Dengan berbalutkan selimut tipis, Diva memasuki kamar mandi yang berada di kamar tempat dia bangun pagi ini. Setelah tau kalau Nathan adalah pemilik ranjang yang dia tiduri pagi ini pikiran Diva kembali kacau. Terlalu kacau hingga Diva tidak tau kejadian yang terjadi padanya dari malam tadi hingga pagi ini. Kalau bukan karena Nathan meninggalkan selembar sticky note di bantal di sebelah Diva, mungkin dia tidak akan tau kamar siapa pemilik kamar itu. Diva mungkin masih bergelut dengan ketakutan dan kekacauan yang dibuatnya tadi malam hingga dia bisa terdampar ditempat Nathan.
Diva mengutuki kebodohannya kemarin malam. Seandainya dia bisa mengontrol dirinya lebih baik dan tidak meminum rum milik Kian, mungkin dia tidak akan berakhir konyol seperti sekarang ini. Padahal Diva sangat tau soal kemampuannya dalam meminum alkohol dan apa akibatnya jika dia mabuk, itulah kenapa dia menjauhi alkohol selama ini. Diva tidak mau berurusan dengan masalah yang dibuatnya saat dia sedang mabuk. Masalah yang dia tidak tau bagaimana dan kenapa bisa ada.Tapi dia melakukannya malam tadi, jadi dia benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.
Sekarang akibat dari tindakan bodohnya tadi malam, Diva masuk dalam masalah yang dia tidak tau harus bagaimana menyikapi dan menyelesaikannya. Bagaimana dia bisa menyikapinya jika Diva sendiri tidak tau bagaimana semua ini bisa terjadi. Seandainya Diva tau apa yang dia lakukan, hingga dia bisa melakukan tidur bersama dengan Nathan, mungkin Diva akan tau harus melakukan apa kedepannya. Paling tidak, dia akan tau bagaimana dia harus bertindak di depan Nathan.
Memangnya apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu berani?
Diva menghembuskan nafasnya kasar saat kalimat itu terucap dalam hati Diva karena dia memang sadar kalau hubungannya dengan Nathan masih sangat jauh dari kata baik. Bagaimana mau dibilang baik, jika Diva sendiri tidak yakin apakah dia sudah berani untuk berhadapan dengan Nathan tanpa perlu menjadi Diva yang bodoh, pengecut dan cengeng. Diva berani bertaruh kalau dia tidak bisa bersikap biasa saja dengan Nathan, meski sudah melakukan hal seintim itu dengan Nathan tadi malam,
***
Selesai mandi, Diva tidak langsung pergi meninggalkan apartement Nathan. Diva masih menyempatkan dirinya untuk merapikan kamar Nathan. Tidak hanya itu, dia juga memakan sarapan yang Nathan telah siapkan untuknya. Meski sarapan itu hanyalah salah satu sarapan basic para pekerja, Diva sudah berterima kasih Nathan sudah mau membuatkan itu untuknya.
Setelah merasa semuanya sudah rapi dan tidak ada yang tertinggal lagi, Diva bersiap untuk meninggalkan apartement Nathan. Diva tidak tau apakah ini terdengar bodoh atau tidak, tapi Diva berharap bisa tinggal disini. Tinggal bersama Nathan dan menghabiskan hari-harinya bersama Nathan.
Membayangkan bisa memasak untuk Nathan, merapikan dasi milik Nathan sebelum dia berangkat kerja, lalu menunggunya pulang bekerja adalah bayangan indah di kepala Diva. Semua bayangan yang sebenarnya sudah ada sejak dia SMA dulu. Bayangan yang membuat Diva mengharap terlalu tinggi kemasa depan dia dan Nathan. Terlalu tinggi berharap membuat Diva lupa kalau harapan tidak akan selalu menjadi kenyataan.
'Jangan meletakkan harapanmu terlalu tinggi. Jadi kalaupun harapanmu itu jatuh karena kenyataan, kamu tidak perlu merasa terlalu sakit.'
