Maaf Anita, tapi biarkan aku melakukannya dengan hatiku

1126 Words
Perpaduan antara sinar mentari pagi dan embun membuat suasana pagi semakin sempurna Hari ini aku dan Mas Imron berencana mengajak Aldy untuk mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan yang terletak tak jauh dari tempat tinggal kami Aldy sangat antusias menyambutnya , terlebih ini adalah ajakan Ayahnya. Aldy dan Mas Imron memilih untuk menghabiskan waktu di tempat bermain, sedangkan aku memilih untuk memutari mall untuk memanjakan mataku. dari jauh ku melihat sosok yang tak lagi asing sedang berada di salah satu outlet yang menjual baju anak anak sengaja aku mendekatinya untuk memastikan apakah benar lelaki itu Mas Hendra, dan yaa ternyata benar. “ Mas Hendra “ sapaku sehingga membuat sang pemilik nama menoleh kepadaku “Anita , lagi disini juga ? “ “ Ya mas sama, anak dan suami saya kebetulan mereka lagi main di lantai atas. Mas sama siapa ? “ tanyaku “ sendirian Nita, kebetulan memang mau beliin baju untuk Zio " jawabnya Yang ku tahu Zio adalah anak Mas Hendra dan umurnya pun sepantaran dengan Aldy. Namun saat ku singgung tentang Mama Zio, Mas Hendra selalu mengalihkan pembicaraan. " Baju ini bagus ya untuk anak cowok . Nih untuk Aldy biar kembaran sama Zio " ucap mas Hendra " Gak usah Mas. Ini untuk Zio saja " " Sudahlah nita gak baik nolak rejeki " Akhirnya aku pun menerima pemberian Mas Hendra . Selera Mas Hendra bagus juga, berbeda dengan Mas Imron Dia tidak bisa memilih baju untuk Aldy dan menyerahkan semua keputusan kepadaku. Setelah sedikit basa basi aku pun berpamitan untuk melanjutkan cuci mataku Tentunya Mas Hendra tak ikut bersamaku. Setelah puas memutari mall aku pun kembali ke tempat Aldy dan Mas Imron berada tetapi setelah berada disana tak ku dapati dua lelaki yang amat aku sayangi itu, kemanaaa mereka Segera ku ambil ponsel dan menelfon Mas Imron ia mengangkat telfonku dan mengatakan kalau mereka sedang makan di salah satu makanan cepat saji kesukaan Aldy Tak menunggu lama aku pun segera menuju kedai yang Mas Imron sebutkan " Kok makan sendiri, mama di tinggal nih " Aldy hanya nyengir sambil terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya Dan ku lihat Mas Imron tak bergeming sedikitpun. Aneh sekali perubahan sikap Mas Imron " Oh ya ini ada hadiah untuk Aldy " Secepat kilat, Mas Imron mengambil begitu saja dari tanganku ia lalu beranjak dari tempat duduknya. Dan membuang baju milik Aldy, pemberian dari Mas Hendra. " Kok di buang sih pa " protes Aldy " Mas kamu apa apaan, sih " protesku menyayangkan perilkau Mas Imron Ia duduk kembali dan tampak menarik nafasnya dengan kuat kuat. " Nanti Papa beliin bahkan lebih bagus dari itu " ucapnya " Tapi kan gak di buang juga Mas, sayang " ucapku pada Mas Imron " sayang, karena pemberian dari lelaki itu " ucap Mas Imron menuduhku Aku hanya menggelengkan kepala mendengar pernyataan Mas Imron Darimana Mas Imron tahu kalau baju itu pemberian dari Mas Hendra " Dari siapapun itu mas, gak sepantasnya juga di buang " jawabku " Aldy lebih cepat makannya, ayo pulang sama Papa " ucap Mas Imron memberi perintah pada Aldy. Selesai makan, Mas Imron dengan sigap menggendong Aldy dan meninggalkan aku Aku pun segera mengejar langkah Mas Imron. Mas Imron semakin cepat melangkahkan kaki membuatku tertatih. " Tunggu Mas, kamu kenapa sih " " Gak ada yang menyuruhmu ikut denganku, silahkan pulang dengan lelaki itu " " Mas kamu salah paham " Tetapi Mas Imron tak menghiraukan aku , ia segera menaikan Aldy ke dalam mobil Begitu pun aku, aku segera duduk di sebelah kemudi. Mas Imron melajukan kendaraanya dengan kencang " Mama sama Papa berantem ya " Aldy memecah keheningan di antara kami " Gak kok nak " jawabku " Kok diem dieman " tanyanya lagi " Kata uti kita gak boleh marah lama lama. Nanti cepet tua loh. Ayo dong Mama sama Papa baikan " rayu Aldy " Mas " ku acungkan jari kelingkingku di depan Mas Imron Dengan sangat terpaksa ia pun melingkarkan kelingkingnya di kelingkingku " Senyum dong Mas " Dengan sangat terpaksa Mas Imron menarik ujung bibirnya ke atas " Gitu dong " " Yeee Mama Papa baikan " seru Aldy kegirangan ** Ku ketuk pintu kamar Mas Imron, namun tak kunjung ada jawaban di dalamnya Sengaja ku tarik handle pintu yang ternyata tak terkunci Dengan memberanikan diri aku pun menerobos masuk ke dalam kamar Mas Imron. Ku dapati Mas Imron berada di balkon dengan rokok di genggaman tanganya " Ehhhm " ku sejajarkan tubuhku dengan tubuhnya " Nih " Ia menyodorkan ponselnya kepadaku dan kulihat nomer tak di kenal mengirimkan pesan berisikan foto fotoku dan Mas Hendra, termasuk foto kebersamaan kami beberapa waktu lalu " Ini nomer siapa Mas " " Ntah " jawabnya mengangkat bahunya Siapakah pemilik nomer ini dan apa tujuannya mengirimkan ini pada Mas Imron. Apakah ingin rumah tanggaku dengan Mas Imron hancur ? Apakah dia selalu mengetahui segala gerak gerikku.. " Kamu salah paham Mas. Aku dan Mas Hendra … " " Kedekatan kalian sudah bisa menjelaskan semuanya " ucap Mas Imron memotong pembicaraanku " Tidak Mas " " Dia bagian dari masa lalumu ? " Tanya Mas Imron " Dia hanya teman dekat saja tak ada hubungan lebih kami berpisah karena dia mengikuti tes cpns dan di dinaskan di luar kota kemudian secara tak sengaja kami bertemu kembali, hanya seperti itu " " Dia bahkan belum menikah karena berharap padamu, Anita " " Tidak. Dia sudah beristri bahkan mempunyai anak dan anaknya sepantaran dengan Aldy " " Kau percaya " " Untuk apa pula ia berbohong " Tetapi Mas Imron nampak tak percaya dengan penjelasanku. Ia mengabaikanku bahkan mengusirku agar keluar dari kamarnya ** Mas Imron masih saja mendiamkanku. Membuatku semakin bertanya tanya , apakah artinya ia cemburu padaku Ku geser dudukku mendekat pada Mas Imron yang sedang asik menonton film Ku senderkan kepalaku pada bahunya tetapi ia tak bergeming sedikitpun. Perlahan ku usap lembut tanganya, ia kemudian mengalihkan pandangannya kepadaku. Untuk sesaat pandangan kami terkunci " Apa " ucap Mas Imron ketus " ihhhh emang gak boleh kan kamu suamiku " rengekku Ia kembali menonton film kesukaanya dan memilih mengabaikanku " Mas " sapaku " Hem " hanya itu yang keluar dari mulut manisnya " Mas malam ini aku boleh ya tidur sama kamu " " Gak . Ngapain " ucapnya ketus " Dih dasar gak normal " " Maksudmu apaaaaa " " Cuma kamu loh, yang nolak di ajak tidur sama perempuan apalagi istrinya " " Kamu nantang sayaaaa " Ku tarik kerah baju milik Mas Imron untuk mendekat kepadaku Kini wajah kami sejajar Dapat ku lihat dengan jelas sorot wajahnya yang tajam Dapat ku lihat dengan jelas garis wajahnya yang sempurna " Lepaaaas " Ia mengibaskan tanganku " Maaf Anita, tapi biarkan aku melakukannya dengan hatiku " Ucapnya berlalu pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD