bc

Permen Coklat

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
time-travel
second chance
doctor
tragedy
genius
city
lonely
affair
expirenced
like
intro-logo
Blurb

Seorang dokter muda bernama Asha Hannah Mulyadi usia 28 tahun. Wanita cantik pekerja keras, baik hati, ramah, dan perhatian. Namun dibalik semua itu ia juga seseorang yang cepat mengambil kesimpulan, sedikit ceroboh dan terkadang suka semaunya sendiri.

Secara tidak sengaja ia menemukan setoples berisi permen coklat saat membantu ayahnya membereskan kamar karena sebentar lagi ruko yang menjadi tempat tinggal mereka akan segera direnovasi.

Awalnya ia mengira permen itu salah satu oleh-oleh sang ayah yang belum lama ini berlibur ke luar negeri. Toples itu berisikan permen coklat yang diberi nama Dream Candy dengan tulisan dibawahnya yang berbunyi The Sweetness Defeating Your Sweet Dreams. Asha memasukan toples permen coklat yang masih terisi penuh itu ke dalam tasnya.

Ternyata permen coklat Dream Candy bisa membawanya bertemu dengan seseorang yang sangat ingin ditemuinya. Ia bertemu dengan mendiang sang mama di usia yang tak jauh berbeda darinya. Mereka bertemu di alam mimpi setelah ia memakan Dream Candy. Dan di sana ia juga bertemu dengan seseorang bernama Ben. Pria berdarah campuran Indonesia-Kanada yang sengaja datang ke Indonesia untuk mencari keberadaan keluarga mendiang sang ibu.

Di kehidupan berbeda, Pak Arya ayah Asha mengajaknya untuk melihat beberapa tempat tinggal yang akan ditempatinya sementara selama tiga bulan karena rumah yang sekaligus menjadi ruko pertamanya akan di renovasi. Pak Arya juga mengajak Asha untuk bertemu dengan seseorang yang akan mengerjakan project renovasi tersebut.

Namanya Damar, ia pemilik perusahaan kontraktor bernama RumahIde dan juga merupakan anak dari sahabat Papa Asha saat ie berkuliah di Australia. Dan secara kebetulan Mereka bertemu kembali saat Asha dinner dengan kedua sahabatnya yang masing dari mereka membawa pasangan. Sedangkan Damar adalah sepupu dari Gerry kekasih dari Sophie sahabat Asha. Sophie sengaja meminta Gerry untuk mengajak seseorang untuk dikenalkan pada Asha. Dan ternyata empat pasang sejoli itu sengaja mempertemukan Damar dengan Asha tanpa mereka berdua sadari.

Di waktu yang lain, Asha berjanji untuk bertemu kembali dengan Ben. Karena kepribadian Ben yang menyenangkan Asha menjadi nyaman bercerita banyak hal pada Ben. Ben juga mengajak Asha mencoba berbagai hal baru seperti berselancar dan menyelam. Hal baru yang sebelumnya belum pernah Asha lakukan.

Selain menghabiskan waktu bersama Ben, ia juga banyak menghabiskan waktu dengan Yennie versi muda sang Mama. Yennie banyak bercerita tentang kehidupannya di masa itu termasuk kedekatannya dengan Arya. Laki-laki yang menjadi ayahnya sekarang. Hingga pada akhirnya Asha menyadari ada banyak kesamaan antara Yennie dengan Mamanya. Namun ia masih belum menyadari kalau semua itu terjadi karena permen coklat yang ia makan sebelumnya.

Di masa sekarang, Pak Arya ayah dari Asha mengajaknya untuk bertamu ke rumah Pak Wisnu sahabat Pak Arya saat mereka masih berkuliah di Australia. Yang juga merupakan orang tua dari Damar. Dan secara tiba-tiba mereka menjodohkan anak-anak mereka karena Asha dan Damar masih sama-sama single.

Awalnya Asha dan Damar sama-sama menolak. Namun karena banyaknya kebetulan yang direncanakan membuat mereka jadi semakin dekat. Walaupun Damar bersikap dingin dan terlihat cuek, ia sangat senang mengerjai Asha. Dan itu menjadi hiburan tersendiri buat Damar saat ia melihat Asha kesal karena perbuatannya. Hingga tanpa ia sadari rasa rindu muncul saat dirinya dan Asha tengah bertengkar.

Di waktu yang lain, Asha menemukan masa lalu sang Mama yang akhirnya membuat pandangannya di masanya yang sekarang menjadi berubah terhadap orang-orang disekelilingnya. Terutama pada sang ayah. Ia juga mulai mempertanyakan perasaan terhadap Ben. hingga akhirnya perlahan ia mulai menyadari kalau semua mimpi itu merupakan kehidupan nyata sang Mama dan mimpi itu semua terjadi tiap kali ia memakan permen coklat yang tak sengaja ia temukan itu.

Ia pun mulai merunutkan mimpi-mimpinya dengan kehidupannya sekarang. Ia mulai mencari tau semua itu. Termasuk menanyakan masa lalu sang Mama yang tak diketahuinya pada Pak Arya. Dalam pencarian kebenaran masa lalu itu ia dibantu oleh Damar. Dan tanpa ia sadari benih-benih cinta mulai tumbuh di antara ia dan Damar.

Dan saat semua masa lalu terungkap Asha merasa menyesal telah mengetahui semua itu. Ia pun sempat pergi untuk menenangkan dirinya tanpa memberitahu siapapun dimana keberadaannya saat itu. Hingga ia bertemu dengan seseorang yang ternyata itu adalah orang yang sama yang memberikan permen coklat itu pada Papanya beberapa tahun lalu.

Pertemuan dengan wanita tua misterius itu berhasil membuat Asha berdamai dengan masa lalu yang baru ia ketahui dan membuat Asha kembali pada orang-orang yang ia sayangi dan menyayanginya.

chap-preview
Free preview
prolog
Tok.. Tok.. Tok.. Aku yang sempat melamun sebentar kaget dengan suara ketukan pintu dari luar. Lalu tak lama seorang suster yang wajahnya sudah sangat familiar masuk ke dalam ruanganku. “Ya ampun, Sus. Kaget aku” Kataku pada suster Maia. Suster Maia tertawa mengetahui aku terkejut karena ulahnya. “Dok, pasien selanjutnya sudah boleh masuk sekarang?” Tanyanya padaku dari balik pintu ruang periksa. Aku mengangguk memberinya izin untuk pasien selanjutnya masuk ke ruangan periksa. Pasien yang baru masuk itu yang bernama Ibu Rita. Wanita paruh baya berumur 56 tahun. Ia mengeluh pusing sejak dua hari yang lalu. Sudah minum obat tetapi sakit kepalanya tak kunjung hilang. Dan setelah di tensi ternyata tekanan darahnya terbilang tinggi yaitu diatas 173/100. “Ibu kesini sama siapa?” Tanyaku setelah memeriksanya. Karena aku melihatnya memasuki ruangan praktek seorang diri. “Sama anak. Dia nunggu di depan” Katanya sambil tangannya menunjuk ke arah pintu. “Bisa tolong dipanggil anaknya sebentar, Bu” Tanyaku pada Bu Rita. Ia pun melangkah ke arah pintu dan melambaikan tangannya ke arah sang anak. Tak lama sesosok lelaki sekitar tiga puluh tahunan masuk ke ruang periksa. Setelah ibu dan anak itu duduk aku pun segera menjelaskan keadaan Bu Rita pada sang anak. “Sore Pak, perkenalkan saya Dokter Asha izin menjelaskan kondisi Bu Rita ya. Ibu menderita hipertensi tekanan darahnya 173/100. Untuk usia Ibu sekarang seharusnya tidak boleh di atas 145/90” Kataku menjelaskan. Aku juga menganjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang lebih sehat dan rutin berolahraga ringan. “Baik, Dok terima kasih sarannya. Mama saya kadang suka susah dibilangin. Dia masih seneng makan goreng-gorengan dan lebih banyak nonton TV di rumah dan pergi-pergi arisan bareng teman-temannya” Kata anak Bu Rita mengadukan kelakuan ibunya di rumah padaku. Sedangkan sang ibu terlihat malu melihat kelakuan sang anak. AKu pun tersenyum melihat kelakuan ibu dan anak tersebut. “Ibu, mulai sekarang harus dikurangi ya makan gorengannya. Bisa diganti sama buah atau sayur. Sama jangan lupa olahraga. Yang ringan-ringan aja seperti jalan kaki supaya peredaran darahnya lebih lancar dan memperbaiki fungsi jantung” Ucapku pada Bu Rita. “Iya Dok. Dokter baru ya? Saya baru liat dokter” Tanyanya padaku. “Sudah satu tahun saya praktek di klinik ini, Bu. Kebetulan jadwal praktek saya disini satu minggu sekali setiap hari Rabu dari jam empat sore sampai jam sebelas malam. Mungkin pas Ibu kesini saya lagi gak ada jadwal praktek. Makanya baru sempat bertemu saya sekarang” Jawabku sambil menjelaskan jadwal praktek di Klinik Sehat. Ia pun mengangguk-angguk sepertinya sependapat denganku. “Baik, ada yang mau ditanyakan lagi Bu Rita dan Bapak…” tanyaku pada ibu dan anak yang saat ini sedang duduk di depanku. “Damar, Dok” Kata Bu Rita memberitahu nama anaknya. “Sudah cukup, Dok” jawab sang anak mewakili ibunya. “Baik. obatnya sudah saya resepkan. Nanti silahkan diambil di depan ya, Bu, pak. Sama jangan lupa bulan depan kembali lagi buat cek lagi. Semoga lekas sehat ya Bu Rita” Ucapku sebelum mengakhiri sesi periksa Bu Rita. Lalu mereka pun keluar. Setelahnya ada dua pasien lagi yang harus aku periksa malam itu. Satu pasien anak usia lima tahun dengan keluhan batuk dan pilek sudah tiga hari. Satu lagi seorang wanita dewasa dengan keluhan sesak napas dan setelah aku periksa ternyata asam lambungnya naik karena stres pekerjaan di kantor yang sedang overload. “Sus, aku masih ada pasien lagi gak?” Tanyaku pada seorang suster yang sedang menatap layar komputer. “Belum ada lagi, Dok” Katanya sambil mengalihkan pandangannya padaku. “Aku ke ruang belakang dulu ya. Mau istirahat sebentar” Kataku. Ia pun mengangguk mengerti. Lalu aku menuju salah satu ruangan di belakang ruangan Farmasi. Di klinik tempatku bekerja memang disediakan satu ruangan istirahat khusus untuk dokter atau suster yang bekerja shift malam. Walaupun hanya terdapat satu karpet ukuran 120cm x 180cm, satu meja, dua kursi plastik dan satu rak sepatu tiga susun. Aku mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Tapi tanpa sengaja aku melihat toples kecil permen coklat yang aku ambil dari laci meja kerja papa saat ia memintaku membantunya membereskan kamarnya beberapa hari yang lalu. Aku pun mengambil satu permen coklat itu dan memasukkannya ke dalam mulut. “Hmm.. Enak juga” Kataku sambil memperhatikan toples itu karena aku baru melihatnya. Toples itu berbentuk tabung yang terbuat dari kaca dengan tutup bulat berwarna emas dengan tulisan Dream Candy di tengah-tengah toples tersebut. Dan ada tulisan kecil di bawah nama permen tersebut yang berbunyi The Sweetness Defeating Your Sweet Dreams. Semua tulisanya berwarna emas dengan background hitam yang terlihat kontras dan sangat simple untuk sebuat permen yang rasanya cukup enak. Kuperhatikan bungkus permen berwarna merah itu satu persatu. Tidak ada informasi lain yang tertulis di sana selain nama permen dan tagline nya. Tanggal expired nya pun tak ada. Jadi kupikir Papa membelinya saat ia sedang berlibur ke luar negeri beberapa waktu lalu. Aku duduk sila di lantai lalu mulai membuka media sosialku untuk melihat ada apa saja yang baru di sana. Baru sebentar aku melihat-lihat postingan dari teman-temanku ada bunyi pesan masuk dari Papa. Lagi sibuk tidak, Nak? Seperti itu bunyi pesannya. Lalu segera ku telpon Papa karena sudah beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan lebih memilih pulang ke apartemen karena lebih dekat dengan klinik dan rumah sakit tempatku bekerja. Setelah beberapa kali nada sambung, telepon pun diangkat. “Halo, Nak. Lagi gak sibuk ya?” Tanya Papa saat menerima panggilan dariku. “Lagi belum ada pasien lagi, Pa. Kenapa, Pa?” Tanyaku kali ini. “Kamu kapan libur? Antar Papa cari tempat tinggal sementara sampai ruko selesai renov ya. Atau kamu ada rekomendasi tempat tinggal yang gak terlalu jauh dari ruko atau apartemen kamu?” Kata Papa. “Nanti aku coba liat-liat dulu ya, Pa. Kalau udah nemu nanti aku kabari Papa”Jawabku. “Kalau bisa jangan lama-lama ya, Nak. Karena bulan depan ruko udah harus kosong” Pinta Papa. “Iya, Pa. Papa udah makan belum?” Tanyaku lagi. Kami mengobrol lewat telepon selama sepuluh menit lamanya. membahas keseharianku dan Papa selama kami tidak tinggal bersama beberapa hari terakhir. Hingga suster Maia mengetuk pintu untuk memberitahu bahwa ada seorang pasien yang harus diperiksa. Seorang pasien remaja datang ditemani sang ibu karena demam dan pusing. Aku menyarankan untuk melakukan cek darah karena sudah tiga hari demamnya tak kunjung turun. Setelah hasilnya keluar ternyata anak tersebut terindikasi terkena demam berdarah. Aku pun memberikan surat rujukan untuk ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut. Waktu menunjukan pukul sembilan malam berarti dua jam lagi sesi praktek soreku berakhir. Aku pun kembali ke ruangan belakang untuk beristirahat yang ternyata disana sudah ada Suster Maia. Kami mengobrol tentang klinik yang cukup ramai didatangi pasien anak hari ini. Dan ada sekitar lima pasien yang mengeluhkan hal yang sama demam, batuk dan pilek. Saat tengah asyik berbincang, seseorang dari bagian pendaftaran memberi tahu kalau ada pasien yang harus diperiksa. Aku sempat terkejut karena nama pasien itu mirip dengan nama ibuku. Yennie Ramadhanti. Namun usianya satu tahun di bawahku. Melihat namanya saja membuatku tersenyum mengingatkanku pada Mama. Tok.. Tok..Tok.. Pintu diketuk dan terdengar suara dari balik pintu. “Malam, Dok” Katanya. Aku sedikit terkejut saat melihatnya. Sekilas ia terlihat seperti Mamaku saat muda. Suaranya juga mirip. Apa semuanya bisa disebut kebetulan? Atau karena rindu yang sudah terpendam sangat lama hingga membuatku berhalusinasi berjumpa dengannya… Batinku dalam hati… *****

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
49.8K
bc

TERNODA

read
204.5K
bc

Kali kedua

read
223.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook