“Ada apa ini? Siapa itu Josh? Kenapa orang itu menelepon di jam segini? Dan apa hubungan dia dengan Brie?” Telinga Greg mendadak panas dan benaknya diliputi rasa curiga saat nama itu keluar dari mulut Brie.
Joshua, nama itu tidak asing bagi Greg begitu pula wajahnya. Joshua adalah rekan sesama model yang Greg kenal sudah lama, bahkan lebih lama dibandingkan dia mengenal Brie. Greg akui pemuda yang berusia setahun lebih muda darinya itu memiliki penampilan seksi maskulin dan ketampanan yang tak kalah darinya. Greg bahkan masih ingat jika Joshua adalah saingan beratnya saat memperebutkan proyek untuk menjadi brand ambassador celana dalam Calvin Klein. Berkat otot perutnya yang dinilai lebih sempurna Joshua-lah yang menjadi pemenangnya waktu itu. Tapi Greg masih beruntung karena dia mendapatkan tawaran dari brand lain yang tak kalah terkenal seperti Hugo Boss. Tanpa dirinya sadari, Greg masih tertegun dan berdiri mematung di depan pintu, niatnya semula untuk pergi keluar mencari angin segar hilang begitu saja.
"Kak Josh, kau belum menjawab pertanyaanku! Kenapa kau meneleponku sekarang? Aku kan sedang berada di China! Sambungan internasional itu kan mahal!" ujar Brie dengan suara khasnya yang manja.
"Hai sayang! Kau ini pergi ke luar negeri tidak bilang-bilang! I miss you so much! Don’t you miss me, huh?" Balas suara di seberang sana dengan nada menggoda, Brie menelan ludah dan mendadak canggung. Dia sadar sepasang mata tengah tertuju padanya, menatapnya tajam dari belakang, jika pandangan itu bisa membunuh saat ini dia mungkin sudah mati.
"Brie? Kenapa kau diam? Kau sedang apa sekarang?" lanjut Joshua, penasaran.
"Uum, aku sedang bersiap untuk fanmeeting besok, Kau sendiri bagaimana apa kau sedang tidak ada kerjaan?!" Brie menggigit bibir bawahnya keras, berharap Joshua tidak menyadari rasa gugupnya saat ini.
"Oh, Aku kebetulan tadi ada pekerjaan pemotretan di Pangandaran, Aku sempat bertemu dengan Ibu mu tadi siang, jadi aku sengaja ingin meneleponmu sekarang!"
"Pangandaran! Kau bertemu dengan Mama? Apa kau bertemu dengan adikku juga?" pekik Brie antusias.
Mendengar nama tempat kelahirannya disebut Brie tiba-tiba merasakan kerinduan yang mendalam untuk pulang kampung dan menemui keluarga. Memang benar, penampilan Brie yang merupakan gadis berdarah blasteran membuat orang mengiranya sebagai anak yang lahir di kota besar metropolitan atau di luar negeri. Sejatinya Brie lahir di sebuah desa kecil di Ciamis yang dekat dengan pantai. Kulit putih bersih kebule-bulean yang dimilikinya adalah karena DNA sang Ayah yang merupakan pria WNA dari Amerika Serikat. Namun wajah tampan dan senyum manis yang dimilikinya adalah turunan dari Ibunya sendiri yang memang dikenal sebagai kembang desa di wilayahnya.
"Iya, aku bertemu adikmu juga, Ibumu sangat cantik dan adikmu Fiona sangat manis dan imut, tapi tidak secantik semanis dan seimut my Baby Brie!"
"Cih! Gombal! Kenapa kau malah berakting seperti Adonis, sih? Huekk! Aku jadi mual!" Brie pura-pura muntah sebelum kembali tergelak, lengannya memeluk bantal dan berguling-guling di kasur seperti anak kecil yang kegirangan. Saking antusiasnya dengan percakaan ini dia mengacuhkan Greg yang masih menguping di belakangnya.
"Mual?! Yaah, baru mendengar gombalanku saja kau sudah hamil? Sepertinya aku lebih hebat dari Adonis!"
"Idih! Siapa yang hamil?! Dan apa maksudnya kau lebih hebat dari Adonis?" Brie balas bercanda.
“Ya itu! Aku bisa membuatmu hamil cukup lewat kata-kata!”
“Hei, jangan salah paham, Josh! Kalimatmu menjijikan makanya aku ingin muntah!”
Adonis adalah karakter yang kebetulan diperankan Greg dalam film yang dibintanginya bersama Brie. Mendengar dua pemuda itu membicarakan karakternya di film tentu saja membuat Greg terganggu.
"Ehm!" Greg berdehem keras dan suaranya membuat senyum Brie hilang seketika.
"Um, Kak Josh! Sudah dulu ya... Ada singa menyeramkan memelototiku dari tadi!"
"Singa?! Siapa maksudmu? Aha! Apa Greg juga sedang di sampingmu?"
Pertanyaan Joshua terakhir membuat Brie sontak menelan ludahnya. Kenapa dia begitu bodoh hingga membuat Joshua sadar kehadiran Greg yang sejak tadi memang berada di sampingnya.
"Brie! Boleh aku berbicara dengan Kak Greg sebentar!" Suara dibalik telepon itu terdengar begitu clueless dengan keadaan yang sebenarnya terjadi.
