Sayup-sayup aku mendengar suara ponsel berbunyi berbarengan dengan bunyi bel di pintu apartemenku. Aku terbangun dan meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dariku.
My Papa
Segera ku geser layar diponsel.
“Halo, Pa” Kataku begitu sambungan terhubung.
“Halo, nak. Kamu baru bangun?” Tanya Papa saat mendengar suara khas banguntidurku. “Papa sudah di depan pintu apartemen kamu” Katanya lagi lalu memutus sambungan telepon.
Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya aku berjalan untuk membukakan pintu untuk Papa.
“Pulang jaga jam berapa?” Tanya Papa saat pintu terbuka.
“Dua belas, Pa” Jawabku sambil menguap karena masih mengantuk.
“Ambil piring. Papa masakin kamu bubur buat sarapan. Sama ini dimasukin kulkas baut kamu makan” Kata Papa sambil menyerahkan tiga bungkusan yang berisi dua buah bubur, satu berisi lauk pauk protein seperti, semur ayam, beef roulade dan ayam rica-rica. Dan satu bungkus lagi berisi beberapa macam lauk sayuran.
Aku memasukkan semua itu ke dalam kulkas dan akan kuhangatkan terlebih dahulu di microwave sebelum dimakan.
“Kulkas kamu kosong banget, Sha. Kalau stok makanan sudah habis bilang Papa,biar Papa masakin lagi buat kamu” Kata Papa saat tak sengaja melihat kulkasku yang hanya berisi air putih.
“Kan tiap dua minggu sekali Papa ke sini. Kasian Papa kalau harus bolak balik buat anter lauk aja” Jawabku sambil menata kotak kotak makanan yang Papa bawa.
“Papa senang masakin kamu dan Papa gak pernah ngerasa repot ngelakuin itu” Kata Papa membuat hatiku tersentuh.
“Papa you’re so sweet” Kataku sambil menghampiri dan memeluknya.
“Ayo sarapan. Terus siap-siap ketemu Mama. Papa udah kangen” Katanya sambil menuntunku untuk duduk di hadapannya.
Kami pun sarapan bersama setelah sekian lama tidak melakukannya karena tinggal terpisah. Papa menceritakan tentang rencananya membangun rumah makan pertama kami sekaligus tempat tinggal kami dulu di sela-sela sarapan.
Setelah selesai sarapan aku bersiap-siap untuk pergi ke makam Mama lalu menemani papa mencari tempat tinggal sementara selama ruko kami direnovasi. Diperjalanan kami mampir ke toko bunga untuk membeli mawar putih. Bunga favorit mama semasa hidupnya.
“Assalamualaikum, Ma” Kataku begitu kami sampai di tempat tinggal Mama yang baru.
“Aku bawa bunga kesukaan kamu, Ma” Kata Papa. “Bulan depan ruko kita mau direnovasi. Jadi aku harus cari tempat tinggal sementara sampai ruko selesai. Mudah-mudahan semuanya lancar ya” Kata Papa sedikit menceritakan keadaanya pada Mama.
“Amin.. Ma, udah beberapa hari ini Asha mimpiin seseorang yang mirip mama. Cuma usianya lebih muda. Itu mama bukan ya yang datang ke mimpi Asha?” Tanyaku sambil menatap batu nisan mama.
Kami sedikit berbagi cerita tentang kehidupan kami pada mama. Tak lupa mengenang kebersamaan kami dengannya.
“Ma, kita pulang dulu ya. Kapan-kapan kita mampir sambil cerita-cerita lagi ya” Kataku sebelum beranjak pergi.
“Aku pulang dulu ya. Aku juga pengen mimpiin kamu. Aku kangen kamu, Yennie” Ujar Papa lirih sambil menatap batu nisan bertuliskan Yennie Ramadhanti.
Setelah dari makam Mama kami, aku dan Papa melanjutkan perjalanan kami mencari tempat tinggal sementara untuk Papa selama ruko direnovasi. Ada tiga tempat yang akan kami lihat hari ini.
Yang pertama sebuah apartemen yang letaknya cukup dekat dengan makan mama. Kami mendatangi tempat itu terlebih dahulu. Apartemen itu tipe studio biaya sewanya cukup terjangkau dan sudah full furnished. Tempat tinggal kedua apartemen dengan satu kamar dan sudah full furnish. Namun harganya lebih mahal dari yang pertama. Sedangkan yang ketiga sebuah rumah dengan tiga kamar yang ternyata letaknya tidak jauh dari ruko kami yang akan direnovasi.
“Diantara ketiganya ada yang papa suka gak?” Tanyaku saat kami dalam perjalanan menuju ruko.
“Papa suka apartemen yang pertama karena dekat dengan Mama kamu. Jadi papa bisa sering-sering ke sana kalau bosan. Tapi ruangannya kecil. Sedangkan apartemen yang kedua lebih besar dan ada kamarnya tapi biaya sewanya mahal dan jauh dari ruko” Jawab Papaku.
“Kalau rumah tiga kamar kebesaran ya, Pa?” Tanyaku lagi.
Papa mengangguk “Sebenarnya Papa juga suka rumah ketiga karena dekat dengan ruko jadi bisa sering-sering lihat progres renovasinya. Oya, Sha abis ini kamu ada acara gak?” Tanya Papa tiba-tiba.
“Gak ada. Kenapa?” Kataku menjawab pertanyaannya.
“Temenin Papa ketemu orang kontraktor yang ngerjain ruko ya. Sebentar sekalian makan malam bareng” Kata Papa sambil mengetik pesan singkat pada seseorang.
“Boleh. Dimana?” Tanyaku.
“Di kantornya dia. Gak jauh dari sini kok. Sebentar papa share locationnya ke ponsel kamu” Katanya lalu tak lama pesan singkat masuk ke ponselku.
Segeraku atur tujuan kami mengarah ke alamat yang baru saja dikirim. Dan kami pun segera meluncur ke sana.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit kami sampai di sebuah bangunan empat lantai. Kami masuk ke lobby yang dibelakangnya terpampang nama perusahaan itu yaitu RumahIde.
“Sore Bu, saya Arya mau bertemu dengan Damar. Sudah buat janji sebelumnya”
“Baik Pak Arya, sebentar saya hubungi beliau dulu ya pak” kata seorang resepsionis dari balik mejanya.
Kami duduk di sofa yang elah disediakan di ruang tunggu.
“Sha, yang punya ini anaknya temen Papa. Om Wisnu. Temen kuliah Papa waktu di Australia dulu” Kata Papa menjelaskan siapa pemilik perusahaan konstruksi yang akan merenovasi ruko kami.
Aku mengangguk sambil memperhatikan interiornya. “Dapet diskon dong, Pa?” Tanyaku asal.
“Hus. Kamu tuh. Gak enak lah. Masa orang lagi usaha malah dimintain diskon” Kata Papa.
Aku hanya cengengesan mendengarnya masih sambil memperhatikan desain interiornya yang bergaya industrial.
Setelah beberapa saat menunggu resepsionis tersebut pun menghampiri kami lalu mengantarkan aku dan Papa menuju ruangan si pemilik perusahaan yang berada di lantai empat. Dan setelah sampai Papa membuka pintu dan masuk keruangan itu duluan.
“Sore, Nak Damar” Kata Papa berjalan menghampiri Damar dan menyalaminya. “Ini anak saya Asha. Tadi saya minta antar cari tempat tinggal direnovasi. Jadi sekalian saya ajak ke sini. Gak apa-apa kan?” Kata Papa menjelaskan sambil memperkenalkanku pada Damar.
“Gak apa-apa Om Arya. Santai aja” Kata Damar pada Papaku. Lalu ia mengulurkan tangannya padaku untuk berkenalan.
“Damar” Katanya.
“Asha” Kataku sambil menjabat tangannya.
Laki-laki usia sekitar awal tiga puluhan, berbadan tegap dan berwajah cukup tampan. Ia mengenakan atasan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku dipadukan dengan celana bahan warna coklat.
“Gimana Om, ada yang bisa dibantu?” tanya Damar setelah perkenalan kami.
Papa pun menjelaskan kalau ada beberapa bagian dari denah yang kemarin untuk diperbaharui di bagian lantai dua. Tempat beberapa karyawan yang akan tinggal disana menemani Papa. Mereka juga membicarakan tentang desain interior yang akan diterapkan di ruko nanti setelah renovasi selesai. Agar suasananya menjadi lebih segar dan kekinian.
“Gimana kabar Papa dan Mamamu, Damar?” Kata Papa menanyakan kabar temannya pada Damar.
“Alhamdulillah baik Om. Cuma Mama harus kontrol rajin kontrol ke dokter karena darah tingginya” Jawab Damar menjelaskan keadaan ibunya.
“Ya Ampun, kapan-kapan Om sama Asha main ke rumah buat nengokin mama kamu ya” Kata Papa membuatku menoleh ke arahnya seketika karena tanpa persetujuanku ia bilang kalau kami akan berkunjung ke rumah Damar.
Dan itu membuat Damar melihat ke arahku sejenak.
“Boleh Om. Nanti Biar saya bilang Papa sama Mama kalau Om mau main. Kabarin aja ya, Om” Katanya.
“Ya sudah, kalau gitu Om sama Asha pamit dulu ya. Udah lewat dari jam kerja kamu soalnya” Kata Papaku sambil berdiri hendak menyalami Damar.
“Nanti kabarin aja ya Om kalau mau ke rumah. Dan terima kasih ya Om sudah percaya sama perusahaan saya buat renov tempat usaha Om Arya” Kata Damar sambil menjabat tangan Papaku.
“I trust you and your work, Damar” Jawab Papa sambil melangkah menuju pintu keluar diikuti olehku dan Damar.
Damar mengantar kami sampai ke mobil dan mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya.
“Hati-hati dijalan, Om” Katanya lagi.
Damar, wajahnya terlihat familiar dimataku. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi entah dimana aku masih belum bisa mengingatnya.
*****