Mika membereskan meja kerjanya dibantu oleh Rose. Banyak pasang mata melihat mereka berdua disertai bisik-bisikan yang sangat tidak enak didengar.
Seperti “Mika di pecat?? Mungkin Karna terjebak promosi ilegal.”
“ Mika sepertinya menimbulkan masalah diperusahaan”
“ Kenapa Mika beres-beres, terlibat masalah kah?”
Dan banyak omong-omongan yang lain sehingga Mika menjadi perbincangan seantaro kantor, seolah-olah gadis itu telah melakukan kesalahan besar. Padahal mereka saja yang tak tau tentang kejadian yang sebenarnya.
“ Lo ga usah dengerin apa kata mereka ya Ka.” ujar Rose menenangkan gadis yang sedang membereskan sisa-sisa plamfet dibawah meja.
“ Iya Ose. Lo tenang aja. Gua udah tebal telinga sama muka kok. Oh iya Ose, gua minta tolong buang plastik ini. “ ujar Mika sambil menyerahkan plastik-plastik yang sudah tidak berguna pada Rose.
“ Oke bentar ya. Lo tunggu disini, jangan kemana-mana”
Rose mengambil plastik itu, lalu ia berjalan ke arah depan dimana tempat sampah itu terletak.
“ ehm. “
Saat Rose menunduk membuang plastik itu, sebuah deheman orang membuat Rose mendongak. Matanya melihat Windi berdiri dengan bersidekap tangan.
Rose ingin berlalu pergi , ia tidak mau memancing keributan di area kantor. Tapi tidak dengan Windi yang sepertinya ingin mencari masalah dengan Rose.
“ Kenapa temen lo beres-beres? Di usir dari perusahaan?” tanya Windi sambil terkekeh.
Rose menatap Windi datar. “ Apa urusannya sama lo?”
“ Ya jelas dong urusan gua. Apapun masalah dikantor ini, gua berhak tau.” tegas Windi.
“ Buat apa? Buat bahan pergosipan lo dengan temen-temen lo? “ sindir Rose. Ia sengaja menyindir wanita didepannya ini, agar wanita itu sadar dengan perbuatan yang terang-terangan dilakukannya.
Windi yang merasa tersindir, lantas mendekat kearah Rose lalu mendorong pundak Rose dengan satu tangan.
“ Apa-apaan lo bawa-bawa teman gua!!” hardiknya tak terima.
Tak mau kalah Rose kembali mendorong Windi. “ Lo yang duluan bawa-bawa teman gua! Kalo lo punya masalah sama gua, bilang! Dari dulu ya gua perhatikan , semua orang diperusahaan ini juga tau, kalo lo ratu gosip!!!”teriak Rose sehingga membuat Mika dan orang-orang yang berada dilantai 7 itu mulai berdatangan ke sumber suara.
Rose merasa terpancing emosinya. Sebenarnya gadis itu sudah lama memendam emosi, setiap Windi menyebarkan gosip yang tidak-tidak tentang nya, pasti Rose mengalah dan membiarkan wanita itu. Tapi tidak untuk kali ini, jika Rose membiarkan Windi, pasti Windi akan menyebarkan berita yang tidak-tidak tentang Mika.
“ Eh gua itu bukan gosip! Asal lo tau, gua ngomong apa adanya. Sebagai contoh gua omongin lo terkena SP, emang benar kan? Nyata kan? Apa itu bisa dikatakan gosip?” tekan Windi.
“ Ose!!” panggil Mika berusaha menyerobot masuk kedalam kerumunan.
“ Lo pikir dengan otak lo yang cetek itu, kalo lo ngomongin orang sama aja dengan gosip. Makanya otak lo itu dipake jangan isinya duit-duit dan duit.”
Plakk
Rose memegangi pipinya yang ditampar Windi. Ia menatap Windi tajam. Merasa tidak terima, Rose menarik rambut Windi yang dikucir itu. Membuat si empu kesakitan.
“Aghhhh” teriak Windi. Dengan sekuat tenaga , Windi berusaha menarik rambut Rose yang tergerai. Sehingga terjadi perkelahian.
Tidak ada yang berani melerai.
Sedangkan Mika, berhasil menyeludup masuk ke dalam kerumunan. Ia dapat melihat perkelahian antara Rose dengan Windi. Mika cemas kemudian meminta tolong pada orang disekitarnya.
“ Pak, itu tolong pisahin mereka.” desak Mika.
“ Ga berani Bu. Nanti saya ikut-ikutan kena masalah.”
Mika kembali meminta pertolongan pada wanita di sebelahnya. “ Bu, tolong itu di pisahin. Kasian Bu. “
Wanita itu juga menolak. “ Saya ga berani Bu Mika. Kalo urusan kek gini saya nyerah.”
Mika mendengus kesal, sebanyak ini orang tapi tidak ada satupun yang berani melerai, mereka hanya bisa menonton pertengkaran itu.
Kalau saja Mika tidak hamil, sudah dipastikan ia akan memisahkan dua orang itu. Tidak ada cara lain, Mika memegangi ponselnya lalu menghubungi Miracle. Berkali-kali dihubungi Mika, sampai akhirnya Miracle menjawab telfon itu.
“ Pak. Tolong Pak. Rose lagi berkelahi dengan Windi” ucap Mika panik.”
“ Dimana posisi kamu sekarang?”
“Dilantai 7 Pak.”
“ tunggu disana! “
__________
Miracle menatap tajam dua orang wanita didepannya ini. Yang ditatap hanya mampu menundukkan kepala. Suasana mencengkam seolah-olah mereka sedang berada ditempat horor, tapi bagi Windi ini lebih dari pada horor.
“ Kenapa bisa terjadi kerusuhan di perusahaan saya?” tanya Miracle mengintimidasi keduanya.
Baik Rose maupun Windi, tidak ada yang berani menjawab. Lidah mereka kelu. Ini kali pertama Rose melihat kilatan amarah diwajah tampan milik Miracle. Menyeramkan.
“ Gada yang berani jawab? Atau kalian bisu?” tuding Miracle.
Rose mendongak. “ Tadi saya lagi buang sampah pak, terus Windi datang, saya sebenarnya tak acuh. Tapi dia sengaja cari masalah sama saya.”
“ Bohong Pak. Saya tidak mencari masalah sama dia. Saya tadi bertanya baik-baik, kenapa Mika beres-beres di meja kerjanya.”potong Windi cepat. Wanita itu tidak ingin disalahkan.
“ Tapi dia seolah-olah meledek Mika Pak.” kilah Rose.
“ Saya tidak meledek Mika Pak. Bahkan dia ngatain saya ratu gosip Pak.”
“ Tapi itu kenyataannya.”
“ Dari mana lo tau?!”
“CUKUP!” bentak Miracle dengan tangan yang memukul meja . Pria itu berdiri, lalu menunjuk Windi kemudian menunjuk Rose.
“ Kamu, kamu! Kalian membela diri kalian masing-masing! Jadi siapa yang akan saya percaya disini!” hardik Miracle.
Rose dan Windi menunduk dalam. Rose meremas jarinya pelan, ia sungguh takut dengan Miracle yang ganas seperti ini. Rose pikir, Miracle akan memberi pembelaan pada nya. Ternyata tidak.
Hal itu membuat hati Rose ter-iris, apalagi mengingat Miracle hanya menjadikannya b***k atau p*****r. Rose tersenyum getir, ternyata selama bersama Miracle, gadis itu salah menilai Miracle bahwa pria itu mempunyai perasaan terhadapnya. Sama seperti Rose yang mulai ada perasaan pada Miracle.
“ Apa hukuman yang pantas buat kalian berdua? Atau saya SP saja?”
Mendengar kata ‘SP’, keduanya mendongak. Mereka menjawab kompak tapi dengan jawaban yang berbeda. Windi yang menjawa“ Iya Pak” sedangkan Rose menjawab
“Tidak Pak”.
Windi sengaja meng-iyakan Miracle, karena sudah pasti jika Rose mendapatkan SP lagi, gadis itu akan di phk. Hal itu membuat peluang yang besar untuk Windi menyingkirkan Rose dari perusahaan.
Rose menatap Windi yang tersenyum penuh kemenangan. Ia tau kemana arah pikiran Windi saat ini. Wanita itu ingin menjatuhkan Rose. Rose tak habis pikir , masih ada manusia yang berjiwa iblis seperti Windi.
“ Saya tidak tau hal apa yang kalian peributkan. Untuk kali ini saya maafkan kalian berdua. Tapi, jika terjadi keributan lagi dan orang yang menimbulkan keributan itu masih kalian, saya pastikan kalian angkat kaki dari perusahaan ini. Mengerti?”
“ Mengerti Pak.”
______