CHAPTER 9

1811 Words
Jantung Diva berdetak kencang, tubuhnya tiba-tiba berubah kaku dan bergetar. Bahkan tanpa disadarinya, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Semua reaksinya ini, hanya muncul ketika dia bertemu dengan sosok itu. Jadi dia sudah tau siapa orang yang tengah duduk di hadapan dokter William sekarang meski tidak melihatnya terlebih dahulu. "Diva, masuk." Saat dokter William menyebutkan namanya, saat itulah orang itu juga menolehkan kepalanya ke arah Diva. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Nathan, dia hanya memberikan menatap dingin pada Diva dengan mata biru gelapnya. Raut wajah Nathanpun begitu datar tidak terbaca, membuat siapapun yang melihatnya tidak tau apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan oleh Nathan saat melihat Diva. Merasa kalau dia tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi, membuat Diva memutuskan untuk meninggalkan dari ruangan itu sesegera mungkin. Diva bahkan mengabaikan kesopanannya karena untuk pamit saja dia tidak masuk dalam pikirkannya lagi. Jadi, Diva tidak akan terkejut kalau dokter William akan memanggilnya memperingati dia nantinya. *** Diva menatap kosong pada dinding ruangannya yang tidak menunjukkan apapun selain dari cat putihnya. Semenjak dia melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan William tadi, dia seolah disulap menjadi orang lain karena sikapnya yang sangat asing. Kalau orang berpikir seperti itu, maka berbeda dengan Diva yang pastinya lebih tau tentang dirinya. Diva tau kalau semua kekuatan yang telah dibangunnya, meski dengan penuh kepura-puraan selama ini telah hancur begitu saja dengan sia-sia. Pertahanan itu hancur hanya dengan tatapannya yang bertemu dengan tatapan dingin dari mata berwarna biru gelap milik Nathan. Jelas sekali Diva tau kalau Nathan tidak perlu melakukan banyak cara untuk menghancurkan pertahanannya, cukup dengan kehadiran dan tatapannya, maka saat itu juga semuanya hancur. Nathan juga tidak butuh banyak waktu untuk merusak semuanya karena berapa detik cukup buat Nathan untuk itu. Merusak semua yang telah Diva coba susun selama 8 tahun ini, hanya untuk bisa bertahan dan tidak menjadi gila. "Div... Diva... Are you okay?" Halley, dokter wanita yang memiliki bagian yang sama menyadarkan Diva dari lamunannya. Diva tersentak dari lamunannya, "Ya Hall. Kenapa?" Tanya Diva setelah mengumpulkan sebagian dari kesadarannya. Halley, menggelengkan kepalanya. Lalu dikernyitkannya alis dan keningnya dengan samar. "Bukan gue Va, tapi elo? Ada apa sama lo? Gue udah dengar semuanya dari dokter William soal lo yang tiba-tiba lari dari ruangannya. Ada apa dengan lo sebenarnya." Tanya Halley lagi setelah dia merasa Diva cukup fokus untuk diajak berbicara. Dengan cepat Diva memperbaiki raut wajahnya yang terlihat kosong, lalu memasang senyum kecil namun menunjukkan baik-baik sajanya itu pada Halley sambil berkata, "I'm oke Halley." Dengan senyum kecilnya Diva mengatakan itu. Namun bayangan saat dia memasuki ruangan Willian kembali berputar kembali didalam kepalanya, Membuat dia tanpa sadar menunjukkan kalau dia tidak baik-baik saja. Mengetahui itu, membuat Halley hanya bisa berdecak sebal karena dia tau, sebesar apapun usahanya untuk memaksa Diva mengakui kalau dia sedang tidak baik, jawaban Diva pasti akan selalu, ‘I’m oke’. Lihatlah, kini Diva sudah melamun lagi. "No. You are not." Balas Halley dengan yakin menantang. "Kalau lo emang baik-baik aja, lo nggak bakal ngalihin Gideon gitu aja ke gue." Tambahnya untuk membuat Diva mau mengatakan apa yang membuat gadis itu terlihat tidak fokus dan kacau seperti ini. Diva menghela nafasnya keras. Kalau Diva boleh jujur, dia memang tidak baik-baik saja. Tapi kalaupun dia katakan kalau dia tidak baik-baik saja, mampukah dia untuk menceritakan apa yang membuatnya tidak baik-baik saja? Akankah dia akan semakin baik setelah mengatakan seluruhnya? Atau mungkinkah dia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Tidak. Jawabannya adalah tidak karena dia tau kalau semua itu tidak akan mungkin. Jadi memilih untuk diam dan tidak mengatakan apapun adalah pilihan terbaik. Lagipula, bukankah selama ini Diva menikmati kesakitannya ini. Bukankah selama ini Diva juga meyakini kalau kesakitan dan penyesalan yang dia rasakan ini adalah hukuman yang impas buat dia. Jadi, buat apa dia harus membongkarnya sekarang? "Gue nggak papa Hall, serius." Setelah mengontrol dirinya, Diva menjawab Halley. Dan untuk jawabannya kali ini, Diva yakin kalau Halley akan mempercayainya. Setelah mengatakan itu, Diva kembali melanjutkan perkataannya. "Dan Halley, bisa nggak lo ninggalin gue sekarang. Otak gue penat dan gue butuh sendiri." Dengan nada sesopan dan selirih mungkin Diva mengatakan itu pada Halley. Melalui raut wajahnya, Diva bisa melihat ada rasa tidak puas di wajah Halley. Halley masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengannya, bagaimanapun Diva mengenal Halley sebagai sosok teman yang cukup ingin tau. Meski begitu, Diva tau kalau Halley akan menghormati privasinya. Halley beranjak dari duduknya sambil berkata, "Baiklah kalau lo nggak mau cerita. Gue juga bakal tinggalin lo sendiri, tapi kalau lo butuh teman cerita, gue ada Va. Gue bisa dengar curhatan lo kalau lo mau." "Ya udah, kalau gitu gue keluar dulu ya." Kata Halley meninggalkan ruangan kerja Diva. Saat dimana Halley menutup pintunya, saat itulah senyum Diva langsung hilang. Hanya senyum sendu dan mata kosong Diva yang tertinggal diwajahnya Diva. "I think, I don't have chance to talk to you anymore Hall." Kata Diva dengan nada lirih pada sosok Halley yang sudah menghilang di balik pintu ruangan kerjanya. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Diva. Tanpa banyak berpikir, Diva sudah tau apa yang harus dia lakukan. Dia harus meninggalkan rumah sakit ini sesegera mungkin. Dia tidak akan pernah sanggup kalau harus berdekatan dengan Nathan dan Diva yakin kalau Nathan juga tidak akan mau berdekatan dengannya. Itulah kenapa Diva harus keluar dari rumah sakit ini, secepat yang dia bisa. Diva tidak mau merasakan sakit yang lebih sakit lagi dari sakit yang sudah dia rasakan selama ini. *** Pagi ini Diva datang ketempat kerjanya dalam keadaan sedikit kacau. Lingkar hitam dimatanya menunjukkan kalau dia tidak tidur dari tadi malam. Alasan dia tidak tidur itu adalah karena dia memikirkan suatu masalah yang sangat besar. Saking besarnya, masalah itu jelas sangat mempengaruhi masa depannya. Dengan langkah yang tidak pasti, Diva berjalan menuju ruangan sang pimpinan rumah sakit. Dia menggenggam erat surat resign yang bahkan baru ditulisnya tadi pagi. Setelah memikirkan semuanya kemarin, Diva akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah sakit tempat dia bekerja sekarang. Pilihan yang buru-buru dan tidak professional memang, tapi resign adalah satu-satunya jalan yang Diva punya. Diva pikir, Nathan juga akan setuju dengan pemikirannya itu. St Louis Central Hospital yang terlihat sibuk seperti biasanya. Jadi dengan mengandalkan kebiasaannya memasuki rumah sakit itu, Diva berjalan dengan pikiran melayang kemana-mana. Ada banyak perasaan yang bercampur di hati Diva saat ini, sayangnya dari semua perasaan itu, tidak ada sedikitpun rasa bahagia. Dan Diva tidak menyalahkan Nathan akan semua perasaan yang dia rasakan ini yang ada Nathanlah yang seharusnya menyalahkan kehadiran Diva dikehidupannya lagi. Terlalu larut dalam pikirannya membuat Diva tidak memperhatikan apapun yang ada disekitarnya. Beruntung Diva berhasil berdiri di depan lift rumah sakit dengan tanpa masalah, hingga akhirnya seseorang menubruk tubuh Diva dari belakang dengan kuat. Saking kuatnya tubrukan itu, mampu membuat tubuh Diva sedikit limbung dan apa yang ada ditangannya terjatuh begitu saja. Bruuukkk... "Auh..." Diva meringis kecil saat dia merasakan sakit akibat dari tubrukan itu. "Maaf..." Kata orang itu saat Diva sudah mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang baru saja menabraknya. Diva menampilkan senyum kecilnya, lalu membalas perkataan pria yang baru saja menabraknya itu, "It's ok. I'm okay."  Sadar dengan barang-barang Diva yang terjatuh karenanya, membuat pria itu berniat membantu Diva untuk membereskannya. Namun Diva segera melarangnya karena dia menebak kalau pria itu sedang buru-buru. "Mas sebaiknya pergi, tidak perlu membantu saya. Saya bisa merapikan ini semua." Kata Diva mengambil tasnya yang hampir diambil pria yang menabraknya tadi. Pria itu tersenyum lega dengan raut meminta maaf. "Sekali lagi, maaf ya mbak." Katanya pada Diva lalu pergi setelah Diva menganggukkan kepalanya. Memasukkan semua barangnya yang berserakan, membuat Diva tidak sadar akan kehadiran seseorang dibelakangnya. Orang yang tengah mememungut surat yang seharusnya Diva berikan pada dokter Philip, pimpinan utama St Louis Central Hospital. Diva berdiri dari posisi duduknya, bersiap untuk mengedarkan tatapannya untuk menemukan surat yang menjadi tujuan utamanya datang kesini. "Ini." Kata suara bernada dingin dari belakang tubuh Diva. Tubuh Diva membeku, tubuhnya bergetar hebat. Seperti biasanya, reaksi tubuh Diva selalu berlebihan setiap kali Nathan ada disekitarnya, membuat dia bahkan tidak bisa untuk bernapas dengan baik. Diva menggigit bibirnya dengan kuat, berharap itu bisa membuatnya bertahan akan keberadaan Nathan. "Ingin menghindariku lagi dengan melarikan diri?" Tanya suara dingin Nathan dengan tangan yang menyodorkan surat kepada Diva. "Aku tidak menyangka, begini cara kamu menyelesaikan masalah diantara kita." Kali ini, suara dingin Nathan berubah dengan nada yang sedikit mengejek. Bahkan bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sangat hambar. Diva diam bergeming, tubuhnya terlalu kaku dan lidahnya terlalu keluh untuk memberikan balasan apapun kepada Nathan. "Hal yang paling menyedihkan adalah ketika seseorang berani memulai, namun tidak berani menjalaninya dan mengakhirinya." Masih dengan nada dingin Nathan mengatakan hal itu pada Diva. Kemudian Nathan mengambil tangannya Diva, mengangkatnya lalu meletakkan surat pengunduran diri Diva yang tadi dipungutnya sebagian. *** Diva tertawa miris pada dirinya sendiri, itu karena dia mengasihani dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Diva tidak merasa dirinya terlalu menyedihkan, jika hanya untuk mengatakan apa yang sebenarnya dialami dan dirasakannya selama ini dia tidak bisa. Dia tidak bisa melakukan itu, hingga orang lain juga tidak bisa memberikannya bantuan yang pasti bisa meringankan bebannya. Semua itu karena Diva takut membayangkan ketika sedikit saja Diva menceritakannya, orang-orang akan menilainya rendah. Memandangnya jijik, lalu menghakiminya. Bahkan Diva sendiri saja merasa kalau memang dialah orang yang bersalah dalam hubungannya dan Nathan selama ini. "Diva...Diva..." Deva menepuk pipi Diva yang sedang membaringkan tubuhnya dengan mata yang memejam dan airmata yang mengering. Dengan perlahan Diva membuka matanya, lalu menemukan Deva dan Divo yang duduk di sebelah kanan dan kiri tempat tidurnya. Setelah memastikan Diva membuka matanya yang membengkak itu, Divo mengusap mata Diva perlahan. Lalu dia dan Deva menampilkan senyum kecil yang biasanya cukup membuat dia merasa aman dan tenang. "Deva akan kembali ke Amerika lusa. Katanya dia ingin menghabiskan malam ini dan besok bersama kita berdua." Divo mencoba menjelaskan maksud keberadaan dia dan Deva dikamarnya sekarang ini. Lalu Deva melanjutkan penjelasan Divo itu, "Divo juga telah meminta ijin Aya untuk menghabiskan malam ini dan besok bersama kita berdua. Bagaimana?" Airmata Diva mengalir begitu saja. Bukan hanya karena dia sedih Deva akan pergi lagi meninggalkan dia, tapi juga untuk melepaskan sesak yang dirasakannya sejak lama. Biarlah dia bersandiwara untuk saat ini, menggunakan kepergian Deva kembali ke Amerika sebagai alasannya mengeluarkan airmatanya di depan kedua kembarnya. Diva tidak tau apa yang dipikirkan kembarnya saat mereka melihat dia menangis seperti ini, tapi yang pasti untuk Diva sendiri, tangisnya ini seolah dia sedang mengadukan kesedihan dan beban yang dimilikinya pada kedua kakaknya itu. Melihat Diva menangis, Deva dan Divo tidak melakukan apapun selain dari membaringkan tubuh mereka di sebelah Diva dan memeluknya. Setelahnya mereka diam, membiarkan Diva terus menangis hingga akhirnya Diva kelelahan dan jatuh tertidur. Setelah Diva tertidur, baik Deva dan Divo sibuk dengan pikiran mereka masing-masing karena sebenarnya mereka tau dengan segala tekanan batin dan hati Diva beberapa hari ini. Hanya saja, mereka memilih diam karena mereka tidak akan memaksa Diva untuk menceritakan masalahnya kalau dia memang tidak mau. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD