Kepingan Masa Lalu (1)

1475 Words
Reksa tertegun sejenak melihat laki-laki yang tinggi menjulang berdiri di depanya. Ia mengenal laki-laki itu sebagai sopir langganan Ana. Laki-laki yang pernah membuatnya cemburu karena dengan mudahnya menghabiskan waktu berdua dengan Ana. Bukan kedatanganya saja yang membuatnya kaget melainkan nama belakang yang  sudah lama tidak ia tulis dan sebutkan secara gamblang kecuali untuk keperluan penting. Nama belakang yang ia simpan rapat-rapat sejak seseorang mengambil nama tersebut untuk menjadikan nama panggilan kesayangan. Nama istimewa yang hanya dialah pemilik nama panggilan itu. Dan sekarang, bagaimana laki-laki di depanya ini tahu tentang nama lengkapnya? padahal ia tak pernah mencantumkan nama lengkap secara terang-terangan di Rumah Sakit ini, karena biasanya ia hanya menyingkat dengan huruf depanya saja. "Baik, silahkam duduk" Reksa mempersilahkan laki-laki di hadapanya untuk duduk sambil menengadahkan telapak tanganya kearah kursi. Laki-laki itu menurut, ditariknya kursi kemudian dia duduk dengan tatapan tak berpindah sedetik pun dari manik mata Reksa, membuat Dokter tersebut seakan dikuliti dengan tatapan memgintimidasi. "Maaf, dengan bapak siapa kalau saya boleh tahu" Reksa membuka percakapan dengan bersikap tetap tenang. " Panggil saja dengan Radit" Jawab Radit dingin. " Ada yang bisa saya bantu pak Radit?" Reksa masih mencoba tenang meski matanya menatap ngeri dengan tatapan Radit yang seperti menahan kebencian yang mendalam padanya namun entah benci karena apa ia juga tidak tahu karena ia tidak begitu mengenal sosok dihadapanya saat  ini. " Hanya mengucapkan terima kasih sudah menanggung biaya perawatan kakak saya"  Radit sedikit melunak. Reksa mengorek kembali memory nya dan ia menyimpulkan sesuatu. Kakak yang dimaksud adalah korban keteledoranya dan waktu itu ia  pernah melihatnya berkeliaran di tempatnya bekerja ini tak lain karena dia keluarga pasien. Reksa pikir pantas saja tatapan Radit begitu membencinya mungkin karena dirinya sudah membuat kakaknya terluka dan Reksa pantas mendapatkan tatapan itu. " Oh anda keluarga Nyonya Mira?" tanya Reksa memastikan. " Begitulah. Terima kasih atas perawatan yang diberikan Rumah Sakit ini untuk kakak" Balas Radit dingin. " Tidak masalah pak, sudah menjadi tanggung jawab saya. Dan saya minta maaf atas kelalaian yang membuat kakak anda terluka" Ucap Reksa tulus. "Hem, tidak apa-apa. Yang terpenting kakak saya sudah baik-baik saja" Reksa tersenyum, perasaanya lega begitu mendengar permintaan maafnya diterima. " Terima kasih pak sudah memberi saya kesempatan bertanggung jawab. Sekali lagi saya mohon maaf" "Kalau begitu saya permisi dulu karena kakak saya sudah menunggu untuk segera pulang" Radit bangkit dari kursinya dan berjalan membelakangi Reksa yang juga ikut berdiri. Begitu sampai di depan pintu, Radit menolehkan kepalanya sedikit kesamping. Dilihatnya Reksa yang berdiri mengantarkan kepergianya, dari sudut matanya. " Seharusnya Riani mendapatkan permintaan maaf dan pertanggung jawaban lebih layak seperti ini"  Lirih Radit kemudian menarik pintu dan melangkah keluar ruangan dengan mengepalkan tanganya menahan gairahnya untuk tidak memaki, menyumpah bahkan meremukan laki-laki di dalam sana. Sedangkan Reksa yang mendengar kalimat yang diucapakan Radit barusan membuatnya tertegun. Bolpoin yang tadi dipegangnya langsung terjatuh ke lantai. Darahnya terasa membeku, nafasnya tercekat dan keringat dingin tiba-tiba membanjiri tubuhnya. Ia menggigil. Kepingan masa lalu itu membayangi pikiranya. Masa dimana ada cinta yang merekah tiba-tiba dan luka yang tertoreh dengan tiba-tiba pula. Ia selalu mencoba mengubur kenangan itu namun sekarang, karena kalimat dan satu nama yang disebut membuat memorinya dipaksa kembali pada waktu tujuh tahun lalu. Waktu dimana seorang Reksa mengenal cinta pertamanya kemudian kehilangan pada akhirnya.           ********************************** Tujuh tahun lalu Hiruk pikuk kota Surabaya di pagi hari sangat padat. Ini dia kota terbesar kedua di Indonesia. Ibukota Jawa Timur ini merupakan gerbang dan kota terbesar di Indonesia Timur. Selain besar, ramai, dan padat, Surabaya juga merupakan salah satu kota terindah di Indonesia. Di kota ini, taman-taman penghijauan sangat mudah ditemukan. Hampir seluruh jalanan di kota ini ditumbuhi pepohonan di kanan kirinya. Kepadatan kota pagi ini membuat Ani sedari tadi duduk tak jenak di kursi penumpang sebuah mobil yang disediakan pihak sekolah untuk mengantarnya mengikuti lomba Sains di salah satu Universitas Negeri terbaik di kota Pahlawan. Ariani bersama kedua rekanya yang masih duduk di kelas dua sedangkan ia setingkat lebih tinggi dari keduanya. Baginya tak masalah selama kerja sama timnya terjalin dengan erat. Seharusnya siswa kelas akhir tidak diperkenankan mengikuti perlombaan karena diharapkan lebih fokus pada puluhan ujian yang siap menanti. Namun karena sudah dua tahun terakhir Ani selalu berhasil membawa timnya lolos menjadi juara dalam setiap perlombaan Sains membuat wali kelasnya bersikeras mempertahankanya tetap ikut untuk terakhir kalinya. Pagi ini ia diantar oleh mobil milik sekolah bersama dua temanya lain. Ia merasa gelisah karena tanda pengenalnya tertinggal di rumah bibinya. Jika harus berbalik arah lagi sudah pasti akan terlambat dan hal itu jelas merugikan tim nya. Dengan terpaksa ia menghubungi sahabatnya sejak masuk di SMA ini agar mengantarkanya ke tempat perlombaan. Raditya Prawira, sahabat yang dihubungi oleh Ani tak kunjung mengangkat teleponya membuat kegelisahanya semakin menjadi. Macet parah di hari minggu ditambah mengharapkan bantuan dari Ir, sapaan akrab Ani pada sahabatnya tersebut tak kunjung menuai kepastian. Karena Ani yakin di hari minggu seperti ini Ir tidak akan bangun pagi. Ir adalah teman sekelasnya sejak ia masuk di SMA tersebut. Sebenarnya Ir anak yang bengal, setiap hari seringkali ia bolos sekolah, tidur disaat jam pelajaran namun anehnya nilai-nilainya selalu cemerlang. Otak yang encer tapi tidak diimbangi dengan kelakuan baik pada akhirnya membuat Ir tinggal kelas saat naik ke kelas dua. Alhasil ia pun tetap menjadi murid junior yang semakin bengal. Hingga ia berkenalan dengan Ariani, teman satu bangku yang ternyata memiliki otak yang sama encernya dengan dirinya sehingga keduanya sering terlibat diskusi. Pembawaan Ani yang mudah bergaul meruntuhkan sedikit demi sedikit sifat cuek Ir. Dan pandangan pertama Ir pada Ana, adik kandung sahabatnya membuatnya jatuh hati untuk pertama kalinya. Meski Ana sendiri tidak tahu dan kenal dengan sahabat kakaknya tersebut karena Ana tinggal berjauhan di Kediri bersama kedua orang tuanya sedangkan Ani tinggal di Surabaya bersama bibinya, namun ia selalu mendengar dari cerita-cerita kakaknya tentang sahabat terbaiknya. Dan dari cerita-cerita tersebut, Ana mengacungkan jempol sekaligus tertawa saat kakaknya bercerita tentang kekonyolan dan sikap heroik Ir. Bagi Ir, Ani adalah sahabat, partner bertukar ide dan calon kakak ipar, begitu ia menyebutnya karena sejak pertama bertemu adiknya yang saat itu berkunjung ke Surabaya ia sudah jatuh hati. Sedangkan bagi Ani, Ir adalah sahabat yang siap berada di garis depan ketika masalah menghadang. Kakak laki-laki yang amat diidamkan karena ia sendiri anak pertama dan tidak memiliki saudara laki-laki. Meskipun kelas mereka setingkat namun ingatkan lagi bahwa Ir pernah tinggal kelas. Dan usiaya lebih tua setahun dibanding teman sekelas lainya.    ************************************** " Ir, ya ampun akhirnya hidup juga dirimu" teriak Ani frustasi sekaligus lega karena pada panggilan kesekian akhirnya Ir menerima panggilanya. " Apa sih teriak-teriak ganggu tidurku aja" Gerutu Ir di seberang sana yang masih memejamkan mata. "Sekarang bangun trus ke rumahku ambilin Id Card yang tertinggal di meja belajar dan bawa ke aula Universitas  tempatku lomba yang sejam lagi akan dimulai" Ir hanya berdehem tanda mengerti setelah panjang lebar Ani berbicara. Sambungan terputus, Ani merasa lega masalahnya sudah beres tinggal sedikit mengulur waktu sambil menunggu kedatangan Ir. Begitu sampai di lokasi lomba, guru pendamping segera melakukan pendaftaran ulang di salah satu meja dengan tulisan PANITIA  dengan aksara besar. Sedangkan Ani dan kedua temanya sedang membuka buku untuk membahas beberapa teori sambil duduk-duduk di kursi permanen yang terbuat dari semen di sepanjang taman. Sambil berbincang, Ani melirik terus menerus jam di pergelangan tangan kirinya berharap Ir akan datang tepat waktu. Begitu gelisahnya, ia meminta izin pada teman-temanya serta guru pendamping untuk mencari toilet. Dalam perjalanan menuju toilet, ponselnya berdering. Sebuah pesan dari Ir yang menyatakan ia sudah tiba di parkiran dan bertanya dimana posisinya saat ini. Terlalu asyiknya ia membalas pesan dari Ir membuat Ani tanpa sadar masuk kedalam toilet pria. Belum sampai kedalam karena di depan pintu, tubuhnya bertabrakan dengan seorang laki-laki berjas almamater yang hendak keluar. Kepala Ani menabrak d**a bidang laki-laki tersebut membuat keduanya kaget. Ani mendongak sedangkan laki-laki itu menunduk. Kedua pasang mata tersebut saling menatap dan tersenyum canggung. " Maaf kak saya tidak lihat jalan" Ucap Ani membuka suara. " Eh iya aku juga minta maaf tidak memperhatikan jalan" ujar laki-laki itu mengikuti Ani meminta maaf. " Kalau begitu saya permisi" Ani menggeser tubuhnya sedikit kesamping agar ia dapat segera masuk melalui celah pintu yang tersisa. " Loh kamu mau kemana?" tegur laki-laki tersebut menatap Gadis berseragam putih abu-abu dihadapanya hendak masuk ke tempat ia baru saja menyelesaikan hajatnya. " Saya mau ke toilet kak" jawab Ani tanpa ragu. Laki-laki itu menatap heran sekaligus maklum kemudian ia mengehela nafas berat. " Ini toilet pria, kenapa kamu masuk kesini? toilet perempuan ada disana" tunjuk laki-laki tersebut ke sebelah kanan mengarah pada lorong panjang dengan banyak pintu tulisan TOILET serta simbol perempuan di depanya. Seketika Ani tersipu malu. Tidak mengira ia salah memasuki toilet. " Oh iya, aduh maaf saya tidak lihat tadi" Ani mengusap rambutnya yang tidak gatal sambil tersenyum pamit pergi. " Kamu peserta lomba ya?" tanya laki-laki tersebut begitu Ani hampir sampai di depan pintu. " Iya kak" jawab Ani singkat. Laki-laki itu berjalan mendekati Ani kemudian mengulurkan tangan kananya hendak berjabat. " Namaku Reksahadi, kamu?" "Riani" Dan awal pertemuan itu semakin berbuah manis hingga rasa manis itu kemudian menghancurkan keduanya tanpa ampun. -----------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD