Semakin mendekat hingga kami semua secara bersama memanggil
“papa”
Ternyata mobil yang sedari tadi mengikuti kami adalah taksi online yang dengan sengaja di sewa oleh Papa.
Sejak kapan Papa berada di kota ini, dan untuk kepentingan apa papa datang kemari
“ Papa membuntutui kalian sedari tadi, tapi rupanya kalian tak menyadari” ujar Papa
Percakapan tengah malam mungkin saja terdengar oleh Ibuku yang berada di dalam rumah, hingga akhirnya Ibu pun keluar rumah
“ Kok malam malam begini kemari, silahkan masuk “ sapa Ibu untuk mempersilahkan kami semua masuk ke dalam rumah
Mas Imron menidurkan Aldy ke kamar dan kembali bergabung bersama kami.
Ibu dengan sigap menyiapkan teh untuk menghangatkan tubuh kami, dan tanpa basa basi Ibu menanyakan ada gerangan apa kedatangan kami di tengah malam begini
ku telan saliva, tak mungkin dengan gamblang aku menceritakan pertengkaranku dengan Mas Imron. Meski rumah tangga kami telah sampai pada ujung tanduk namun belum siap rasanya jika harus menceritakan yang sebenarnya terjadi
“ Maaf bu. sebenarnya saya sudah dari kemarin berada di kota ini karena ada urusan proyek kemarin saya menginap di hotel X dengan Imron, karena Imron tak tega membiarkan saya menginap di hotel sendirian, namun karena hari ini urusan saya sudah selesai. Saya pun memutuskan untuk kerumah Imron, tetapi pas saya sampai mereka malah bersiap siap pergi. Mobil yang saya kendarai berusah mengejar mobil Imron tetapi sayangnya tak terkejar “ Ucap Papa menjelaskan
apaaaa? jadi kemarin Mas Imron menemani Papa di hotel, tetapi mengapa gundik itu mengetahui keberadaan Mas Imron ?
Setelah menghabiskan teh hangat buatan Ibu. kami pun beristirahat di rumah Ibu
Papa izin untuk tidur dengan Aldy dan tentu saja malam ini aku akan tidur berdua dengan Mas Imron
“ Gerangan apa yang membuatmu marah kepadaku Anita “
“ Maaf sepertinya, aku sudah salah paham “
“ salah paham ? “
“ Ya kemarin Devi mengirimkan fotomu tengah berada di sebuah hotel”
“ Lalu kamu mengira aku bermalam dengan Devi “ ucap Mas Imron memotong ucapanku
aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Mas Imron, dengan menarik sebelah bibirnya Mas Imron pun berkata
“ Aku memang bukan lelaki baik, tetapi Aku juga tak sehina seperti apa yang kamu fikirkan”
“ Maaf “ ucapku lirih
“ kamu cemburu ya “ Goda Mas Imro
“ iya “ jawabku mantap
“ Bagaimana jika kita yang membuat devi cemburu “ ucapnya menyeringgai dengan perlahan ia mulai mendekatiku
“ Apa maksudmu ? “ langkahku beringsut mundur
“ Apa kau tak ingin menghabiskan malam panjang ini denganku, Anita” ucapnya seperti hendak menerkam
“ jangan macam macam Mas “
“ Bukankah kita suami istri “ ia mengatakan seraya mengelus pipi kananku dengan lembut
Di condongkannya wajah Mas Imron kepadaku dan nafasku pun semakin memburu. Semakin dekat bibirnya dengan bibirku, reflek ku pejamkan mataku tanpa perlawanan. Ah biarkan saja toh dia suamiku, meskipun aku tak mendapatkan tempat terindah di dalam hatinya.
Namun tiba tiba ia pun menghentikan aktivitasnya, perlahan Ia pun berangsur menjauh
Ku buka mataku dan menatap dengan penuh tanya ke arahnya tetapi sedikitpun ia tak berani menatapku. Hingga akhirnya ia memilih keluar kamar
Aku semakin dibuat bingung dengan polah pikir Mas Imron.
Apa yang ada dalam fikirannya, mungkinkah sebegitu bencinya ia kepadaku sehingga untuk menyentuhku saja dia merasa jijik
Ku abaikan peristiwa yang barusan terjadi, segera ku rebahkan tubuhku di atas ranjang dan menyelimutinya
sebisa mungkin aku berusaha mengabaikan semua perlakuan Mas Imron terhadapku. Tetapi tetap saja tak mudah bagiku berlaku masa bodoh.
Semua perlakuan Mas Imron terngiang ngiang di dalam otakku dan menjadikan bebak pikirku.
Telingaku mendengar jejak kaki yang semakin mendekat rupanya itu Mas Imron, aku pun pura pura memejamkan mata
Dapat ku rasakan ia duduk di pinggir ranjang dan tak lama ia pun mendekat
“ Maafkan aku Anita “ ucapnya lirih tetapi dengan jelas pendengaranku menangkapnya
“ Suatu saat kamu akan mendapatkannya biarlah waktu bekerja dengan semestinya “ ucapnya yang kemudian dapat ku rasakan ia pun ikut berbaring di belakangku
Mendapatkannya . Apa yang akan aku dapatkan
cintanya kah ? atau hanya raganya .
Aku tahu Mas, ini berat untukmu.
Terjebak dalam pernikahan dengan seseorang yang tak kau kehendaki tetapi bukan menyakiti, sikap yang akhirnya kau ambil
Lepaskan aku, karena aku manusia biasa yang juga ingin di hargai layaknya seorang pasangan
Aku juga ingin di perlakukan sama dengan wanita di luar sana.
Mata masih saja enggan terpejam.
Ku balikan tubuhku dan memastikan Mas Imron benar benar terpejam.
Ku pandangi wajahnya dengan seksama
Hanya di saat saat seperti ini aku dapat dengan puas memandangnya , dan dengan memandangnya saja mampu membuatku senyum senyum sendiri.
Lihatlah aku dengan perjuanganku , bagaimana aku berusaha menjadi yang terbaik untuk dirimu.
Lihatlah bagaimana dengan tabah aku mempertahankan rumah tangga kita
meski tak sempurna aku pun merasa layak untuk di cintaimu
atau kah mungkin aku tak pantas jika menuntut yang bukan hakku, yaitu di cintai olehmu
Rasa ingin memelukmu mendominasi diriku, dengan sadar ku beranikan diri untuk memelukmu
terasa nyaman, hingga akhirnya membuatku terbuai ke alam mimpi
**
Ku terbangun karena ada sentuhan lembut yang membali tanganku
sedikit demi sedikit ku coba untuk membuka mata, samar samar kemudian dengan jelas terlihat bagaimana dengan lembut Mas Imron memberikan sentuhan padaku
Aku tersenyum tipis, menikmati hangat sentuhan Mas Imron
Ku biarkan diriku berada di dalam mimpi yang sangat indah tetapi suara ketukan pintu berhasil membuat Mas Imron terperanjat dan melepaskan rangkulanku
Ohmygod ternyata ini bukanlah mimpi, Mas Imron dengan sadar melakukan itu
Apakah ini pertanda perjuanganku tidaklah sia sia
“ he bangunnn “ ujar Mas Imron membangunkan aku
Dengan pura pura mengerjap aku menggeliat untuk kemudian membuka kedua bola mataku
“ udah pagi ya “ ucapku basa basi
Dan Mas Imron hanya nyengir kemudian meninggalkan aku sendiian di dalam kamar
yaelah Mas kamu tuh sebenernya cinta kan sama aku, cuma kamu tuh gengsi mau mengakuinya
Lihat aja Mas , Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
dan Aku bisa membuatmu tak lagi gengsi menunjukan perasaanmu kepadaku
Lihat saja Mas , batinku dengan Bangga
**
Kejadian semalam mampu membuat moodku 1000 persen
Layaknya orang yang kembali jatuh cinta, sepanjang hari terbayang bayang dengan kekasih pujaan hati
meskipun ku sadar, aku bukanlah orang spesial di dalam hidup Mas Imron..
Hari ini aku berencana untuk pulang cepat selain karena ada Papa mertua dirumah juga karena malam ini aku memasakan yang spesial untuk Mas Imron
Sebelum memutuskan untuk pulang kerumah, aku memilih untuk mampir ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan serta cemilan
“ Anita “ sapa seseorang di sebrang sana yang kemudian menghampiriku
“ hai .. “ jawabku dengan ramah
“ lagi belanja “
“ iya ni mas, kebetulan kebutuhan rumah juga udah pada habis”
“ sama dong , yuk barengan “ ajaknya
Kami pun berjalan beriringan memutari supermarket sambil mengambil beberapa kebutuhan yang memang di perlukan
Mas Hendra masih saja sama, ia pria yang ramah dan juga hangat
meski sedari dahulu tak ada hubungan spesial di antara kami, namun segala perhatian Mas Hendra sangat nyata untukku
sayangnya, bersama bukanlah bagian dari takdir kita
hingga akhirnya kita harus menjalankan kehidupan kita masing masing
“ aku bahagia bisa di pertemukan kembali denganmu, Anita “ pernyataan Mas Hendra berhasil membuatku terhenyak
“ harapanku adalah bertemu denganmu tetapi mengingat keadaan yang tidak memungkinkan akhirnya ku kubur harapan itu dalam dalam eh tetapi tuhan punya rencana lain “ pernyataan Mas Hendra membuatku tak bisa berkata apa apa . Aku hanya tersenyum menanggapinya
selain tak ingin berlebihan, aku juga sadar kini statusku sudah berbeda
Aku sudah punya Mas Imron.
Setelah berbelanja kami memutuskan untuk membeli minum di food court yang berada tepat di belakang supermarket ini
mengobrol ngobrol ringan tentang masa masa yang telah silam
Ponselku berbunyi , dan ku lihat ternyata panggilan dari Mas Imron
tumben, fikirku
“ sebentar ya mas. aku angkat telfon dulu “ izinku pada mas Hendra
“ silahkan Nita “ jawabnya
Aku menjauh beberapa langkah dari tempat duduk Mas Hendra
“ ya Mas “ jawabku
“ Kamu dimana “ suara Mas Imron di seberang sana terdengar sangat garang
“ di supermarket Mas lagi belanja “
“ Aku jemput sekarang “
“ Tapi aku bawa sepeda Mas, aku bisa pulang sendiri “
tut tut tut
sambungan telefon nampak terputus
ada apa dengan Mas Imron kenapa tiba tiba ia peduli padaku
Tak lama Mas Imron datang dengan sangat kasar ia menarik tanganku
“ bisa gak , gak kasar “ Mas Hendra mencoba membelaku
“ Bukan urusanmu “
“ jika menyakiti Anita. Itu akan jadi urusanku, sekalipun anda suaminya” geram Mas Hendra
bughhhh
sebuah bogeman mentah mendarat di pipi Mas Hendra
“ Jangan kurang ajar anda “ ancam Mas Imron
dengan cepat kembali Mas Imron menarik tanganku, dan mengajakku menjauh dari Mas Hendra
“ Lepas Mas. “ ucapku sambil mengibaskan genggaman tangan Mas Imron
“ Kamu tuh apa apaan sih, datang langsung marah marah “ protesku
“ Kamu yang apa apaan , ingat kamu tuh sudah punya suami masih saja main belakang sama laki laki lain “
“ kamu tuh apaan sih. Mas hendra tuh sahabat aku “
“ jadi nama lelaki b******n itu Hendra “
“ b******n apa sih Mas “
Mas Imron terus menyeret tanganku hingga memasuki mobil
dengan cepat ia melajukan mobilnya tanpa sepata kata keluar dari mulutnya
sesampainya di rumah , aku segera bergegas menjauh dari Mas Imron
“ mulai besok aku akan antar kamu “
“ sejak kapan kamu peduli sama aku “ sengitku
“ Sejak lelaki itu hadir di hidup kamu “
“ kamu cemburu ya mas , ciyeeee “ Godaku membuatnya salah tingkah
ia kemudian memalingkan muka dengan sedikit cemberut
“ ciyeee ciyee cemburu “ ucapku sambil menoel dagunya
“ gak pantas ya wanita bersuami jalan sama laki laki lain “
“ lah terus gimana sama lelaki beristri yang mabuk kemudian tidur di apartemen wanita lain , gimana dengan suami yang makan siang sama perempuan lain “ sindirku
“ ngeyel aja terussss “ ucapnya sambil melangkah pergi
“ Mas kamu beneran cemburu “ ucapku sambil terus mengikuti langkahnya
“ Gak “
“ Gak kok Marah “
“ apa sih Nit “
" Ciye cemburu " godaku dan terlihat Mas Imron semakin cemberut
" Papaaaaaa " teriakan Aldy menyambut kedatangan kami
Dengan segera Mas Imron menggendong tubuh gembul Aldy
" Hari ini anak Papa pinter kan " tanya Mas Aldy
" Iya dong, tanya aja kakek . Iya kan kek " ucap Aldy yang diiringi anggukan persetujuan dari kakeknya
**
Malam datang di sertai dengan gemericik hujan
Menambah kesunyian yang terasa.
Kujatuhkan tubuhku, duduk tepat di samping Mas Imron yang dengan hikmat menikmati hujan
" Kamu tahu gak Mas, hujan apa yang bikin senang " ucapku membuka percakapan
" Apaa " tanyanya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku
" Hujani aku dengan senyummu " ucapku sambil terbawa terbahak bahak
" Apaan sih " ucapnya datar
" Kamu tahu. Diam-diam, aku selalu menitipkan harapan yang sama ke dalam beribu-ribu rintik hujan: aku ingin hari depanku selalu bersamamu"
Ku genggam tangan Mas Imron sesekali kami saling curi pandang
Sambil terus menikmati hujan yang turun, aku tahu di dalam lubuk hatinya
Ia pun menaruh harapan yang sama denganku
Hanya saja ia terlalu enggan menyampaikannya kepadaku.
Seperti yang telah aku janjikan padamu Mas, aku akan terus mencintaimu
Aku akan dengan tabah memperjuangkan rumah tangga kita
Dan aku akan dengan gigih berusaha membuatmu untuk mencintaiku juga