“Dok, Dokter Asha” Katanya sambil berjalan menghampiriku dari arah yang berlawanan. “Ya ampun, gak nyangka loh kita bisa ketemu di sini” Katanya saat kami sudah berhadapan.
Aku sempat terkejut mendapati siapa yang memanggilku sejak tadi.
“Yang waktu itu di klinik ya?” Kataku saat sudah menguasai diri dari rasa keterkejutanku.
“Iya, aku Yennie” Katanya lagi sambil memperkenalkan diri.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
Aku masih mengingatnya. Sangat ingat bahkan. Seorang wanita muda yang datang ke ruangan praktek untuk berobat. Namanya mirip dengan mendiang ibuku. Dan saat ia masuk ke ruang praktekku, ternyata bukan hanya namanya saja yang mirip. Wajahnya juga mirip dengan ibuku saat beliau masih muda dulu.
“Lagi apa di sini?” Tanyaku ramah setelah kami berjabat tangan.
“Aku lagi liburan, Dok. Dokter sendiri?” tanyanya padaku.
“Sama” Kataku sambil tersenyum.
“Dokter sama siapa?” Tanyanya lagi.
“Aku sendiri. Mbak Yennie sama siapa disini?” Kataku bertanya balik.
“Aku juga sendiri, Dok. Panggil Yennie aja” Pintanya.
Aku pun mengiyakan. “Kalau gitu panggil aku juga nama aja. Gak usah pakai Dok” Kataku sambil tersenyum.
“Ok” Jawab Yennie.”Kalau abis ini gak ada acara, mau makan malem bareng gak?” Tanyanya padaku.
“Boleh. Yuk” Kataku menyetujui ajakannya.
Kami pun berjalan menyusuri pinggir pantai sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam sore itu. Sambil menyusuri pantai kami mendiskusikan hendak makan malam dimana. Ada banyak pilihan tempat makan pinggir pantai yang menghadap langsung ke laut lepas. Dihiasi lampu-lampu yang menambah cantik suasana. Dan kami memilih salah satu restoran di sana untuk makan malam.
“Asha, kamu tinggal dimana selama di sini?” tanya Yennie sambil menunggu hidangan kami di sajikan.
“Aku tinggal di Sunset Hotel. Kamu?” Kataku bertanya balik pada Yennie.
“Aku tinggal di dekat sini. Besok kamu mau kemana?” Katanya menanyakan tentang kegiatanku esok hari.
“Aku ada janji sama teman. Dia mau mengajakku berkeliling. Kenapa? Kalau kamu belum ada acara kita bisa pergi sama-sama” Kataku.
“Kebetulan aku sudah ada acara besok. Aku mau ngajak kamu sarapan bareng. Ada local food enak di sekitar sini. Kamu mau coba?” Tanyanya lagi padaku.
“Sure. Jam berapa?” Tanyaku besemangat.
“Jam tujuh tiga puluh. Kita ketemu di warung Yuk Djum. Makanan yang dijual harganya terjangkau dan enak semua” Katanya menjelaskan tentang tempat makan yang akan kami kunjungi besok.
“Kamu udah kemana aja selama di sini?” Tanya Yennie lagi.
“Belum kemana-mana. Baru ke pantai aja hari ini” Jawabku. “Kamu tau tempat yang bagus di sini selain pantai?” Tanyaku.
“Ya. Berhubung besok kamu sudah ada janji dengan temanmu. Bagaimana kalau lusa? Kita ketemu di lobby hotel tempat kamu menginap. Jam sepuluh pagi. Aku akan mengajak kamu ke tempat yang pasti akan kamu suka” Katanya memberi usul padaku.
Aku pun langsung setuju dengannya.
Tak lama makan malam kami datang. Kami memesan seporsi udang bakar jimbaran, honey chicken, bakwan jagung, plecing kangkung dan dua porsi nasi. Sedangkan untuk minumnya kami memesan dua gelas ice lemonade.
Kami makan malam sambil mengobrol tentang pekerjaan Yennie yang bisa dibilang lumayan mirip dengan mendiang ibuku waktu muda dulu. Ia bekerja di perusahaan nasional yang bergerak dibidang pangan. Pekerjaanya sebagai staf pemasaran yang harus merancang strategi untuk menarik minat pelanggan dan meningkatkan hasil penjualan dari produk yang dijual. Hingga tak jarang membuat Yennie begitu sibuk dan lupa makan.
Setelah selesai makan malam, kami pun berjalan bersama hingga ke penginapan tempat aku tinggal.
“Besok pagi jangan lupa ya. Kita sarapan bareng di Warung Yuk Djum. Jam setengah delapan. Jangan telat” Katanya sebelum berlalu pergi dan melambaikan tangan.
Aku pun membalas lambaian tangannya sebelum masuk ke dalam hotel.
“Aduh, aku lupa minta nomor ponselnya” Kataku saat teringat bahwa kami belum saling bertukar nomor ponsel. Begitupun dengan Ben.
Beep.. Beep.. Beep..
Alarm di ponselku pun berbunyi. Waktu sudah menunjukan pukul lima tiga puluh pagi. Aku bergegas untuk mandi dan bersiap-siap untuk pergi sarapan bersama Yennie. Setelah selesai mandi aku memilih baju yang akan ku kenakan.
Aku memilih short jeans dengan white t-shirt dipadukan dengan oversize kemeja khaki dan topi dengan warna senada. Tak lupa kubawa kacamata hitam, UV protector, handuk kecil dan pakaian ganti. Semuanya kumasukan kedalam tas. Setelah selesai menyiapkan itu semua aku segera memakai white sneakers lalu bergegas keluar kamar hotel. Agar tidak terlambat untuk sarapan bersama dengan Yennie.
Warung yu Djum letaknya tidak terlalu jauh dari penginapanku. Aku melihat Yennie melambaikan tangannya saat ia melihatku dari jauh.
“Asha!” Panggilnya sambil melambaikan tangan ke arahku.
Aku pun segera mempercepat langkah agar bisa segera sampai.
“Sudah dari tadi?” Tanyaku saat sudah sampai di sana.
“Belum lama. Aku sengaja tunggu kamu di depan supaya kamu gak kelewatan” Ujarnya.
“Terima kasih ya” Kataku pada Yennie.
Setelahnya kami segera memilih menu sarapan. Kami memesan dua Nasi Ayam Bali dan dua es jeruk manis.
Kami makan sambil berbincang. Ternyata Yennie sempat berkuliah di sini. Makanya ia tahu beberapa tempat makan enak dan murah, serta halal. Ia juga merekomendasikan beberapa tempat yang layak dikunjungi selama di Bali. Salah satunya Desa Bangli dan Pantai Lovina. Dan ia menyarankan lebih baik berkeliling menggunakan motor untuk menghindari kepadatan lalu lintas di daerah sekitar tempat wisata.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh kurang. Aku teringat akan janjiku dengan Ben. Aku pun segera bersiap untuk pergi ke tempat kami berjanji untuk bertemu.
“Yennie, I’ve already paid for our breakfast” Kataku sesaat sebelum pergi.
“Ok. Next time aku yang traktir ya. Jangan lupa besok aku jemput di depan hotel jam sepuluh pagi ya.” Katanya.
Aku pun mengangguk.
“Asha, thanks anyway and enjoy your trip” Katanya lagi.
“Ya. You too Yennie. See you tomorrow” Jawabku lalu pergi menuju pintu keluar Warung Yu Djum.
Aku sedikit berlari kecil menuju tempat pertemuanku dengan Ben. Saat sampai waktu sudah jam sepuluh lewat lima belas menit. Aku mencari keberadaannya.
“Asha” Panggil Ben sambil melambaikan tangan ke arahku.
Aku berjalan menghampirinya. Ia sedang duduk di pinggir pantai sambil ditemani sebuah kelapa bulat dengan sedotan diatasnya.
Ia tersenyum ramah saat aku sampai. “Kamu habis lari ya? Mau minum?” Tanyanya saat melihatku berkeringat dan menawarkan air kelapa yang sedang diminumnya.
“Ya. I’m afraid you’re waiting for me too long” Jawabku sambil mengatur nafasku untuk kembali normal.
“No. Aku menikmati ini semua sambil menunggumu datang” Katanya.
“So, where are we going now? You should take me to good places" Kataku.
“Sure. I will. Let's go” Katanya sambil menggandeng tanganku menuju jalan raya.
“Are you sure you can drive this?” Tanyaku ragu saat ia menaiki sebuah motor.
“Ya. Kenapa? Kamu gak percaya?” Tanyanya padaku yang terlihat ragu padanya. Ia pun mengeluarkan dua buah sim internasional untuk pengendara roda dua dan roda empat.
“Ayo” Katanya setelah memasukkan kedua SIM nya ke dalam dompet dan memakaikan aku helm.
Kami berkendara menuju salah satu galeri seni yang berada di daerah Seminyak. Setelah puas melihat-lihat koleksi seni yang dipajang di sana kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Double Six. Ia mengajakku untuk menjajal salah satu olahraga air.
“Aku gak bisa surfing, Ben” Kataku.
“I’ll teach you” Katanya meyakinkankku karena ia melihatku tak yakin untuk mencobanya. “Aku dosen. And I’m a good teacher. Ayo” Katanya kembali meyakiniku.
Aku pun akhirnya setuju untuk mencobanya.
Pertama Ben memberiku papan berukuran besar karena lebih stabil. Lalu mengajariku teknik dasar paddling atau mendayung dan berdiri di atas papan dari yang awalnya tiarap. Kami belajar di daratan terlebih dahulu beberapa saat kemudian ia mengajakku untuk belajar di pinggiran pantai.
“It’s hard” Kataku pada Ben setelah beberapa kali gagal berdiri di atas pantai.
“Ayo kita istirahat dulu” Setelah ia melihatku sudah mulai sedikit kelelahan.
Aku dan Ben memilih duduk-duduk di pinggir pantai sambil menikmati matahari terbenam.
“Kamu tinggal dimana selama di sini?” Tanya Ben membuka percakapan diantara kami.
“Sunset Hotel. Kamu?” Kataku bertanya balik.
“No way. Kenapa gak bilang dari kemarin? Aku juga menginap disana selama di Bali” Katanya memberitahuku. “Kalau begitu besok kita bisa sarapan bersama” Ajaknya.
“Of course” Kataku setuju dengan usulnya. “Let’s get some food. I’m starving” Kali Ini aku yang mengajaknya makan duluan karena perutku mulai terasa lapar.
“Lets go” Katanya lalu bangun dan membantuku membereskan beberapa barang yang tergeletak di atas pasir.
Setelah keluar dari area pantai akhirnya kami menemukan salah satu restoran yang tempatnya cukup nyaman. Aku memesan sate ayam lengkap dengan nasi dan lemongrass tea. Sedangkan Ben memesan braised beef cheek dan diet coke.
“Do you have plan for tomorrow?” Tanya Ben saat kami sudah selesai makan.
“Ya, kebetulan aku bertemu dengan salah satu pasienku di sini kemarin. Jadi kami berencana untuk pergi bersama besok. Kamu mau kemana besok?” Kataku pada Ben.
“Tadinya aku mau ajak kamu ke salah satu sekolah tari di sini. But unfortunately someone asks you first. Tapi tidak apa-apa aku akan kesana sendiri.” Katanya dengan mimik wajah yang pura-pura dibuat sedih.
“Jangan pasang wajah seperti itu. It won't affect me” Kataku. Lalu kami tertawa bersama.
Setelah merasa cukup kenyang kami memutuskan untuk kembali ke hotel karena hari sudah gelap. Kami berkendara sekitar enam puluh menit untuk sampai di hotel. Saat sampai di hotel aku dan Ben menaiki lift yang sama. Ben mengantarku sampai depan kamar.
“Thanks for today” Katanya sebelum ia kembali ke kamarnya di lantai delapan. Dua lantai di atas kamarku.
“Sama-sama. It's more fun when you have company on your trip” Kataku sebelum masuk ke kamar.
“Asha, …..” Tiba-tiba aku tak bisa dengan jelas mendengar apa yang Ben katakan. Lalu semuanya menjadi buram dan gelap.
*****