ADIBEL 6

1095 Words
Aldi memasang raut wajahnya kesal, gabut dan juga badmood. Rasanya tidak ada yang membuatnya semangat untuk bersekolah hari ini. Laki-laki itu hanya menyenderkan tubuhnya di balkon belakang sekolah Bersama Shawn dan Nathan. Nathan dan Shawn tengah asik bergelut dengan asap rokok tapi tidak dengan Aldi yang hanya diam dengan tatapan kosong. "Shawn, lo pernah dengar kisah serem di sekolah kita enggak?"tanya Nathan yang mulai angkat bicara, Shawn menaikkan sebelah alisnya bingung kearah Nathan,"emang apa?" "Banyak hantunya, makanya enggak usah ngelamun entar kesambet,"jelas Nathan dan Aldi hanya menyengir. "Kalau gue kesambet, lo target utama gue Nath,"celetuk Aldi dan Nathan hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Shawn menjatuhkan putung rokok tepat dibawah kakinya kemudian menginjaknya agar padam,"lo kenapa Di?"tanya Shawn yang mulai care akan sahabatnya itu. Aldi menarik nafasnya panjang,"kangen Abel gue Shawn, karna gue dia di skor." "Kerumah dia aja kenapa Di? Minta maaf gitu ya sambil modus ketemu calon mertua,"saran Nathan yang membuat Aldi langsung bersemangat dan mengangguk cepat. "Ternyata dibalik kebolotan lo itu, masih ada seupil kepintaran,"puji Aldi sembari mengacak rambut Nathan, Nathan hanya tersenyum sembari menepuk dadanya bangga. Aldi langsung berlari memanjat balkon untuk bolos kerumah Abel, namun langkahnya terhenti. Shawn dan Nathan saling berpandangan sejenak sembari menaik turunkan alis mereka. "Gue kagak tau rumahnya!"cetus Aldi dan Shawn membuang nafasnya kasar. "Lo juga bego ternyata Di, apa guna adek lo geblek." Aldi langsung teringat akan Derrick yang satu extra dengan Abel. Enggak mungkin Derrick tidak menyimpan nomor atau tidak tau rumah Abel, apalagi Abel ketua ekstra musik. Bukan abang gue Hoy. Derrick yang tengah sibuk menikmati mata pelajaran fisika langsung mengernyitkan dahinya ketika membaca pesan dari Aldi. Der jelek Aldi ganteng Knp? Bukan abang gue Lo ada nomor, line, pin dan alamat rumah pacar gue enggak? Calon sih tapi entar lagi jadian. (Aminn ya allah) Der jelek Aldi ganteng. 0***** line,Abelteressa2, pin D7298031, gdg cmpka 32. Bukan abang gue. Unchh makin sayang sama Abel {} Derrick meletakkan ponselnya kembali, kemudian mengikuti pelajaran fisika dengan khimat. Tak lama kemudian ponsel Der kembali berdering. Der menghembuskan nafasnya kasar kemudian membaca pesan yang masuk ke ponsel milik Der. Bukan abang gue Mobil gue pecah ban tadi, mobil lo gue pake. Lo naik angkot aja ya! Gue lagi otw rumah Abel nih. Der menggelengkan kepalanya pelan, bukan hal yang tidak biasa bagi Der. Memang dirinya yang selalu mengalah terhadap Aldi. Der jelek Aldi ganteng Emng bngst lo bang. Aldi hanya terkekeh ketika membaca pesan dari Derrick, aldi langsung meletakkan ponselnya. Laki-laki itu sibuk celingak-celinguk mencari rumah Abel, diujung jalan ia melihat rumah mewah tetapi minimalis, berbalutkan cat merah jambu, dengan pagar yang besar dan halaman yang sangat luas. Aldi melihat nomor rumah itu berangka 32. Laki-laki itu langsung memencet bel pagar hitam pemilik dari rumah mewah itu. Keluarlah wanita paruh baya yang membukakan pagar besar itu. "Cari siapa den?"tanya wanita itu sesopan mungkin yang terlihat seperti pegawai dari pemilik rumah itu. "Maaf bu sebelumnya, ini rumah Abel bukan? Abel calon pacar saya itu bu, saya calon pacarnya,"wanita paruh baya itu tersenyum bahagia,"benar den, masuk den masuk,"ujar nya sesopan mungkin dan Aldi mengendarai mobilnya untuk masuk ke pekarangan rumah Abel. "Masuk aja den,"ucap wanita itu sesopan mungkin dan Aldi hanya mengangguk. Aldi masuk kerumah mewah itu, kemudian celingak-celinguk mencari sosok Abel. "Abelnya dimana ya bi?"tanya Aldi kepada wanita itu. "Di kamar den biasanya, kamarnya dilantai dua, pintunya warna pink ada tulisan nama Abella teressa." Aldi mengangguk dan langsung naik kelantai dua untuk menemui Abel. Tatapan Aldi jatuh kepada pintu berwarna merah jambu yang sangat menarik, lucu dan unyu bagi Aldi. Tok ... tok ... tok Aldi mengetuk pintu namun tak ada sahutan sama sekali dari sang pemilik kamar. Aldi kembali mengetuk pintu dan respon masih tetap sama. Akhirnya Aldi memilih untuk masuk sendiri, kebetulan kamar Abel tidak terkunci. Aldi menahan tawanya ketika melihat isi kamar Abel yang keseluruhannya berwarna merah jambu,"cewek amat sih Bel." Mata Aldi menatap seorang perempuan cantik yang tengah tertidur dimeja belajarnya. Abel memang anak yang sangat rajin, belajar sampai tertidur kayak gitu. Aldi merapikan rambut Abel yang sudah berantakan dan hampir menutupi setengah wajahnya. Laki-laki itu menatap lekat wajah Abel, bahkan saat tidur saja Abel terlihat jauh lebih cantik. Aldi mengangkat tubuh Abel untuk tidur diatas kasurnya kemudian menyelimuti gadis itu. Aldi duduk disebelah Abel sembari menyandarkan kepalanya, karena diserang kantuk yang berat Aldi akhirnya pun ikut teridur disamping Abel, dengan posisi tengah memeluk Abel. Hari sudah menjelang sore, Aldi dan Abel masih tertidur dengan posisi Aldi memeluk Abel dan Abel memeluk Aldi. Aldi bahkan belum menggantikan seragam sekolahnya dan hari sudah menjeleng petang. Abel mengerjapkan bola matanya ketika sinar senja masuk melalui celah jendelanya, gadis itu menggeliat pelan. Abel mengernyitkan dahinya bingung, ketika sesuatu yang keras tengah memeluk dirinya, ia melihat sebuah tangan yang kekar tengah memeluk dirinya erat, gadis itu beralih menatap keatas dan terlihat jelas wajah tampan Aldi yang tengah tertidur. "ALDi!!!"teriak Abel dan Aldi langsung terbangun sembari mengucek matanya. "Kenapa sih Bel?" "Lo ngapain gue?"tanya Abel dengan wajah kesalnya. Aldi mengerutkan dahinya bingung,"ya gue tidur Abel sayang." Abel menggeleng tak percaya,"ternyata lo b******k banget ya Aldi, awalnya gue enggak percaya dan sekarang gue percaya kalau lo itu brengsek." Aldi semakin tak mengerti kemana arah pembicaraan Abel kini,"kalau gue hamil gimana?" "Emang siapa yang ngehamilin?"tanya Aldi lagi bingung. "Lo yang ngehamilin gue Aldi." "Gue? Kalau lo hamil gue jadi bapak dong." Abel rasanya ingin mencakar muka tampan Aldi sekarang juga. Aldi mendekat kearah Abel kemudian membawa gadis itu kedekapannya. "Lo enggak bakal hamil, gue enggak ngapa-ngapain lo kok, tadi itu lo ketidur dimeja belajar. Terus gue gendong, gue pindahin ke tempat tidur lo, gue awalnya cuma mau nungguin lo bangun tapi lo kebo, ya gue ketiduran juga."jelas Aldi kemudian melepaskan pelukannya. Abel menundukkan wajahnya dihadapan Aldi, apa yang gadis itu katakan tadi sangatlah memalukan. Apalagi sampai menuduh bahwa Aldi menghamilinya. Abel tidak tau mau menaruh wajahnya dimana lagi. "Gue mau minta maaf, karna gue udah ngebuat lo di skor." Abel berdiri kemudian duduk di sofa dekat jendela kamarnya. "Udah gue maafin kok, lo udah lama disini?"tanya Abel penasaran sembari menatap Aldi yang juga ikut duduk dihadapannya. "Lumayan sih, dari pagi soalnya." Abel memyipitkan matanya kearah Aldi,"lo bolos?"dan Aldi mengangguk enteng. Ya, sangat tidak heran lagi bagi semua orang jika Aldi bolos sekolah tapi kali ini beda, ia bolos untuk pergi kerumah Abel. "Ck, enggak bosen apa ngebuat masalah?"decak Abel kepada Aldi. Aldi memanyunkan bibirnya sembari menggeleng pelan,"bosen itu nungguin lo yang enggak pernah mau peka." "Ish, apaan sih." "Bel lo masih enggak mau jadi pacar gue?" Abel berpikir sejenak kemudian menggeleng cepat,"enggak." "Kalau gitu jadi sahabat boleh dong?"tanya Aldi dan Abel mengangguk ragu,"boleh."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD