PROLOGUE
Brittany’s POV
Tentangku...
'Baby' itulah panggilan dari para fans untukku. Mereka bilang itu karena tampangku yang baby face dan kulitku yang putih halus seperti bayi. Bukannya aku sombong atau narsis tapi menurut mereka aku cantik hingga menyamakanku dengan boneka Barbie.
Awalnya aku tidak suka dengan panggilan itu, mendengar orang asing tak dikenal memanggilku seperti itu rasanya menggelikan, sok akrab. Tapi di dunia entertainment dimana visual sering kali menjadi daya jual seorang artis, akhirnya aku pasrah dengan image dan sebutan itu.
Bagaimanapun kini aku mulai menikmati perhatian yang para fans berikan untukku. Mereka memanjakanku dengan berbagai hadiah mewah yang sebenarnya tidak aku perlukan. Mereka juga selalu menyapaku di halaman komentar dengan kata-kata pujian atau rayuan setiap kali aku membuka akun sosial media. Memang tidak sulit bagiku untuk bertingkah sok imut atau manja karena hingga saat ini sifat dan kelakuanku memang masih kekanakan.
'Baby', itu juga panggilan untukku dari mulut lelaki yang tak ingin kusebutkan namanya saat ini. Seorang lelaki yang bisa dibilang sudah mengubah jalan hidupku selamanya.
Pada awalnya aku pikir cinta lokasi adalah hal yang paling tidak profesional bagi seorang aktor, tapi sejak bertemu dengannya aku seperti menelan ludahku sendiri. Hidupku seolah jungkir balik seperti rollercoaster. Aku tidak tahu apakah karena aku seorang aktris amatir yang mudah terbawa perasaan, tak bisa membedakan akting dan kenyataan, atau mungkin karena aku memang terlalu bodoh dan lugu. Aku dengan naifnya mengira lelaki itu merasakan hal yang sama seperti yang karakter dalam film yang dia mainkan bersamaku.
'Baby' dalam desahan nafasnya dan suaranya yang familiar setiap kali dia menyentuhku, aku sadar semuanya itu hanya palsu! Baginya aku hanyalah mainan kecil yang bisa dibuang kapan saja saat dia bosan atau tak lagi menggairahkan. Tapi aku sebenarnya tidaklah begitu bodoh, aku tahu kadang realita tak sesuai dengan ekspektasi dan segala sesuatu mempunyai dua sisi. Aku pun mulai membuat topengku sendiri, di balik wajah polos dan senyuman manisku, aku juga sedang mempermainkannya, setidaknya begitulah pikirku.
Namaku Brittany Jasmine Sinclair, usiaku 18 tahun dan baru memulai karir sebagai aktris. Aku tidak tahu apakah aku sudah salah memilih peran atau mungkin ini adalah takdir Tuhan. Dibalik gemerlapnya dunia hiburan yang penuh dengan senyum kepura-puraan, ini adalah kisah hidupku yang mungkin tak se-innocent image-ku yang para fans bayangkan.
***
Tentang Gregorio
Tinggi, tampan, seksi dan maskulin; aku akui dia benar-benar perwujudan dari Adonis seperti karakter yang dia mainkan dalam filmnya. Namanya adalah Gregorio Isaiah, usianya 22 tahun. Dia adalah seorang model yang kadang berjalan di cat walk atau muncul di majalah fashion. Sama sepertiku, dia juga baru memulai karirnya sebagai aktor. Dia adalah partner pertama yang dipasangkan denganku sebagai karakter utama dalam film. Sebuah film indie romantis berjudul Fever of Love yang entah bagaimana meskipun hanya beredar di internet dan tidak pernah tayang di layar bioskop mainstream, film itu sukses melebihi perkiraan. Secara otomatis popularitas kami berdua melejit dalam waktu singkat. Jumlah followers-ku di sosial media saja bertambah hingga puluhan kali lipat.
Awalnya perasaanku pada Kak Greg biasa saja. Aku hanya kagum akan fisiknya yang membuatku sedikit minder dan iri. Tubuhnya tinggi menjulang dan sangat kontras dibandingkan diriku yang bahkan fans-ku sendiri bilang bantet. Mereka bahkan memanggilku “chubby” atau “gendut” sebagai ungkapan kesayangan. Kedengarannya memang seperti bodyshamming tapi aku sudah terbiasa. Tubuhku sejak kecil memang gemuk dan dari penampilanku dulu yang bisa dibilang culun, tidak ada teman-teman masa kecilku yang menyangka bahwa aku akan menjadi seorang aktris seperti sekarang ini.
Kembali tentang Kak Greg, dari yang aku perhatikan saat berhubungan dengannya dia adalah seorang bipolar, emosi dan cara berpikirnya sulit dimengerti. Terkadang dia bersikap dingin dan acuh seperti tidak butuh, tapi kadang dia bersikap sangat posesif dan pencemburu. Dia bisa marah dan cemburu padaku bahkan jika aku hanya bercanda dengan rekan lelaki lainnya atau sekedar berinteraksi dengan fans.
Tidak ada hubungan spesial di antara kami selain profesionalisme sebagai rekan kerja. Setidaknya itulah yang ingin diperjelas oleh pihak manajemennya terutama Kak Melanie. Ya, aku tidak lebih hanya sekedar kekasih dalam drama dan kedekatan kami di depan publik tidak lebih dari fanservice.
Namun semenjak film kami tayang dan beredar luas, banyak fans tergila-gila, sebagian dari mereka ada yang terobsesi dan menjadi delusional. Tentunya itu sangat meresahkan dan membuatku jadi serba salah, semakin fans garis keras-ku bertingkah di luar nalar semakin banyak pula anti fans mencaci makiku.
Mungkin karena itulah sikap Kak Greg menjadi semakin dingin padaku. Terutama saat di hadapan publik kami tak lagi seperti berteman. Aku tahu dia adalah tipe orang yang sangat menjaga privasi. Aku juga tahu dibalik statusnya di social media dan publik yang selalu mengaku sebagai single, dia sebenarnya masih menjalin hubungan dengan kekasihnya.
Ya selain menjalin hubungan denganku dia juga masih berpacaran dengan kekasihnya. Dia memasang topeng sebagai lelaki gentleman berstatus single di depan publik tapi memperlakukanku seperti 'istri' nya di saat tertentu. Tapi aku mengerti alasan mengapa dia memilih untuk menyembunyikan fakta itu, dia seorang yang sangat menjaga privasi dan dia sangat peduli pada reputasi.
Meskipun aku tahu sikapnya seperti itu, entah sejak kapan aku bisa terperangkap dalam pesona Kak Greg. Aku tidak tahu. Aku padanya seperti serangga kecil yang terbang mendekati cahaya hanya untuk mati dan terbakar. Mungkin aku memang seorang yang masochist, karena berapa kali pun dia melukai tubuhku, mencabik-cabik hatiku dan mengacaukan pikiranku, aku tidak pernah bisa membencinya. Aku bahkan tidak tahu jika perasaanku padanya ini adalah cinta atau hanya obsesi semata seperti fans yang tergila-gila padaku. Yang aku tahu perasaan itu sepertinya perlahan mulai membeku seiring dengan sikap dinginnya padaku.
***
Tentang Joshua
Aku tidak pernah menyangka akan ada sosok lelaki lain selain Kak Greg yang bisa membuat jantungku berdebar kencang dan mendadak salah tingkah. Aku pikir aku hanya jatuh cinta pada pandangan pertama pada Greg tapi ternyata aku salah.
Tinggi, tampan dan berkulit coklat sawo matang, ditambah tubuh yang tak kalah seksi dengan Kak Greg. Namanya adalah Joshua Wayne, usianya 21 tahun, ya hanya 1 tahun lebih muda dari Kak Greg. Bukan ketampanan fisiknya lah yang membuatku terkesima, senyuman dan sikapnya yang hangat saat pertama kali bertemu sungguh berbeda dengan kesan pertamaku pada Kak Greg yang dingin.
Kak Josh aku memanggilnya, aku bertemu dengannya dalam sebuah acara yang singkat. Dia datang menyapaku dan mengajakku mengabadikan pertemuan kami di live i********:- nya. Awalnya aku kira dia hanya seorang fanboy, tapi kemudian aku sadar dia terlalu tampan untuk menjadi seorang fanboy. Sama seperti Kak Greg, Kak Josh juga berprofesi sebagai model. Dengan tubuh seksi dan atletisnya bisa membuat wanita dan pria gay mengantri dan juga para pria straight iri.
Aku tidak menyangka dia bisa tertarik padaku yang hanya bermodal wajah babyface ini. Entah kenapa juga hubungan kami bisa berlanjut sampai saat ini. Meskipun sama halnya dengan hubunganku dengan Kak Greg, tidak ada ikatan yang jelas antara aku dan Kak Josh. Satu hal yang aku tahu di dunia yang serba instan ini tidak perlu ada komitmen untuk menikmati kesenangan duniawi. Lagipula aku pikir tubuhku sudah tidak lagi seberharga seperti saat aku masih perawan dan belum disentuh oleh Kak Greg. Aku sudah 18 tahun, aku mengerti apa kebutuhan orang dewasa karena aku sendiri juga sudah dewasa, benar kan?
Pertemuan yang intens dengan Kak Josh mulai menghangatkan kembali hati dan tubuhku dari sikap dingin Kak Greg. Saat ini aku mungkin kedengarannya seperti gadis nakal dan murahan. Aku tahu saat ini aku sedang bermain api, begitu mudahnya mempersilahkan satu lagi orang asing untuk memasuki hidupku dan ruang hatiku yang masih kacau dan tidak karuan.
Jika Kak Greg adalah ibarat gunung es yang sulit untuk mencair maka kebalikannya, Kak Josh seperti gunung berapi dengan lahar panasnya yang siap melahap tubuhku. Tapi keduanya sama saja, pada akhirnya mereka bisa membunuhku kapan saja, dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Mungkin aku harus menghentikan ini semuanya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.
TBC