Part Lima

1000 Words
Humas Textile Company Jalan Sudirman,No. 30, Jakarta Telepon (021)00-09-01 ________________________________ SURAT PERINGATAN PERTAMA Nomor: 1.3.1 Surat peringatan ini ditujukan kepada: Nama. : Rose Himalaya ID. : 10102 Jabatan: Sekretaris 1 Surat ini dikeluarkan sehubungan dengan sikap tidak bertanggung jawab dan pelanggaran terhadap tata tertib perusahaan yang saudara lakukan. Saudara diketahui tidak masuk kerja sebanyak lebih dari 1 kali berturut-turut tanpa pemberitahuan maupun izin tertulis kepada perusahaan. Oleh karena itu, surat peringatan pertama ini diberikan dengan tujuan sebagai pengarahan dan peringatan kepada saudara agar dapat melaksanakan tata tertib yang berlaku didalam perusahaan. Demikian surat peringatan ini dibuat agar dapat perhatikan. Jakarta, 17 Juni 2022. Humas Abdul Tiasno Kepala Rose mendidih membaca setiap kalimat yang terdapat didalam surat yang dipegangnya. Yang benar saja, ia di SP 1 karena tidak masuk selama dua hari saja. Lalu bagaimana dengan karyawan yang bernama Nia-yang tidak masuk selama 10 hari berturut-turut tapi tidak mendapat SP. Rose meremas kertas yang bertulis tinta hitam itu, lalu dilemparnya ke dalam tempat sampah. “ Lama-lama kerja bersama pria dingin itu bisa buat gua mati muda. “ umpatnya. Rose rasa sudah lebih dari sepuluh kali ia mengumpat hari ini. “ Pagi-pagi sekali , gua harus datang ke kantor. Gua akan bikin pelajaran kepada brengs3k itu. “ tekad Rose. ___________ Pukul enam lewat empat puluh lima menit. Gadis yang berdandan cantik dengan baju stelannya yang anggun, sudah bertengger manis dimeja kerja. Tidak biasanya, kali ini Rose berdandan menor ala tante-tante yang hobi ke club malam. Sexy namun begitu menggoda. Entah pelajaran apa yang akan diberikannya pada Miracle, tapi yang pasti Rose sudah mempersiapkan jiwa dan raganya untuk melawan Miracle. Lupakan kejadian itu, semangat Rose sejak datangnya SP 1 yang membuat dunia Rose bergetar dan merasa akan hancur. Ia akan berusaha menyelamatkan kariernya yang manis. Selama 30 menit menunggu dengan bosan, orang yang akan menjadi target utama Rose sudah menduduki singgasananya. “ Pagi pak. “ sapa Rose hanya sekedar basa-basi. Orang yang dipanggil-Pak oleh Rose hanya menoleh sebentar sebelum berkutat dengan layar ponselnya. Rose menyadari jika ia sudah diabaikan, dengan keberanian yang dibuatnya, gadis itu mendekat ke arah Miracle. Setelah memperkikis jarak antara dirinya dan Miracle, tangan Rose dengan lancang memegang pundak Miracle. Tak hanya itu, bokokngnya disengaja duduk dilengan kursi sehingga membuat Miracle tersentak dan mengalihkan pandangan dari layar ponsel. “ Ada apa dengan kamu? “ tanya Miracle dingin. Rose berdehem, “ Saya tidak suka diabaikan Pak. Kalo saya menyapa bapak, bapak sangat wajib membalas sapaan wanita cantik yang berada disamping bapak. “ucap Rose lancang dengan satu tangan memegang d**a bidang Miracle yang dibaluti jas hitamnya. “ Apa hak kamu mengatur saya? Dan jauhkan tangan nakal mu dari badan saya Rose!” Bukannya menurut, Rose semakin gencar menggoda Miracle. “ Saya tidak mau, sebelum bapak mencabut SP saya dan membersihkan nama saya dari daftar hitam milik humas.” ancam Rose tentu mengundang tawa Miracle. “ Oh jadi itu tujuan kamu, menggoda saya dengan berpakaian seperti jalang.” “ Ya kurang lebih begitu. Kalau bapak tidak mau-“ ucap Rose tertahan. “ kalo saya tidak mau, apa??” tanya Miracle mengulang ucapan Rose. “ Kalau bapak tidak mau, saya akan menggoda bapak sampai bapak tidak bisa bekerja dan kamera cctv itu-“ tunjuk Rose pada kamera cctv yang ada diatas langit-langit ruangan. “ akan menjadi saksi perbuatan kita didalam sini.” Bukannya takut terhadap ancaman Rose, pria yang digoda Rose hanya bisa tertawa kencang. Rose tertegun, karena pertama kali melihat bosnya tertawa sekencang ini. “ Selain menggoda, kamu mengancam saya? Kamu pikir saya takut terhadap ancaman kamu? Seharusnya kamu berfikir, setelah semua orang tau perbuatan kamu terhadap saya, orang mungkin akan merasa jijik kepada kamu. Dan mungkin mereka akan berkata ‘w************n’ .” Jleb Rose membeku ditempatnya. Ucapan Miracle seperti tamparan terhadap dirinya. Lambat laun, Rose menjauhkan dirinya dari sisi Miracle dan kembali ke kursi miliknya. Miracle memperhatikan itu semua, ia tersenyum sinis. Sebenarnya, kejadian itu sudah terencana. Miracle sengaja membawa Rose kerumahnya untuk menuntaskan hasrat yang selama ini terpendam pada diri Miracle. Entah kenapa Miracle hanya tergoda oleh Rose, sedangkan pada wanita lain yang sering di datangi nya ke club, tidak merasa tertarik. “ Kamu ingin saya menghilangkan SP itu?” tanya Miracle memancing Rose yang sedari tadi hanya terdiam memandangi layar komputer. Rose menatap Miracle. “ Saya sangat ingin Pak.” “ Tapi ada syaratnya.” Rose tampak berfikir. Sebelum bertanya kembali. “ Apa pak?” Rose melihat Miracle berjalan kearahnya. Gadis itu tertegun, terlebih lagi Miracle mendekatkan mulutnya ke telinga Rose. “ Kamu bersedia menjadi p*****r pribadi ku.” Plak Tamparan keras berhasil mengenai rahang kiri Miracle. Rose menatap tidak percaya pada refleks tangannya. Begitu pula dengan Miracle yang sedang memegangi bekas tamparan Rose. “ Pak maaf pak. “ panik Rose sambil ikut memegang rahang Miracle. “ Surat SP 2 siap datang ke kost kamu hari ini. “ Rose bertambah panik, ia berdiri dari kursi kerja kemudian bersimpuh dihadapan Miracle.” Pak, ampuni saya Pak. Saya tidak sengaja. Saya kaget Pak dengar omongan Bapak. Pak saya mohon Pak, jangan kasih saya SP 2 Pak. Saya masih ingin bekerja disini. Ibu saya dan keluarga saya sangat mengharapkan uang dari saya pak. Kalau saya dipecat, saya mau kerja dimana lagi Pak. “ jelas Rose panjang lebar. Rose berusaha nahan agar bulir matanya tidak ikut keluar, namun dia gagal. Gadis tak berdaya itu terisak pelan di bawah kaki Miracle. Miracle melihat bagaimana Rose bersujud dan memohon kepadanya. Tapi Miracle tetap lah Miracle. Pria misterius dan dingin yang tidak punya hati. “ Hanya itu satu-satunya cara. Menjadi p*****r pribadi saya. “ Rose mengadah ke arah Miracle. “ Tidak ada cara lain Pak?” “ Kalau kamu tidak mau , kamu bersiap saja SP 2. “ “T-tapi Pak. Bagaimana jika saya hamil, waktu itu juga saya berhubungan dengan bapak.” “ Kamu tenang saja, sekali tidak akan membuat kamu hamil. Tapi jika kamu bersedia, kita akan bermain aman.” Tidak ada pilihan lain. Rose terdiam kemudian dengan meyakinkan hatinya dan mengucapkan maaf kepada ibunya. “ Baik Pak. Saya bersedia.” ________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD