Bertemu Masa Lalu

1527 Words
Ana menerima panggilan dari Ani, kakaknya yang tinggal di pulau Jawa. Kabar hampir tertabraknya dari mulut Hendra  membuat Ani kaget bukan kepalang. Dengan segera ia menelpon ke nomor adiknya dan meminta penjelasan langsung. " Kenapa gak bilang Mbak, kalau kamu kena musibah?" tanya Ani di seberang sana sedikit kesal karena ketinggalan berita. " Bukan kabar bahagia kenapa harus dikasih tahu" Jawab Ana santai menanggapi kakaknya yang kesal namun juga khawatir. " Itu juga kabar bagus, kamu akhirnya selamat" Sekarang gantu Ana yang kesal dengan nada suara Ani yang setengah terkekeh. " Jadi?" lanjut Ani kemudian. Ana hanya mengerutkan keningnya bingung. " Apanya?" sahut Ana. " Pertemuan dengan Wira" Ana diam sambil mengehela nafas berat. " Batal Mbak, kakaknya Wira kecelakaan pas mau berangkat ketemu aku" Ani kaget bukan main dengan berita ini. Ir, nama panggilan untuk Wira yang seyogyanya adalah sahabatnya, tidak mengabari apapun tentang keadaan kakaknya. " Bagaimana keadaanya?" Lanjut Ani ingin tahu lebih jauh tentang kabar mengejutkan barusan. " Kakaknya Wira ditabrak mobil kepalanya kebentur aspal. Kemarin kabarnya sudah lebih baik" Ani di seberang sana  meremas bantal yang sedang dipeluknya. Ia khawatir, tentu saja. Kabar adiknya yang ternyata baik-baik saja membuatnya lega lalu disusul kabar mengejutkan dari keluarga Wira membuatnya kembali dilanda kekhawatiran. Bagi Ani, keluarga Wira sudah seperti keluarganya sendiri. Apalagi bagi kakaknya, Ani adalah pawang terbaik yang sanggup menjinakan kenakalan Wira saat sekolah menengah di Surabaya dulu. " Ada jahitan di kepalanya akibat benturan itu. Tapi sampai saat ini keadaanya sudah baik" Lanjut Ana. " Alhamdulillah kalau sudah tidak apa-apa. Kamu juga lain kali hati-hati dek" Ana mengangguk meski tak diketahui kakaknya. " Aku salah Mbak" ungkap Ana membuat kakaknya terkesiap. " Kenapa?" "Aku memaksa Wira bertemu. Jika saja hari itu aku tidak memintanya menurutiku, pasti kecelakaan itu..." Digantungnya kalimat tersebut. Ani tahu adiknya sedang menyalahkan diri sendiri. "Tidak Na, bukan salah siapa-siapa. Memang belum saatnya saja kalian bertemu. Coba ambil hikmahnya saja" Ana tersenyum dengan kalimat Ani barusan. Harusnya ia tetap bersyukur sampai saat ini Tuhan masih memberinya kesempatan agar kedepanya lebih hati-hati, memikirkan segala sesuatu tanpa kepanikan. " Trus Wira sendiri gimana keadaanya?" Oh, Ana melupakan keadaan Wira yang mungkin saja tengah kalut menghadapi kondisi kakaknya. Dan sekarang mungkin masih menunggu disana. Ia tak tahu keadaanya sejak telepon kemarin. " Kemarin dia menelponku minta maaf juga menceritakan keadaan kakaknya. Sampai sekarang belum ada kabar. Aku ingin menjenguk kakaknya di Rumah Sakit tapi Papa melarangku keluar rumah gara-gara kejadian malam itu. Padahal aku sudah merengek naik taxi bukan naik motor lagi" Ani tertawa diseberang mendengar oceh kekesalah Ana. " Kamu mau jenguk kakaknya apa jengukin Wira?" goda Ani seketika memerahkan wajah Ana. Benar, dia ke Rumah Sakit ingin menjenguk kakaknya atau Wira? " Jengukin Wira deh pastinya. Ngebet ketemu soalnya kangen berat. Kasihan....... yang lagi gegana" lanjut Ani menggoda adiknya. "Mbak...." Ana merajuk mendengar ledekan kakaknya serta kekehan yang tak kunjung berhenti. " Kenapa dek? bener kan? ciye... ciye .. yang lagi kangen" Ana menghela nafas berat mendengar ledekan kakaknya. Ia melupakan keusilan kakaknya. "Eh mbak tutup dulu, Faby udah datang" Ani buru-buru menutup teleponya pada Ana.     ****************************** Empat hari sudah Kakaknya Wira dirawat, hari ini ia akan pulang ke rumah. Selama dirawat, Wira bertugas menjaga keponakanya di rumah dengan memasak, menyiapkan baju serta mengantar jemput sekolah mereka. Pun dengan bengkel yang dikelolanya ternyata memiliki kendala mengenai stok bahan dan alat sedang kosong. Alhasil ia menyerahkan penjagaan kakaknya pada suaminya, bagaimanapun suaminya lebih dibutuhkan oleh kakaknya sedangkan urusan di rumah biar menjadi tanggung jawabnya. Ia akan datang saat menjelang malam setelah bengkelnya tutup dan kedua keponakanya selesai mengaji. Hanya sebentar menengok keadaan ibunya kemudian ia akan mengantar kembali kedua keponakan tersebut pulang, menemani tidur dan menyiapkan segala sesuatunya keesokan harinya. Namun saat ini ia datang lebih pagi karena kepulangan kakaknya. Sengaja ia memakai mobil agar mudah membawa seluruh anggota keluarganya. Setelah selesai berbenah, Wira hendak mengurus administrasi namun dicegah oleh kakak iparnya karena Dokter yang menabraknya mengatakan dialah  yang akan bertanggung jawab atas semua kejadian yang menimpa kakaknya termasuk biaya perawatan. " Siapa Dokter yang menabrak itu?" tanya Wira penasaran. Meskipun awalnya ia sempat marah dan menyalahkan tindakan pelaku, namun mengetahui itikad baik akan tanggung jawabnya yang tidak lepas begitu saja, membuat hati Wira melunak. Dan selama berada di Rumah Sakit, ia belum pernah betemu langsung dengan Dokter tersebut dan saat ini ketika akan meninggalkan tempat ini ia ingin mengucapkan terima kasih. " Dia Dokter Reksa, ada apa?" tanya kakak iparnya. " Aku hanya akan mengucapkan terima kasih saja" Kakak iparnya menunjuk sebuah ruangan dengan telunjukanya. "Ruanganya sebelah sana, tanya saja pada perawat yang lewat" Wira mengangguk tersenyum. Dilangkahkan kakinya menuju arah yang ditunjukan. Mengikuti saran kakak iparnya untuk bertanya, ia pun sudah sampai di depan ruangan Dokter tersebut. Begitu hendak mengetuk pintu, ponselnya berdering. Begitu membaca nama yang tertera di layar membuatnya tersenyum. " Ir.....!" Teriak Ani dari seberang. Wira seketika menjauhkan ponsel dari telinganya. Belum juga ia sempat mengucapkan satu kata tapi Ani sudah meneriakinya. Wira menjauh dari depan pintu ruangan Reksa agar ia lebih leluasa menerima telepon dari sahabatnya. " Apa sih teriak-teriak, di Rumah Sakit nih" Wira mendengus sebal namun ia maklum. Ia sudah hafal dengan sahabatnya tersebut jika berhadapan denganya. Sosok riang yang menjadi kesayangan kakaknya karena berhasil membuat seorang Wira yang bengal menjadi jinak. " Hehehe" Kekeh Ani. "Gimana keadaanya ?" lanjutnya. "Keadaan apa yang kamu tanyain. Keadaan hatiku yang merindu apa keadaan Kakak ku?" Kekehan Ani semakin menjadi. Ia merasa kasihan dengan sahabatnya yang tengah merindukan adiknya. "Aku tahu malarindu mu sudah akut, jadi tidak perlu dikasih tahu. Trus keadaan kakakmu gimana?" " Dasar lampir, mentang-mentang sudah ada Faby jadi tukang pamer" Ani terkikik geli. Tidak adiknya, tidak sahabatnya ternyata sangat menyenangkan menggoda keduanya. "Hari ini mau pulang ke rumah" Ani ikut bersyukur akan kabar yang ia dengar barusan. Beberapa hari lalu setelah Ana memberi tahu tentang kecelakaan tersebut, ia segera menghubungi Wira. Dan keadaanya saat itu memang sudah lebih baik. "Rin, kemarin aku sempat ketemu sama wanita itu" lirih Wira hati-hati. Ani yang mendengar kata 'wanita' itu sudah paham siapa yang dimaksud. Tubuhnya membeku seketika. Bayangan masa lalu berkelebat dalam pikiranya. " Dia ada di kota ini,  tapi aku belum yakin benar dia apa bukan" lanjut Wira. Ani memejamkan mata sejenak mencoba mengatur perasaanya agar tidak terseret pada kenangan mencekik itu. " Mau dia dimana juga aku gak peduli lagi Ir. Yang penting sekarang aku hanya akan memikirkan masa depanku bersama Faby" Ani mencoba tenang tidak terpengaruh. Masa lalu hanya sebatas kenangan lama yang sekedar lewat untuk memberinya jalan menuju masa depan. Dan ia tak perlu menengok kembali, sudut hatinya tertutup rapat akan semua kenangan menyakitkan itu. Sekarang ia hanya mengambil pelajaran dan melangkah lebar tanpa peduli lagi ke belakang. " Seratus buat kakak ipar. Move on nya sukses nih!" ledek Wira mencairkan ketegangan yang sempat terjadi. " Ye, dari dulu juga aku udah move on. Emangnya dirimu Ir, dari orok gak move on juga sama Ana" balas Ani tak mau kalah. "Gak bisa move on hatiku cuma buat dia Rin. Udah mentok sama adik kamu seorang, ayang Ana" Ani mendengarnya langsung memasang ekspresi jijik di seberang sana begitu mendengar kalimat Wira yang terkesan berlebihan. " Ayang ayang, mau ketemuan aja gak punya nyali mau sok ayang-ayang an". "Itu bukan masalah nyali Rin, tapi masalah takdir yang belum setuju kita bertemu" bela Wira tak terima. Ani terpingkal-pingkal disana. " Udah ah aku ditungguin mau pulang" Wira memutus cepat panggilanya mengingat bahwa kakaknya pasti sudah menunggu dirinya untuk segera pulang mengendarai mobil. Begitu panggilanya terputus, ia kembali berjalan menuju ruangan Reksa yang ternyata setengah terbuka. Bukan maksud mengintip hanya saja ia berusaha mencari tahu apakah sang Dokter sedang ada didalam atau tidak karena tujuanya memang ingin mengucapkan terima kasih lalu segera pergi. Tanganya masih tertahan di udara hendak mengetuk pintu dan seketika dihentikan begitu telinganya menajam. "Mama dengar kamu menanggung semua beban pasienmu" ucap wanita yang duduk berhadapan dengan laki-laki didalam sana. " Aku yang menabraknya jadi sudah kewajibanku menanggung semuanya" " Tidak dengan melunasi fasilitas VIP, perawatan, obat dan juga motor yang hanya lecet. Lagipula orang miskin seperti mereka tidak pantaa menikmatinya" "Sudahlah Ma, sampai kapan Mama akan terus ikut campur dengan urusanku" kesal laki-laki itu. Ingin rasanya Wira meneriaki wanita tersebut saat ini juga sambil menuduh telunjuknya tepat di wajah wanita itu dengan menyodorkan segepok uang agar keluarganya tidak direndahkan begitu saja. "Sampai kamu bisa sadar dengan statusmu yang sampai kiamat pun tidak akan pernah setara dengan perempuan itu" "Dia punya nama Ma, Ana. Jangan panggil gadis itu, perempuan itu. Sampai kapanpun aku akan tetap mengejarnya" Wanita itu geram, ancamanya tak kunjung berhasil. Dengan gerakan cepat ia meraih tas tangan yang tergeletak di meja. Berdiri dan berjalan keluar ruangan. Wira yang menyadari pergerakan langsung mundur agak menjauh dari pintu. Wanita itu masih berdiri di depan pintu dengan wajah kesalnya. Melirik sebentar dengan sinis kemudian melangkah pergi. Wira tahu sekarang bahwa dibalik pintu di depanya kini adalah orang yang telah memberikan bantuan untuk perawatan kakaknya pun dia juga yang telah memberikan kehancuran pada sahabatnya. Wira tahu jelas wajah wanita itu yang merenggut kebahagiaan sahabatnya dan sekarang ia tahu bahwa anaknya lah, sumber kesuraman keluarga Hendra, calon mertuanya. Dengan perlahan ia mengetuk pintu hingga terdengar suara 'masuk' dari dalam. Wira mendekati kursi, tatapanya mengarah pada Reksa yang masih tertunduk. " Maaf saya mengganggu waktu anda Dokter Reksahadi  Bagaskara " Seketika Reksa terkesiap dengan panggilan tersebut. Segera diangkatnya kepala dan menatap balik kearah Wira yang menatapnya dengan sinis dan benci. --------------------------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD