“Malam, silahkan duduk” Kataku saat sudah bisa kembali menguasai diriku setelah sempat terkejut dengan semua kebetulan ini.
Ia pun duduk setelah dipersilahkan. “Dok, udah beberapa hari ini saya sering sesak napas, mual sama nyeri di sini” Katanya sambil menunjuk ke arah ulu hatinya.
“Kita periksa dulu ya. Silahkan” Kataku sambil mempersilahkannya tiduran di bed periksa. Dugaan awal asam lambung dilihat dari ciri-ciri yang disebutkannya tadi.
Benar saja seperti dugaanku.
“Bu Yennie, ini asam lambungnya naik. Untuk sementara hindari dulu makanan yang pedas, minyak-minyak dan mengandung santan. Sama kalau misalnya suka ngopi dikurangi atau libur dulu ngopinya ya” Kataku setelah selesai memeriksanya.
“Kalau kopi agak susah, Dok. Karena saya kalau kerja suka sambil ngopi apalagi kalau lagi banyak kerjaan kayak sekarang” Kata Yennie wanita yang mirip dengan mamaku saat muda itu.
“Kerja dimana kalau boleh tau?” Tanyaku sedikit ingin tau.
“Salah satu perusahaan swasta, Dok. Bagian pemasaran. Kebetulan kami mau launching product baru jadi sering meeting buat bahas strategi biar product barunya laku dipasaran” Kata Yennie menjelaskan pekerjaannya padaku.
“Oh gitu, biarpun sibuk harus makan teratur ya. Biar asam lambungnya tidak naik. Ini sudah saya resepkan obatnya. Nanti bisa diambil di bagian Farmasi di depan ya, Bu. Semoga lekas sembuh ya” Kataku saat sudah selesai menuliskan resepnya.
“Baik, Dok. Terima kasih ya” Jawab Mbak Yennie lalu keluar meninggalkan ruangan periksa.
Aku memperhatikan pasien tersebut saat keluar hingga ia menghilang di balik pintu. Lalu menarik napas panjang. Mitosnya tiap orang mempunyai tujuh kembaran identik di dunia meskipun tidak ada ikatan darah sama sekali. Dan mungkin wanita tadi salah satu kembaran dari Mama yang secara kebetulan memiliki nama dan suara yang sama. Hanya usia mereka saja yang terpaut jauh.
“Dok, Dok Asha. Bangun, Dok. Jam praktek dokter udah selesai” Kata Suster Indah yang saat aku membuka mata ia sedang menepuk-nepuk punggung untuk membangunkanku.
Aku mimpi rupanya. Kataku dalam hati.
“Makasih ya, Sus” Kataku masih dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Setelahnya aku segera merapikan barang-barangku dan berjalan ke arah depan lalu berpamitan pada suster dan dokter yang bertugas selanjutnya.
Aku sempat memikirkan mimpi tadi di perjalanan pulang. Mungkin aku lagi kangen mama. Batinku.
Perjalanan dari klinik ke apartemen memakan waktu sekitar empat puluh menit menggunakan kendaraan roda empat. Setelah sampai aku segera membersihkan diri.
Aku mengecek ponselku sesaat setelah mandi. Tak ada notifikasi apapun. Mungkin karena waktu sudah menunjukan hampir tengah malam. Lalu aku mengetik sebuah pesan singkat untuk orang spesial di hidupku.
Pa, Jumat Asha libur. Kita ke makam Mama sama-sama yuk. Pulangnya kita liat-liat tempat buat Papa tinggal sementara.
Send!
Mungkin karena tadi aku sempat tidur di klinik, sekarang mataku jadi belum mengantuk. Malah perutku jadi terasa lapar. Aku pun beranjak menuju kulkas namun sayangnya aku hanya menemukan air putih didalamnya. Dan aku baru ingat kalau aku belum sempat berbelanja. Aku teringat akan permen coklat Dream Candy di dalam tas.
“Lumayan deh” Kataku lalu memasukkan permen tersebut ke dalam mulut. Lalu aku menyalakan TV untuk mengusir sepi meskipun tak ku tonton karena aku sibuk dengan ponselku.
Aku melihat postingan salah satu sahabatku Sophie yang saat sedang berlibur di salah satu pantai yang berada di Thailand. Ku ketik sebuah komentar di laman media sosialnya.
Enjoy the trip, bestie!
Terbesit keinginan untuk merencanakan liburan juga setelah melihat unggahan dari sahabatku Sophie tadi. Kulihat-lihat tiket ke beberapa destinasi dalam dan luar negeri yang memiliki destinasi pantai yang indah.
Aku membayangkan diriku tengah duduk-duduk santai menikmati hembusan angin pantai yang menerpa rambutku. Membiarkan kakiku terselimuti butiran pasir pantai yang hangat.
“Hai, kosong?” Tanya seorang laki-laki padaku sambil menunjuk ke arah kursi santai yang ada di sebelahku.
Aku mengangguk.
“Aku Ben” Katanya memperkenalkan diri sesaat setelah duduk.
“Asha” Jawabku singkat.
Aku meliriknya sebentar dari balik kacamata hitamku. Laki-laki dengan kulit eksotis dengan wajah yang sepertinya berdarah campuran. Ia mengenakan celana santai berwarna khaki dan kaus putih. Tak lupa kacamata hitam bertengger manis di hidung mancungnya. Sepertinya ia sedang berlibur.
“I’m not a bad guy. Jadi chill aja” Katanya membuatku malu
Aku pun segera mengalihkan pandanganku ke arah lain. Ternyata ia sadar kalau aku sedang memperhatikannya tadi.
“Liburan?” Tanyanya sambil matanya menatap ke arah pantai.
“Iya” Jawabku.
“Alone?” Tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
“Run away from something?” Tanya Ben lagi yang membuatku menatap kesal ke arahnya.
Aku menghela nafas panjang dan membereskan beberapa barang yang tergeletak di atas kursi santai tepi pantai.
“Hei, easy. I just wanna talk with you. Tapi kalau kamu gak nyaman I’ll go” Katanya begitu tau aku merasa tak nyaman dengan pertanyaannya.
Aku meliriknya lagi dan meletakkan barang-barangku yang sempat kurapikan tadi ke tempat semula.
“Aku kesini mau cari keluarga ibuku. Dia berasal dari Yogyakarta. But I don’t know where to start. Karena aku hanya memiliki sebuah foto lama ibuku dengan keluarganya yang ia bawa saat pindah mengikuti ayahku ke Canada” Kata Ben menceritakan alasan kedatangannya.
Awalnya aku tak tertarik dengannya. Namun setelah mendengar ceritanya aku menjadi iba.
“Kamu tau alamat ibumu saat ia tinggal di sini?” Tanyaku.
“She didn’t get a chance to tell me. My mom passed away when I was fifteen. Dan ayahku juga tidak ingat dimana ibuku dulu tinggal. Ia hanya ingat nama restoran tempat dulu ibuku bekerja. Mereka bertemu di sana. He fell in love when the first time he saw her” Kata Ben sambil tersenyum mengingat cerita tentang ayah dan ibunya.
“Kamu sudah coba cari di Kota asal ibumu tentang restoran itu?” Tanyaku penasaran tentang pencariannya.
“Ya. But no one knows. I guess it was closed a long time ago” Jawabnya. “So I decided to come to this beach” Katanya lagi melanjutkan.
“Why?” Tanyaku penasaran.
“Karena aku suka snorkling dan pantai disini sangat indah” Jawabnya sambil menatap lurus ke arah pantai.
“Kamu berasal dari sini?” Tanyanya padaku.
“No. I’m from Jakarta” Jawabku.
Ben mengangguk-angguk “I’ve been there” Katanya.
“Bahasa Indonesia kamu bagus. Pernah tinggal di sini sebelumnya?” Tanyaku sedikit penasaran dengan kemampuan berbahasanya.
“My mom teaches me. Aku juga pernah tinggal di Jakarta selama dua tahun” Katanya menjawab rasa penasaranku.
Aku mengangguk-angguk mengerti sekarang kenapa Ben cukup fasih dalam berbicara bahasa Indonesia.
“What are you doing’ here? I mean sitting here. Alone” Tanyanya menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
“Nothing. Just enjoy the view and take a break from my daily routine" Jawabku sambil melihat ke arah pantai.
Akhirnya aku dan Ben jadi bertukar cerita tentang kehidupan kami masing-masing. Ben juga bercerita tentang pekerjaannya sebagai pengajar yang juga memiliki hobi berselancar. Meskipun ia belum menemukan keluarga mendiang ibunya, ia cukup terhibur karena negara kelahiran sang bunda sangat cantik.
“Asha, can we meet again tomorrow? I have no friends here” Tanyanya sebelum kami berpisah.
“Sure” Jawabku.
“Good. I wanna show you good places here. Tomorrow at 10am. We met here. See you!” Katanya sambil berlari dan melambaikan tangannya.
Aku mengangguk tanda setuju dan membalas lambaian tangannya.
Kami pun berpisah sore itu. Aku berjalan sendiri menyusuri bibir pantai menikmati matahari yang perlahan mulai tenggelam. Sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggilku dari kejauhan. Aku menajamkan indera penglihatanku untuk melihat lebih jelas siapa yang memanggilku karena suasana pantai mulai agak gelap.
“Ya ampun, gak nyangka loh kita bisa ketemu di sini” Katanya saat kami sudah berhadapan.
Dan aku cukup terkejut siapa yang kutemui saat itu di tepi pantai.
*****