Hari-hari telah berlalu, dari bulan berganti bulan. Selama itu pula Rose hidup bersama dengan Miracle tanpa ada ikatan yang sah. Tak banyak kegiatan yang mereka ciptakan selain pergi ke kantor, jalan-jalan ke mall, kemudian berakhir diatas ranjang.
Bisa dikatakan Rose adalah seorang jalang, tapi jalang VVIP hanya untuk Miracle. Berbeda kelas dengan jalang-jalang yang keluar setiap malam mencari booking’an.
Rose hanya menunggu malam dan menunggu perintah dari Miracle sebagai pemilik tubuh Rose untuk melancarkan aksi jalangnya. Ya begitu lah kira-kira cerminan Rose saat ini.
Pagi ini mentari menyambut hari dengan cerah. Mungkin secerah wajah karyawan yang sedang memunggu gaji-nya. Bertepatan dengan awal bulan, perusahaan menjalankan kewajibannya terhadap karyawan setiap tanggal 8.
Berbeda dengan wajah Mika yang terlihat mengkerut di depan meja kerjanya. Gadis yang tengah mengandung muda itu terlihat khawatir terlebih lagi Rose belum memberinya kabar tentang bagaimana kelanjutannya di perusahaan ini.
Rose memang kerap mengunjungi kost nya, tapi hanya sebentar itu pula ada Miracle yang mengawasi. Akhir-akhir ini Mika melihat betapa dekatnya Rose dengan Miracle. Entah ada hubungan apa antara kedua nya.
Tapi Mika berharap dengan kedekatan Rose dengan Miracle, bisa menyelamatkan pekerjaannya. Itu lah harapan Mika.
“ Mika. Lo di panggil Pak Cle.” ujar Windi ditengah lamunan Mika. Mika tersentak lantas melihat Windi yang sedang membawa tumpukkan berkas.
Mungkin berkas itu adalah arsip keuangan karena Windi ditugaskan dibagian keuangan perusahaan.
“ Sekarang?” tanya Mika memastikan. Jari tangannya bertautan menggambarkan bagaimana paniknya Mika saat ini.
“ Iya. Beliau nunggu di ruang nya. “
“ Oke. Makasih Win.” ucap Mika. Ia berdiri hendak melewati Windi jika saja Windi tidak menahan tangannya.
“ Eh Mika. Lo ada masalah apa? Sampai-sampai dipanggil Pak Cle.” tanya Windi penasaran.
Mika terdiam. Gadis itu tau ia sedang berhadapan dengan siapa saat ini. Wanita penggosip yang terkenal di perusahaan ini. Jadi Mika harus hati-hati mengucapkan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“ umm. Mungkin Pak Cle ingin membahas tentang promosi produk yang sudah selesai dibuat.”
Windi menatap Mika merasa tidak percaya. “ Masa? Biasanya kalau ada urusan dengan karyawan, Pak Cle lebih memerintahkan sekretarisnya. “ ujar Windi sinis. Terlebih lagi saat mengucapkan kata ‘sekretaris’ .
“ Ya-. Gua ga tau juga lah kenapa gua bisa dipanggil pak Cle. Gua aja belum sampe keruangannya. “
Windi melepaskan cekalan tangannya dari lengan Mika. Membiarkan gadis berambut pendek itu pergi dari hadapannya.
Mika berjalan dengan rasa cemas yang berlebihan. Kakinya terasa lemas serta jantungnya berdegup kencang. Mika menarik nafas lalu membuang nafasnya pelan. Hal itu terus dilakukannya sampai ia berada didepan ruangan Miracle.
Dengan pelan, tangannya meraih ganggang pintu. Harum vanilla menjadi penyambut Mika saat masuk kedalam ruangan itu.
Rose yang tengah berkutat dengan komputer, menyadari pintu berdecit, matanya beralih pandangan melihat Mika yang sedang berada diambang pintu.
“ Eh Mika. “ kaget Rose. Mika yang menyadari raut wajah Rose, lantas mendekati gadis itu.
“ Ose. Pak Cle mana?” tanya Mika saat menyadari bahwa Rose berada diruangan ini sendirian.
“ Ouh lo mau bertemu Pak Cle? bentar ya , dia lagi didalam wc. “ jawab Rose. “ ayo kita duduk dulu. Bumil itu ga boleh capek-capek.” ujar Rose sambil menuntun Mika ke sofa yang berada tidak jauh dari meja kerja nya.
“ Makasih Ose. “ ucap Mika saat mereka berdua sudah menempatkan b****g mereka di sofa.
“ Lo tumbenan nyari Pak Cle. Ada apa?” selidik Rose penasaran. Karena Mika ini merupakan karyawan yang kinerja nya cukup bagus dan bisa dibilang ia adalah kaki tangannya perusahaan.
“ Kata Windi, gua di cari Pak Cle. Mungkin ini ada hubungannya dengan kehamilan gua.“ Mika menatap ke arah Rose . “ Apa lo yang bilang kalau gua hamil, secara lo sering ke kost gua sama Pak Cle. “
“ Iya gua yang bilang sama Pak Cle semuanya. Tapi gua udah minta tolong sama dia, buat biarin lo kerja di perusahaan ini.” Jelas Rose tak ingin Mika salah paham.
Memang Rose lah yang waktu itu bicara dengan Miracle. Tapi gadis itu masih ingat bagaimana ia memohon pada Miracle sampai pria itu menyetujui permohonannya dengan syarat Rose melayaninya.
Rose pikir permasalahan ini sudah selesai, mengingat sudah memasuki awal bulan, yang berarti sudah lewat dua minggu yang lalu saat Rose bicara tentang ini pada Miracle
“ Terus Pak Cle jawab apa?”
“ Dia jawab iya.“
“ Hanya itu?” tanya Mika kembali. Mika sengaja memancing pertanyaan yang lain agar Rose bicara tentang kedekatannya dengan Miracle. Tapi sebelum Rose menjawab, pintu wc terbuka menampilkan Miracle dengan gagahnya berjalan kearah mereka. Mika menunduk hormat sedangkan Rose hanya terdiam. Rose bersyukur Miracle dapat mengalihkan pertanyaan Mika. Rose hanya tidak ingin Mika mengetahui bahwa dirinya p*****r pribadi Miracle.
“ Mika. Saya ingin bicara dengan kamu.” tutur Miracle saat dirinya sudah menduduki kursi kebanggaannya. Mika berdiri mendekat kearah meja Miracle. Lalu pria di depannya menyerahkan sebuah amplop putih yang menggembung kepada Mika. Mika mengambil amplop itu dengan raut wajah keheranan.
“ Ini apa Pak? “
“ Itu uang cash sebanyak 100 juta.” jawab Miracle santai.
Mika yang mendengarnya kaget, menatap amplop ditangannya dengan tatapan tak percaya. Begitu pula dengan Rose yang mendengar dari kejauhan kemudian berjalan mendekati Mika karna penasaran.
“ Pak?” tanya Mika tak percaya.
“ Saya rasa itu cukup untuk memenuhi kebutuhan kamu selama 9 bulan. Saya tau kamu hamil. Rose yang menceritakannya.” terang Miracle.
“ Pak. Tapi maksud saya bukan begitu. Maksud saya biarkan saja Mika bekerja.” Potong Rose saat dirinya sudah berdiri disebelah Mika.
“ Iya Pak. Saya merasa tidak keberatan jika bekerja dalam keadaan hamil.”
“ Saya tidak ingin kinerja kamu terganggu karena kehamilan kamu. Mika. Kamu diperbolehkan lagi bekerja jika kamu sudah melahirkan bayi yang ada dikandungan kamu itu. Apa uang 100 juta itu tidak cukup? Kalau tidak cukup, saya akan mentransfernya lagi.”
“T-tttidak usah Pak. Ini sudah lebih dari cukup. Tapi saya merasa tidak enak sama bapak. Saya mengucapkan terimakasih dengan sebanyak-banyak nya Pak” Sungkan Mika.
Miracle berdiri dari kursinya. “ Kamu tidak usah berterimakasih sama saya. Saya hanya menuruti keinginan Rose. Tidak lebih.” Setelah mengucapkan itu, Miracle berjalan keluar ruangan meninggalkan Rose dan Mika yang sedang berdiri terpaku.
Mereka berdua sedang berkelana dengan pikirannya masing-masing. Terlebih lagi Rose yang kehilangan kata-kata atas sikap Miracle yang sangat misterius menurutnya. Rose berani bersumpah, bahwa gadis itu tidak bisa menebak jalan pikiran Miracle.
Terkadang Miracle bisa menjadi pria yang dingin, misterius dan kejam. Tapi disisi lain, Miracle bisa menjadi sosok pria yang ringkuh.
Benar-benar keajaiban.
_______