"Va, gila lo ya." Seru Cathrine pada Diva ketika mata coklat wanita itu menangkap sosok Diva di kantin kereka.
Mendengar seruan Cathrine itu, membuat Halley, Kian, Yolanda dan Farrel sama-sama menoleh pada arah dimana Cathrine sedang berteriak.
Diva meringis karena dia paling tidak suka menjadi pusat perhatian seperti sekarang ini. Kalau dia menjadi pusat perhatian, Diva merasa seperti menjadi tersangka, apalagi dengan tatapan menyelidik teman-temannya sekarang.
"Bisa nggak lo semua nggak ngeliatin gue seperti itu?" Dengan nada yang sedikit pelan Diva mengatakan hal itu pada kelima teman seprofesinya itu.
Halley dan Catherine mendelik, merasa tidak puas dengan respon Diva. "Sampai lo ngejelasin sama kita masalah apa yang ngebuat lo mikir hampir resign, kita bakal terus ngincar lo." Kata Cathrine kekeh.
Diva mendengus. Sungguh, dia sedang tidak ingin membicarakan hal itu sekarang. Dia belum mempersiapkan alasan yang baik untuk teman-temannya ini, agar mereka tidak perlu curiga dan bertanya-tanya lagi.
"Lo mau resign?"
Kali ini bukan hanya Halley dan Catherine, Yolanda, Farrel dan Kianpun ikut menginterogasi dia. Dan Diva tidak suka itu.
Diva menghembuskan napasnya berat kemudian berkata, "Lo tau dari mana?"
Dengan arah yang lebih spesifik Diva menoleh kearah Catherine.
Catherine berdecak tidak suka, meski begitu dia tetap menjawab pertanyaan Diva. "Lo pernah mikir nggak, kalau rumah sakit ini dihuni lebih banyak perempuan. Lo taukan wanita dan gosip."
"But that's not the point. Tell me about this resign thing." Kian mengembalikan topik yang cukup mengejutkannya itu.
Diva menghela napasnya berat. Barulah dia mencoba menjawabnya, "I'm bored. Aku hanya butuh suasana baru." Dengan berbohong, Diva mencoba terlepas dari interogasi teman-temannya.
Sayangnya, alasan Diva itu tetap tidak digubris oleh teman-temannya.
"Lo, bosan disini? Kita nggak percaya. Gue dan yang lainnya tau gimana lo mencintai tempat ini." Yolanda mencibir jawaban Diva. Sialnya perkataan Yolanda tadi juga diangguki oleh teman-temannya yang lain.
Saat Diva hendak membalas Yolanda lagi, tubuhnya kembali merasakan reaksi yang belakangan ini sering kali Diva rasakan. Reaksi yang muncul karena kehadiran seseorang. Bahkan tanpa melihatnya, dia bisa tau kehadiran Nathan disekitarnya.
"Dokter Nathan, ayo bergabung dengan kami." Kata Halley yang mengundang perhatian teman-teman Diva yang lain ke Nathan yang memang berdiri tidak jauh dari meja mereka.
Saat teman-temannya terfokus dengan kedatangan Nathan, dia hanya bisa berharap agar Nathan menolak ajakan Halley dan segera pergi meninggalkan dia dan teman-temannya. Diva tidak mau reaksi berlebihan dari dirinya menimbulkan kecurigaan pada teman-temannya. Diva belum siap kalau teman-temannya tau apa sebenarnya yang terjadi antara dia dan Nathan.
Tidak ada jawaban dari Nathan untuk sesaat, hingga akhirnya dia berdiri tempat di samping Diva yang memang duduk di posisi paling pinggir tempat dia dan teman-temannya makan. "Sebaiknya saya makan di meja terpisah saja." Tolak Nathan yang membuat Diva sedikit bisa bernafas lega.
"Akan sangat tidak menyenangkan, apabila diantara kalian ada yang pergi karena merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya. Saya tidak suka dengan hal yang seperti itu. Merusak kebersamaan bukanlah hal yang saya inginkan." Kata Nathan dengan nada datar khas miliknya yang membuat orang-orang di meja Diva terdiam.
Diva sendiri merasa semakin tertohok karena dia sangat tau kalau kata-kata Nathan tadi ditujukan kepada dia. Itulah kenapa wajah Diva semakin pias, tanpa sadar dia juga sudah mencengkraman sendok dan garpunya kuat. Diva sadar, Nathan masih memiliki pengaruh kuat dalam dirinya. Hanya dengan perkataannya saja, Nathan bisa melukai hati Diva.
***
Sudah 3 hari sejak kejadian di kantin itu berlalu. Kejadian dimana Diva menarik kesimpulan dari perkataan Nathan kalau Nathan tidak nyaman dengan keberadaannya. Itulah kenapa, sejak saat itu Diva selalu berusaha untuk menghindari Nathan dengan cara menjaga jarak dengan pria itu. Diva berusaha sebisanya agar Nathan tidak perlu bertemu atau bersinggungan denganya.
Tringgg...
Bunyi pesan Diva menyadarkan Diva dari pikirannya. Tidak mau tenggelam lagi dengan khayalan dan pikirannya, membuat Diva segera membuka pesan yang baru masuk tersebut.
Catherine
Diva, nanti malam jemput gue yaaa... Kita berangkat bareng ke Exodus.
Diva mengernyitkan keningnya, tidak mengerti dengan isi pesan Catherine.
Divarye
Kenapa gue harus ngejemput lo? Memangnya lo mau kemana?
Tanya Diva pada Catherine melalui pesan w******p-nya. Tidak menunggu waktu lama, balasan dari Catherin segera tiba.
Catherine
Jangan bilang lo lupa soal undangan pesta perpisahan dokter internship itu Va. Wah parah lo.
Jelas Catherine dipesannya.
Diva mendengus kesal. Dia baru ingat kalau minggu lalu dia sudah menyetujui untuk hadir dipesta perpisahan beberapa dokter magang di rumah sakit tempat dia bekerja. Ingin rasanya Diva membatalkan kehadirannya ini karena Diva hanya ingin mengisi waktunya akhir-akhir ini dengan ketenangan.
Namun Diva sudah terlanjur janji pada Ghea, salah satu dokter magang yang magang di bagian yang sama dengan Diva, kalau dia akan menghadiri acara perpisahan mereka. Ghea cukup dekat dengan Diva, membuat Diva merasa segan kalau harus mengingkari janjinya. Lagipula Diva sadar, kalau dia sangat butuh hiburan sekarang. Semua beban dihatinya dan stress dikepalanya perlu dia bebaskan agar ia tidak menjadi gila nantinya. Dan ke diskotik sepertinya bukanlah tempat yang buruk untuk melepas semua tekanan itu. Jadi setelah membulatkan tekatnya, Diva menyetujui permintaan Catherine.
Divarye
Ok. Nanti gue jemput lo. Kita berangkat jam 9 ke Exodus
Ketik Diva dalam pesannya. Ketika melihat tanda biru tercentang dua, saat itukah dia tau kalau dia tidak bisa mundur lagi.
***
Dengan dress mini berwarna hitam, Diva memasuki kawasan Exodus. Catherine yang tadi datang bersamanya, permisi untuk ke toilet terlebih dahulu karena sudah kebelet sejak mereka di jalan tadi.
"Dokter Diva..." Panggil Dion, salah satu dokter internship yang juga baru datang sama seperti dia.
Diva menoleh, lalu menyambut sapaan Dion.
"Hai Dion. Baru nyampe juga?" Tanyanya.
Dion mengangguk, lalu mengajak Diva untuk jalan bersamanya untuk pergi ke tempat mereka seharusnya berkumpul. "Ayo dokter. Kita ke ruangan yang udah kami booking."
Dengan mengikuti Dion, akhirnya Diva sampai di tempat dokter-dokter lainnya yang sudah berkumpul. Tidak banyak dokter yang datang kesana, menurut perkiraan Diva, hanya ada belasan orang aja yang berkumpul malam ini. Berdasarkan berita yang didengar oleh Diva yang hadir malam ini adalah dokter-dokter yang kebetulan off dari tugas dinas malam mereka.
Diva mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Farrel dan Kian yang katanya hadir juga malam ini. Setelah menemukan keberadaan teman-temannya itu, Diva segera melangkahkan kakinya ke arah mereka.
"Where is Kate?" Tanya Farrel saat menyadari Diva yang datang sendiri.
Diva mendudukkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan temannya itu. "Dia lagi ke toilet dulu. Sewaktu gue sama dia dalam perjalanan tadi, dia udah kebelet pipis.
Tapi karena macet kita nggak bisa singgah, jadilah dia buru-buru ke toilet tadi pas kita tiba disini." Jelas Diva yang langsung diangguki oleh keduanya.
Diva mengedarkan pandangannya lagi untuk mencari sosok yang ingin dilihatnya sebelum berangkat kesini tadi. Entah dia harus menyebut dia apa sekarang, bodoh atau munafik karena jauh dari dalam lubuk hatinya, dia berharap Nathan menghadiri acara ini supaya dia bisa melihatnya. Tidak perlu Nathan menyadari keberadaannya, cukup dia saja yang menyadarinya. Menyedihkan memang, namun Diva tidak bisa memungkirinya kalau apa yang ditanam dan dibuangnya selama 8 tahun ini, perlahan-lahan kembali lagi ke dalam hati Diva.
Setelah Nathan kembali lagi dalam kehidupnya, Diva memang selalu merasakan sakit dan tekanan karena kehadiran pria itu. Tapi tetap saja, semua itu tidak bisa membuat Diva bisa mengingkari kalau dia masih mencintai Nathan. Dibalik semua kesakitan dan tekanan itu, Diva selalu berharap bisa melihat Nathan. Terlalu bodoh dan munafik bukan? Dia pantas menjadi seorang masochist sejati yang terlalu menikmati rasa sakit.
Menyadari hal itu, membuat Diva kesal sendiri pada dirinya. Hingga tanpa sadar dia membuang napasnya dengan kasar karena keputusan dia untuk datang ke tempat ini tidak membantunya sama sekali. Lihatlah, dia bukannya melepaskan stress dan tekanannya dengan bergabung dengan teman-temannya yang lain, yang asik mengobrol dan minum atau melakukan bergoyang, Diva malah memilih untuk asik dengan lamunan dan pikirannya sendiri. Mengharap sesuatu yang seharusnya tidak boleh dia harapkan karena kalau harapannya itu terwujud, maka suasana hatinya pasti akan kembali muram dan semakin memburuk.
"Diva..." Seru Catherine sambil menepuk pundak kanan Diva.
Diva terkejut, lalu menolehkan tatapannya pada Catherine yang tampaknya baru tiba di tempat mereka berkumpul ini. Namun, balasan untuk sapaan Catherine terhenti di mulut Diva saat disadarinya siapa orang berada di belakang Chaterine. Menggenggam erat gelas ditangannya, Diva berusaha mengurangi segala reaksi dari dirinya hingga tidak perlu menunjukkan kekakuan dan kecanggungannya akan kehadiran Nathan yang muncul bersama dengan Catherine dan Bima.
Catherine sedikit mendorong tubuh Diva agar bergeser dan menyisakan tempat untuk tiga orang, lalu berkata, "Tadi aku bertemu dokter Bima sama dokter Nathan di bawah. Jadi sekalian saja kami masuk bersama." Tanpa Diva perlu bertanya, Catherine langsung menjelaskan tentang keberadaan Bima dan Nathan yang datang bersamanya.
"Hai Va," Sapa Bima yang dibalas anggukan dan senyuman kecil oleh Diva.
Setelah membalas sapaan Bima, Diva mengembalikan tatapannya pada minuman ditangannya. Meski dia sudah tau kalau Nathan tidak akan menyapanya, tapi tetap saja Diva merasa sakit atas sikap cuek Nathan. Belum lagi ketika laki-laki itu memilih untuk duduk ditempat yang jauh darinya, Nathan meninggalkan tempat yang tadi Cathrine sediakan buat dia.
Berharap bisa menghilangkan kesesakan dalam hatinya, Diva meneguk minuman beralkohol milik Kian yang kebetulan ada disampingnya. Diva mengabaikan kenyataan kalau dia sangat lemah terhadap alkohol, sedikit saja ada kadar alkohol dalam minumannya, Diva akan langsung mabuk biasanya. Berbeda dengan mabuknya Deva dan Divo yang biasanya akan langsung tertidur, mabuk Diva malah membuat dia lebih aktif. Dalam keaktifannya itu, biasanya Diva lupa akan dirinya.
Lihatlah, baru saja dia meminum rum milik Kian kesadarannya perlahan-lahan menghilang.
***
"Arrggghhh..."
Ringis Diva saat dia membuka matanya dari tidurnya. Dipijit-pijitnya kening dan tengkuknya, berharap rasa pusing dan kebasnya bisa berkurang. Tidak mau membuat dia semakin merasakan pusing karena tiba-tiba membuka matanya, membuat Diva memilih untuk tetap memejamkan matanya dulu. Barulah setelah Diva merasa kesadarannya telah kembali, dia mencoba membuka matanya dengan perlahan-lahan. Dia sengaja melakukan itu agar bisa mengadaptasikan retina matanya dengan cahaya yang berlomba-lomba masuk kedalamnya.
Setelah berhasil membukakan matanya secara sempurna, Diva sangat terkejut menemui dirinya yang tertidur di kamar yang tidak dikenalinya sama sekali. Diva sangat yakin kalau ini bukanlah kamarnya ataupun kamar Catherine. Belum selesai keterkejutannya akan kamar yang ditempatinya, Diva kembali dikejutkan akan keadaan tubuhnya telanjang dan hanya ditutupi oleh selimut yang berwarna senada dengan seprai ranjang yang ditidurinya.
Seketika wajah Diva berubah pucat pasi. Pikiran tentang dia yang tidur dengan pria asing membuat sangat Diva ketakutan. Hingga tanpa disadarinya, tangannya telah mencengkram erat selimut yang menutupi tubuhnya sedari tadi.
"Oh tidak... tidak..." Kata Diva panik.
Sungguh, Diva tidak akan bisa menerima semua ini jika pikirannya tentang dia yang telah tidur dengan seseorang benar-benar terjadi. Bukan karena dia perawan, makanya dia ketakutan seperti ini karena kenyataannya dia telah kehilangan itu sejak dia duduk dibangku SMA. Dan untuk pemberitahuan saja, Nathan adalah orang yang dia beri kehormatan untuk mendapatkannya. Dia seperti ini karena dia tidak pernah melakukannya lagi setelah bersama Nathan dan dia memang tidak ingin melakukannya.
***