Begitu pesan kedua kembarnya dari awal, tapi Diva mengabaikan nasehat itu karena Diva pikir semua keinginannya pasti terwujud. Dan sekarang Diva menyesalinya karena seharusnya dia mendengarkan dan menuruti semua nasehat kakaknya. Kalau dia mendengarkan dan menuruti semua yang dikatakan oleh kedua kakaknya, mungkin dia tidak akan merasakan semua sakit yang dia rasakan selama 8 tahun ini.
Tidak mau berlama-lama mengulang kenangan yang akan membuat dia sedih lagi, membuat Diva bergegas meninggalkan apartemen Nathan. Setelah menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya untuk mengakhiri kebodohannya ini, Diva akhirnya memutuskan untuk menuliskan satu kata pada sticky note yang telah Nathan gunakan tadi.
Ada sarapan untukmu
Nathan
Terimakasih
Divarye ❤
***
Sepulang dari apartemen Nathan, Diva memutuskan untuk berkunjung ke apartemen Anila. Tadi Deva memintanya untuk menemani Anila yang katanya tiba-tiba rewel. Beruntunglah hari ini weekend dan Diva juga off, jadi dia bisa menemui Anila dan menemani calon kakak iparnya itu sesuai permintaan Deva.
"Jadi kemana lo semalam?" Tanya Anila penuh selidik pada Diva.
Pura-pura tidak mendengar pertanyaan Anila, dia memilih untuk menyambut cake yang dibawakan Aya untuknya. Menurut cerita Aya, sudah sejak tadi malam dia ada disini, bersama Anila karena dia kasihan Anila tidak ada yang menemani. Sama seperti Diva, keberadaannya disini juga karena permintaan Deva. Beruntung Divo lagi melakukan tugasnya, jadi Aya bisa menginap bebas bersama Anila. Melihat Diva yang terlihat tidak akan menjawab pertanyaannya, membuat Anila mendelik tidak suka.
"Kemarin tante nanyain lo ke gue dan Aya. Tante sama om khawatir sama lo yang katanya nggak pulang-pulang sampai jam 12 malam. Padahalkan, lo nya janji bakal balik sebelum jam segitu." Kata Anila menjelaskan kenapa menanyakan hal tadi pada Diva.
Penjelasan Anila membuat Diva merasa bersalah karena dia baru ingat kalau dia janji pada orangtuanya akan pulang. Seharusnya dia tidak berjanji untuk pulang pada mama papanya kemarin, jadi mereka tidak perlu menunggu dia hingga selarut itu. Bodohnya juga, hape Diva juga dalam keadaan tidak aktif dari semalam, membuat dia tidak bisa dihubungi.
"Lo beruntung gue ingat nomor Catherine dan nanya lo ke dia." Jelas Anila.
Diva mendesah lega mendengar Anila menghubungi Catherine, itu artinya orangtuanya tau kalau dia tidak akan pulangkan? Diva juga tau kalau Catherine cukup pintar menutupi apa yang terjadi semalam.
"Kita memang berhasil nenangin mama papa buat nggak cemas Va, dengan bilang lo nginap bareng kita. Tapi nggak dengan Deva dan Divo, mereka minta kita untuk tetap nanya ke elo, kemana lo-nya?"
"Kata mereka, mereka yakin kalau lo lagi nggak nginap di tempat Catherine." Dengan tenang Aya mengatakan hal itu pada Diva.
Diva tidak bisa menjawab karena dia tau kalau dia tidak akan bisa mengelak lagi. Kalau kedua kembarnya sudah memaksakan kehendaknya untuk tau apa yang telah dilakukan Diva, maka Diva tidak akan bisa berbohong lagi.
"Gue bersama Nathan tadi malam." Kata Diva akhirnya dengan suara yang lirih pasrah.
***
Ada sedikit kelegaan di dalam hati Diva setelah dia bercerita pada Anila dan Aya tentang kejadian antara dia dan Nathan. Tidak sepenuhnya jujur sebenarnya karena dia sendiri tidak tau apa yang terjadi malam itu. Diva hanya bercerita sebisa yang dia bisa ceritakan, dia tidak mau lagi menambah bebannya dengan menyimpan rahasia.
Sebenarnya tidak banyak cerita yang bisa Diva ceritakan kemarin. Setelah Diva bilang dia mabuk dan berakhir di apartemen Nathan, Anila dan Aya segera berhenti bertanya. Entah apa yang mereka pikirkan soal dia yang berakhir di apartemen Nathan, tapi yang pasti mereka memilih diam setelah itu. Bahkan tanpa Diva minta, baik Anila dan Aya berjanji tidak akan membocorkan soal ini kepada kedua kembarnya.
"Dokter Diva, dokter diminta dokter William untuk menemui beliau sekarang." Kata Tania, salah satu perawat yang bekerja di bagian jantung, pada Diva yang baru menyelesaikan pemeriksaan pada pasien terakhirnya.
Teringat akan ketidak professionalannya saat bertemu terakhir kali dengan dokter William membuat Diva meringis tidak enak. Itulah kenapa Diva memutuskan untuk menemui seniornya itu saat itu juga, Diva ingin meminta maaf atas kelakuannya pada hari itu. Jadi tanpa membuang waktunya lagi dengan kembali keruangannya, Diva langsung menemui dokter jantung senior di St Louis Central Hospital itu.
Tok... Tok... Tok...
Diva mengetuk pintu sang dokter. Setelah mendapat ijin dari dalam, barulah Diva berani masuk ke dalam ruangan itu.
"Siang dok," Sapa Diva pada sang dokter.
William mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang dibacanya, lalu melemparkan senyum setelah tau itu siapa. "Duduk Div," katanya lagi dengan ramah.
Menurut dengan apa yang William katakan, Diva duduk di kursi yang berada di depan meja dokter seniornya itu.
"Tunggu sebentar ya, dokter Nathan belum datang." Ucap dokter William lagi agar Diva tau kalau mereka akan menunggu seseorang lagi.
Mendengar nama itu tubuh Diva segera menegang, untuk sesaat juga jantungnya ikut bergerak tidak karuan. Namun, detak ini berbeda dengan detak yang sebelum-sebelumnya. Detak ini lebih cenderung kepada detak ketidaksabaran yang bercampur dengan rasa cemasnya. Tapi Diva tidak ingin terlihat bodoh lagi di depan seniornya itu, hingga dia dengan segera menutupi perasaannya dengan segera mengalihkan pembicaraan tentang kedatangan Nathan ini.
"Dokter, maaf soal yang kemarin." Dengan memberanikan dirinya Diva meminta maaf pada William karena dia telah bersikap bodoh dan buruk.
William kembali mengangkat kepalanya. Lalu William menatap langsung pada wajah Diva dan tersenyum. "It's ok Div. Selama kamu bertanggung jawab dengan pasienmu, saya pikir semuanya oke oke aja." Jelas William.
Diva meringis. Dia merasa kalau dia bukanlah dikter yang bertanggung jawab dengan pasiennya. Buktinya, dia bisa begitu seenaknya mengalihkan pasiennya pada Halley hanya karena masalah pribadinya dengan Nathan, menunjukkan betapa tidak professionalnya dia. Ya meskipun pada akhirnya dia meminta semua pasiennya lagi dari Halley. Padahal dia tau kalau serah terima pasien itu tidak bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan, beruntung serah terima itu belum sempat terjadi saat Diva memutuskan untuk stay.
Saat Diva hendak melanjutkan perkataannya, seseorang mengetuk pintu ruangan William. Ketukan itu mengembalikan ketegangan dan kecemasan yang tadi dia rasakan tadi.
Inilah waktunya.
Ucap Diva dalam hatinya. Saat Diva mendengar seseorang masuk ke dalam ruangan itu setelah pemilik ruangan mengijinkannya untuk masuk.
"Selamat siang dok," sapa si pemilik suara.
Tubuh Diva berubah kaku saat mendengar suara itu. Saking kakunya, Diva merasa untuk bernapas saja dia mengalami kesulitan.
"Duduk Than." Sama seperti Diva, pria itu dipersikahkan duduk oleh William.
Setelah Nathan duduk di sebelah Diva, William segera mengatakan apa yang menjadi tujuannya mempertemukan Diva dan Nathan.
"Jadi Va, ini soal operasi jantung Gideon." Kata sang dokter memulainya.
"Kamu taukan kalau saya tidak akan berada disini untuk beberapa bulan kedepan?" Tanya sang dokter pada Diva yang kini sudah terfokus sepenuhnya dengan pasiennya.
"Nah oleh karena itu dokter Lukas meminta saya untuk mengalihkan operasi itu ke dokter Nathan. Saya pikir, saya perlu persetujuan kamu juga untuk pengalihan ini, bagaimanapun Gideon adalah pasien kamu dan kamu sebagai dokter pendampingnya harus tau dan setuju soal ini." Jelas William lagi pada keduanya, terkhusus Diva yang dia pikir satu-satunya pihak yang tidak tau akan hal ini.
"Bagaimana?" Tanya William kemudian setelah menjelaskan semuanya pada Diva.
Diva kembali terdiam. Pikirannya kembali melayang setelah mendengarkan penjelasan dari sang dokter senior tadi. Dalam pikirannya, Diva seolah sibuk mempertanyakan permainan takdir dia dan Nathan. Takdir itu seolah sedang ingin memaksa Diva untuk berani menghadapi ketakutannya dengan membuat jarak dia dan Nathan semakin dekat.
"Div.. Div... Diva... " Panggil William pada Diva dengan suara yang sedikit kuat pada panggilan ketiganya.
Mendengar suara William, Diva yang baru tersadar dari lamunannya segera menolehkan tatapannya pada sang senior lagi. Meski telah menatap sang senior, Diva tidak langsung memberikan jawaban atas pertanyaan William tadi dan sepertinya William menangkap siratan beban di wajah Diva itu.
William mendesah, kemudian berkata, "Saya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian hingga susah buat kamu untuk berinteraksi bahkan berdekatan dengan Nathan. Dan saya pikir, sayapun tidak perlu tau dengan itu karena itu bukan urusan saya. Tapi kalian adalah dokter. Hari dimana kalian mengucapkan sumpah kalian sebagai dokter adalah hari dimana kalian harus meletakkan keselamatan pasien kalian diurutan nomor satu." Kata William dengan tenang namun tegas pada Nathan dan Diva.
Dan walaupun William seolah mengatakannya pada keduanya, Diva sangat tau kalau nasehat itu ditujukan pada dia.
"Saya dan dia memang bermasalah dok, tapi saya yakin kalau masalah pribadi kami tidak akan mengganggu profesionalitasnya dia sebagai dokter dengan mundur, hanya karena saya yang menggantikan dokter William." Nathan akhirnya menggantikan Diva untuk menjawabnya.
Setelah mendengar jawaban Nathan, sempat terjadi keheningan sebentar. Dan keterdiaman Diva dianggap persetujuan oleh William.
"Baiklah kalau begitu, saya anggap ini sudah clear. Mulai sekarang Diva, kamu bisa mendiskusikan tentang opperasi Gideon dengan Nathan." Kata William akhirnya menutup perjumpaan diantara mereka. Setelah itu, dia kemudian mengijinkan Diva dan Nathan untuk meninggalkan dia.
Sekeluarnya Diva dan Nathan dari ruangan William, Nathan membuat Diva menghentikan langkahnya dengan berkata, "Let be professional. Don't mix our personal life with our work. Don’t ruining your dream for something useless." Katanya, setelah mengatakan itu Nathan meninggalkan Diva yang termangu di depan ruangan dokter William.
***