Mas tak inginkah dirimu mempertahankan keluarga kita agar tetap utuh

1872 Words
Perkataan Mas Imron membuatku tercengang Tetapi segera ku tepis , tak ingin rasanya aku mengiyakan begitu saja pernyataan mas Imron. " Aldy mandi yuk " ajakku pada Aldy " Siap mama. " Jawab Aldy sambil berlari menuju kamar mandi " Jangan memberikan harapan apapun jika kemudian kamu lepaskan " ucapku pada Mas Imron, kemudian berlalu tanpa Mas Imron sempat mengucapkan sepatah kata. ** Drrrrt Ponselku bergetar tetapi aku memilih untuk mengabaikannya dan tetap fokus untuk menyusun jadwal belajar siswa ku Drrrt drrrt Namun lagi lagi ponselku bergetar seperti ada hal yang sangat mendesak sehingga berulang kali menghubungi aku Devi Untuk apa dia menelfonku Aku mencoba untuk mengabaikannya namun kegigihannya untuk menghubungiku akhirnya membuatku menyerah " Ya " jawabku dengan Nada Malas " Mbak, kok gak buka Wa ku sih " ucapnya dengan manja di seberang telfon " Gak usah basa basi. Aku repot " jawabku ketus " Wa nya di buka ya Mbak " ucapnya lalu menutup sambungan telfon Apa sih maunya perempuan ganjen ini Perlahan ku geser menu, untuk melihat pesan yang di maksud oleh Devi. Apa yang akan dia tunjukan padaku Tetapi " Ibu Anita, boleh saya minta tolong " Pak Sanusi, yang merupakan kepala sekolah tempatku mengajar membubarkan niatku yang akan melihat pesan dari Devi " Oh iya Pak " " Begini Bu, tolong Ibu hadir di acara ini ya Bu " ucapnya memberikan undangan yang Ku tahu ini adalah seminar " Maaf karena saya ada jadwal pelatihan " lanjutnya kemudian " Baik Pak, saya akan berangkat sekarang " ucapku Aku segera mengendarai motor maticku menuju lokasi yang tertera pada undangan ini. Setelah satu jam berkendara aku pun sampai pada gedung serbaguna yang berada di pusat kota. Ku parkirkan motorku dan segera berjalan menuju ruangan yang telah di tentukan Dengan seksama ku ikuti acara demi acara yang telah berlangsung Jam menunjukan pukul empat sore Dan acara ini pun baru selesai Dengan bercengkrama dengan sesama guru kami keluar ruangan " Anita " seseorang menyapaku " Mas Hendra " jawabku " Hai Anita Apa kabar " sapanya seraya mengulurkan tangannya " Kabar baik " ucapku tersenyum dan menjabat tanganya Mas Hendra adalah seseorang yang sempat dekat denganku Aku mengenalnya karena dia adalah kakak tingkat di perkuliahan dahulu. Hingga akhirnya kami berpisah karena Dia lulus tes cpns dan di tempatkan di luar jawa Setelah bertahun tahun lost contact, tak di sangka kita akan bertemu kembali " Sudah lama pulang ke jawa ? " Tanyaku " Mau setahunan sih " " Eh kita kesana yuk, sama ngobrol ngobrol " Ia menunjuk ke warung bakso yang berada di ujung jalan " Ternyata selerahmu gak berubah ya Mas " ucapku yang di sambut dengan senyuman olehnya " Kamu ngajar dimana " tanyanya sambil menyuapkan kuah bakso ke dalam mulut Hingga akhirnya obrolan kami pun mengalir Tak terasa waktu menunjukan pukul enam sore Kami pun berpamitan untuk pulang Sepanjang jalan ku tatap senja yang sangat indah Benar. Senja adalah sebagian nikmat tuhan untuk kehidupan Senja tahu bagaimana caranya berpamitan dengan cara yang berkesan Meskipun sejatinya perpisahan selalu diiringi dengan air mata Tetapi bertahan juga bukanlah pilihan jika takdir sudah berbicara Ku parkirkan motorku di pelataran rumah Ibu Aldy nampak sudah menunggu untuk ku jemput Tidak lama aku dirumah Ibu. Kembali aku pacukan motorku untuk segera sampai di kediamanku, saksi bisu perjalanan cintaku dengan Mas Imron Segera aku persiapkan untuk makan malam Aldy dan Mas Imron Sambil menunggu Mas Imron pulang, aku bersenda gurau dengan Aldy Karena Mas Imron tak kunjung datang aku dan Aldy memutuskan untuk makan malam berdua Dan setelahnya kami pun istirahat Kemana Mas Imron sampai selarut ini tak pulang juga Aku pun teringat dengan pesan Devi tadi pagi, mungkinkah ia mengabarkan sesuatu tentang Mas Imron Segera ku ambil ponsel di dalam tasku Dan Ahhhh s**l Baterainya lowbet Bagaimana bisa aku menghubungi Mas Imron Hujan petir membuatku semakin mencemaskan keadaan Mas Imron Kemana Dia, apakah dia baik baik saja Aku terbangun dan melihat jam di dinding menunjukan pukul 02.00 dini hari Ku raih ponsel yang tadi ku charge dan menekan tombol on Ponselku menyala dan segera membuka aplikasi wa Barangkali ada kabar dari Mas Imron Ya benar saja, ada satu pesan dari Mas Imron yang berbunyi " aku gak pulang " Kemudian ku scroll kebawah untuk mencari pesan dari Devi. Betapa syoknya aku melihat foto yang di kirim devi tadi siang Meski foto itu menampakan punggung seseorang lelaki, tapi aku sangat mengenalinya Itu adalah Mas Imron Untuk apa Mas Imron di sebuah hotel. " Aku pastikan suami Mbak gak akan pulang malam ini " Apakah itu artinya Mas Imron sedang menghabiskan waktu bersama Devi di sebuah hotel ? Aaaaaaaaaa ingin rasanya aku berteriak sekencang kencangnya Mengingat ada Aldy di sampingku, membuatku menahan emosiku Ku peluk erat Aldy dan tanpa terasa air mata jatuh mengalir dengan derasnya Hatiku patah jadi berkeping keping Dengan mudahnya ia mendua sedangkan diriku sekeras hati mencoba setia. Pantas saja ia sama sekali tak memiliki hasrat kepadaku, ternyata wanita itu pelampiasan hasrat suamiku Rendah sekali , cuih! " Ma " Aldy terbangun, mungkin ia terganggu dengan suara isakanku " Iya nak, kenapa sayang " secepat mungkin aku menghapus bulir bening yang membasahi mataku " Mama kenapa, mama nangis " tanyanya " Oh enggak, Mama habis nonton drakor ceritanya sedih jadi mama kebawa suasana deh" jawabku sekenanya " Mama nunggu Papa ya, apa Papa belum pulang " tanyanya lagi " Papa .. iya papa luar kota sayang. Udah yuk kita bobok lagi sini bobo peluk " ucapku coba membujuknya Dan ia pun menurut tak berselang lama ku dengar dengkuran dari mulut manisnya ** " Assalamualaikum " ucap seseorang yang tak lagi asing di telingaku Aldy yang lagi asik bermain dengan mobil remotnya pun berhamburan memeluk Papanya Mas Imron memeluk Aldy dengan hangat di iringi dengan kecupan mesra di kening Aldy. Kebetulan hari ini hari minggu, sehingga aku dan Aldy tetap berada dirumah. Aku sengaja memasak kesukaan Aldy, untuk menyenangkan hati Aldy dan menghibur hatiku sendiri yang sedang porak poranda. Aldy bercerita banyak hal dengan papanya. Dan papanya pun nampak antusias mendengar cerita Aldy, sesekali Mas Imron menganggukan kepala menanggapi celoteh anak semata wayangnya tersebut. Di meja makan aku lebih banyak diam dan menjawab seperlunya Berulang kali ku dapati Mas Imron melirik ke arahku, mungkin Mas Imron menyadari jika aku sedang tidak baik baik saja. " Kamu kenapa " tanyanya, menghampiri aku yang sedang mencuci piring " Gak papa" jawabku singkat " Kamu marah sama aku " " Untuk " " Ya untuk banyak hal " jawabnya nampak ragu Aku hanya tersenyum tanpa menjawab sepatah kata pun " Paaa main yuk " Aldy tiba tiba muncul diantara kami " Ayuk " papanya menyepakati ajakan Aldy Setelah kepergian mereka tiba tiba saja air mataku menetes Ada lara di lubuk hatiku. Bagaimana mungkin dengan sadar Mas Imron melakukan perbuatan terlarang tersebut Apakah nanti jika memang perpisahan adalah takdir yang harus kami terima, Aldy paham dengan situasi tersebut. Tak hanya aku. Aldy juga akan menjadi manusia yang paling tersakiti apabila perpisahan ini benar terjadi Maafkan Mama nak, mama terlalu sakit jika di paksakan untuk bertahan, meskipun Mama juga tidak yakin akan baik baik saja setelah melepaskan Semoga kelak kamu mengerti, jika Mama pernah berjuang sepenuh hati mempertahankan papa kamu. Dari balik gorden ku lihat Mas Imron dan Aldy nampak sangat bahagia Mereka bermain dan tertawa bersama Mas tak inginkah dirimu mempertahankan keluarga kita agar tetap utuh Ataukah mungkin bukan aku yang pantas menjadi ibu dari anak anakmu. Sehingga tidak ada penerimaan darimu untukku Drrrt Dering di ponselku pun membuyarkan lamunanku Devi lagi Untuk apa lagi perempuan tak punya harga diri ini mengirimkan pesan kepadaku Tak sedikitpun ada niatan aku untuk membacanya Segera ku blokir nomer telfon milik Devi. Rasanya segala pesan darinya berisikan segala hal yang menyakitkan. ** " Kamu mau kemana " ujar Mas Imron saat mengetahui aku membawa koper " Talak aku sekarang juga " ucapku garang " Apa salahku " tanyanya " Salahmu .. hah ? Apa selama ini kamu merasa benar, apa caramu memperlakukan aku selama ini sudah benar " jawabku dengan emosi " Anita, aku tahu banyak salahku padamu tapi ku mohon beri aku waktu untuk memperbaiki semuanya " ujarnya memelas " Waktumu sudah habis, dan aku menyerah. Aku capek mas Capeeeek " ucapku dengan lantang " Anitaaa .. " Mas Imron mencoba menghalangi langkahku tetapi aku tak mempedulikannya " Anitaaaa, ku mohon jangan pergi " ucapnya memelas " Aku tunggu surat perceraian darimu " dengan tegas aku mengatakan sesuatu yang hatiku sendiri sedih mendengarnya Reflek ia memelukku, sekuat hati ku tahan agar air mataku tak jatuh. Aku harus terlihat kuat. Ku lepaskan pelukan Mas Imron dan segera berlalu " Mama " suara kecil itu berhasil menghentikan langkahku " Aldy .. kamu bangun nak " ucapku membelai rambutnya " Mama mau kemana " tanyanya ketika melihat koper di genggaman tanganku " Mama kerumah uti ya, uti lagi butuh Mama. Aldy tadi sudah tidur pules banget, Mama gak tega untuk bangunin Aldy. Karena sekarang Aldy sudah bangun, apa Aldy mau ikut Mama kerumah Uti " jawabku " Lalu .. Papa ? " Ucapnya sambil menoleh ke arah Mas Imron " Papa .. Papa dirumah kan rumahnya gak ada yang jaga nak " ucapku mencoba memberi alasan kepada Aldy " Besok Papa nyusul " Jawab Mas Aldy " Memang Uti kenapa? Kenapa harus malam malam begini Mama ke rumah Uti " Aldy adalah anak yang kritis, ia akan menanyakan sedetail mungkin setiap sesuatu yang ada di depan matanya " Uti kangen Mama, kan Mama anak Uti sama kayak Mama kalau kangen Aldy pengen peluk Aldy saat itu juga Mama pengen peluk Aldy " aku dengan hati hati coba memberi penjelasan ke Aldy " Gimana Aldy mau disini saja atau ikut sama Mama " tanyaku kemudian Ia tampak ragu untuk menjawab, ku tahu ini adalah jadwal Aldy dengan papanya berquality time Bahkan hari ini jadwal mereka berdua untuk tidur bareng Namun Aldy nampaknya juga mencemaskan keadaan Utinya disana " Papa ikut yuk , bubuk sama Aldy dirumah uti . Ya Pa " rengek Aldy pada Mas Imron Hingga akhirnya mas Imron pun luluh dan aku juga tak bisa menolak keinginan Aldy. Aku tak bisa membuat Aldy kecewa Tidak mungkin aku memisahkan Aldy dari Ayahnya Seburuk buruknya Mas Imron . Ia adalah Ayah yang baik untuk Aldy. Dan di mata Aldy, Mas Imron adalah sosok Ayah yang sempurna Aku membantu Aldy untuk memasukan baju kedalam tas bergambar superhero di dalamnya " Mama memangnya sampai kapan mama disana kok bawa koper segala " tanyanya dengan kritis Lagi lagi aku di buat gagap untuk menjawab pertanyaannya Jika aku tak menjawab. Aldy pun berulang ulang menanyakan pertanyaan yang sama. " Sampaii sampaiii .. semua baik baik saja nak " " Siapa yang baik baik saja ? " " Udah ah ayo buruan packingnya itu udah ditunggu sama Papa loh diluar " ucapku pada Aldy Kami segera memasuki mobil Dan Mas Imron melajukan kendaraanya menerobos gelapnya malam Aldy yang memang sudah mengantuk pun tak kuasa untuk menahan kantuknya Dari belakang terdapat mobil yang berusaha mengikuti kami Mobil itu sangat asing. Mas Imron pun memilih untuk menambah kecepatan laju kendaraanya " Hati hati Mas " ucapku dengan tegang Akhirnya tibalah kami di pelataran rumah Ibu Tetapi mobil di belakang kami masih saja membuntuti kami Hingga seseorang turun dari dalam mobil
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD