Di Balik Kecelakaan

1490 Words
Wira menjenguk kakak perempuanyanya di Rumah Sakit sore ini. Siang tadi ia pulang untuk mengambilkan baju dan beberapa barang titipan kakak iparnya sekaligus membawa kedua anak mereka bertemu ibu yang sejak semalam tak kunjung pulang ke rumah. Kecelakaan ini dirahasiakan dari kedua keponakanya. Karena ia tidak sanggup melihat raut cemas dari kedua keponakanya melihat kondisi ibunya masih kritis. Dan sekarang saat ibu mereka dibyatakan sudah baik-baik saja, Wira baru berani membawa mereka menemui ibunya secara langsung. Langkahnya terhenti ketika dari kejauhan ia melihat seorang wanita dengan gaya angkuhnya tengah berjalan melewati lalu lalang orang di lorong Rumah Sakit. Wanita yang masih sangat ia kenali meski make up tebal itu menyamarkan keriput di wajahnya. Wanita yang seketika membuat darahnya terkesiap menahan geraman emosi. Wanita yang menjadi biang kehancuran sahabatnya, bertahun-tahun lalu. Ia masih sangat mengingatnya dan sekarang ia berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Berada di kota yang sama denganya. Takdir benar-benar penuh kejutan. Hendak dihampirinya wanita tersebut namun, kakak iparnya tiba-tiba saja memanggil dirinya dari depan pintu kamar tempat kakak kandungnya dirawat. Menoleh kearah wanita tersebut yang berjalan menuju pintu depan kemudian menoleh lagi kearah kakak iparnya yang menunggu kedatanganya. Ia berdecak kesal, harusnya tadi ia menghampirinya langsung. Dihampirinya kakak ipar yang tadi memanggil dan mengabaikan langkah wanita tersebut pada akhirnya. " Ada apa?" tanya Wira bergitu ia mendekati kakak iparnya. " Jagain dulu Wir, aku mau ke masjid sebentar" Pamit laki-laki yang menjadi suami dari kakaknya tersebut seraya menepuk pundak kamudian berlalu. Wira masuk kedalam kamar dan disuguhi pemandangan yang membuatnya haru sekaligus bangga. Kedua keponakanya sedang sibuk menyuapi ibunya dengan potongan buah bergantian bahkan saling berebut ingin buah yang ada di tangan masing-masing diterima terlebih dulu. Wira tersenyum menyaksikan pemandangan tersebut. Paranoidnya gagal, tentu saja setelah melihat reaksi kedua anak  dari kakaknya tersebut begitu sampai di kamar ini dan melihat ibunya terbaring dengan perban di kepalanya. Ia kira kedua bocah tersebut mungkin akan meraung, menangis sedih melihat keadaan ibunya namun hal tersebut tidak terjadi. Begitu sampai di kamar ini dan Wira menjelaskan tentang keadaan ibunya secara perlahan, keduanya langsung menghambur memeluk lengan ibunya dari setiap sisi kemudian saling mendoakan kesembuhan ibunya. Sekarang, mereka berebut menyuapi sambil tertawa yang menular juga pada kakaknya yang terlihat semakin baik. " Darimana saja?" tegur kakaknya begitu Wira masuk kemudian duduk di sofa kamar tersebut. Kamar ini masuk dalam daftar kelas VIP. Jelas bukan keinginan Wira maupun kakaknya melainkan paksaan dari Dokter yang menjadi pelaku kecelakaan kemaren malam. Dokter tersebut bersikeras menggunakan ruang VIP sebagai salah satu bentuk tanggung jawabnya selain menangani kondisi kakaknya tentu saja. Ia belum bertemu Dokter tersebut karena saat kejadian yang menimpa kakaknya tersebut dirinya sedang berada didalam sebuah toko. Sebenarnya ia berniat membeli hadiah di salah satu toko. Kakaknya bersikeras ingin ikut dalam pertemuan tersebut karena ingin bertemu langsung, berbincang dengan Ana sekaligus membantunya menjelaskan sesuatu hal, jika nemang diperlukan. Namun saat diajak masuk ke dalam  membantunya memilihkan hadiah ia menolak dengan alasan sedang  menelepon suaminya meminta izin ikut dengan dirinya menemui Ana. Diakui Wira didalam toko memang sangat ramai dan tidak memungkinkan kakaknya menelpon dengan leluasa. Wira pun masuk kedalam toko yang amat ramai bahkan untuk parkir di halamanya saja tidak muat, alhasil motornya diparkirkanya di pinggir jalan bersama beberapa motor lain hang bernasib sama denganya sedangkan kakaknya menelpon sambil berdiri disamping motor tersebut. Ia sendiri sibuk memilih barang apa yang hendak diberikanya mengingat baru beberapa waktu lalu ia memberikan boneka ulat bulu pada Ana.  Sementara Wira tengah asyik memilih, kakaknya diluar sana tengah sibuk dikelilingi warga karena insiden sebuah mobil yang menbraknya. Saat itu kakaknya baru saja mematikan panggilan saat tubuhnya tanpa diduganya terhempas hingga kepalanya membentur jalan. Beruntungnya ia langsung melindungi kepalanya dengan tangan sehingga benturan tersebut tidak begitu keras mengenai batok kepalanya. Betapa kagetnya Wira begitu mendapati kakaknya tidak ada di tempat, motor milik kakak iparnya yang ia pinjam terlihat remuk bagian pinggirnya dengan kubangan darah di sekitarnya. Beberapa warga pun tampak ramai mengelilingi membuat ia bertanya pada salah seorang disana. Penjelasan dari bapak teraebut seakan merenggut jantung dari dalam tubuhnya. Kakaknya tertabrak mobil dan beruntungnya pelaku mau bertanggung jawab. Dengan cepat ia menghubungi kakak iparnya yang ternyata sudah mengetahui kejadian tersebut karena beberapa menit setelah panggilan pada isterinya berakhir, nama isterinya di ponsel tersebut berkedip memanggilnya kembali. Bukan suara istrinya melainkan suara seorang bapak yang mengatakan bahwa wanita pemilik ponsel tengah mengalami kecelakaan dan sedang dilarikan ke Rumah Sakit. Tanpa menunggu lama ia pun melesat menuju Rumah Sakit tempat kakaknya ditangani.  Sesampai disana ia melihat kakak iparnya masih dengan seragam kerjanya sedang duduk sambil menunduk di depan ruangan. Wira menghampiri kakak iparnya , berdua sama-sama menunggu hasil tim Dokter tentang keadaan kakaknya. Diliriknya jam di pergelangan tanganya membuat ia mengingat sesuatu. Ya, pertemuan dengan Ana. Dihubunginya nomor rumah milik keluarga gadis itu memberitahukan keterlambatan bahkan pembatalan pertemuan dengan anaknya. Bisa saja ia menghubungi Ana langsung namun tidak menjamin kemungkinan Ana menganggapnya berbohong menghindari janji, maka ia putuskan menghubungi keluarganya. Dengan begitu alasan ia membatalkan rencana tersebut dapat diterima Ana jika orang tuanya sendiri yang menjelaskan. Tak lama kemudian Rima datang dan bergabung bersama, tanpa suaminya dan tanpa Ana. Menurut jawabanya, Hendra suaminya masih dalam perjalanan pulang bekerja sedangkan Ana sendiri perjalanan menuju Rumah sakit ini. Masih dalam keadaan yang cemas  karena keadaan kakaknya yang belum pasti, ia memutuskan menemui Rabb nya meminta petunjuk, ketenangan, kekuatan serta keputusan terbaik untuk kakaknya. Ia menguatkan dirinya, menghadap Rabb nya penuh khidmat dengan kerendahan hati memohon ampunan. Ia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan kini ia jelas tidak sanggup kehilangan kakak, saudara kandung satu-satunya yang ia punya. Dengan menitikan air mata mengharap kemudahan, Wira menghabiskan waktunya di masjid dekat Rumah Sakit tersebut. Masih dengan lantunan ayat suci dari mulutnya, suara ponselnya berdering. Dari kakak iparnya, batinya membaca nama yang berkedip. Perasaan takut menyergapnya tiba-tiba. Berbagai dugaan menhantui. Dengan mengambil nafas ia memgangkat panggilan tersebut. Wira bernafas lega, diucapkan syukur berkali-kali mendengar keadaan kakaknya sudah melewati masa kritis . Ditutupnya mushaf yang dipegangnya kemudian berjalan tergesa menuju ruangan kakaknya. Perban melilit kepalanya karena ada luka yang baru saja dijahit. Garis pada layar monitor terlihat stabil. Dihampiri kakak perempuan yang amat ia sayangi, kakak yang selalu menjadi pembelanya saat kedua orang tuanya kadang mengaku kesal dengan tingkah nakalnya. Perempuan cantik nan lembut hatinya yang merengkuh punggungnya saat hati saling menguatkan atas kepergian kedua orang tuanya. Perempuan berkerudung yang mengajarkan banyak kisah penuh perjuangan orang tuanya membesarkan anak-anaknya, masih memejamkan mata dengan deru nafas teratur. Diusapnya perlahan pipi perempuan cantik yang terbaring lemah di ranjang itu dengan sayang. Beribu doa telah ia panjatkan untuk keajaiban kakaknya dan kini saatnya hatinya pasrah pada ikhtiyar yang dilakukan sejauh ini. Digenggamnya tangan yang tidak terkena infus kemudian diciumnya perlahan telapak tangan tersebut tanda ia amat menghormati dan menyayangi perempuan saudara satu-satunya tersebut. " Aku yang salah meninggalkanmu begitu saja diluar" lirih Wira masih memandangi wajah pucat kakaknya. Kakak iparnya menepuk pelan pundaknya membuat Wira menoleh. Laki-laki itu juga sama cemasnya dengan Wira. Baju seragam batu baranya masih menempel bahkan terlihat kusut dan penuh peluh. "Istirahatlah dulu, biar aku yang menjaga" Wira hanya diam mendengar perintah kakak iparnya. Mana bisa dia istirahat saat orang yang disayanginya belum juga sadar. Wira membalikan badan pamit hendak ke masjid. Begitu melangkah keluar, pandanganya bersitatap dengan Rima yang duduk di sofa kamar. Dihampirinya wanita paruh baya tersebut kemudian mencium tanganya penuh hormat. " Maaf Tante, sudah membuat Ana kecewa karena saya mengingkarinya" ucap Wira penuh sesal. Rina tersenyum maklum. " Tidak ada yang perlu dimaafkan, lagipula Ana pasti mengerti keadaanya memang belum memungkinkan kalian bertemu. Ini semua musibah, bahkan Ana sendiri juga...." Rima tak meneruskan kalimatnya karena takut Wira semakin cemas. Wira yang tahu bahwa ada yang disembunyikan Rima malah menangkup kedua tangan wanita tersebut. "Ana kenapa Tante?" Ia meyakinkan bahwa ia baik-baik saja dengan lanjutan kalimat tersebut. " Sebenarnya waktu Mama mengabari kecelakaan ini, dia hampir saja tertabrak saat mengendarai motor kemari" ucap Rima hati-hati. Wira merenggangkan tangkupan pada tangan Rima. Kepalanya menunduk dan memejamkan mata dalam-dalam. Kabar kakaknya dibawa ke Rumah Sakit tadi saja membuat jantungnya seakan terenggut paksa sampai-sampai detaknya tak lagi terasa dan sekarang Ana, gadis yang sejak dulu menempati penuh ruang hatinya pun mengalamai hal yang sama. " Dia tidak apa-apa. Sekarang Papanya menemani di rumah. Beruntung dia masih sempat menghindar" lanjut Rima. Penjelasan tersebut membuat Wira membuka mata kembali. Kenyataan bahwa Ana baik-baik saja membuatnya bernafas lega. "Apa dia benar baik-baik saja?" raut khawatir Wira tak dapat membohongi Rima. Wanita itu tersenyum kearah laki-laki yang  sudah dianggapnya anak kandung sendiri apalagi ketika kedua sahabatnya meninggalkan dua sumber kebahagian mereka. " Coba saja hubungi dia kalau tidak percaya" Ada nada geli pada suara Rima melihat kekhawatiran Wira pada anaknya yang jelas-jelas memang sehat tak kurang suatu apapun. Wira mengangguk kemudian pamit keluar. Begitu pintu tertutup kembali ia segera menghubungi nomor Ana. Sayangnya berkali-kali ia menghubungi gadis itu tak kunjung ada jawaban. Diliriknya jam yang melingkari pergelangan tanganya. Wira baru sadar jika waktu sudah sangat larut dan dipastikan Ana sedang istirahat. Diurungkan niatnya menghubungi kembali, lalu langkahmya berjalan menuju Masjid. Ia akan menemui Rabb nya lagi meminta kemudahan atas apa yang menjadi kesulitanya saat ini. ------------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD