Part tigabelas

1000 Words
“ Makasih ya Ose dah repot-repot nganterin gua.” ucap Mika didepan pintu kostnya. “Kek sama siapa aja si Ka. Yaudah gua pergi dulu ya. Ntar kalo ada apa-apa kabari gua aja.” ingat Rose sebelum berlalu pergi dari kost Mika. Hari ini Rose tidak terlalu mood untuk langsung pulang kerumah Miracle. Mungkin ia akan berjalan-jalan ke mall untuk menghilangkan sejenak rasa kecewa pada pria itu. Entah lah, Rose merasa ada sedikit rasa untuk Miracle. Rose berjalan keluar gank sempit , jalur rumahnya Mika. Gadis cantik itu akan memesan grab agar tidak terlalu lama menunggu angkot. Pasalnya cuaca hari ini sangat panas. Mungkin bisa sampai 30 derajat. Dengan bantuan aplikasi di ponselnya, Rose memesan grab. Ia berdiri sekitar 10 menit, hingga mobil merk avanza putih tiba menjemputnya. “ Neng Rose Himalaya? “ tanya bapak supir grab setelah melihat layar ponselnya. “ Iya Pak. “ “ Masuk neng.” perintah pak supir , setelah itu Rose masuk kedalam mobil. Mobil melaju membelah jalanan ibu kota yang sedang padat. Rose berdoa semoga saja tidak ada macet. Karena jarak mall dari kantor lumayan memakan waktu setengah jam. Tapi kalau macet bisa-bisa sampai 1 jam lamanya. Dengan iringan musik ‘not you-alan walker’ , Rose membalas pesan whatshap dari Mika. Wanita hamil itu sedang pusing-pusingnya di masa 1 bulan kehamilan. Rose sempat sedih melihat kondisi Mika.Tadi saja selama berjalan menuju kost wanita itu tidak henti-henti mual dan mengeluh pusing. Rose sempat menawari Mika agar dirinya menginap di kost, tapi Mika menolak dikarenakan takut jika Miracle mencari Rose. Rose bingung padahal ia belum menceritakan apa-apa tentang hubungannya dengan Miracle. Tetapi Mika seperti sudah mengetahuinya. Jika sampai Mika tau segalanya, pasti akan menjadi beban pikiran wanita itu. Sibuk bergelut dengan pikiran, tidak terasa mobil berhenti di depan mall. Rose mengucapkan terimakasih setelah mengeluarkan lembaran uang sepuluh ribu. Kakinya yang jenjang turun dari mobil dan melenggang memasuki gedung yang sesak dengan orang-orang. Rose berniat menghabiskan waktu dengan menonton spiderman saja. Ia menaiki eskalator sebanyak 6 buah untuk sampai di tempat bioskop.Setelah sampai dilantai 7, Rose disambut security yang sedang membuka pintu. Rose tersenyum lalu masuk diiringi orang-orang yang berdesakan sampai salah satu pria menabrak dirinya. “ Eh maaf Mbak.” ujarnya tak enakan terlebih lagi semua mata melihat ke arah Rose dan pria itu. Rose sedikit meringis memegang bahunya. “ Iya gapapa Mas. “ “ Tadi orang dibelakang saya mendorong saya Mbak. Sekali lagi maaf ya, mbaknya gapapa kan? “ tanya nya khawatir. “ Iya santai aja Mas. Namanya juga tempat umum. Yaudah saya duluan ya. “ pamit Rose. Rose lalu berjalan ke tempat scan, ia akan menscan tiket nonton yang sudah dibelinya sepulang kantor tadi. Setelah semuanya selesai, Rose masuk ke room 1 yang kebetulan sudah dibuka. Terlihat banyak sekali yang menonton, tapi rata-rata semuanya berpasangan. Bioskop ini benar-benar seperti tempat kencan. Bukannya menghilangkan rasa kecewa, Rose malah semakin kecewa melihat mereka berpasangan tidak seperti dirinya yang jomblo. Ia berjalan menuju bangku kosong yang berada di paling belakang lalu duduk di bangku itu. Rose menyandarkan pundaknya di bangku sambil melihat orang yang lalu lalang masuk untuk menonton film yang sama. Rose hendak meraih ponselnya yang berada di tas jika saja orang yang tidak sengaja menabraknya, duduk disebelah. “ Loh mbak yang tadi?” Ternyata pria itu juga menyadari keberadaan Rose. Rose tersenyum singkat sebagai bentuk balasan. Sebenarnya gadis ini tidak mudah dekat dengan seseorang , apalagi itu lawan jenis. “ Benar kan gada yang sakit mbak? Tadi saya liat mbaknya megang bahu” tanya pria yang tidak diketahui namanya itu. Jujur Rose merasa sedikit nyilu dibagian bahunya karna hentakan yang lumayan keras. Tapi ia lebih memilih bodo amat, dan merasa rasa sakit itu akan hilang sejenak. “ Iya gapapa Mas. Santai aja.” ucap Rose menenangkan. “ Oh iya. Perkenalkan nama saya Aldo.” kenal pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Rose. Rose menatap tangan itu sejenak, lalu tangannya menekuk di d**a pertanda bahwa bukan ‘muhrim’. “ Oh. Maaf ya mbak. “ “ Iya gapapa Mas. Nama saya Rose, biasa dipanggil Ose.” “ Nama mbak kek nama bunga Rose, cantik, sama kek orangnya.” Puji Aldo. Rose yang dipuji merasa canggung, bingung mau bereaksi bagaimana pada Aldo. Sebagai balasan ia hanya bisa tersenyum. Tidak lama lampu bioskop mati dan layar lebar menampilkan film yang akan ditonton. Didalam ruangan itu mulai sunyi hanya terdengar suara film yang begitu kencang. Semuanya menikmati film yang sudah dimulai. ____________ “Ose. Mau pulang bareng?” tanya Aldo ketika mereka berdua keluar dari bioskop. “ Ga usah Mas. Saya pulang sendiri aja, ntar ngerepotin mas nya.” “Santai aja kali. Itung-itung sebagai bentuk permohon maafan.” Rose bingung, antara menerima tawaran Aldo atau harus menolaknya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan Miracle berkali-kali menelfonnya tapi Rose tidak mengangkat telfon itu. “ Tapi rumah saya di komplek Nusa Kembang. “ ujar Rose. “ Benarkah? Tapi kebetulan rumah saya di dekat situ juga.” “ Tapi benerankan ga ngerepotin?” tanya Rose memastikan. “ Ya engga lah. Ayo kita pulang. “ Rose mengangguk dan berjalan di belakang punggung tegap Aldo. Seperti kebetulan Rose bertemu dengan pria seperti Aldo yang ramah, perhatian dan mudah dekat dengan seseorang. Berbanding terbalik dengan sifat Miracle. “ Ose. Kamu gamau beli sesuatu dulu buat dibawa pulang? Nanti saya yang bayar. “ sentak Aldo ketika mereka sudah berada di lantai 5 mall. “ mau beli apa saya juga bingung Mas.” sungkan Rose. Gadis itu benar-benar merasa canggung berada di dekat Aldo. Pribadinya yang tidak mudah bergaul malah di pertemukan dengan Aldo. “ Beli apa kek biar ntar dirumah bisa nyemil. Kamu suka nyemil ga? Kalo saya dirumah paling suka nyemil.” “ Hmm saya tipenya yang ga terlalu suka makanan Mas. “ Aldo mengangguk kemudian berjalan berdampingan dengan Rose. “ Yaudah deh. Berarti kita langsung pulang” Setelahnya mereka berdua terdiam, terlebih lagi Rose yang hanya melihat mall yang sudah mulai sepi. Sebenarnya jika weekend jam segini mall masih ramai mungkin dikarenakan besok masih kerja, orang-orang pulang lebih awal sama seperti dirinya juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD