Rose pulang agak terlambat dari biasanya karena harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Sedangkan Miracle sudah lebih dahulu meninggalkan kantor.
Rose menghela nafas kasar setelah menyelesaikan pekerjaan, ia berjalan keluar ruangan. Keadaan dikantor begitu sunyi, hanya ada beberapa OB yang sedang membersihkan kantor.
Rose akan pulang menggunakan angkot saja, tapi sebelum itu ia pergi ke wc kantor karna sudah tak tahan ingin buang air kecil.
Saat tiba di wc, Rose dapat mendengar suara seorang wanita menangis. Bulu kuduk Rose merinding, terlebih lagi tidak ada siapa-siapa disekitar sini.
Rose hendak balik arah, namun tangisan itu berhenti, yang terdengar hanya lah suara perempuan yang Rose kenali. Rose berjalan mendekat.
“ Mika?” panggil Rose ketika mendapati Mika-temannya sedang terduduk di pinggir wastafel.
Rose berlari kearah Mika, lalu berjongkok dihadapannya. “ Hei, kenapa menangis? Ka, kenapa? Cerita ke gua.” tuntutan Rose.
Mendapati keberadaan Rose, mika kembali terisak. Diambilnya sebuah benda kecil yang berada didalam kantong celananya, lalu diberikan kepada Rose.
Mata Rose terbelalak kaget, ia menutup mulutnya dengan satu tangan. “ Ka.. Lo hamil?”
Mika kembali terisak hebat. Dipeluknya Mika sekencang mungkin untuk menguatkan gadis itu. “ Kenapa bisa si Ka? Astaga. Gua benar-benar ga percaya.”
“ Hiks..hiks.. gua bodoh Ose. Gua bodoh. Gua percaya sama p****************g itu. Gua udah serahin semua nya ke dia. Tapi tadi gua telfon, dia ga mau bertanggung jawab.”
Tangis Mika semakin hebat, membuat Rose ikut menangis mendengarnya. Rose mengelus punggung Mika. “ Yang sabar Ka. Gua ada bersama lo. Gua akan bantu ngerawat bayi lo. Lo ga usah khawatir, ayo kita lalui bersama. Tapi lo harus janji sama gua, lo harus tegar.”
“ Gua gabisa hidup Ose. Gua hancur. Apa kata orang-orang kalau tau gua hamil diluar nikah. Apa kata orang perusahaan, apa kata Pak Cle. Pasti pak Cle ngga mau menerima karyawan yang sedang hamil.” ujar Mika panjang lebar.
“ Lo ga usah khawatirkan tentang itu, yang harus lo pikirkan sekarang adalah keadaan lo. Masalah itu biar gua yang berusaha. Gua janji sama lo Ka. Gua janji.”
Mika berhenti menangis, ia meleraikan pelukannya dari Rose. Dan menatap gadis cantik yang ada didepannya. “ Makasih banyak Ose. Lo emang teman terbaik yang pernah gua temui.”
Rose tersenyum kemudian mengelus tangan Mika. “ Lo ga usah merasa sendiri. Ada gua disini Ka. Ayo berdiri, gua antar lo ke kost’an. Kalo bisa nanti gua nginep disana.”
Mika mengangguk, ia berdiri dibantu oleh Rose. Mereka berdua berjalan meninggalkan kantor yang sudah sangat sepi. Rose memutuskan untuk memesan driver ojol saja, karena hari sudah malam dan sangat jarang menemui angkot.
________
Disisi lain, dikeberadaan rumah Djayakusuma Miracle duduk dengan gelisah di ruang tamu. Sedari tadi pria itu menunggu gadis yang tak kunjung menampakkan hidungnya. Sebenarnya kemana gadis itu?
Sudah hampir jam sepuluh malam, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Miracle ingin sekali menelfon Rose, tapi ia terlalu gengsi. Tapi untuk kali ini, Miracle mematahkan gengsinya dan lebih memilih menelfon Rose.
Didekatkan ponsel ke telinganya, selang beberapa menit, telfon tersambung disertai dengan suara lembut dari seberang telfon.
“ Halo Pak.”
“ Halo. Kamu dimana Rose? Kenapa belum pulang kerumah?” tanya Miracle mendesak.
“Maaf pak. Untuk malam ini saya menginap dirumah Mika. “
Jawaban Rose membuat kepala Miracle mendidih. Ia berdiri kemudian memukul tembok untuk menumpahkan kekesalannya. Sudah dari tadi Miracle menunggu, namun gadis itu memilih untuk menginap dirumah temannya.
“ Saya tidak mau tau. Kamu pulang kerumah sekarang! Pak Sugeng akan menjemput kamu.”
“Tapi Pak-“
Miracle mematikan sambungan telfon. Ia berjalan ke kamar belakang tempat dimana keberadaan Pak Sugeng. Saat tiba didepan kamar, Miracle mengetuk pintu dengan sangat keras. Berulang kali hingga menampilkan raut wajah kecemasan Pak Sugeng.
“ Punten Tuan. Ada apa?” tanya Pak Sugeng.
“ Pak jemput Rose sekarang dikost temannya Yang bernama Mika. Alamatnya di jalan puyuh nomor 14.” Jelas Miracle membuat Pak Sugeng mengangguk dan berjalan bergegas.
Miracle memang tau keberadaan kost Mika. Karena pada saat itu ia sempat mengantarkan Mika ke kost karena perempuan itu sakit dikantor.
Dengan luapan emosi. Miracle berjalan menuju kamarnya. Namun disempatkan dulu ke pos penjaga gerbang untuk menitipkan pesan kepada Pak Agung.
“ Pak. Nanti tolong bilang pada Rose saya menunggu di kamar lantai dua”
“ Enggeh Tuan.”
Miracle berlalu pergi meninggalkan pos penjaga. Ia berjalan masuk kekamar yang berada dilantai dua, lalu menghidupkan lampu kamar itu dan membuka balkonnya.
Miracle duduk dibalkon dengan mematik korek api dan membakar satu batang rokok. Di isapnya tembakau itu hingga menimbulkan kepulan asap. Berulang kali sampai menyisakan puntung rokok lalu dibuangnya.
Miracle menatap langit yang disinari oleh rembulan. Taburan bintang-bintang tak ingin kalah cantik dari sang rembulan. Tiba-tiba ia rindu dengan seseorang yang menemai nya selama 5 tahun.
Sosok yang begitu dicintai dan disayangi melebihi apapun itu. Tidak ada yang dapat menggantikannya bahkan jika ada orang baru, seseorang itu masih menjadi pemenangnya. Miracle menghela nafasnya gusar. Sungguh ia merindukan seseorang yang telah lama menjauh dari kehidupannya.
“ Cle. “ sapa gadis dibelakang Miracle. Suara nya lembut seakan mengetahui bagaimana suasana hati Miracle yang sedang sedih.
Miracle menoleh kebelakang, didapatinya Rose sedang berdiri mengamati. Miracle tersenyum kecil, ia menyambut hangat Rose. Entah kenapa rasanya ia ingin sekali menyalurkan rindu seseorang itu melalui Rose. Dipeluknya Rose erat seakan takut kehilangan.
Rose tertegun, ia hanya bisa mematung ketika di peluk Miracle. Berbagai pertanyaan terputar di kepala Rose. Rose yakin bahwa pria ini tidak baik-baik saja. Entah apa yang merasuki Rose, gadis itu balik memeluk Miracle. Seolah ikut menyalurkan rasa sedih itu menjadi satu.
“ Kamu kemana saja? aku merindukan kamu.” ucap Miracle lirih.
Rose terdiam ia benar-benar merasa dejavu. Kenapa sosok Miracle menjadi rapuh seperti ini? Kemana perginya pria yang otoriter saat menelfonnya tadi.
“ Gua tadi pergi menemani Mika. Mika sedang terlibat masalah.”
“ Aku mohon, saat bicara dengan ku, jangan panggil ‘Lo-gua’.” pinta Miracle lalu melepaskan pelukannya pada Rose.
Kini mereka bertatapan, mata cokelat milik Miracle beradu dengan mata indah milik Rose. Rose terdiam begitupun dengan Miracle, sampai keduanya mulai mendekatkan bibir dan berakhir dengan ciuman. Miracle mendorong tubuh Rose hingga membentur dinding balkon. Hasratnya menggebu seakan ingin melahap tubuh Rose dengan hikmat.
“ Aku menginginkan kamu Rose.” ucap Miracle lirih kemudian melanjutkan aksinya menciumi seluruh tubuh Rose.
Rose mendesah , namun mencegah pergerakan Miracle sesaat. “ Sebaiknya kita melakukannya didalam saja.”
_________