"E-umm, sebaiknya tidak usah! Greg sebentar lagi katanya mau pergi..." Brie menjawab gelagapanm sialnya ponselnya malah langsung direbut Greg begitu saja.
"Hei, Josh! Ini aku Greg! Ada apa?" sahut Greg dengan nada monotonnya, dalam hati dia sedang mencoba menahan amarah yang berkecamuk.
"Oh, Kak Greg! Maaf mengganggu acara rehearsal kalian, kalian sedang di Tianjin kan? Aku dengar suhu udara di sana sangat dingin, tapi aku lihat di foto kalian di airport Brie hanya memakai jaket tipis. Aku harap kau jaga si gadis keras kepala itu dan memastikannya tetap hangat!"
"Ya tentu saja, aku pasti akan 'menghangatkannya'..." Jawab Greg memotong pembicaraan. Nada suaranya memang terdengar ramah tapi sangat bertolak belakang dengan ekspresinya, tatapannya yang sedingin es mampu membekukan siapa saja, terutama pemuda di hadapannya.
"Baiklah aku percaya padamu dan jaga dirimu juga Greg."
Seringai iblis terukir di wajah Greg saat mendengar kalimat pemuda itu. “Kau percaya padaku? Tentu saja! Dasar bodoh!”
"Ya, kau juga Josh, selamat malam!"
Itulah balasan terakhir yang Greg ucapkan sebelum menutup panggilan di telepon begitu saja. Dia sama sekali tidak peduli dengan reaksi Greg yang sebenarnya masih ingin lama-lama berbincang dengannya.
Detik selanjutnya Brie merasakan atmosphere ruangan menjadi begitu dingin, bukan karena kenyataan bahwa dirinya memang masih telanjang bulat tapi suasana canggung ini terasa lebih dingin daripada udara malam di luar sana.
"Umm... Kau tidak jadi pergi?" tanya Brie ragu. Dia mencoba mencairkan suasana dengan senyuman di wajah polosnya. Biasanya senyuman itu bisa meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya termasuk pria sekeras Greg, tapi yang terjadi kali ini tampaknya berbeda.
"Apa kau ingin aku pergi agar bisa terus mengobrol dengannya? Ber-phone s*x ria dengannya? Oh atau video call s*x, huh!" Pertanyaan sarkastik terdengar dari mulut Greg membuat hati Brie tertohok dan jantungnya serasa copot. Instingnya mengatakan pertanda bahaya.
"Jadi kau sudah tidur dengan siapa aja selain aku, huh?" tanya Greg lagi dengan senyuman sinisnya. Jemarinya berjalan perlahan di leher Brie sebelum menarik kasar dagunya. Tapi Brie tidak bergeming dia malah balas menatapnya dengan ekspresi menantang.
"Bukan urusanmu! Kenapa? Apa kau cemburu, huh?" Sengaja memberanikan diri, kali ini giliran Brie yang tersenyum sinis. Dia menghardik kasar tangan Greg dari wajahnya meskipun tangannya sendiri sedikit gemetar.
Selama menjalin hubungan tanpa status dengan Greg, Brie tahu betul tabiat pria ini yang bipolar. Emosi pria bertubuh tinggi besar ini sama sekali tidak bisa ditebak, dalam satu detik emosinya bisa berubah dari asalnya netral menjadi bad mood atau meledak-ledak, dan tentunya adalah hal yang sangat berbahaya jika membuatnya marah.
"Aku cemburu? AHAHAHAHAH!" Greg tertawa begitu keras seperti baru mendengar hal yang sangat lucu, tapi kegelapan sudah menyelimuti raut wajahnya. Cengkeraman tangan di sekeliling leher gadis itu malah semakin kuat, dan mungkin akan meminggalkan bekas di esok hari.
"G-Greg, hentikan! It's hurt!" Air mata tanpa terasa mengalir lagi dari sudut mata Brie yang mulai memerah.
"Ahkkk! Lepashkn... Kkkumohonn! Let me go! Please!"
Mata indah Brie kini terbelalak lebar dengan berbagai emosi, takut, bingung, cemas sekaligus putus asa. Brie merasakan sesak nafas luar biasa hingga pandangannya kabur saat tangan kekar itu mencekik lehernya. Cengkeraman Greg menutup jalannya oksigen ke paru-paru dan otaknya. Tangan kurus Brie berusaha menggapai dan mencakar lengan Greg hingga garis merah terlihat dikulitnya. Sialnya lelaki yang bertubuh tinggi besar itu tetap tidak bergeming, seolah tidak merasakan rasa sakit.
“Ini gila, apa aku akan mati? Apa dia akan membunuhku?!” Dalam momen penuh keputus asaan, pikiran Brie menjadi liar. Seolah bisa mendengar pertanyaan dan membaca pikiran Brie, senyuman kecil terukir di sudut bibir Greg sebelum dia berbisik.
"Tenang saja, baby! Aku hanya akan menghangatkan mu..."
Hati kecil Brie tahu apa yang Greg katakan sungguh berbeda dengan yang dilakukannya saat ini. Tangan yang tadinya membelai tubuhnya lembut kini menggerayangi tubuhnya dengan kasar. Brie tidak menyangka bahwa malam ini akan berakhir seperti ini, sebuah mimpi buruk yang menjadi nyata. Pria yang sama yang beberapa saat lalu baru saja mengirimnya ke surga kini akan mengirimnya ke neraka.
TBC