ADIBEL 5

924 Words
Aldi mengendarai mobilnya menuju rumah, Derrick sibuk membaca buku sedangkan Aldi sibuk berkicau enggak jelas. "Ya allah, gimana kalau papa tau? Mobil gue disita lagi? Ya naik angkot lagi gue, masa anak terganteng di Padipura naik angkot,"celoteh Aldi sembari mengendarai mobilnya. Ia membayangkan bagaimana rasanya Aldi naik angkot, desak-desakkan, dempet-dempetan, senggol-senggolan. "Huaaaaa gue kagak mau, ntar uang jajan gue dipotong!" "Berisik,"tegur Derrick yang merasa terganggu karena Aldino. Aldino memanyunkan bibirnya sambil memasang muka sedihnya dihadapan Derrick. "Derrick, lo kan adek tersayang gue nih, kalau mobil gue disita gue pergi bareng lo ya? Kalau jajan gue dipotong gue minta sama lo ya,"rengek Aldi yang persis seperti anak kecil kehilangan balon. "Dih? Gue punya screen shoot lo ngomongin gue bangsat." "Itu mah typo Der, ayo dong Der,"rengek Aldi lagi kepada Derrick. Sepertinya yang terlihat lebih dewasa disini adalah Derrick, malah Aldi yang merengek seperti seorang Adik. "Jajan gue yang dikit dong kalau gitu,"decak Derrick sembari memiringkan bibirnya. "Iya,"lanjut Derrick lagi. Aldi tersenyum kearah laki-laki itu kemudian merangkul Der erat, sedangkan tangannya satu lagi tengah menyetir. "Adek tersayang gue lo." Aldi memasukkan mobilnya kedalam gerasi pekarang rumahnya yang begitu mewah dan elegant. Aldi berjalan dengan sedikit ragu diikuti juga dengan Der yang sibuk membaca buku disampingnya. "Mama galak, Aldi pulang,"teriak Aldi yang langsung membuka sepatu dan kaus kakinya kemudian diletakkanya dirak sepatu begitu juga dengan Der. Angel yang tengah duduk disofa ruang tamu, langsung menengok kearah Der dan Aldi yang baru saja pulang. Sofi langsung menghampiri adik-adik tertampannya itu kemudian memeluk mereka satu-satu. "Eh kak sofi, makin jelek aja,"ledek Aldi dan sofi langsung mencubit pinggang Aldi sehingga laki-laki itu meringis kesakitan. "Kagak berubah lo petakilannya ya Di." Derrick langsung menghampiri Janson Attariqi yaitu papa mereka, yang sudah menunggui mereka diruang tamu. "Apa kabar pa?"tanya Derrick sembari menyalami papanya, Janson langsung berdiri dan memeluk Derrick. "Baik, baik, kamu apa kabar? Enggak ada masalah kan di sekolah?"tanya Janson kepada Der yang membuat laki-laki itu menggeleng pelan. "Der mah enggak pernah buat masalah, yang sering buat onar itu A-." "Anak nakal!"sambung Aldi sambil duduk disofa dan menutup mulut Angel untuk tidak berbicara terlalu jauh. Sofi menaik turunkan alisnya bingung. Ia tau sifat Aldi, pasti Aldi buat onar lagi. Dari SD waktu sofi satu sekolah dengan Aldi, laki-laki itu selalu membuat masalah. Bersilat lah diatas meja murid, memberi balsem dibangku guru, nembak cewek sekaligus 5 dalam sehari dan itu membuat sofi benar-benar pusing ketika ia satu SD dengan Aldi. Aldi tersenyum sembari menampakkan sederet gigi putihnya ke arah Janson,"mama, kalau mama enggak ngadu, Aldi temenin mama jalan deh, janji!"bisik Aldi ditelinga Angel. Angel langsung tersenyum sumringah atas penawaran dari Aldi, belanja dengan Aldi itu menyenangkan, Aldi tau fashion dan tau yang mana barang bagus dan jelek walau terkadang selalu menyindir mamanya seperti,'kayaknya barang itu terlalu mahal buat mama pakai deh.' "Enggak ada masalah kok pa,"Angel berujar dan Janson menampakkan senyumnya. "Papa kira Aldi mukulin anak orang lagi,"sambung Janson dan Aldi hanya tersenyum manis. "Kak Sofi kok pulang? Udah selesai kuliah dilondon nya?"tanya Aldi sembari menautkan sebelah alisnya kearah Sofi. Angel dan Janson tersenyum jahil kearah Sofi dan gadis itu terlihat malu,tampak dari rona pipinya yang mulai kemerahan. "Kak sofi mau nikah di Indonesia,"jelas Janson sembari terkekeh. "Ha?"Der menyipitkan matanya tak percaya kearah Sofi. "Wtf!"sambung Aldi lagi tak percaya. "Aldi!"cetus papanya dan Aldi hanya terkekeh kecil,"hehehe sorry pa khilaf." "Der enggak nyangka aja kak Sofi nikah, padahal jomblo melulu,"ucap Der tak percaya dan Sofi mengerucutkan bibirnya. "Emang ada yang mau sama tulang berjalan?"ledek Aldi lagi dan Sofi langsung menghampiri Aldi kemudian mencubit pinggang Aldi. Adawww! "Ya allah, apa salah hambamu?" Ringis Aldi sehingga Janson,Angel dan Der hanya tertawa melihat tingkah Aldi. Sofi memperlihatkan tubuhnya yang tengah memakai rok selutut, dengan sweater merah muda, gadis itu bekacak pinggang dihadapan Angel. "Ma? Kakak kurus banget ya?"rengek Sofi kepada Angel, Janson dan Der hanya menahan tawanya atas pertanyaan Sofi. "Enggak kok sayang,"jawab Angel dan Sofi tersenyum sumringah. "Kalau enggak gemuk,"lanjut Angel lagi. Sofi yang tadinya tengah tersenyum langsung memasang raut wajahnya kesal. "Ihhh mama!" "Mama kenapa enggak ngabarin kalau mau pulang?"tanya Abel sembari menyuapkan makananya kedalam mulutnya. Sena sang mama hanya tersenyum kearah anak gadisnya. "Mama cuma bentar kok, soalnya ada anak temen mama yang mau nikah, habis ini mama pulang ke paris lagi,"jelas Sena dan Abel hanya membuang nafasnya kasar. Apakah Sena pantas dianggap sebagai seorang mama? Setelah meninggalkan gadis itu bertahun-tahun bersama papanya, kemudian papanya meninggal dunia dan Abel harus tinggal sendirian yang hanya ditemani oleh kesepian? Bahkan Sena tak bisa melihat pemakaman terakhir suaminya karena sibuk bekerja. Sena terlalu sibuk dalam mencari uang, padahal keluarganya sudah terkenal sebagai orang terkaya, tapi kenapa itu belum cukup memuaskan hati Sena? Bukankah mudah permintaan Abel kepada Sena? Abel cuma ingin Sena menetap diindonesia bersamanya, kemudian mengurus Abel sama seperti ibu teman-temannya yang lain. Sena bahkan tidak pernah tau, masalah-masalah berat yang Abel hadapi,dan lebih tepatnya enggak pernah ingin tau. Prioritas bagi Sena hanyalah pekerjaan, terkenal, dan kedudukan. Sampai Sena lupa ia masih punya satu orang dalam keluarganya yang sangat menyayangi dirinya, yaitu Abel anak tunggal dari Seorang Sena teressa wiliams dan Jeck Wiliams. "Abel tau kok mama sibuk, pekerjaan prioritas mama kan ma?"sindir Abel dan Sena hanya tersenyum kearah Abel,"kalau mama enggak kerja, mama enggak bakal bisa menuhin kebutuhan kamu Abel." Abel berdecih dan langsung menghentikan aktifitas makan siangnya,"kurang kaya apalagi ma? Hidup Abel sudah serba berkecukupan ma, cuma kurang satu doang, perhatian dari seorang mama." Abel pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya, sedangkan Sena hanya menatap kepergian Abel sembari tersenyum kecil,"Abel belum ngerti banget soal perhatian deh kayaknya,"lirih Sena menatap kepergian anak gadisnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD