Aku memasuki unit apartemenku dengan tergesa-gesa karena aku tak ingin terlambat sampai ke rumah sakit tempatku bekerja. Aku pun langsung bergegas menuju kamar mandi. Lalu menuju lemari pakaian dan memilih beige turtleneck dan celana panjang hitam bahan dipadukan dengan sneakers putih. Tak lupa juga membawa Snelli yang kugantungkan di tangan sebelah kanan.
Di tempat yang berbeda, Damar melihat sebuah dompet tergeletak di bawah di tempat kursi penumpang mobilnya. Ia pun membuka dompet berwarna hitam itu dan mencari kartu tanda pengenal untuk mengetahui siapa pemiliknya. Dan nama yang tertera di sana adalah Asha Hannah Mulyadi berserta alamat ruko tempat yang pernah ia kunjungi beberapa hari lalu untuk survey lokasi.
Damar segera menghubungi seseorang lewat ponselnya.
“Ger, boleh minta nomor Asha?” Tanyanya pada Gerry.
“Pas semalem nganter bukannya minta. Biar gampang kalau mau ngajak makan siang bareng” Jawab Gerry dari seberang sana.
“Dompetnya ketinggalan di mobil. Mau gue pulangin” Kata Damar menjelaskan maksudnya menanyakan nomor ponsel Asha.
“Ngajak makan siang sekalian juga gak papa, Mar” Kata Gerry yang masih terus menggodanya.
“Kirim by w******p ya” Pinta Damar tanpa memperdulikan ucapan Gerry. Lalu mematikan panggilan sepihak.
Dan tak lama sebuah pesan singkat masuk dari Gerry yang berisi nomor ponsel Asha. Damar pun segera masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap ke kantor.
“Baru pulang?” Sapa sang bunda saat melihat anak lelaki satu-satunya masuk rumah.
“Iya, Ma” Jawab Damar sambil mencium tangan sang mama.
“Semalam tidur dimana? Tempat Gerry?” Tanya Bu Rita lagi.
“Di apartemen, Ma. Damar ke kamar dulu ya. Mau siap-siap ke kantor” Kata Damar segera masuk ke kamarnya untuk menghindari pertanyaan selanjutnya dari Bu Rita.
Bu Rita mengangguk. Namun tak lama ia bergumam pelan pada dirinya sendiri “Kalau tidur di apartemen ngapain pulang. Bukannya lebih dekat kalau berangkat ke kantor dari sana ya?”
Damar tampak memperhatikan kembali penampilannya di depan cermin. Denim pants dipadukan dengan kaos putih polos dan kemeja biru yang senada dengan celana serta sepatu kets. Setelahnya ia pun berjalan menuju ruang makan untuk sarapan.
Saat tengah menikmati sarapan ia melihat Bu Rita berjalan menuju ke arahnya.
“Semalam kamu beneran tidur di apartemen, Mar” tanya mamanya lagi.
Damar mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.
“Kalau tidur di sana ngapain pulang? Kan lebih dekat dari sana” Tanya Bu Rita lagi yang masih penasaran.
“Ada yang ketinggalan, Ma” Ucap Damar mencari alasan.
“Apa yang…” Belum sempat Bu Rita menyelesaikan kalimatnya Damar memotongnya.
“Ma, Damar jalan dulu ya” Katanya sambil cepat-cepat menyelesaikan sarapannya untuk menghindari pertanyaan selanjutnya dari sang Mama.
Begitu sampai di mobilnya, Damar segera menghubungi Asha. Di waktu yang sama ternyata Asha baru saja tiba di parkiran rumah sakit tempatnya bekerja.
Awalnya Asha ragu untuk menerima panggilan itu karena nomor tersebut tidak terdaftar di ponselnya. Namun nomor itu menghubunginya lagi. Hingga akhirnya Asha pun mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal tersebut.
“Halo” Sapaku saat sambungan telepon sudah terhubung.
“Dompet kamu ketinggalan di mobil saya” Ucap seseorang dari seberang sana langsung pada intinya tanpa salam apalagi perkenalan terlebih dahulu.
“Dompet?” Tanyaku sambil menepikan mobil. “Kamu mau nipu saya ya? Maaf saya gak punya waktu buat ngeladenin kamu” Tanyaku sambil mematikan ponsel karena sedang terburu-buru. Lalu terburu-buru keluar dari mobil.
Damar tak menyangka kalau Asha mengira ia hendak menipunya. Padahal niat Damar baik. Ingin mengembalikan dompet milik Asha.
“Semalam disangka pacaran sama laki. Sekarang disangka mau nipu. Gak beres nih perempuan otaknya” Ucap Damar sambil geleng-geleng kepala.
Lalu ia segera menyalakan mesin mobilnya untuk menuju kantornya, RumahIde.
Asha berjalan cepat menuju poli umum karena saat ini waktu telah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh menit dan ia sudah terlambat. Saat sampai di sana untungnya belum ada antrian pasien di ruang tunggu. Aku menghampiri nurse station untuk menyapa beberapa perawat yang akan membantuku bekerja hari ini.
“Pagi, sudah pada sarapan belum?” Tanyaku pada beberapa perawat di sana.
“Belum sempat, Dok” Jawab beberapa perawat.
“Sama aku juga belum” Kataku sambil tertawa.
“Tumben telat banget datengnya Dok Asha?” Tanya salah seorang perawat disana.
“Kesiangan. Jadi kejebak macet” Jawabku. “Aku ke ruangan praktek dulu ya” Kataku lagi sebelum melanjutkan menuju ruangan praktek untuk memeriksa pasien.
Satu persatu pasien mulai berdatangan. Dan saat tengah memeriksa salah satu pasien yang datang untuk berobat, ponselku berbunyi. Aku baru memeriksanya dua puluh menit kemudian. Dari nomor yang tak ku kenal dan sepertinya itu nomor yang menghubungiku tadi pagi saat akan berangkat ke rumah sakit.
Dompet kamu ketinggalan di mobil saya. Tolong share location tempat kerja kamu.
Damar.
Aku pun segera memeriksa tas untuk mengecek keberadaan dompetku. Dan benar saja dompetku tidak ada di sana.
Segera ku balas pesan singkat Damar dengan mengirimkan nama rumah sakit dan lokasinya. Dan melanjutkan lagi memeriksa pasien selanjutnya hingga satu setengah jam kemudian ponselku kembali berbunyi.
Saya sudah sampai di lobby rumah sakit.
Ternyata itu pesan singkat dari Damar. Aku segera mengetik pesan balasan untuknya. Dan tak lupa kusimpan juga nomornya. Damar Kulkas.
Tiga puluh menit lagi jam praktek gue selesai. Bisa tolong tunggu sebentar lagi? Tapi kalau gak bisa tolong di titip ke Information Centre.
Send!
Setelah tiga puluh menit berlalu aku bersiap untuk menuju lobby rumah sakit. Ternyata Damar masih menungguku di sana.
“Damar” Kataku saat sudah berada di depannya.
Ia tidak menjawabku dan langsung memberikan dompetku tanpa berbicara sepatah kata pun.
“Makasih ya” Kataku saat sudah menerima dompet darinya. Aku pun berniat untuk pergi setelah mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih doang?” Tanya Damar yang menghentikanku saat hendak berjalan meninggalkannya.
Aku pun berbalik menatapnya. Seolah-olah bertanya Kamu mau apa lagi? melalui tatapan mata.
“Saya ngorbanin jam makan siang buat anter dompet kamu. Sampai sini masih juga disuruh nunggu jam praktek kamu selesai” Katanya.
Aku menarik nafas panjang “Mau makan dimana?” tanyaku yang kebetulan belum makan siang juga.
“Bebas” Katanya menyerahkan tujuan makan siangnya padaku. Dan setelah mengatakan itu ia berjalan mendahuluiku.
Aku pun berjalan mengikutinya dari belakang. Namun tiba-tiba.
Bruk…
“Ngapain sih?” Tanyanya sambil berbalik menghadapku.
“Kalau berhenti jangan mendadak makanya” Kataku sambil mengusap-usap kepalaku yang menabrak punggungnya.
“Kalau jalan liatnya kedepan” Katanya. “Yang mana mobil kamu?” Tanyanya masih dengan nadanya yang ketus.
Aku berjalan mendahuluinya menuju mobilku. Damar mengikutiku dari belakang dan memilih untuk duduk di kursi penumpang.
Aku menatapnya kesal karena selama perjalanan ia hanya diam saja dan asyik bermain ponsel. Aku merasa seperti supir pribadinya. Hingga kami sampai di sebuah rumah makan yang menu utamanya menyediakan ayam bakar bumbu rujak.
“Mau pesan apa?” tanyaku pada Damar saat telah selesai memesan makan siang.
“Samain aja sama kamu” Jawabnya masih sibuk dengan ponselnya.
“Mas, ayam bakar bumbu rujak dua, nasi uduk dua sama es jeruk manisnya dua juga. Sama bakwan jagung seporsi” Kataku pada pelayan rumah makan tersebut.
“Makan kamu banyak juga ya” Kada Damar saat aku selesai memesan makan.
“Ngadepin lo tuh butuh banyak energi. Jadi gue harus makan banyak. Dan lo pasti gak tau ungkapan kalau orang lapar jadi galak” Kataku ketus.
“Oya? Kayak kamu sekarang ini?” Tanyanya padaku.
Aku hanya meliriknya. Karena sudah sangat lapar dan energiku sudah benar habis selama di rumah sakit dan sekarang harus menghadapi sikap Damar yang menyebalkan.
Untungnya tak lama kemudian pesanan kami pun datang. Makan siang kami diiringi lagu jawa dan tanpa ada percakapan sama sekali.
“Habis ini mau kemana?” Tanya Damar sesaat setelah aku menyelesaikan makan siangku.
“Pulang. Kenapa?” Jawabku sambil bertanya karena penasaran.
“Nice! Tolong antar saya balik ke kantor ya. Mobil saya di kantor. Tadi saya ke rumah sakit naik taksi online.” Jawabnya lalu berjalan menuju mobilku.
Aku menatapnya dengan jengkel. Lalu berjalan menuju kasir untuk membayar makan siang kami berdua. Setelahnya aku menyusul Damar yang sudah berdiri di samping mobil.
“Biar saya aja yang nyetir” katanya sambil tangannya menunjukan gestur meminta.
Aku pun memberinya kunci mobil padanya lalu segera naik duduk di kursi penumpang. Saat mobil baru berjalan ponselku berbunyi.
My Papa Calling…
“Halo, Nak. Lagi dimana?” Tanya Papa setelah sambungan telepon terhubung.
“Lagi dijalan pulang, Pa. Kenapa?” Tanyaku.
“Hari Jumat kamu gak ada praktek sore kan? Temani Papa ke rumah Om Wisnu ya” Tanya Papa yang membuatku menoleh ke arah Damar.
“Aku harus ikut ya, Pa?” Tanyaku karena agak enggan bertemu kembali dengan Damar.
“Harus dong. Kamu kan sudah lama gak ketemu dengan Om Wisnu dan istri. Sabtu sore Papa jemput ke apartemen kamu ya” Katanya tanpa menunggu persetujuanku dahulu.
“Iya” Jawabku.
“Ya sudah hati-hati dijalan ya” Kata Papa lalu mengakhiri panggilan.
Aku sedikit mengantuk karena selama perjalanan menuju kantor Damar tidak ada percakapan diantara kami. Jadi aku mengambil permen coklat yang ada di dalam tasku untuk membuatku tetap terjaga. Aku membukanya lalu memasukkannya satu ke dalam mulut.
“Mau gak?” Tanyaku pada Damar menawari permen coklatku.
Ia menggeleng.
Aku memasukkan permen itu lagi ke dalam tas dan secara tiba-tiba sebuah sinar menerangi ku hingga membuat ku terpejam karena silaunya.
Dan sayup-sayup aku mendengar seseorang memanggil-manggil namaku.
“Asha.. Asha…”
Aku kesulitan mengenali siapa yang memanggil namaku karena sinarnya begitu menyilaukan mataku.
*****