Salju yang turun di kota Tianjin sudah hampir menutupi jalanan, sebagian berterbangan tertiup angin dan mengetuk jendela kaca yang sudah diliputi embun. Udara dingin di malam bulan Desember menunjukan suhu -7 derajat celcius, cukup dingin untuk membuat tubuh membeku sampai ke tulang belulang. Bagi Brie yang terbiasa tinggal di negara tropis, bersentuhan pertama kali dengan cuaca musim dingin di negara subtropis sangat menyiksanya. Namun kali ini ada yang berbeda, temperatur kamar hotel dimana dia menginap saat ini begitu hangat, atau lebih tepatnya begitu panas.
"Baby... you're so hot... so tight!..."
Daun telinga Brie memerah seketika saat mendengar bisikan lembut nan menggoda itu. Sekujur tubuhnya merinding bukan karena udara yang dingin tapi karena makna dibalik kalimat itu. Senyum kecil dan nakal terukir di sudut bibirnya yang merah muda.
"Aah... Kak Greg~"
Gadis 18 tahun itu tak bisa berhenti mengeong manja. Sekujur tubuhnya menggelepar seperti ada aliran listrik jutaan volt yang menjalar keseluruh sistem syarafnya. Dan siapa lagi sumber tegangan itu jika bukan berasal dari pria yang saat ini sedang mendekapnya erat dan menerjang tubuhnya seperti singa lapar.
Waktu berlalu, di luar sana jalanan mulai sunyi, suara riuh sorak sorai para penggemar yang berkumpul di sekitar hotel dan masih penasaran untuk sekedar selfie dan tanda tangan sudah tak terdengar lagi. Hanya desah dua insan yang masih terjaga, saling bergerilya mencari kenikmatan.
"Deeper... Kak Greg! Aahh~ faster... harder! Aah!.."
Tak bisa lagi mengontrol diri, kata-kata vulgar bak aktor porno profesional dengan fasih terlontar dari mulut Brie. Semua yang diucapkannya begitu bertolak belakang dengan wajah cantik dan innocent-nya yang fans sering sandingkan dengan malaikat. Sayangnya malam ini malaikat itu telah ternodai dan menjelma menjadi iblis kecil, atau lebih tepatnya sosok succubus, sang iblis penggoda.
"Mmph!"
Greg mengunci rapat bibir gadis itu dengan mulutnya, rasa vanilla mint menjalar dalam rongga mulutnya saat lidah mereka berdansa, rasa yang membuatnya semakin menggila. Entah sejak kapan gadis bernama Brittany ini menjadi candu yang membuat seorang Gregorio Isaiah tak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Sepasang kaki putih mulus sengaja dilebarkan untuk memberi akses pada Greg agar bisa menjelajahi tubuhnya lebih dalam. Tak ada seinci pun jarak yang membatasi mereka selain butiran keringat yang menetes dari pori-pori dan membasahi tubuh keduanya.
Detik demi detik suara ranjang berderik semakin intens, seprai putih yang tadinya rapih semakin kusut, desahan yang tadinya terdengar lirih berubah menjadi erangan. Waktu berlalu, keringat dingin bercucuran di dahi dan sekujur tubuh dua insan yang lelah bertempur. Mereka berdua hanya berbaring bersebelahan di ranjang dengan tatapan kosong, menatap dinding kamar dalam diam. Kegelisahan muncul dalam batin Brie, apakah Greg merasakan kepuasan sama seperti dirinya atau justru sebuah penyesalan. Brie harap dia tak perlu mendengar jawaban yang kedua.
"Kak Greg... Apa kau sudah mulai jatuh cinta padaku?"
Suara parau Brie memecah keheningan, ajaibnya membuat atmosfer yang awalnya hangat berubah seketika menjadi canggung. Rambut hitamnya yang panjang dan sedikit ikal tampak acak-acakan saat dia menyandarkan kepalanya di bantal. Dengan ekspresi polos, jemari kecilnya menari di atas tato berbentuk naga yang terpatri di lengan Greg. Tato keren yang Brie kagumi sejak pertama kali melihatnya membuat tubuh lelaki ini terlihat lebih seksi dan artistik.
"Udara sangat dingin... Sebaiknya cepat mandi dan pakai bajumu lagi!"
Greg menjawab dingin dan tanpa ekspresi. Pria bertubuh lebih tinggi itu beranjak dari tempat tidur, tangannya meraih celana dalam berwarna putih yang sedari tadi tegeletak di lantai dan kemudian memakainya kembali. Di punggungnya terlihat bekas merah cakaran yang masih baru hasil karya seni dari tangan nakal Brie, namun Greg sepertinya yang tak merasakan sakit atau terganggu.
"Kak Greg! Jangan mengalihkan pembicaraan! Kenapa kau selalu menghindar setiap kali kutanya, huh?!"
"Berisik! Berhentilah bersikap seperti anak kecil, Brie!" jawab Greg ketus sembari menyalakan rokoknya. Tenggorokannya sebenarnya terasa tercekat saat membentak wajah polos gadis di hadapannya.
"Aku memang bukan anak kecil lagi! Tapi aku ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya! Kita sudah terlalu lama melakukan hal ini dan sudah terlalu jauh! Apa kau, sadar huh?"
"Perasaan? Heh!" Greg tertawa.
"Apa perasaan itu penting? Dengar! Yang terpenting adalah kau suka tidur denganku dan juga ikut menikmatinya?! Iya kan?!" Dengan nada sarkastik Greg menatap Brie dengan tatapan dingin.
"Oh please! Jangan menatapku seperti gadis perawan yang sedang meminta pertanggung jawaban! Kita berdua melakukannya atas dasar suka sama suka, tapi rasa suka itu berbeda dengan cinta. Kau mengerti kan?" Jawaban dari mulut Greg membuat binar harapan di mata Brie redup seketika. Tanpa ada perlawanan dia hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Baiklah! Aku mengerti! Tapi lain kali, jika kau mengajakku melakukan itu lagi, sebaiknya pakai pengaman! Aku tidak mau hamil ataupun terkena penyakit menjijikan darimu!" balas Brie sarkastik. Dia kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi berbalik memunggungi Greg, sengaja menyembunyikan matanya yang kini merah dan berkaca-kaca.
"Hhhh... Baiklah... Deal!"
Greg tanpa rasa tersinggung malah menghela nafas lega. Dia memutar badan dan berlalu ke kamar mandi. Di dalam sana di depan cermin, dia kembali menghela nafas dalam. Dia mengusap wajahnya dengan air mencoba segera melupakan apa yang baru saja terjadi. Tapi sayangnya tidak bisa, tubuhnya masih bisa merasakan kehangatan gadis itu dalam dekapannya. Suaranya, nafasnya, setiap inci tubuh mulusnya, membayangkannya saja membuat sang Mr.P mulai mengeras dan bereaksi lagi.
"Argh! Sial!"
Suara keran shower dinyalakan. Greg melangkah berdiri di bawah guyuran air dingin yang dengan segera membasahi tubuhnya. Tak peduli jika dirinya akan terkena flu atau demam, Greg hanya berharap air dingin bisa menenangkan dirinya dan mendinginkan kepalanya dari kabut tebal yang memenuhi pikirannya.
Hari ini tanpa sepengetahuan siapapun dirinya baru saja secara resmi putus dengan Cheryl. Kekasih wanitanya itu rupanya sudah mencium gelagat perselingkuhannya dan Greg tak bisa mengelak lagi. Siapa lagi jika bukan karena Brittany? Belakangan hanya wajah gadis itu yang muncul dalam pikirannya. Perasaan apa ini? Rasa suka? Sayang? Cinta? Jika itu adalah cinta, sama seperti yang diutarakan Greg, tidak Greg belum siap untuk mengakui hal itu.
Keputusannya untuk mengakhiri hubungan dengan Cheryl masih menyisakan luka yang menganga. Baru kali ini Greg mengetahui rasanya dicampakkan, jujur saja egonya sedikit terluka. Selama ini sebagai seorang playboy dia pikir bisa mengatur petualangan cintanya dengan rapih, namun semenjak kehadiran Brie dalam hidupnya, semuanya menjadi kacau balau.
***
Sementara itu di dalam kamar yang kini sunyi senyap, Brie masih terdiam meringkuk di ujung tempat tidurnya. Dia menggigit bibirnya keras, berusaha sekuat tenaga agar isak tangisnya tak terdengar. Udara dingin yang datang dari celah jendela mulai terasa menerpa tubuhnya tapi hatinya terasa begitu panas seperti terbakar.
"I knew it! Don’t cry! Don’t cry! You stupid girl!" Brie mengumpat dalam hati dan di antara tangisnya dia tertawa miris. Tanpa dia bisa hentikan air mata terus mengalir membasahi pipi dan bantalnya.
"He’s not deserved your tears! Toughen up Brie!” batinnya lagi sembari menyeka air matanya dengan punggung tangan. Dia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Rasa sakit dihatinya saat ini tak sebanding dengan rasa sakit di tubuhnya.
Tanpa bersuara dia bangkit dari posisi tidurnya untuk mengintip jendela kaca yang terletak tepat disamping tempat tidur. Dia melongokkan kepalanya untuk menatap pemandangan langit malam balik kamar hotelnya. Kerlap-kerlip lampu jalanan dan gedung menghiasi malam layaknya seperti kerlip bintang di langit. Pemandangan malam kota Tianjin yang indah saat ini begitu kontras dengan perasaannya yang kacau balau seperti kapal pecah.
Jika Brie berusaha mengenyahkan perasaan negatifnya saat ini dan berpikir positif, sebenarnya adalah sebuah keberuntungan bagi dirinya bisa berada di kota ini. Tanpa kesuksesan film yang dia bintangi, sebagai aktris pemula yang berasal dari keluarga sederhana, tak mungkin Brie berjalan-jalan ke luar negeri dan menjejakkan kakinya di kota ini untuk melakukan jumpa fans.
“Apakah hatiku juga akan mendingin seperti salju yang turun di kota ini?” Batin Brie saat menyentuh satu serpihan salju dengan ujung jarinya.
Di waktu yang sama derap langkah terdengar keluar dari kamar mandi, Brie masih bisa mendengarnya dengan jelas tapi dia memilih kembali ke posisinya, meringkuk dan pura-pura tidur.
Sekujur badannya memang terasa sakit dan lelah, Brie bahkan tidak yakin jika dia bisa berjalan dengan normal di esok hari, untuk bangkit berdiri tadi saja rasanya sulit. Padahal cairan lengket di sela pahanya dan bagian bawah perutnya mulai mongering, terasa tak nyaman.
"Kau tidur saja duluan, aku akan pergi ke luar sebentar..." Greg berucap dengan nada datar, tak peduli Brie dengar atau tidak, dia sudah berpakaian lengkap dengan jacket dan hoodie hitamnya dan melangkah keluar kamar. Dia memutuskan untuk mencari angin di luar, mungkin minum sedikit di bar atau apapun terserah selain berdiam di tempat ini. Melihat wajah Brie dan mengingat percakapan terakhir mereka tadi membuat suasana hati Greg tidak karuan.
Saat Greg hendak membuka kunci pintu, di waktu bersamaan terdengar dering ringtone membahana di seisi ruangan. Suara ringtone bernada lagu KPop itu tak salah lagi berasal dari ponsel Brie yang tergeletak di meja. Mata Brie terbelalak kaget saat mendengar suara ringtone yang khas ditelinganya itu. Tubuhnya reflek bergerak untuk meraih ponsel itu tapi sialnya kalah cepat dengan Greg. Saat itu juga Greg memicingkan mata, user ID dan wajah yang muncul di layar ponsel begitu familiar.
... Josh memanggil...
"ARGH! KEMARIKAN PONSELKU!" Rebut Brie dengan teriakan dan tatapan galak. Tingkahnya itu membuat Greg terperanjat hingga mengurungkan niatnya untuk pergi. Benar saja detik kemudian nada ceria Brie terlontar dari mulutnya saat menyapa si penelepon, ekspresi yang sungguh jauh berbeda dengan yang dia perlihatkan tadi dan entah kenapa membuat Greg curiga.
"Kak Josh! Apa kabar? Kenapa kau menghubungiku malam-malam begini?"
TBC