Tok.. Tok.. Tok..
Aku yang sempat melamun sebentar kaget dengan suara ketukan pintu dari luar. Lalu tak lama seorang suster yang wajahnya sudah sangat familiar masuk ke dalam ruanganku.
“Ya ampun, Sus. Kaget aku” Kataku pada suster Maia.
Suster Maia tertawa mengetahui aku terkejut karena ulahnya. “Dok, pasien selanjutnya sudah boleh masuk sekarang?” Tanyanya padaku dari balik pintu ruang periksa.
Aku mengangguk memberinya izin untuk pasien selanjutnya masuk ke ruangan periksa.
Pasien yang baru masuk itu yang bernama Ibu Rita. Wanita paruh baya berumur 56 tahun. Ia mengeluh pusing sejak dua hari yang lalu. Sudah minum obat tetapi sakit kepalanya tak kunjung hilang. Dan setelah di tensi ternyata tekanan darahnya terbilang tinggi yaitu diatas 173/100.
“Ibu kesini sama siapa?” Tanyaku setelah memeriksanya. Karena aku melihatnya memasuki ruangan praktek seorang diri.
“Sama anak. Dia nunggu di depan” Katanya sambil tangannya menunjuk ke arah pintu.
“Bisa tolong dipanggil anaknya sebentar, Bu” Tanyaku pada Bu Rita.
Ia pun melangkah ke arah pintu dan melambaikan tangannya ke arah sang anak. Tak lama sesosok lelaki sekitar tiga puluh tahunan masuk ke ruang periksa. Setelah ibu dan anak itu duduk aku pun segera menjelaskan keadaan Bu Rita pada sang anak.
“Sore Pak, perkenalkan saya Dokter Asha izin menjelaskan kondisi Bu Rita ya. Ibu menderita hipertensi tekanan darahnya 173/100. Untuk usia Ibu sekarang seharusnya tidak boleh di atas 145/90” Kataku menjelaskan. Aku juga menganjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang lebih sehat dan rutin berolahraga ringan.
“Baik, Dok terima kasih sarannya. Mama saya kadang suka susah dibilangin. Dia masih seneng makan goreng-gorengan dan lebih banyak nonton TV di rumah dan pergi-pergi arisan bareng teman-temannya” Kata anak Bu Rita mengadukan kelakuan ibunya di rumah padaku.
Sedangkan sang ibu terlihat malu melihat kelakuan sang anak. AKu pun tersenyum melihat kelakuan ibu dan anak tersebut.
“Ibu, mulai sekarang harus dikurangi ya makan gorengannya. Bisa diganti sama buah atau sayur. Sama jangan lupa olahraga. Yang ringan-ringan aja seperti jalan kaki supaya peredaran darahnya lebih lancar dan memperbaiki fungsi jantung” Ucapku pada Bu Rita.
“Iya Dok. Dokter baru ya? Saya baru liat dokter” Tanyanya padaku.
“Sudah satu tahun saya praktek di klinik ini, Bu. Kebetulan jadwal praktek saya disini satu minggu sekali setiap hari Rabu dari jam empat sore sampai jam sebelas malam. Mungkin pas Ibu kesini saya lagi gak ada jadwal praktek. Makanya baru sempat bertemu saya sekarang” Jawabku sambil menjelaskan jadwal praktek di Klinik Sehat.
Ia pun mengangguk-angguk sepertinya sependapat denganku.
“Baik, ada yang mau ditanyakan lagi Bu Rita dan Bapak…” tanyaku pada ibu dan anak yang saat ini sedang duduk di depanku.
“Damar, Dok” Kata Bu Rita memberitahu nama anaknya.
“Sudah cukup, Dok” jawab sang anak mewakili ibunya.
“Baik. obatnya sudah saya resepkan. Nanti silahkan diambil di depan ya, Bu, pak. Sama jangan lupa bulan depan kembali lagi buat cek lagi. Semoga lekas sehat ya Bu Rita” Ucapku sebelum mengakhiri sesi periksa Bu Rita.
Lalu mereka pun keluar.
Setelahnya ada dua pasien lagi yang harus aku periksa malam itu. Satu pasien anak usia lima tahun dengan keluhan batuk dan pilek sudah tiga hari. Satu lagi seorang wanita dewasa dengan keluhan sesak napas dan setelah aku periksa ternyata asam lambungnya naik karena stres pekerjaan di kantor yang sedang overload.
“Sus, aku masih ada pasien lagi gak?” Tanyaku pada seorang suster yang sedang menatap layar komputer.
“Belum ada lagi, Dok” Katanya sambil mengalihkan pandangannya padaku.
“Aku ke ruang belakang dulu ya. Mau istirahat sebentar” Kataku.
Ia pun mengangguk mengerti. Lalu aku menuju salah satu ruangan di belakang ruangan Farmasi.
Di klinik tempatku bekerja memang disediakan satu ruangan istirahat khusus untuk dokter atau suster yang bekerja shift malam. Walaupun hanya terdapat satu karpet ukuran 120cm x 180cm, satu meja, dua kursi plastik dan satu rak sepatu tiga susun.
Aku mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Tapi tanpa sengaja aku melihat toples kecil permen coklat yang aku ambil dari laci meja kerja papa saat ia memintaku membantunya membereskan kamarnya beberapa hari yang lalu. Aku pun mengambil satu permen coklat itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Hmm.. Enak juga” Kataku sambil memperhatikan toples itu karena aku baru melihatnya.
Toples itu berbentuk tabung yang terbuat dari kaca dengan tutup bulat berwarna emas dengan tulisan Dream Candy di tengah-tengah toples tersebut. Dan ada tulisan kecil di bawah nama permen tersebut yang berbunyi The Sweetness Defeating Your Sweet Dreams. Semua tulisanya berwarna emas dengan background hitam yang terlihat kontras dan sangat simple untuk sebuat permen yang rasanya cukup enak.
Kuperhatikan bungkus permen berwarna merah itu satu persatu. Tidak ada informasi lain yang tertulis di sana selain nama permen dan tagline nya. Tanggal expired nya pun tak ada. Jadi kupikir Papa membelinya saat ia sedang berlibur ke luar negeri beberapa waktu lalu.
Aku duduk sila di lantai lalu mulai membuka media sosialku untuk melihat ada apa saja yang baru di sana. Baru sebentar aku melihat-lihat postingan dari teman-temanku ada bunyi pesan masuk dari Papa.
Lagi sibuk tidak, Nak?
Seperti itu bunyi pesannya. Lalu segera ku telpon Papa karena sudah beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan lebih memilih pulang ke apartemen karena lebih dekat dengan klinik dan rumah sakit tempatku bekerja.
Setelah beberapa kali nada sambung, telepon pun diangkat.
“Halo, Nak. Lagi gak sibuk ya?” Tanya Papa saat menerima panggilan dariku.
“Lagi belum ada pasien lagi, Pa. Kenapa, Pa?” Tanyaku kali ini.
“Kamu kapan libur? Antar Papa cari tempat tinggal sementara sampai ruko selesai renov ya. Atau kamu ada rekomendasi tempat tinggal yang gak terlalu jauh dari ruko atau apartemen kamu?” Kata Papa.
“Nanti aku coba liat-liat dulu ya, Pa. Kalau udah nemu nanti aku kabari Papa”Jawabku.
“Kalau bisa jangan lama-lama ya, Nak. Karena bulan depan ruko udah harus kosong” Pinta Papa.
“Iya, Pa. Papa udah makan belum?” Tanyaku lagi.
Kami mengobrol lewat telepon selama sepuluh menit lamanya. membahas keseharianku dan Papa selama kami tidak tinggal bersama beberapa hari terakhir. Hingga suster Maia mengetuk pintu untuk memberitahu bahwa ada seorang pasien yang harus diperiksa.
Seorang pasien remaja datang ditemani sang ibu karena demam dan pusing. Aku menyarankan untuk melakukan cek darah karena sudah tiga hari demamnya tak kunjung turun. Setelah hasilnya keluar ternyata anak tersebut terindikasi terkena demam berdarah. Aku pun memberikan surat rujukan untuk ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.
Waktu menunjukan pukul sembilan malam berarti dua jam lagi sesi praktek soreku berakhir. Aku pun kembali ke ruangan belakang untuk beristirahat yang ternyata disana sudah ada Suster Maia. Kami mengobrol tentang klinik yang cukup ramai didatangi pasien anak hari ini. Dan ada sekitar lima pasien yang mengeluhkan hal yang sama demam, batuk dan pilek. Saat tengah asyik berbincang, seseorang dari bagian pendaftaran memberi tahu kalau ada pasien yang harus diperiksa.
Aku sempat terkejut karena nama pasien itu mirip dengan nama ibuku. Yennie Ramadhanti. Namun usianya satu tahun di bawahku. Melihat namanya saja membuatku tersenyum mengingatkanku pada Mama.
Tok.. Tok..Tok..
Pintu diketuk dan terdengar suara dari balik pintu.
“Malam, Dok” Katanya.
Aku sedikit terkejut saat melihatnya. Sekilas ia terlihat seperti Mamaku saat muda. Suaranya juga mirip.
Apa semuanya bisa disebut kebetulan? Atau karena rindu yang sudah terpendam sangat lama hingga membuatku berhalusinasi berjumpa dengannya… Batinku dalam hati…
*****