Kepingan Masa Lalu (II)

1514 Words
" Ngapain aja sih daritadi gak balik-balik!" gerutu Ir kesal karena Ani begitu lama di toilet. " Antri Ir di toilet. Lagian gak sabar amat nungguin bentar" Gerutu Ani balik. Ir menarik tangan Ani untuk berjalan mengikutinya. " Heh Rin, jadwal tidurku terganggu gara-gara ngambil nih barang. Eh sampek sini malah suruh nunggu kamu bertelur dulu" Ani nyengir lebar mendengar sahabatnya yang kesal. Minggu pagi memang jadwal tidur panjang bagi Ir, Ani sudah hafal kebiasaan sahabatnya tersebut. " Tadi aku kenalan sama cowok cakep juga disana" Ana mengedipkan matanya genit kearah Ir tanda ia sedang berbunga. Ir yang melihat tanda tersebut langsung menjitak kepala Ani hingga gadis itu mengaduh. " Cowok cakep mana lagi sekarang?. Kamu kucing pakek topi aja juga bilang cakep" Ani mendengus gara-gara ledekan sahabatnya barusan. Memang wajar jika seorang perempuan memuji lawab jenisnya dengan sebutan tampan, keren, cakep atau pintar. Ani pun begitu halnya. Seringkali saat jalan berdua dengan Ir, ketika matanya menangkap laki-laki yang menurutnya tampan, ia akan menunjukan kode pada Ir dengan mengedipkan matanya genit. Ir maklum dengan remaja labil semacam Ani. Meskipun begitu ia tahu Ani bukan perempun yang menggoda laki-laki bahkan kekasih saja ia tidak pernah punya. Hari-harinya selalu bersama Ir yang baginya sudah cukup sebagai sosok laki-laki sekaligus pasangan. Ani tidak sekalipun menaruh perasaan lebih pada sahabatnya begitupun sebaliknya. Karna Ir hanya jatuh hati pada Ana, adik sahabatnya tersebut dan kebetulan kedua orang tua mereka ternyata bersahabat. "Beneran Ir, ah kamu tuh gitu" Ani mencebikan bibirnya. Ir teesenyum simpul. "Udah lupain tuh cowok. Sekarang mana ongkos kirimnya" Ir menengadahkan tanganya. Ani tampak berpikir kemudian memasukan tangan kedalam saku depan dan mengelurkan bungkusan berwarna biru. " Nih, aku cuma bawa ini" Diserahkanya permen berbetuk telapak kaki. Ir menghembuskan nafas kecewa. "Gangguin pagi-pagi, ngebut naik motor, macet ampun-ampuan dan nungguin bertelur cuma dikasih kaki? Dasar lampir!" Ani tertawa lebar sedangkan Ir merasa hari minggunya suram. ******************************** Perlombaan tinggal menunggu babak final dengan lima tim tersisa memperebutkan juara satu hingga harapan dua. Ani dan timnya yakin mereka bisa lolos menjadi juara pertama seperti tahun kemarin. Saat Ani mengambil kotak makan siang di panitia, ia bertemu Reksa sedang membantu mengangkat kotak-kotak makan didalam tas plastik dan menatanya di meja agar mudah dibagikan kepada para peserta yang selesai mengikuti babak semi final. Pandangan keduanya tak sengaja bersitatap dan senyum canggung pun saling dilemparkan. Selesai makan dan istirahat sejenak, kelima tim mulai memasuki ruangan yang tersedia. Tak berapa lama kemudian babak final dimulai. Terjadi saling kejar mengejar nilai sekolah Ani dengan sekolah yang memang selalu menjadi saingan berat selama bertahun-tahun. Meski sempat tertinggal jauh pada awalnya namun Ani dan tim bisa mengejar dan berhasil menempati poin tertinggi hingga juara pertama kembali diraih oleh sekolah mereka. Penyerahan hadiah dilakukan oleh Rektor universitas tersebut. Betapa senangnya Ani dan semua pendukung mereka yang turut hadir. Senang sekaligus bangga. Ketika Ani dan teman-temanya menunggu mobil sekolah datang, Reksa tiba-tiba menghampiri Ani yang tengah duduk termenung sambil meminum air dalam botol kemasanya. " Hai" Sapa Reksa basa-basi. Ani menoleh dan mendapati Reksa sudah duduk disampingnya. Ani tersenyum membalas sapaan Reksa. " Masih nunggu siapa?" Tanyanya. " Mobil jemputan dari sekolah. Hari ini ada dua lomba yang sekolah kami ikuti di tempat berbeda. Jadi ya mobilnya gantian" jelas Ani. " Masih ingat namaku kan?" Ani mengangguk. " Kak Reksa kan?" Reksa tersenyum. " Kirain lupa. Oh ya selamat atas kemenanganya" Ucap Reksa tulus. " Terima kasih. Kakak panitia lomba ini ya? mahasiswa disini juga berarti" "Iya. Kakak mahasiswa disini jurusan kedokteran" Dan mobil jemputan pun datang membuat obrolan keduanya terputus namun sebelum berpisah, keduanya saling bertukar nomor. ******************************** Satu bulan sejak pertemuan keduanya di kampus Reksa, keduanya resmi menjalin asmara dan kini sudah empat bulan mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Reksa seringkali mengajak Ani ke kampusnya sekedar melihat-lihat atau menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama teman-teman Reksa saat Ani pulang sekolah. " Mas Bagas, kenapa memilih jurusan kedokteran?" tanya Ani yang kini tiduran di paha Reksa. Keduanya sedang bersantai menikmati udara sore di taman kota Surabaya. " Karena aku ingin menyelamatkan banyak nyawa" jawab Reksa seraya jari jemarinya memilin rambut panjang Ani. "Kalau aku gak tahu pengen ambil jurusan apa nanti kalau kuliah. Mas Bagas ada saran?" Reksa memandangi gadisnya sambil mengerutkan kening tampak berpikir. Mas Bagas, nama itu adalah panggilan yang Ani berikan untuk memanggil Reksa. Diambil dari awalan nama belakang Reksa. Tentu Reksa senang karena panggilanya terasa istimewa, tidak ada yang menyamai. " Kamu kan suka memasak, coba ambil jurusan itu atau gizi, mungkin" Ani tampak menimbang saran Reksa. " Hem, lihat nanti saja" Jawab Ani yang tampak bingung. " Oh ya hari sabtu nanti ada temanku ulang tahun. Kita diminta datang, kamu ada waktu?" Ani mengangguk. Reksa menunduk kemudisn mengecup kening gadisnya penuh sayang. "Ayo pulang" Ajak Reksa kemudian membantu Ani bangun dari tiduranya. Malam minggu yang dinanti pun tiba. Reksa dan Ani sudah sampai di salah satu tempat karaoke. Acara yang diadakan bukan pesta meriah melainkan hanya berkumpul bersama berbagi kebahagiaan dengan menu makanan seadanya. " Kalian terlihat mesra sekali" ujar salah satu perempuan yang diakui sebagai kekasih oleh teman Reksa yang berulang tahun. " Ya seperti ini Mbak " jawab Ani malu-malu. " Kalungmu bagus. Pasanganan ya sama Reksa?" tebak perempuan tersebut begitu melihat kalung berbandul separuh hati di leher Ani. " Eh iya" Si perempuan hanya mengangguk mengerti. Reksa yang tadi sedang memilih lagu kini duduk disamping Ani. "Mau lagu apa? Ayo nyanyi"Tanyanya lembut sekaligus mengajak. "Suaraku jelek, kamu aja yang nyanyi" tolak Ani halus. Tak enak dengan dorongan teman-temanya, Reksa pun menyanyikan sebuah lagu membuat Ani terkesima. Malam semakin larut, obrolan yang tadinya seru kini berganti rasa lelah yang mendera. Saat mereka pulang, hujan turun begitu deras. Rumah Ani sedikit jauh dari tempat karaoke dibanding teman Reksa lain karena mereka kebanyakan tinggal di kontrakan maupun di kos dekat tempat karaoke. Reksa yang merasa tidak tega melihat kekasihnya basah kuyup jika nekat pulang menembus hujan akhirnya menerima tawaran kekasih temanya untuk menginap di kontrakaanya. Reksa mengantar Ani. Begitu hendak berpamitan pulang, temanya menawari Reksa untuk menginap juga. Memepertimbangkan hujan yang semakin lebat disertai angin kencang dan dirinya hanya mengendarai sepeda motor serta karena Ani merasa tak nyaman di kontrakan tersebut akhirnta mau tak mau Reksa ikut menginap. Tanpa disadari keduanya, wine putih yang disuguhkan ternyata bercampur dengan penyulut hasrat membuat keduanya terperangkap dalam api gairah. Baik Ani maupun Reksa begitu merasa panas menjalari sekujur tubuhnya seprti ada sesuatu yang melesak ingin segera dilepaskan. Kabut gairah memenuhi pandangan keduanya, akal sehat dikesampingkan dan kesadaran mulai menghilang. Yang ada hanya rasa ingin tahu, ingin menyentuh hingga penyesalan menjadi titik akhir keduanya. Begitu tersadar, Ani menjerit ketakutan. Noda merah yang ia seka dengan sapu tangan miliknya menjadi saksi bisu bahwa dia hancur. Disaat Reksa menyadari perbuatanya sudah melewati garis batas kewajaran, ia pun menyesal. Ditenangkan raungan Ani yang berurai air mata sambil menekuk lututnya. Permintaan maaf tak digubrisnya, hati dan harga dirinya hancur berkeping-keping. Reksa yang panik pun hanya bisa meremas rambutnya frustasi. " Aku akan bertanggung jawab" Lirih Reksa kesekian kali selain kata maaf. " Kamu mudah mengatakan itu Mas, setelah kamu mengahancurkanku" teriak Ani. " Kamu pikir dengan ucapan tanggung jawab itu bisa mengembalikan waktu dan kehormatanku? Kenapa kamu tega melakukan ini Mas, apa salahku" Tangis Ani semakin pilu. " Aku hancur Mas, aku hancur" Reksa mendekap kekasihnya erat meskipun gadis itu meraung-raung dan meronta. " Seharusnya kita tidak pernah bertemu, tidak datang ke pesta itu dan menginap disini" Tangis Ani mulai reda kemudian kesadaranya hilang. Ia jatuh pingsan. Reksa segera mengantarnya ke rumah dini hari. Begitu sampai di rumah bibinya, bermacam makian ia terima dari wanita yang dipercaya menjaga Ani selama menempuh pendidikan di Surabaya. Meski berkali Reksa meminta maaf dan mengatakan dirinya akan bertanggung jawab apapun yang terjadi nantinya, ia tetap saja diusir dan dimaki tanpa henti. Beberapa hari kemudian Reksa kedatangan Monica yang sedang mampir karena mengurusi beberapa cabang perusahaanya di kota tersebut. Begitu melihat anak semata wayangnya yang mengenaskan didalam rumah kontrakan membuat Monica segera mencari tahu penyebab anaknya sampai melewatkan tugas serta ujian semester yang sedang berlangsung. Begitu mengetahui hubungan serta kejadian yang menimpa anaknya, Monica kaget bukan kepalang. " Aku mau menikahinya Ma" ucap Reksa begitu Monica mengorek informasi sejelas-jelasnya dari mulut anaknya. " Jangan gila!" Bentak Monica " Kami akan menikah Ma, tolong restui kami dan lamarkan aku kepada orang tuanya" " Mama tidak setuju. Dia hanya akan menjadi bebanmu. Lagipula perempuan itu masih bau kencur. Kesuksesanmu akan terhambat" Reksa memohon dengan sangat. "Aku akan kuliah sambil brkerja untuk kehidupan kami" "Reksa, dia hanya perempuan yang mungkin saja menjebakmu agar bisa masuk dalam kehidupan kita. Lagipula dia bodoh mau merusak masa depanya sendiri" Monica tampak geram. Ia membela anaknya tidak bersalah, perempuan itulah yang berusaha menjebak anaknya. " Ma, ini semua kesalahanku jangan limpahkan pada Ani" Monica tak peduli. Ia hanya memikirkan masa depan anaknya yang terancam terhambat karena kemauanya menikah dengan gadis itu. Bisa saja anaknya tidak akan fokus belajar melainkan memikirkan perempuan rendah bernama Ani. Tanpa Reksa ketahui, Monica datang ke rumah bibinya Ani menyerahkan uang dan memintanya menjauhi kehidupan Reksa. Dan dengan kesombonganya ia terus memaki, dari awal Ani hanya memanfaatkan uang Reksa dan sampai kapanpun keluarganya tidak pantas bersanding dengan keluarga Monica. Ani dan keluarganya ikut sedih bahkan tersulut emosi dengan tingkah Monica. Namun daripa menanggapi makian Monica, mereka lebih memilih segera menyembuhkan trauma Ani yang semakin parah dengan membawanya ke psikiater dan memulangkanya ke kampung halaman. ---------------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD