Pagi harinya, Rose terbangun dengan kondisi badan yang terasa remuk. Matanya menoleh kesamping namun tidak mendapati keberadaan Miracle. Kemana pria itu?
Dengan langkah gontai yang hanya terbaluti selimut, Rose berjalan ke dalam kamar mandi. Selimut itu dilepasnya saat sudah berada didepan pintu kamar mandi.
Ia melihat tampilannya di pantulan cermin, terdapat banyak sekali bercak merah tercipta disekujur tubuhnya. Namun dibagian leher lah yang paling banyak. Rose memegang lehernya, kemudian tersenyum kecil. Nyaris tak terlihat.
Setelah puas memandangi ulah Miracle, Rose berjalan ke bath up untuk berendam sejenak. Sentuhan sensai air hangat memanjakan kulit membuat gadis cantik itu merasa rileks.
Rose hampir tertidur jika saja ia tidak teringat akan pekerjaannya yang menumpuk dikantor. Ia berjalan keluar bath up, lalu meraih handuk putih yang tergantung di belakang pintu.
Setelah handuk itu melekat dikulit Rose yang putih, Rose berjalan keluar untuk mengenakan pakaian. Tangannya mencari keberadaan baju yang bagus untuk menutupi seluruh tubuhnya. Rose tidak akan mengambil resiko untuk mengekspos perbuatan si bos hingga menimbulkan gosip yang tidak-tidak.
Setelah menemui apa yang di carinya, Rose mengenakan pakaian itu dengan cepat. Ia berjalan ke arah cermin dan mulai bergelut memoles wajahnya menggunakan make up yang dimiliki nya.
Sepuluh menit telah berlalu, Rose dengan tampilan yang begitu menawan melangkah pergi dari kamarnya. Tidak peduli dengan kamar yang terlihat acak-acakan. Mungkin nanti sepulang dari kantor ia akan membereskan kamar itu.
Rose berjalan tergesa-gesa, ia hendak mengambil air putih di dapur ketika saja matanya tidak melihat Miracle dan Sella sedang mengobrol di meja makan. Rose berjalan mendekat , membuat dua adek-kakak itu menyadari keberadaan nya.
“ Pagi Rose. “ sapa Sella dengan ceria.
Rose tersenyum simpul lalu ikut duduk disebelah Cle karena tidak ada kursi lain.“ Pagi Sella.”
“ Gimana tidurnya apakah nyenyak?” tanya Sella basa-basi.
“ Ya. Nyenyak sekali. “ jawab Rose sambil tersenyum.
“ Syukurlah. Semoga kamu menyesuaikan keadaan rumah ini ya. “ ujar Sella diiringi kedatangan Bi Ayu yang membawa tiga buah bubur hangat dan tiga cangkir teh panas.
“ Terimakasih Bi.” ucap Cle pada Bi ayu, sebelum Bi Ayu meninggalkan meja makan.
“ Sella, kamu kapan kesini? Soalnya semalam aku ga liat kamu.” tanya Rose dengan dahi yang menyerngit penasaran.
Sella tersenyum lebar. Pagi ini ia akan menggoda Rose dengan Miracle. “ Semalem, saat Kakak sedang mendesah bersama mu.”
Miracle terbatuk disamping Rose. Ia mengambil cangkir teh dihadapannya, kemudian meminumnya.
Melihat itu Sella tertawa renyah. “ Kenapa kak? “ tanya Sella di sela-sela tawanya.
Rose menahan malu mendengar penuturan secara gamblang dari Sella.
Sella kemudian terfokus pada pakaian Rose yang sangat tertutup pagi ini.
“ Aku lagi ngga enak badan. Jadi pake baju kek gini.” jelas Rose.
Uacapan Rose membuat Miracle mengalihkan pandangannya kearah gadis disebelahnya.
“ Kamu lagi sakit? Kalo sakit tidak usah bekerja , nanti aku akan bicarakan pada Pak Abdul.”
“ Widih, aku-kamu. “ potong Sella.
Rose menatap Sella sekilas, lalu ia menginjak kaki Miracle yang berada dibawah meja sehingga membuat pria itu meringis.
“ aduh!Apa-apan kamu? “ ujar Miracle tajam.
Sella dibuat keheranan oleh kedua sejoli didepannya ini. “ Kenapa si kak? Ada apa?”
“ Ngga ada apa-apa kok Sella. “ alih Rose kemudian menatap arloji yang berada ditangannya. Lalu matanya membulat“ Udah jam 8. Aku udah telat masuk kantor. Aduh Sella, aku duluan ya.” ujar Rose bangkit dari duduknya kemudian ia berlari kecil.
“ Habiskan dulu bubur kamu Rose!” Teriak Rose.
“ Kakak pergi dulu La. Nanti kalo mau pergi kemana-mana , minta diantar sama pak Sugeng saja.”
Setelah itu Miracle berlari kecil menyusul Rose. Tinggallah Sella seorang diri di meja makan. Menatapi kepergian dua orang manusia yang sedang dimabuk asmara.
“ Nasib jomblo.”
__________
“ Rose , tunggu!”
Rose yang sedang terburu-buru, terpaksa memberhentikan langkahnya. Ia menoleh kebelakang, mendapati Miracle yang berjalan ke arahnya.
“ Ada apa ?”
Miracle mengatur nafasnya. Lalu meraih sebelah tangan Rose kemudian dibawanya pergi ke bagasi. “ Kamu pergi bareng aku.”
“ Gua ga mau. Nanti apa kata orang kantor kalau liat gua turun dari mobil lo.”
Setelah sampai dibagasi, Miracle melepaskan tangannya dari tangan Rose. “ Mereka akan biasa saja. Lagi pula kamu itu sekretaris aku. Jadi wajar kemana-mana harus sama aku.” Jelas Miracle.
Miracle membuka pintu mobil dan mendorong Rose pelan hingga gadis itu masuk kedalam mobil milik Miracle. Miracle menutup pintunya, setelah itu mengitari mobil untuk duduk dijok pengemudi.
Mobil milik Miracle membelah jalanan ibu kota pagi itu. Tidak ada yang memulai pembicaraan, hanya terdengar suara deru mobil yang memadatkan jalanan.
Selama dua puluh menit mereka menghabiskan waktu untuk bergelut dengan pikiran masing-masing. Sampai mobil fortuner itu berhenti di area parkir perusahaan.
Rose membuka pintu mobil dan turun dari mobil di susul dengan Miracle. Mereka berdua berjalan beriringan menuju lobby gedung. Di lantai pertama, Miracle dan Rose menjadi tatapan para karyawan.
Karyawan perusahaan merasa heran melihat CEO nya yang tidak pernah terlambat namun kali ini CEO mereka terlambat bersama sekretarisnya.
Dengan tidak menghilangkan rasa hormat, para karyawan itu tetap menyapa mereka ditengah pekerjaan masing-masing.
“ Saya malu Pak.” ucap Rose pertama kali membuka suara saat mereka sudah menaiki lift.
“ Biarkan saja. Anggap semuanya angin lalu.”
“ Bapak berujar seperti itu dengan santai. Tapi nanti yang menjadi perbincangan itu saya Pak.” jelas Rose.
“ Katakan saja orangnya pada saya. Nanti saya akan pecat.” ujar Miracle seenaknya.
“ Emang enak ya jadi bos. Suka bertindak semaunya saja.”
“ Kamu nyindir saya?”
Rose terdiam tidak menghiraukan pertanyaan Miracle. Tak lama Pintu lift terbuka, mereka berjalan ber-iringan , saat diperjalanan Windi menyapa Miracle dan menatap sinis kearah Rose.
Rose yang ditatap seperti itu tak ambil pusing. Ia sudah biasa dengan sikap Windi yang tak suka terhadapnya. Entah apa salah Rose sehingga Windi membenci dirinya. Rose yakini, pasti setelah ini timbul gosip yang tidak-tidak tentang dirinya.
Saat tiba diruangan, mereka berjalan kearah kursi masing-masing. Rose menaruh tasnya diatas meja lalu menghidupkan komputer. Dilihatnya tumpukan berkas yang begitu banyak kemudian mulai mengerjakan berkas itu untuk disalin kedalam komputer.
___________