Ch 3. BROKEN

1435 Words
Hancur, seperti kapal yang porak poranda setelah diterjang badai, itulah kondisi Brie saat tersadar dan terbangun sendirian di tempat tidurnya. Air mata yang membasahi Wajahnya semalam kini telah mengering. Suara ponsel berdering yang tanpa henti membangunkannya dari tidurnya yang singkat. Brie berusaha bangkit dari posisinya yang masih terlentang di ranjang, tapi menggerakkan jari saja rasanya sulit sekali. Sekujur tubuhnya terasa seperti remuk dan hancur tapi tidak sehancur isi hatinya saat ini. "Ackkh..." Brie mengerang kesakitan tapi yang keluar dari mulutnya hanya suara tercekat dari tenggorokannya. Pandangan Brie menyebar ke sekitarnya sebelum tertuju pada bantal, pakaian dalam dan tisu bekas yang berserakan begitu saja di lantai. Mereka adalah saksi bisu mimpi buruk yang terjadi semalam. Air mata panas kembali menggenangi kedua bola mata indahnya yang masih merah saat bayangan mengerikan semalam berputar kembali di otaknya. Kembali ke malam sebelumnya "KAK GREG! STOP IT! ARE YOU CRAZY?! Apa-apaan ini? Lepaskan!" Brie meronta sekuat tenaga. Dia mencoba melepaskan tangan kekar yang mencengkram tubuhnya erat, tapi apalah daya, salahkan dirinya yang lemah tak bisa memberikan perlawanan berarti pada lelaki ini. Greg dengan tubuh besarnya dan kekuatannya itu menindihnya dan membuatnya terperangkap dengan mudah seperti singa menerkam buruannya. "You fuckin little slut! Jangan bersikap sok polos! Ini kan yang kau lakukan dengan orang itu, huh? Dengan semua lelaki yang kau kenal?” umpat Greg saat tangannya mencengkeram dua pergelangan Brie dan menahannya di ranjang. “Kau selalu bersikap sok akrab pada semua orang! Memanggil Kakak pada semua orang! Menggoda mereka untuk mendapatkan pekerjaan! Persis seperti yang kau lakukan padaku?! Benar kan?! Mungkin apa yang haters-mu katakan benar, kau memang p*****r sama seperti ibumu!" lanjutnya lagi dengan senyum bengis. "b*****t! b******n! Jangan berani menghina Mama! Kau boleh menghinaku apa saja TAPI TIDAK MAMAKU!!" Brie menggeram, sorot matanya seperti binatang liar yang nyalang. Kalimat penuh hinaan yang diutarakan Greg membuat hatiya begitu tertohok. Dia tak menyangka pria ini termakan dengan mudah oleh gosip murahan, penghinaan ini tak bisa dimaafkan. "Heh!" Greg tertawa meledek, "Kau masih berani melawan, eh! Dengar Baby... Aku akan membuatmu tak bisa dipakai siapapun lagi! Setiap kali kau tidur dengan orang lain, yang kau ingat nanti hanya aku, mengerti?!" Bisik Greg sebelum tiba-tiba Brie tersentak oleh rasa sakit dari lesakkan benda tumpul di bagian tubuhnya yang paling sensitif. Seolah sudah tuli, rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Brie sama sekali tidak digubris oleh Greg. Lelaki itu malah semakin kalap dengan nafsu biadabnya. Setiap detik yang bergulir bagi Brie terasa seperti neraka. Pandangannya mulai kabur dibanjiri air mata. Semakin lama dia terlalu lelah untuk menjerit dan menangis. Seperti dihantam kereta listrik berkecepatan tinggi. Cengkraman di lehernya itu semakin erat, membuat oksigen perlahan meninggalkan otaknya dan perlahan yang bisa Brie lakukan hanya merintih sebelum pandangannya menggelap. *** Entah berapa lama Brie masih tertegun dalam posisinya sebelum memberanikan diri untuk melihat kondisi tubuhnya terutama area bagian bawahya. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat menyadari cairan putih lengket disertai darah merah yang menghitam dan mengering di sela bagian dalam pahanya dan menodai seprai. Mengenaskan dirinya seperti seorang gadis yang baru saja menstruasi dan ini adalah bukti nyata bahwa semalam bukanlah mimpi. “Jadi semalam bukan mimpi buruk? Dia benar-benar melakukannya padaku?Dia memperkosaku...” "HEI! BRITTANY! Apa kau masih di dalam, cepat bangun Brie! Sebentar lagi fanmeet dimulai!" Lamunan Brie buyar dan jantungnya kembali berdegup kencang saat suara familiar memanggil namanya dari balik pintu. Dengan mengerahkan tenaganya yang tersisa gadis itu mencoba bangkit dari tempat tidurnya, sejenak melupakan rasa sakit yang menghinggapi tubuhnya. "Ackh! Sebentar Kak Simon!" Sahut Brie dengan suara seraknya, tangannya mencoba menggapai apa saja yang terdekat yang bisa menutupi tubuh telanjangnya yang dipenuhi luka lebam dan memar. Sialnya pakaiannya semalam terlempar terlalu jauh di lantai sehingga yang bisa dia raih hanya selimut saja. Belum selesai dia menutupi tubuhnya dengan selimut suara pintu sudah terbuka dan derap langkah kaki sudah terlanjur mendekat. "OH MY GOD! Astaga, apa yang terjadi denganmu Brie?!?" pekik kaget Simon membuat Brie ikut terperanjat dari posisinya. "Ugh, K-kak Simon jangan lihat!" Kepanikan melanda Brie terutama saat tangan Simon dengan cepat menarik paksa selimut dan mengekspose lagi tubuh telanjangnya. "SUDAH KU BILANG JANGAN LIHAT!" teriak Brie dengan suara masih tercekat. Di waktu yang sama tubuhnya gemetar ketakutan. Dia menundukkan wajahnya sembari menggigiti bagian bibir bawahnya yang sudah bengkak. Gadis itu melipat kakinya didada dan memeluk lututnya erat sebelum membenamkan wajahnya. Dia tak sanggup menatap wajah Simon yang saat ini pasti melihatnya penuh iba. "Brie! Apa kau baru diserang? Ayo katakan siapa yang menyerangmu? Apa mereka anti fans? Orang gila? Stalker? Psychopath? Ayo cepat katakan! Kita harus hubungi security segera!" Antara kaget, emosi dan penasaran, Simon membombardir Brie dengan pertanyaan. “Brie! Kenapa diam?! Ayo jawab!” Kedua tangan mengguncang bahu gadis itu, memaksanya untuk mendongakkan kepala agar bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi kemudian matanya terbelalak lebar saat mengintip sedikit ke bagian bawah tubuh Brie. "Oh, s**t! Holy fuckin s**t!" Simon kembali mengutuk keras, wajahnya pias dan tangannya sedikit gemetar saat perlahan menyentuh bagian leher Brie. Cap tangan terlihat di sekeliling leher Brie mulai membiru begitu kontras dengan kulitnya yang seputih s**u. "Aku tidak apa-apa Kak Simon, aku hanya tak sengaja jatuh saat tidur! Kau tahu kan aku ini ceroboh... Hehe!" Dalam situasi seperti itu Brie masih memaksakan dirinya untuk tertawa. Bibirnya mungkin bisa tersenyum manis tapi air mata panas tak terbendung terus mengalir dipipi. Tentu saja Simon tak percaya, dia bukanlah lelaki yang gampang dibohongi. "Jangan bohong padaku, Brie! Pelakunya pasti Greg kan? Dasar b******n b******k! Akan ku beri pelajaran dia!" Simon menggertakkan gigi. Dia mengepalkan tinjunya erat dan beranjak bangkit dengan penuh amarah. "NOO! Kak! Ini bukan salah Kak Greg! Ini semua salahku! Kumohon Kak Simon jangan katakan apapun pada Om Oscar! Please!" Brie mendadak panik, dia meraih tangan Simon untuk mencegahnya pergi. Dengan wajah yang basah oleh uraian air mata dia menggelengkan kepalanya erat mencoba meyakinkan. “Apa maksudnya dengan salahmu?! Jangan bodoh Brie! Laki-laki itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya padamu! Kenapa kau malah membelanya?!" bentak Simon yang jadi emosi. Jawaban Brie hanya membuatnya semakin ingin menghajar Greg. Sudah terlalu lama dia berdiam diri dan berpura-pura tak mengetahui hubungan dua rekannya ini. Ya, meskipun sering bertingkah konyol, Simon tidaklah begitu bodoh, dia selalu peka dengan situasi sekitarnya. Selama ini dia hanya menyimpan kecurigaan akan hubungan intim dua rekannya ini dalam hati. Sebagai sesama rekan seprofesi dia hanya menjaga privasi dan tak ingin bersikap menghakimi. Tidak ada seorang pun yang mau dibongkar aibnya untuk dijadikan gosip. Namun jujur sejak awal proyek film ini, berbeda dengan Brie yang dengan mudah langsung akrab dengannya, Simon memang tidak pernah suka dengan sikap Greg, aktor baru yang sok tampan dan arogan itu. “Apa kau mengerti?! THIS IS ALREADY FUCKIN EMBARASSING! AND YOU WANT TO EMBARASSED ME MORE?” teriak Brie frustrasi, suaranya menggelegar dan memilukan dan setelahnya suasana ruangan mendadak sunyi. Dia lalu menunduk dan memeluk dirinya sendiri dengan punggung gemetar menahan tangis. Melihat reaksinya seperti itu hati keras Simon terketuk. “Ini sangat memalukan Kak! Aku.. aku... sangat murahan! I’m dirty and disgusting!” Brie membuang wajah, tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Emosi yang meluap di dadanya membuat tangisnya tak terbendung lagi. “Noo! Brie... you’re not!” Melihat reaksi Brie yang seperti itu Simon tersadar bahwa situasi ini tak sesederhana kalimat yang dia ucapkan. Bukan hal yang mudah bagi korban pelecehan seksual untuk mengungkapkan apa yang telah mereka alami. Menyembuhkan trauma dan luka dalam batin dan jiwa tak semudah menyembuhkan luka fisik yang terlihat mata. Simon tak berani berdebat lagi, dia hanya merangkul tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. “It’s okay! It’s okay, just cry! Just let it out, Brie!” Bisiknya lembut dengan bibir terkatup, sedikit ragu jemarinya mengusap rambut panjang Brie yang acak-acakan. Brie benci situasi ini, dia benci menjadi gadis yang lemah, dia selalu meyakinkan bahwa dirinya adalah gadis yang tangguh tapi saat ini air matanya sudah tak terbendung lagi. Di usianya yang 18 tahun ini dia belum berubah. Dia masih gadis cengeng yang dengan mudah mengeluarkan air mata bahkan saat menonton film drama Korea, tapi saat ini alasannya untuk menangis adalah hal yang berbeda. "Am I wrong if I love him? Hiks... Am I wrong if I give my everything to him?!" ucap Brie diantara isak tangisnya, pertanyaan retoris itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. Cinta? Simon hanya terdiam dan menelan ludah saat mendengar kata itu dari mulut Brie. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya tapi kali ini dia tak berani utarakan. Sebagian dirinya tak berminat untuk mencampuri masalah cinta orang lain, namun sebagian dirinya lagi tak sanggup melihat gadis yang sudah dia anggap seperti adik ini menderita karena hal tersebut. Pada akhirnya Simon hanya terdiam, membiarkan Brie melanjutkan tangisnya dalam pelukannya hingga reda. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD