ADIBEL 9

1485 Words
Abel tampak berkaca untuk melihat penampilannya, apakah aneh? Ataukah terlihat lucu? Apa ada yang kurang. Sudah beberapa jam lebih Abel memilih baju untuk kencan bersama Aldi. Kenapa gadis itu sekarang tampak benar-benar gugup. Abel merasakan jantungnya sudah berdetak lebih kencang daripada sebelumnya. Ia takut penampilannya akan jelek nanti dimata Aldi. Dirinya terlalu terobsesi saat ini. Sena masuk ke kamar Abel yang sudah acak-acakkan. Sena menggelengkan kepalanya pelan melihat Abel yang tengah berdiri didepan kaca. "Ya ampun Abel, kok berantakan kayak gini sih,"dumel Sena dan Abel hanya memanyunkan bibirnya kemudian duduk disofanya. "Abel bingung mau pake baju apa,"jelas Abel dengan wajah kecewanya. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 bentar lagi pasti Aldi datang untuk menjemputnya. Sena melihat putrinya itu kemudian mengambil salah satu baju dilemari Abel. "Ini aja deh simple,"saran Sena sembari memberikan baju itu untuk Abel pakai. Bel rumah Abel berbunyi, yang berarti Aldi sudah datang, Sena turun kebawah untuk mengahampiri Aldi sedangkan Abel langsung bersiap-siap untuk pergi. Seusai bersiap-siap Abel turun kebawah untuk menemui Aldi. Aldi tengah duduk disofa sembari menundukkan kepalanya,"Di,"panggil Abel sehingga laki-laki itu mendongakkan kepalanya. Aldi menatap gadis itu takjub, Abel benar-benar cantik,sungguh. Abel mengenakan sweater merah maron dengan rok pink pendek selututnya. "Lo cantik banget,"puji Aldi sembari berdiri dan menggenggam erat tangan Abel. "Tan, Aldi izin bawa Abel yah,"pamit Aldi kepada Sena, Sena tersenyum manis kemudian mengangguk,"jangan malam banget pulangnya." Aldi mengangguk pelan kemudian pergi mengendarai mobil sportnya meninggalkan pekarangan rumah Abel. Abel hanya menatap dinginnya malam dari luar jendela, sedangkan Aldi menatap Abel bingung. "Bel, lo enggak seneng ya kencan sama gue?"pertanyaan yang Aldi lontarkan membuat Abel menatap kearah Aldi sekilas. "Seneng kok, cuma gue bingung. Lo kan sukanya sama cewek yang pakaiannya tertutup, sedangkan gue?" Aldi terkekeh mendengarkan pernyataan dari Abel. "Lo lagi mau ngebuat gue tertarik ya Bel?" Sontak Abel terdiam dan malu, Aldi terkekeh kemudian mengacak pelan rambut sepunggung milik Abel yang ia biarkan tergurai,"Bel gue emang suka sama cewek tertutup, tapi dengan apa adanya lo gue lebih suka Bel." Deg! Lagi-lagi jantung Abel bekerja lebih cepat dari pada sebelumnya. Aldi sangat merasa bahagia melihat perubahan sikap Abel kepada dirinya. Aldi mengendarai mobil sport hitamnya memasuki area dufan. Abel melemparkan pandangannya ke sekeliling area tersebut takjub, tampak ada beberapa wahana yang terlihat mengasyikkan dan juga lampu berwarna-warni yang indah. Aldi memarkirkan mobilnya diparkiran dufan. Abel belum pernah pergi kesini sebelumnya, gadis itu kan begitu menyendiri dan tidak begitu mengenal apa yang ada disekitarnya. "Turun yuk Bel,"ajak Aldi kepada Abel. Aldi dan Abel pergi memasuki pintu masuk dufan. Aldi menyerahkan tiket mereka kepada wanita muda penjaga gerbang masuk itu, kemudian tangan mereka bedua di cap sebagai tanda sudah membayar tiket. Abel berlarian kecil ketika memasuki wahana dufan itu. Abel tidak pernah berfikiran kalau Aldi akan mengajak dirinya ketempat seindah ini. "Aldi gue mau naik itu,"rengek Abel sembari menggoyangkan lengan Aldi, persis layaknya seperti anak kecil. Aldi melemparkan pandanganya ke arah yang Abel tunjuk, Abel mengarahkan telunjuknya kearah bianglala raksasa. "Emang lo berani naik yang gituan?"tanya Aldi ragu dan Abel memanyunkan bibirnya,"beranilah, mau naik itu Aldi,"rengek Abel lagi. Aldi akhirnya pasrah, Aldi menuruti kehendak Abel untuk menaiki bianglala raksasa itu. Abel tampak sangat bahagia, mereka harus mengantri untuk menaiki bianglala raksasa tersebut. Setelah lama mengantri akhirnya giliran mereka untuk menaiki wahana tersebut. Abel yang tadinya tampak antusias, setelah bianglala perlahan-lahan naik semakin keatas, Abel tampak takut dan memejamkan matanya. Aldi terkekeh kecil kemudian menggengam tangan Abel yang dingin,"katanya berani, ahh cemen,"remeh Aldi kearah Abel. "Tinggi banget sumpah, gue takut,"ujar Abel yang kemudian menyandarkan kepalanya dibahu Aldi. Tidak ada yang lebih bahagia bagi Aldi selain melihat orang yang ia sayangi bahagia. Sudah putaran kedua bianglala tapi Abel masih bersikeras untuk menutup matanya,"kalau lo enggak ngebuka mata lo, lo mana bisa ngeliat keindahan disekitar lo Abel." Perlahan-lahan Abel membuka matanya, gadis itu memberanikan diri menatap kearah disekitarnya. "Tinggi banget Di, gue takut." "Liat keatas deh,"tunjuk Aldi kepada Abel, Abel mengikuti arah jari telunjuk Aldi, Abel melihat banyak bintang yang bertaburan. Bangunan jakarta yang terlihat menyala dan banyaknya lampu berawarna warni. "Selfi yuk Bel,"ajak Aldi kepada Abel, mereka selfi dengan berbagai eksperessi, sampai ke ekspressi konyol yang menggemaskan. Setelah naik wahana bianglala, Aldi mengajak Abel untuk masuk kedalam istana boneka. Dari namanya saja sudah jelas, pasti banyak boneka didalamnya. Abel dengan sangat antusias untuk masuk kedalam wahana istana boneka tersebut. Untuk masuk kedalam istana boneka, mereka disuguhkan dengan kereta air. Jadi, pengunjung yang ingin masuk kedalam wahana tersebut hanya duduk didalam kereta air yang akan membawa mereka berkeliling ke istana boneka. Abel menatap kearah kanan, kiri yang sudah dipenuhi dengan banyak boneka, semuanya tampak cantik. Bahkan ada boneka yang memakai baju adat masing-masing daerah. Ada juga boneka yang memakai baju kebangsaan berbagai negara. Aldi yang membawa kamera sendiri langsung memotret Abel. "Aldi, asal potret aja, jelek ih! Hapus pokoknya,"celoteh Abel kepada Aldi. Aldi mencibir kearah gadis itu,"enggak ah, gimana pun lo tetap cantik Abel." "Aldi hapus!" "Cium dulu, baru gue hapus,"goda Aldi yang mendapatkan pelototan dari Abel. "Ck, m***m banget sih,"decak Abel yang akhirnya mengalah. Seusai memasuki wahana istana boneka, giliran Aldi untuk mengajak Abel mencoba wahana roolcoster. "Aldi, gue kagak berani ah,"tolak Abel kepada Aldi, Aldi tampak kecewa sembari menatap Abel dengan tatapan memohon. Akirnya Abel mengangguk kecil. Mereka akhirnya menaiki wahana tersebut, Aldi tampak tidak sabar lagi sedangkan Abel memasang raut mukanya takut. Silahkan periksa sabuk pengaman anda terlebih dahulu, sebelum wahana ini benar-benar dimulai. Roolcoster siap meluncur, Abel berteriak histeris, karena wahana tersebut melaju dengan kecepatan tinggi, apalagi ketika berbelok memutar kebawah, rasanya Abel benar-benar ingin terjatuh dari wahana tersebut. Abel memikirkan bagaimana jika ia terjatuh dari wahana tersebut, sangatlah menyeramkan bagi gadis itu. Sesudah menaiki wahana tersebut Abel langsung cepat-cepat menjauh,"sumpah, ini menyeramkan,"dumel Abel kesal dan Aldi hanya tersenyum. "Bel main lempar kaleng yuk,"ajak Aldi kepada Abel. Abel hanya duduk sembari memijit betisnya,"gue capek keliling-keliling Di,"ujar Abel kepada Aldi. Laki-laki itu tersenyum manis kearah Abel. Aldi berjongkok dihadapan Abel sembari menepuk punggungnya,"Aldi, malu diliatin banyak orang,"protes Abel. "Yaelah omongan orang lo dengerin, naik cepet Bel, gue tinggal entar. Biar lo kayak gelandangan disini." Abel mengerucutkan bibirnya kesal,"jahat amat sih." Abel akhirnya naik keatas punggung Aldi. Mereka berdua menjadi sorotan pengunjung dufan, Aldi tidak peduli yang penting malam ini ia benar-benar bahagia. Laki-laki itu berhenti disalah satu stan es cream sejenak, laki-laki itu memberi semangkuk ice cream untuk Abel. "Lo enggak mau?"tanya Abel yang berada digendongan Aldi. Aldi tersenyum simpul kemudian menggeleng,"kalau gue juga makan ice cream, berarti lo gue jatuhin, kan gue lagi ngegendong anak gajah." "Aldi!" "Lo ringan kok sayang." Aldi berjalan menuju wahana lempar kaleng, Abel tengah menikmati ice creamnya. "Lo mau Di?"tanya Abel kepada Aldi,"boleh." Abel menyuapkan ice creamnya kemulut Aldi. Baru saja Abel ingin mengambil kembali ice creamnya, malah tumpah sedikit ke jaket Aldi. "Di, sorry,"lirih Abel dengan rasa bersalahnya. "Udah, enggak papa." Akhirnya mereka sampai ke wahana lempar kaleng, Abel ingin turun dari gendongan Aldi, tapi Aldi menahannya. "Gue gendong sampai keparkiran Bel,"ujar Aldi kepada Abel. "Gue berat Aldi." "Enggak kok Bel." Aldi memberikan uang lima ribuan kepada orang yang berdiri didepan stan lempar kaleng. Orang tersebut memberikan Aldi tiga bola karet kecil, jika Aldi berhasil menjatuhkan semua kaleng tersebut, Aldi bebas memilih boneka yang ia suka. Lemparan pertama Aldi meleset, tak ada kaleng yang jatuh. Lemparan kedua hanya ada beberapa kaleng yang jatuh. Aldi mendenguskan nafasnya kesal,"fokus Di, fokus sama target yang lo mau,"Abel berujar. Aldi melemparkan bola ketiga, dan sukses menjatuhkan semuanya. Aldi memilih boneka shaun the sheep kemudian memberikannya kepada Abel. Abel memeluk boneka tersebut erat. Hari sudah larut malam, akhirnya Aldi memutuskan untuk mengajak Abel pulang. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, mengguyur mereka dan pengunjung dufan yang lainnya. Aldi menurunkan Abel lalu memberikan jaketnya kepada Abel,"lo aja yang makai, entar lo kedinginan Di." "Terus lo kira gue tega ngeliat lo kedinginan? Sedangkan gue enggak. Ck, pake Bel,"ujar Aldi dan terpaksa Abel memakai jaket Aldi. Jujur, Abel merasa nyaman bersama dengan Aldi. Perlakuan Aldi benar-benar manis terhadap dirinya. Hujan mengguyur mereka sehingga mereka basah kuyup, Aldi membawa Abel menuju parkiran kemudian masuk kedalam mobilnya. "Bel, kebetulan gue bawa baju ganti, lo ganti gih dibelakang mobil,"saran Aldi dan Abel menggelengkan kepalanya. "Terus, lo kira gue tega ngeliat lo kedinginan?" "Abel, gue itu cowok, kalau lo sakit entar nyokap lo kagak nyuruh gue jalan sama lo lagi, dan mama galak gue bakal marah,"jelas Aldi dan Abel akhirnya menuruti kehendak Aldi. "Jangan ngintip ya, awas aja lo,"ancam Abel, Aldi hanya tersenyum jahil. "Waktu lo tidur bareng gue beberapa hari yang lalu, gue sempet ngeliat kok Bel,"goda Aldi kepada Abel. Abel melototkan matanya kearah Aldi kemudian mencubit kuat pinggang Aldi, sehingga laki-laki itu meringis kesakitan. "Sakit Bel, masya allah bercanda doang,"ringis Aldi dan Abel melepaskan cubitannya. "Awas aja ngintip!" Aldi menutup matanya kuat,"sudah,"cetus Abel sembari pindah duduk didepan. Aldi menahan tawanya ketika melihat Abel memakai baju kausnya yang kebesaran, dan juga celana panjang milik Aldi. "Lucu ya?"tanya Abel tidak pede. Aldi menggeleng sembari tersenyum,"mau gimana juga lo tetap cantik Bel." "Udah ah, yuk pulang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD