya langsung mendapat ledekan yang membuat wajah Dini memerah.
Baginya, misi menjauhkan sahabatnya kemudian perlahan mendekati Dokter tersebut akan semakin mendekati kata berhasil. Apalagi ia sudah bekerja sama dengan 'calon mertua' nya untuk memisahkan Ana dengan Reksa dengan imbalan kelonggaran mendekati anaknya serta uang, tentunya. Setidaknya ia juga berusaha mendekatkan diri dengan Mama Reksa meski dengan cara menjadi informan semata. Toh Dini tak putus arang dengan usaha kerasnya menaklukan hati Reksa.
" Dokter memanggil saya?" Dini bersuara setibanya di ruangan Reksa ketika laki-laki itu sedang memandangi laptopnya. Begitu Dini sudah tiba, ia mendongakan kepalanya menatap pada Dini yang tengah menampilkan senyum menggoda dari wajah berlapis make up.
Dini sudah merapikan rambut setta make up nya agar Reksa dapat menyadari kecantikanya tidak kalah dari sahabatnya yang bahkan memakai bedak saja dapat dihitung dengan jari dalam seminggu karena Ana memang hanya memakai bedak saat pergi kuliah ataupun ke acara tertentu dan itupun sangat tipis.
"Duduklah" pinta Reksa kemudian menyingkirkan laptopnya sedikit ke samping agar tidak mengganggu pandanganya langsung kearah Dini.
" Apakah aku mengganggu pekerjaanmu?" tanya Reksa sedikit basa-basi.
" Eh, tidak Dok. Tidak mengganggu sama sekali" jawab Dini masih dengan senyuman yang disunggingkan untuk sekedar menarik simpati Reksa. Namun tetap membuat Reksa diam serasa acuh.
" Kemaren kamu tahu bukan jika Ana dan calon suaminya akan bertemu?" Dini yang tadinya tersenyum riang karena dalam benaknya dipanggil Reksa ke ruangan adalah hal yang sangat membanggakan dan sudah dipastikan jika hal itu mencakup masalah penting atau pribadi.
Namun begitu nama sahabatnya disebut, senyum itu memudar seketika. Hatinya yang tadi berbunga kini layu tanpa gairah. Ia merutuki takdirnya bersahabat dengan Ana dalam hal ini.
" Iya, saya diberitahu jika kemaren dia akan bertemu" Jawab Dini sambil menatap Reksa.
" Apakah lancar?" Dini mencari pancaran rasa kecewa, cemburu dari tatapn mata Reksa namun tidka ada.
Benarkah seorang Reksa menahan rasa cemburu dan kecewanya begitu mendengar pasanganya memilih laki-laki lain dan sekarang malah menayakan pertemuan tersebut lancar atau tidak. Dini mengumpat pada kebodohan Reksa memilih Ana diabanding dirinya padahal sudah jelas sahabatnya tidak serius padanya bahkan memilih laki-laki lain.
" Pertemuanya batal karena Ana hampir tertabrak saat perjalanan menuju-" Belum sempat Dini melanjutkan kalimatnya, Reksa memotongnya cepat, " Bagaimana keadaanya?" tanyanya dengan nada tinggi. Raut kecemasan melingkupi pikiranya.
Dini meneguk ludah ketakutan melihat reaksi Reksa yang melebarkan pandangan kenudian berdiri secara tiba-tiba sambil menatapnya tajam seolah ingin mendengar jawaban keadaan Ana secepat mungkin.
" Dia, eh Ana baik-baik saja. Siang tadi saya baru menelponya dan dia terlihat sehat" tengah mengobrol dengan Radit. Diurungkan niatnya melanjutkan kalimat terakhir dari lidahnya yang mendadak kelu. Ia takut jika Reksa semakin berang begitu nama laki-laki lain ia sebut. Melihat raut kecemasan dari Reksa akan keadaan Ana saja membuatnya bergidik ngeri apalagi jika ia mengatakan gadis yang ia khawatirkan keadanya malah tertawa bersama laki-laki lain.
Dini heran juga, mendengar Ana akan bertemu calon suami pilihan orang tuanya saja ia tidak bereaksi apapun sedangkan saat mendengar Ana hampir kecelakaan saja kahwatirnya setengah mati. Ia kemudian menyimpulkan jika yang mencintai disini adalah Reksa seorang sedangkan Ana hanya mempermainkan tiga laki-laki yang kebetulan sedang mengelilingi kehidupanya saat ini.
"Pantas saja teleponya tidak diangkat" gumam Reksa sambil memijat pelipisnya yang masih didengar Dini.
" Baiklah, terima kasih untuk informasinya. Kamu bisa kembali bekerja" Ujar Reksa mempersilahkan Dini keluar dengan halus. Dini yang mendengar usiran tersebut meremas ujung baju seragam perawatnya dengan geram.
Ia dipanggil hanya untuk sebuah informasi tentang keadaan Ana? Dengan menahan rasa iri yang sejak awal sudah bercokol di hatinya ia keluar dari ruangan tersebut. Menahan rasa sakit hatinya seakan sudah dibuang karena hanya dibutuhkan sesaat ia merasa sangat membenci seseorang yang dianggapnya sahabat selama ini.
Dan keinginanya untuk memisahkan keduanya semakin kuat dalam tekadnya. Ia melangkah penuh amarah meninggalkan ruangan Reksa.
******************************
"Kenapa Rek?" Tanya Ana di seberang dengan malas-malasan. Ponselnya ia tempelkan begitu saja diatas telinga karena tubuhnya sedang tidur menyamping dan matanya setengah terpejam.
" Kudengar kamu kecelakaan?" tanya Reksa khawatir.
" Hampir, tapi aku sempat menghindar dari kecelakaan itu" jawab Ana kemudian terdengar hembusan nafas lega dari seberang.
" Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan pertemuan itu?" tanya Reksa hati-hati.
" Batal. Kakaknya Wira kecelakaan saat ingin ikut menemuiku" Mendengar hal itu Reksa sedikit girang. Ia berharap jika inilah jawaban bahwa kesempatan itu masih ada karena terbukti pertemuan Ana dengan laki-laki pilihan orang tuanya tersebut belum dikehendaki Tuhan.
"Na, kamu beneran baik-baik saja?" tanya Reksa sekali lagi.
Tapi bukan jawaban yang didengarnya melainkan suara dengkuran halus dari Ana yang sedang tertidur pulas.
Ditutupnya segera panggilan tersebut sambil tertawa geli. Dan begitulah Ana di matanya. Perempuan apa adanya yang merenggut pikiran serta hatinya agar hanya dia yang mendiami penuh.
------------------------------------